Putri Yang Terjebak

Putri Yang Terjebak
Telepati


__ADS_3

"Yang Mulia."


Ara merasa mendengar suara yang teramat familier di telinganya, ia membuka mata perlahan dan mendapati wajah yang teramat ia rindukan.


"Nenek!"


Ara bangkit dari pangkuan sang nenek dan berhambur memeluknya erat, "nenek!"


Ara menangis keras, ia tak lagi menahan air mata. Ia hanya terus menangis dalam pelukan Isabel. "Nenek, apa yang harus aku lakukan tanpamu?"


"Yang Mulia," ucap Isabel seraya melepaskan pelukannya. Isabel merapikan rambut junjungannya itu dan menghapus air mata Ara. Mereka duduk berdampingan dan saling menggenggam tangan.


"Keputusan anda sangatlah tepat untuk kembali ke kerajaan, tempat di mana Yang Mulia seharusnya berada," Isabel menepuk ringan tangan Ara.


"Aku hanya akan mengembalikan energi Ratu pada Pangeran Elrick, aku benar-benar tak ingin menjadi pengganggu keluarga kerajaan," Ara masih terisak.


Isabel mengusap lembut rambut panjang Ara, "Yang Mulia bukanlah pengganggu." Isabel menyentuh pundak Ara dan seketika energi merah berpendar teramat terang, "seperti halnya Yang Mulia Pangeran Elrick, Yang Mulia juga merupakan bagian penting keluarga kerajaan."


Ara menggeleng, "tidak nek." Ara menghapus air matanya dengan kasar. "Aku bukan bagian dari mereka, kedatanganku hanya akan membawa kehancuran, aku datang hanya untuk mengembalikan apa yang memang sudah seharusnya ku serahkan pada Elrick. Keluarga kerajaan telah berbaik hati membiarkanku hidup hingga sebesar ini, aku pun menjalani kehidupan yang bahagia bersama nenek, maka takkan ada penyesalan jika aku harus mati sekalipun "


"Kasih sayang yang saya berikan tidaklah cukup Yang Mulia, anda berhak mendapatkan kasih sayang berlimpah dari mereka. Saya mengenal keluarga kerajaan dengan baik, maka saya yakin mereka akan menerima dan menyayangi Yang Mulia sepenuh hati," ucap Isabel dengan tatapan yakin.


"Aku tahu kalau ini hanyalah alam bawah sadarku, tapi aku benar-benar tidak mau Isabel. Aku ingin Putri Eleanor tetaplah menjadi rahasia sampai aku mati, aku hanya menginginkan kebahagiaan mereka, tidak lebih dari itu."


Isabel menitikkan air mata, wujudnya menjadi pudar dan menghilang. Ara duduk termenung, hingga secercah cahaya menyinari tubuhnya seraya menyerap jiwanya tanpa permisi.


Ara mengerjapkan kedua matanya berulang kali, ia tampak terbaring di ranjang sebuah kamar yang teramat asing baginya. Ia mencoba mendudukkan diri dan bersandar sambil mengumpulkan fokusnya. Ara menatap berkeliling dan tak menemukan seorang pun, tiba-tiba hatinya terasa sedikit sakit, ia teringat bagaimana Isabel tak pernah beranjak dari sisinya ketika ia sedang sakit, kenyataan menghantam diri Ara dengan keras.


"Krieeet..."

__ADS_1


Ara menoleh ke arah pintu yang kini terbuka.


"Kau sudah bangun rupanya!" Alardo masuk sambil membawa nampan yang dipenuhi beberapa makanan di tangannya. "Yang Mulia Putra Mahkota memerintahkanku untuk menjagamu selagi kau sakit," ucap Alardo sambil duduk di samping ranjang Ara, ia meletakkan nampan di nakas samping tempat tidur.


"Bagaimana keadaanmu? Apakah ada yang terasa sakit?"


Ara menggeleng lemah, menjawab pertanyaan Alardo.


Ara terdiam, benaknya dipenuhi rasa bersalah. Perhatian yang diberikan Elrick melalui Alardo kembali menyentuh hatinya, seolah berkata bahwa yang ia lakukan memang adalah yang terbaik baginya.


"Syukurlah, minumlah ini lebih dulu."


Alardo mengulurkan segelas air ke arah Ara, dan Ara pun mengulurkan tangan kanannya untuk menerima gelas itu, tapi tak disangka gelas yang seharusnya ia pegang kini terjatuh hingga pecah di lantai.


"Praaaaang!"


Ara terhenyak, ia menatap jari-jarinya yang bergetar dan kaku. Ara segera menarik tangannya dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Pikirannya berkecamuk, ia mencoba membuka mulutnya untuk berbicara pada Alardo tapi lidahnya terasa kelu.


Ara merasa frustasi, perubahan mendadak yang teejadi padanya membuatnya ingin berteriak dan menangis.


"ARA!" Arion tiba bersama dengan Gigas di belakangnya, tatapan mereka tertuju ke arah Ara dan pecahan gelas di lantai yang berserakan. "Apa yang terjadi?"


"Entahlah Jenderal, tapi aku rasa ada yang tak beres dengannya, sedari aku masuk, ia belum mengucapkan sepatah kata pun padaku."


Alardo beringsut memberikan tempat duduknya bagi sang Jenderal. Arion pun duduk di samping Ara, ia menatap Ara dan mulai menggunakan telepatinya.


"Apa yang terjadi denganmu Yang Mulia? Katakanlah agar saya bisa membantu," kata Arion yang tak akan pernah didengar Gigas dan Alardo.


"Guru, tubuhku kaku, aku bahkan tidak bisa memegang gelas dengan benar, aku juga tak bisa mengucapkan kata-kata yang aku inginkan."

__ADS_1


Ara meneteskan air mata tanpa suara, ia hanya bisa terisak dan bicara pada Arion lewat telepati.


"Gigas cepat buat barrier pelindung," perintah Arion.


"Baik Jenderal," Gigas dengan sigap membuat barrier pelindung seperti yang diperintahkan tuannya.


"Apakah ada bisa aku bantu?" tanya Al pada Arion dengan wajah serius.


"Jika anda ingin tetap berada di dalam kamar ini maka tolong tenang dan mundurlah sejauh mungkin," ucap Arion tegas tanpa ingin dibantah.


Al mengangguk paham, ia mundur ke arah Gigas berada.


"Yang Mulia tolong jawab pertanyaan hamba agar hamba bisa membantu Yang Mulia." Arion kembali menggunakan telepatinya, "apakah energi yang dimiliki Putra Mahkota saat ini ada kaitannya dengan anda?"


"Aku belum selesai mentransfer energi ratu yang ada dalam diriku saat Yang Mulia Raja dan Ratu masuk ke kamar Yang Mulia Putra Mahkota, maka aku kembali menyegel energi Ratu dengan tergesa," jawab Ara.


Arion menghela nafas panjang, "Yang Mulia anda benar-benar ceroboh! Tahukah anda bahwa anda bisa kehilangan nyawa saat melakukannya?"


Ara mengangguk, "aku tahu tapi tampaknya aku belum siap mati karena aku begitu ketakutan dan putus asa ketika aku kehilangan beberapa kemampuanku secara tiba-tiba."


"Saya dan Gigas membawa Yang Mulia kembali dengan penuh harap agar Yang Mulia bisa hidup bahagia dan nyaman di tempat yang seharusnya. Bukan malah meminta Yang Mulia menyerahkan nyawa!"


Ara menegang, suara Arion di benaknya terdengar penuh kemarahan. "Aku tahu, tapi sejak pertama kali bertemu dengan Yang Mulia Putra Mahkota, aku benar-benar melihat sosok pemimpin yang hebat dalam dirinya."


Ara memberanikan diri menatap sepasang mata Jenderal Arion yang kini tampak menggelap. "Jenderal, aku seharusnya telah mati sesaat setelah aku dilahirkan, tapi dengan kebaikan hati keluarga kerajaan dan atas ijin Yang Kuasa, aku bisa menikmati hidup bahagiaku hingga detik ini. Nenek Isabel memberikan segalanya bagiku, hingga aku tak tahu harus meminta apa lagi, maka ketika aku melihat keluarga kerajaan yang tampak bahagia dan harmonis, aku membuat keputusan saat itu juga bahwa aku akan membuat Putri Eleanor tetap menjadi rahasia sampai aku mati, aku akan membawa nama itu terkubur bersamaku ketika aku mati."


"Tapi Yang Mulia," Arion tampak tak setuju.


"Guru tolong bantu aku, setidaknya agar aku bisa berada di sisi Yang Mulia Putra Mahkota sampai aku bisa mentransfer seluruh energi Ratu yang ada dalam diriku," ucap Ara memohon dalam telepatinya.

__ADS_1


"Tidak," Arion menatap tajam mata Ara hingga menampakkan luapan emosi dalam dirinya.


__ADS_2