Putri Yang Terjebak

Putri Yang Terjebak
Syarat


__ADS_3

Arion duduk di samping Gigas, ia menatap sang Putri dengan hormat. Dalam hati Arion bertanya-tanya, akankah Putri menangis, ataukah marah? Arion yakin junjungannya itu telah menyerap ingatan Isabel, maka tidak dipungkiri lagi bahwa ia telah mengetahui semua kebenaran yang telah terjadi.


Hati Arion sedikit sakit, ia tahu bahwa keluarga kerajaan telah berusaha menyelamatkan kedua penerus, tapi bukankah tetap tidak adil bagi sang Putri yang akhirnya harus hidup terpisah dari Raja dan Ratu? Arion menatap wajah sang Putri yang teramat cantik walau tanpa riasan, matanya terlihat masih sembab akibat menangis, tapi pembawaannya yang tenang membuat Arion kagum.


"Ah maafkan aku, aku lupa menghidangkan sesuatu," ucap Putri Eleanor yang tiba-tiba berdiri. Tapi ketika hendak melangkah, ia berhenti dan tampak teringat akan sesuatu. Ia mengangkat tangan kanannya. "Aku lupa, maaf biarkan aku mencoba yang satu ini," kata sang Putri yang kemudian mengibaskan tangan kanannya di atas meja, membuat meja itu penuh dengan beragam cemilan dan tiga cangkir coklat panas.


Arion dan Gigas tampak terkesiap, apa yang dilakukan sang Putri adalah hal yang sangat diinginkan oleh setiap orang di kerajaan, bagaimana bisa Putri Eleanor melakukannya untuk mereka.


"Yang Mulia, kami tidak terlalu rendah untuk menerima jamuan yang sangat berharga ini," ucap Arion dengan penuh hormat.


Ara terlihat bingung, ia kembali mendud[kkan diri di sofa, lalu menatap Arion dan Gigas bergantian. "Sudah kewajiban tuan rumah untuk menyuguhkan makanan bagi tamu yang datang, kenapa kalian tegang begitu? Apakah aku melakukan kesalahan? Maaf aku baru pertama kali mencobanya karena penasaran," Ara bingung dan menunggu salah satu dari Arion dan Gigas untuk menjelaskan.


"Yang Mulia, di kerajaan Ratu hanya menjamu secara pribadi orang-orang spesial yang telah berkontribusi pada kerajaan, atau kerabat dekat keluarga kerajaan, memakan jamuan yang disiapkan oleh Ratu sendiri adalah hal yang sangat diinginkan oleh seluruh rakyat dan merupakan suatu berkah tak terkira, karena biasanya pelayanlah yang bertugas mengurus jamuan," Arion menjelaskan dengan hati-hati sementara Gigas tampak menahan air liurnya dan tak sanggup bicara.


Arion mengangkat kepalanya dan menatap sang Putri, alangkah kagetnya Arion ketika melihat senyum mengembang di wajah sang Putri, begitu cantik dan menawan.


"Aku bukanlah Ratu, maka tak ada larangan untuk memakan apa yang aku hidangkan untuk kalian, dan lagi tak perlu terbebani karena belum tentu aku adalah Putri yang kalian cari, maka nikmatilah," kata Ara sambil tersenyum lebar. Ara meraih cangkir coklat panasnya dan menyesapnya hati-hati, ia memulai agar Arion dan Gigas tak perlu sungkan untuk memakan hidangan dari sihir yang baru ia coba.


Melihat sang Putri, Gigas kini bagai menemukan keberanian, ia langsung mengikuti sang Putri dan mengambil cangkirnya. Ketika coklat panas masuk ke dalam mulutnya, matanya tampak berbinar senang. "Terimakasih Yang Mulia, belum pernah hamba merasakan minuman seenak ini, terimakasih Yang Mulia," ucap Gigas sambil membungkuk.


Ara tersenyum senang, lalu ia meraih sebuah macaroon dan mengulurkannya pada Gigas. "Cobalah, ini salah satu cemilan yang kusuka."


Gigas menerima uluran sang Putri dengan kedua tangannya lalu tanpa ragu ia memasukkannya ke mulut, tak perlu bertanya lagi, wajah Gigas kini tampak teramat bahagia.

__ADS_1


"Hahaha...kau sungguh lucu, cobalah semua yang kau inginkan, kau bahkan boleh menghabiskannya," kata Ara tersenyum lebar.


Arion menatap diam-diam ke arah sang Putri, Arion bingung apakah ia benar-benar bahagia? Atau apakah ia hanya menutupi kesedihannya dengan tertawa? Entah kenapa kekhawatiran mulai muncul di hati Arion.


"Yang Mulia, kami mohon kembalilah."


Ara beralih menatap Arion, matanya bertemu dengan sepasang mata Arion yang menatapnya serius. "Apakah memang harus?" tanya Ara lirih, ia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


Arion mengangguk, "sudah sejak lama keluarga kerajaan mencari Yang Mulia, mereka semua menginginkan Yang Mulia untuk kembali."


Ara tampak menarik nafas panjang, "kenapa harus susah-susah mencariku? Bukankah kalian bisa langsung bertanya kepada Ibu Suri? Ia yang membuat portal, maka bukankah seharusnya ia mengetahui keberadaanku dan nenek Isabel?"


Arion mulai menangkap kesalah pahaman dalam setiap pertanyaan yang diajukan sang Putri. Ia menatap Gigas sekilas yang tampak larut dengan cemilan di hadapannya, lalu kembali menatap sang Putri dan mulai menjawab dengan hati-hati agar tak melukai hatinya.


Lama Ara tampak diam, matanya menatap kosong ke arah lantai, ia tampak hanyut dalam pikirannya sendiri hingga akhirnya ia mulai membuka mulutnya. "Lalu, apakah Pangeran mengetahui bahwa aku ada?"


Gigas tanpa sengaja menjatuhkan sendok berisikan potongan cheese cake di tangannya, sementara Arion tampak tak menduga pertanyaan sang Putri yang baru ditemukannya. Mereka berdua tampak sangat terkejut.


Ara menangkap arti dari ekspresi keduanya, ia menghela nafas panjang dan tampak memutuskan sesuatu. "Baiklah aku akan ikut kalian, tapi dengan syarat."


Arion dan Gigas menatap junjungan mereka dengan seksama, seolah menanti kelanjutan dari perkataan sang Putri.


"Rahasiakan identitas dan keberadaanku, bahkan pada seluruh anggota keluarga kerajaan, dan panggil aku Ara tanpa embel-embel Yang Mulia," kata Ara sambil meraih lagi cangkirnya dan mulai meneguk coklat yang kini tak lagi panas.

__ADS_1


"Tapi Yang Mulia," Arion tampak tak setuju dengan syarat yang diajukan, bagaimana bisa dia merahasiakan sang Putri yang selama ini dicari?


"Ikuti syaratnya atau aku tidak akan ikut kalian," jawab Ara sembari meletakkan kembali cangkirnya.


Gigas mencoba berbicara dengan Arion lewat telepati, "Jenderal tujuan utama dari misi ini selain mencari Yang Mulia Tuan Putri, kita juga diwajibkan untuk menjaga keselamatan beliau, jika kita mengikuti syaratnya maka kita bisa memenuhi kedua misi tersebut."


"Tapi Gigas, bagaimana bisa kita menyembunyikan kabar bahagia ini?" tanya Arion masih tak setuju.


"Jenderal kita bisa pikirkan itu nanti, yang terpenting sekarang adalah membawa Yang Mulia pulang, dengan begitu kita bisa menjaga keselamatan Yang Mulia."


Arion menarik nafas panjang dan menatap Gigas penuh arti, walaupun terkadang Gigas mudah teralihkan oleh makanan, tapi ia tetaplah prajurit yang dapat diandalkan. Arion menatap kembali sang Putri, "Yang Mulia, apakah Yang Mulia sudah memikirkan akibat dari syarat tersebut?"


Ara menatap penuh ketertarikan setelah mendengar kata-kata Arion, ia bahkan tersenyum seolah tahu kata-kata Arion selanjutnya.


"Tanpa mengabarkan bahwa Yang Mulia telah kembali, maka itu artinya Yang Mulia datang sebagai rakyat biasa tanpa jabatan apapun. Orang-orang akan memperlakukan Yang Mulia seperti rakyat biasa, hamba khawatir Yang Mulia akan terluka," Arion tampak pantang menyerah membujuk Putri Eleanor.


"Apa kau lupa? Di sini pun aku adalah rakyat biasa yang harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhanku sendiri, apa yang perlu kau khawatirkan?" Ara tampak percaya diri dengan kata-katanya. "Ah aku tahu mungkin di sana akan sedikit berbeda, maka apakah kau bisa menerimaku sebagai muridmu, Jenderal?"


"UHUUK...UHUUUK..UHUUUK!" Gigas tersedak mendengar kata-kata sang Putri, ia mencoba menenangkan dirinya sendiri, lalu menatap sang Jenderal penasaran, selama ini sang Jenderal tak punya murid seorang pun, bahkan ketika sang Raja memintanya untuk menjadi guru bagi Pangeran Elrick, ia menolaknya. Apakah kali ini ia mau menerima sang Putri?


Arion menatap mata sang Putri, "saya harap Yang Mulia tidak menyesali perkataan Yang Mulia hari ini."


Gigas bergidik, bulu kuduknya berdiri seiring kata-kata yang dilontarkan sang Jenderal, sementara, sang Putri malah tersenyum lebar dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Akankah sang Putri menjalani pelatihan neraka dari sang Jenderal setibanya ia di kerajaan?

__ADS_1


__ADS_2