Putri Yang Terjebak

Putri Yang Terjebak
Bertemu Teman Lama


__ADS_3

"Oh akhirnya! Selamat datang Ria."


Elea menatap sosok wanita berkulit putih pucat, gaun hitamnya jatuh bebas menyentuh tanah, kepalanya berhias mahkota bertahta berlian hitam. Wanita itu berlari ke arah Ariadna dan langsung memeluknya erat. Sesaat kemudian, ia melepas pelukannya dan menatap Ariadna, "hampir tiga puluh tahun sudah kau tak datang menemuiku, apa yang kau lakukan hingga melupakanku?"


"Acasha, bukan hanya kau yang sibuk mengurus putramu, aku juga sibuk mengawasi cucuku!" jawab Ariadna dengan senyum mengembang menatap teman lamanya. "Kenalkan, ini cucuku Lea."


Pandangan mata Acasha beralih menatap Eleanor yang berdiri di samping Ariadna. Tangan kanannya terulur menyentuh lembut wajah Eleanor, "aku hampir tidak percaya kalau kau adalah cucu Ariadna! Oh ya ampun kau begitu cantik nak, secantik hatimu."


Acasha mendekatkan wajahnya dan mencium pucuk kepala Eleanor, "selamat datang di kerajaan kegelapan Lea."


Senyum mengembang di bibir Acasha, mata hitamnya menatap sepasang mata Ara penuh kelembutan. "Kau bisa memanggilku nenek, seperti kau memanggil nenekmu! Cucu Ria adalah cucuku juga," tambah Acasha yang kini membelai rambut pendek Eleanor.


Ariadna menatap rambut pendek Eleanor, ia teringat akan keputusan Eleanor memangkas rambutnya dan menguburkannya bersama beberapa tetes darahnya di taman wisteria. Hanya itu satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk memalsukan kematiannya, hati Ariadna tiba-tiba terasa perih mengingatnya, diam-diam Ariadna berjanji untuk selalu memastikan kebahagiaan Eleanor.


"Siapa namanya nak? Dia tampak begitu menggemaskan! Oh bolehkah aku menggendongnya?" tanya Acasha yang tak sabar menyentuh Blevine.


"Tentu boleh nek, namanya Blevine. Sebenarnya ia adalah hewan kontrak milik Al," ucap Eleanor seraya menyerahkan Blevine ke dalam gendongan Acasha.


Acasha menggendong Blevine dengan senyum mengembang, "siapakah Al?"


"Oh aku lupa! Kenalkan ini Al, muridku." Ariadna membantu Alardo berdiri, "maaf Acasha, tampaknya ia sedikit tak enak badan karena pengaruh perjalanan melalui portal."


"Ya ampun, bukankah aku sudah bilang padamu kalau portal bukanlah ide bagus untuk datang ke sini! Kau bisa melalui jalur lain yang sudah kupersiapkan untukmu Ria!"


"Aku tak menyukai perosotan yang kau buat, kau pikir aku anak kecil!" sahut Ariadna dengan cemberut. "Lagipula, nanti juga dia akan segera pulih! Al tidaklah selemah yang kau pikir," ucap Ariadna sambil menyalurkan energinya pada Al.


"Nenekmu sungguh sangat keras kepala, aku pun tak habis pikir, bagaimana aku bisa berteman dengannya selama ratusan tahun!" bisik Acasha pada Eleanor.

__ADS_1


"Ah, maka nenek harus bersiap menghadapi dua orang dengan keras kepala yang sama," jawab Eleanor sambil tersenyum. "Bagaimanapun darah tak bisa berbohong bukan?"


Acasha membalas senyuman Eleanor, "aku sungguh menyukaimu nak, pintu kerajaan gelap akan selalu terbuka untukmu!" Ucapan Acasha diiringi oleh getaran yang kuat, seolah seluruh kerajaan gelap menerima titah darinya.


"Jangan coba-coba memikat hati cucuku, apa kau pikir aku tidak tahu niat licikmu!"


Ariadna melirik tajam ke arah Acasha, "jangan mencoba untuk mengurung cucuku di kerajaan gelapmu."


Acasha menggeleng pelan, "lama tak bertemu membuatmu semakin menyebalkan! Jangan berprasangka buruk terhadapku, apa yang kau pikirkan tidak akan terjadi Ria!"


"Waktu bisa merubah semuanya," balas Ariadna spontan.


"Putraku telah menikah dan punya anak, jadi kau tak perlu khawatir." Acasha menurunkan Blevine dan membiarkannya berjalan sesuka hati. "Maukah kau melihat cucu tampanku?"


"Kau bilang Tayron sudah punya anak? Siapa yang mau menikahinya?" tanya Ariadna lugas.


"Aku sudah terbiasa menghadapi nenekmu Lea, tak perlu khawatir." Acasha menggandeng tangan Eleanor, "ayo kutunjukkan si tampan padamu nak!"


Acasha berjalan beriringan dengan Eleanor, sementara Ariadna mengikuti di belakang mereka bersama Blevine dan Alardo yang kini tampak pulih.


Eleanor memasuki lorong panjang yang gelap, namun setiap kali Acasha melangkahkan kakinya, lampu-lampu di dinding mulai menyala mengiringi langkahnya, bagaikan sihir. Berbagai lukisan terpajang berurutan di dinding, namun uniknya semua berupa lukisan wajah.


"Mereka adalah para raja dan ratu terdahulu," kata Acasha sambil mempererat genggaman tangan Elea. "Ada satu ketika aku bertanya kepada mendiang ibuku, kenapa mereka tak memajang sebuah foto keluarga? Dan ibuku menjawab kalau sebagian besar pasangan meninggal setelah pewaris lahir, jadi mustahil untuk melukis sebuah keluarga yang utuh."


Eleanor terus berjalan di samping Acasha, ia mendengar dalam diam, seraya menatap wajah teman lama Ariadna itu.


"Begitu pula denganku, suamiku meninggal bahkan sebelum Tayron lahir. Tapi aku memaksakan diri untuk melukis keluarga yang tak utuh ini," kata Acasha menghentikan langkah di depan sebuah lukisan.

__ADS_1


Elea mengikuti arah tatapan Acasha, sebuah lukisan memperlihatkan Acasha yang duduk dengan penuh keanggunan, sebuah mahkota yang tampak lebih megah dari yang ia pakai sekarang, tampak indah nenghias kepalanya. Di samping kanan Acasha tampak berdiri seorang pemuda yang teramat tampan di mata Elea, rambut dan mata hitam pekat dengan kulit putih pucat.


"Lukisan ini diambil saat aku madih menjadi seorang ratu, kini putraku telah naik tahta, maka aku hanyalah seorang ibu, oh dan seorang nenek tentunya!" kata Acasha dengan senyum mengembang.


"Tak usah banyak bicara, kau terlalu banyak membuang waktu Cha!" Ariadna tampak tak sabar. "Cepatlah tunjukkan cucumu sebelum aku tertidur kelelahan!"


"Baiklah! Baiklah!" Acasha mendorong pelan lukisan keluarganya, seketika sebuah pintu besar bergeser membelah dinding. "Selamat datang di kamar Carel!"


Berbeda dengan lorong gelap yang terkesan dingin, kamar Carel bernuansa hangat dengan cat coklat tua dan beberapa mainan bayi yang lucu. Elea menggunakan sihirnya untuk membersihkan tubuhnya sekaligus Ariadna dan Alardo, ia paham bahwa kebersihan menjadi salah satu syarat tak tertulis ketika mengunjungi seorang bayi.


"Oh my Carel, kau terbangun tanpa menangis! Anak pintar, lihatlah siapa yang datang!" Acasha berbicara di samping tempat tidur bayi dengan wajah yang berbinar.


Ariadna bergegas maju dan mematung di samping Acasha, "apakah Tayron menikah dengan manusia?"


Acasha mengangguk pelan, perubahan mimik wajahnya terlihat jelas, "karena itulah putraku belum kembali, ia masih harus memenuhi janjinya."


"Apa kau bilang? Apakah yang terjadi sana dengan yang kupikirkan sekarang Cha?" Ariadna tampak sedikit kesal. "Kenapa kau membiarkannya? Ada pilihan lain yang bisa kau ambil, kenapa kau malah membiarkan Tayron melakukan hal yang sama denganmu?"


"Ria, bagaimanapun aku perlu menghargai keputusan Tayron." Acasha tampak malas berdebat, "dan lagi aku mendapatkan seorang cucu yang tiada ternilai, maka bukankah sudah seharusnya aku bersyukur?"


"Ah aku sungguh sangat lelah! Aku akan bicara denganmu besok! Ku harap besok Tayron sudah kembali," Ariadna berjalan ke arah pintu. "Elea, Alardo, Blevine, ayo kita pergi istirahat!"


"Baik Guru," Alardo mengikuti Ariadna tanpa banyak tanya.


Elea melihat Blevine yang mengejar Al dan Ariadna dengan tubuh kecilnya, sementara ia masih tak bergeming dari tempatnya berdiri, ia masih bingung dengan arah petcakapan Ariadna dan Acasha, tapi ada satu hal lain yang membuatnya tak beranjak.


"Nenek Acasha, bolehkah aku melihat Carel?"

__ADS_1


__ADS_2