Putri Yang Terjebak

Putri Yang Terjebak
Pemberontakan


__ADS_3

"Yang Mulia Putra Mahkota, hamba diperintahkan oleh Kapten Gigas untuk melapor!"


Rocky menerobos masuk ke tenda utama basecamp dimana Elrick, Alardo dan Arion berada. Alardo dan Arion tampaknya telah menyelesaikan penyembuhan mereka, berkat para penyembuh, luka dalam mereka tampak sembuh lebih cepat.


"Katakan, apa yang terjadi?" tanya Elrick tak sabar.


"Lapor Yang Mulia, tampaknya kelima dewa datang membantu kita, mereka membuat lapisan pelindung yang melindungi seluruh wilayah kerajaan, kecuali medan perang. Tak hanya sampai di situ, kini kerajaan kita berada di tengah rangkaian pegunungan yang tampak menjulang kokoh dan subur," jawab Rocky lugas.


"Kau bilang pegunungan? Jadi suara dentuman tadi adalah suara mereka menciptakan pegunungan? Kau yakin bahwa yang kau laporkan bukanlah ilusi?" tanya Alardo ragu.


"Hamba berani bersumpah! Yang Mulia, Jenderal dan tuan Alardo dapat melihatnya sendiri untuk membuktikannya."


Tanpa menjawab Rocky, ketiganya bergegas keluar dari tenda, rasa penasaran terlihat jelas memenuhi diri mereka.


"Apakah ini sihir?" tanya Elrick ternganga.


Alardo dan Arion mengangguk bersamaan, Alardo tampak mengamati pemandangan langka di hadapannya, sementara Arion tampak khawatir.


"Jika mereka sampai menciptakan pegunungan seperti ini, maka kita dalam situasi yang sangat berbahaya, Yang Mulia," ucap Arion sambil menatap Elrick.


"Apa maksudmu Jenderal?" tanya Elrick meminta penjelasan.


"Butuh kekuatan maksimal untuk membangun pegunungan sebesar ini, maka sudah saatnya untuk memindahkan semua rakyat dan prajurit sementara waktu, sampai perang berakhir, Yang Mulia," jawab Arion dengan cepat.


"Tapi bagaimana caranya? Tidak mungkin kita memindahkan semua rakyat dan prajurit dalam waktu yang singkat."


Elrick tampak menguras otaknya untuk berpikir, "walaupun kita semua menyatukan kekuatan untuk membentuk portal, kita pasti akan kehabisan tenaga sebelum berhasil melakukannya."


Arion menatap ke arah empat penguasa guning kuning dan Hyana yang terlihat masih berusaha sekuat tenaga, namun Arion tahu kalau kekuatan mereka hampir terkuras habis. Di sisi lain, tiga pemimpin klan pemberontak tampak masih menyimpan kekuatan penuh.


Langit mulai bergemuruh, angin bertiup kencang. Arion berpikir keras, "bagaimana kalau kita bersatu untuk memindahkan musuh?"


Alardo terbelalak, "tidak bisa Jenderal! Memindahkan mereka yang meminjam kekuatan gelap dengan menggunakan portal energi cahaya kita, sama saja bunuh diri!"

__ADS_1


Elrick membuang nafas kasar, "Alardo benar Jenderal. Terlalu beresiko, dan terlalu berbahaya."


"Tapi kekuatan mereka hampir terkuras habis Yang Mulia, kita harus segera bertindak."


Angin mulai menderu, menghempas medan pertempuran, menerbangkan pasir menjadi debu kotor yang menyesakkan.


"Gawat!" Gigas menerawang jauh menggunakan kekuatannya. "Ternyata mereka benar-benar ingin memberontak!"


Luke menatap arah pandang Gigas, angin yang tadi menderu, kini mulai tenang diikuti dengan hadirnya sosok-sosok yang lebih seram dari sebelumnya.


"Pasukan kegelapan!" seru Gigas dan Luke bersamaan.


"Apa kata kalian?" tanya Arion yang tengah menaiki tangga.


"Jenderal!" Luke dan Gigas memberi hormat bersamaan.


"Tampaknya kita kembali dikepung oleh pasukan kegelapan, Jenderal." Gigas mulai memberi laporan kepada Arion yang kini berdiri di sampingnya dan menerawang ke medan pertempuran. "Pasukan kali ini tampaknya memiliki kekuatan lebih tinggi dari sebelumnya, mereka bahkan tak segan-segan menutupi wujud asli mereka."


Arion memukul keras salah satu tiang menara, hingga bergetar hebat dan membangunkan Olsen yang tengah beristirahat. "Di mana Raja, Ratu dan Ibu Suri?"


Gigas menangkap kekhawatiran sang Jenderal, baru kali ini ia melihat Jenderal Arion terusik. "Hamba siap menerima perintah, Jenderal."


Arion menghela nafas panjang, pikirannya tampak kacau. Pangeran Elrick dan Alardo sedang berusaha mencari tempat aman untung berlindung rakyat, namun jika keadaannya separah ini, ia bahkan tak yakin bisa menahan serangan musuh untuk mengulur waktu.


"Luke, apakah klan putih sudah kembali dari ritual?" tanya Arion yang mengingat bahwa saat ini adalah waktu yang digunakan klan putih untuk melakukan ritual di puncak gunung suci, untuk membersihkan dosa dan mengisi ulang energi mereka.


"Belum Jenderal, mereka dijadwalkan kembali dua minggu lagi," jawab Luke sigap. "Tapi jika memang situasinya buruk, saya bisa menghubungi mereka untuk kembali."


Arion tak habis pikir, klan-klan pemberontak pasti telah merencanakan pemberontakan dengan sangat matang. Mereka memanfaatkan kekosongan kerajaan untuk menyerang, tapi kenapa rencana mereka sama sekali tak tercium olehnya? Apakah kekuatannya telah menurun begitu jauh hingga tak menyadarinya?


Arion menatap Luke, "hubungi mereka sekarang!"


"Baik Jenderal," jawab Luke sambil memberi isyarat bagi Olsen untuk mendekat ke arahnya. Luke duduk bersila di pojok menara, dengan Olsen yang kini berbaring di hadapannya. Mereka tampak menyatukan kekuatan dan mencoba menghubungi klan lewat telepati.

__ADS_1


Arion dan Gigas diam mengamati sambil memperkuat lapisan pelindung. Arion juga mengirimkan energinya ke arah para penguasa Gunung Kuning, ia tak bisa bergabung dengan mereka, sebelum keamanan rakyat terjamin.


"Jenderal!" panggil Gigas pada Arion sambil menunjuk ke arah Luke dan Olsen yang tampak aneh.


Keringat Luke tampak deras bercucuran, sementara Olsen tampak semakin menundukkan kepalanya.


"LUKE! OLSEN!" Arion menghampiri keduanya dan menghentikan penggunaan energi mereka, ia mengalirkan energinya dengan cepat. "Gigas panggil tim penyembuh! CEPAT!"


Gigas mengangguk dan memejamkan mata, ketika ia hendak menggunakan telepati, ia mendengar teriakan sang Jenderal.


"JANGAN GUNAKAN TELEPATI!"


Gigas kembali membuka matanya, "tapi Jenderal telepati adalah cara yang paling cepat."


"Musuh memblokir telepati kita, mereka menyerap energi dari setiap telepati yang mereka blokir."


Gigas cepat mengambil kesimpulan dari perkataan Arion, ia pun segera berlari mencari penyembuh.


"Uhuk...Uhuk...!" Luke tampak terbatuk keras dan mengeluarkan darah, sementara Olsen sama sekali tak membuka mata.


"Jenderal, tampaknya ada yang salah." Luke membuka sedikit matanya, sedangkan Arion mencoba menopang badan Luke.


"Diam dan beristirahatlah Luke, Gigas sedang memanggil penyembuh," kata Arion sambil terus mengalirkan energi ke arah Luke dan Olsen.


"Jangan gusar Jenderal, Yang Mulia pasti akan datang," kata Luke dengan suara bergetar, lalu kehilangan kesadarannya.


"LUKE!"


Arion membuat lapisan pelindung untuk Luke dan Olsen hingga keduanya tampak meyang, lapisan pelindung yang ia buat adalah lapisan khusus yang bisa mentransfer energinya. Arion kembali menatap medan pertempuran yang kini tampak menghitam dipenuhi pasukan kegelapan yang jumlahnya terus bertambah.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Arion lirih dan berharap keajaiban muncul seperti kata Luke. Tapi siapa yang Luke sebut Yang Mulia? Raja, Ratu dan Ibu Suri tak ada di tempat dan mustahil kembali dalam waktu dekat karena musuh pasti telah memblokir semua gerbang masuk.


Arion tak punya pilihan lain, ia memilih bergabung bersama penguasa Gunung Kuning. "Aku benar-benar tak bisa memikirkan jalan keluar," ucapnya dengan suara yang hampir tak terdengar, ketika mendaratkan kakinya di samping Riley.

__ADS_1


"Tak perlu kau pikirkan lagi Arion, lihatlah!"


Riley menepuk pundak Arion berulang kali, "kau bisa mulai bernapas lega wahai penguasa api."


__ADS_2