
"Tentu, kemarilah Lea." Acasha menatap Lea dengan penuh senyum, matanya berbinar, "lihatlah, Carel sengaja bangun untuk menyambutmu."
Elea berjalan mendekat dan melihat ke dalam box bayi, bibirnya tersenyum tanpa ia sadari. Di dalam boks bayi terbaring bayi mungil yang sangat mirip dengan ayahnya, rambut dan mata hitam pekat dengan alis tebal dan kulit putih pucat.
"Oh lihatlah, ia menyukaimu Lea." Acasha tampak bersemangat ketika Carel tersenyum melihat Lea, kedua tangan Carel terulur ke arah Lea, "Carel ingin kau gendong."
"Bolehkah nek?" tanya Elea meminta ijin.
"Tentu saja, cepat gendong Carel!"
Elea merengkuh tubuh mungil Carel dan mendekapnya hati-hati dalam gendongan. "Anak pintar, anak tampan, kau mirip sekali dengan ayahmu ya," ucap Elea berbicara ke arah Carel. "Carel sangat menggemaskan nek," kata Elea sambil mengelus pelan pipi Carel yang berisi.
"Benar, aku pun tak sanggup meninggalkannya terlalu lama, Carel selalu membuatku rindu."
Elea tersenyum mendengar Acasha, "Carel sangat tampan, selain ayahnya yang tampan, aku yakin ibunya pun pasti sangat cantik. Di mana ibu Carel nek? Apakah ia pergi bersama ayah Carel?"
Acasha menggeleng pelan, mata yang tadinya berbinar bahagia, kini tampak berkabut. "Ibu Carel telah tiada, ia meninggal bahkan sebelum Carel lahir."
Elea merasa sedih, tapi ada yang ganjil dari jawaban Acasha. Bagaimana bisa ibu Carel meninggal sebelum Carel lahir, lalu bagaimana Carel lahir ke dunia ini?
"Carel lahir bukan dari proses alami," Acasha mendudukkan diri di ranjang megah persis di samping box bayi Carel.
__ADS_1
Elea mengikuti Acasha duduk perlahan, dengan Carel yang masih terus menatapnya tanpa henti, bola mata hitam bulatnya tampak sangat menggemaskan. Elea memeluk Carel dan menghangatkan tubuh mungil itu dalam dekapannya, setelah ia yakin kalau Carel dalam posisi yang nyaman, ia mengalihkan pandangannya ke arah Acasha yang kini tampak menatap sebuah lukisan di seberang ranjang dengan tatapan sendu.
Elea mengikuti arah pandang Acasha, foto keluarga tak lengkap yang ia temui sebelum masuk ke kamar Carel, kini tampak berbeda dengan hadirnya sesosok wanita cantik nan tangguh di dalamnya, dengan Carel yang nyaman dalam dekapan sosok itu.
"Aku meminta temanku untuk melukisnya dengan sihir, ia mampu melihat wajah Carel bahkan sebelum Carel lahir. Aku ingin Carel tahu bagaimana sosok ibu hebat yang ia miliki, walaupun ia tak pernah bertemu dengan ibunya. Akupun ingin Vey mengetahui wujud putranya sebelum ia meninggal," air mata mulai mengalir di pipi Acasha.
Elea menggeser tempat duduknya, tapi tangannya tak bisa menggapai Acasha karena ia tengah mendekap Carel. Elea menguarkan aura hitamnya dan mulai menyelimuti raga Acasha, berusaha memberi sedikit rasa nyaman. Aura hitam Elea tampak berbaur dengan aura hitam Acasha tanpa penolakan, "Carel dan ibunya pasti sangat bersyukur memiliki nenek, mereka pasti sangat berterimakasih atas semua yang telah nenek lakukan."
Acasha menggeleng pelan, "seharusnya aku mencegah putraku menikahi Vey, kalau saat itu aku melakukannya mungkin Vey masih hidup sekarang."
"Bukankah tadi nenek bilang bahwa nenek bersyukur memiliki Carel?" Elea mempererat dekapannya pada Carel, tangan kanannya mulai menepuk nepuk pelan badan Carel. "Lea yakin bahwa ibu Carel pun melakukannya tanpa paksaan, ia pasti telah memikirkan segala konsekuensinya, dan memiliki Carel juga merupakan anugerah untuknya, menjadi ibu Carel adalah pilihan yang telah ia ambil nek," kata Elea berusaha menenangkan.
Acasha tampak mengambil nafas panjang, ia berusaha menenangkan diri. "Ada dua pilihan untuk melanjutkan keturunan di kerajaan kegelapan," mata Acasha kini menatap Elea sendu.
Alis Elea sedikit terangkat, "melanjutkan keturunan dengan menyatukan aura?"
Acasha mengangguk membenarkan, "menggabungkan aura antara pewaris murni dengan seseorang yang juga memiliki aura dominan."
"Aura dominan?" tanya Elea bingung.
"Semua pewaris kerajaan kegelapan memilikihi aura hitam yang sangat dominan, aura ini mampu mengontrol seluruh rakyat tanpa mengangkat senjata. Acasha menatap sekilas Carel yang tampak mulai terlelap dalam dekapan Elea, ia lalu melanjutkan kata-katanya. "Tidak semua pemilik aura, memiliki aura dominan. Ibu Carel adalah seorang putri dari kerajaan manusia, ia bukanlah pewaris tapi ia memiliki aura dominan."
__ADS_1
Elea menelisik Carel dengan inderanya, bayi lelaki yang kini terlelap dalam dekapannya tampak tak terusik dengan apa yang ia lakukan. "Tapi aku hanya menemukan aura hitam di dalam tubuh Carel, apakah ibu Carel juga memiliki aura hitam yang sama dengan nenek?"
Elea bingung karena tidak menemukan jejak aura dominan ibu Carel sedikitpun dalam diri Carel, bukankah arti dari menyatukan aura adalah menggabungkan dua aura? Jika dua aura bergabung menjadi satu bukankah seharusnya tetap ada dua aura yang saling bertaut di dalam tubuh Carel? Tapi kenapa hanya aura hitam dominan yang Elea temukan?
"Tidak Lea, kau tidak akan pernah menemukan sedikit pun aura Vey dalam diri Carel."
Elea menatap bingung Acasha, ia menunggu Acasha melanjutkan.
"Bagi kerajaan gelap, pemimpin terkuat adalah pemimpin yang hanya memiliki aura hitam dominan di dalam tubuhnya," Acasha membalas tatapan Elea. "Penyatuan aura akan menghasilkan keturunan murni dengan aura hitam dominan, tanpa ada jejak aura lain. Sedangkan proses alami akan menghasilkan keturunan dengan dua aura yang saling bertaut."
"Tapi kenapa proses penyatuan aura membuat Carel tidak memiliki sedikitpun aura ibunya?" tanya Elea yang masih tak paham.
"Karena aura hitam dominan perlu memakan aura dominan lain untuk menghasilkan penerus terkuat," lanjut Acasha.
"Karena telah termakan habis dalam proses penyatuan aura, maka tak tersisa lagi aura dominan ibu Carel?" tanya Elea kembali memastikan teori yang berputar di kepalanya.
"Benar, dan lagi pemilik aura dominan lain pasti akan kehilangan nyawa karena auranya telah termakan habis tak bersisa," Acasha menghela nafas panjang.
Elea terkejut mendengar penjelasan Acasha, ia menatap Carel yang terlelap, air matanya jatuh tanpa bisa ia bendung. Hati Elea terasa sakit, entah mengapa ia merasakan perasaan tak berdaya. Aura hitam Elea yang tadi menyelimuti Acasha, kini berpindah ke arah Carel, perlahan mulai menyusup, berubah bagaikan untaian benang yang semakin lama semakin tampak terkait.
"APA YANG KAU LAKUKAN!"
__ADS_1
Tiba-tiba Carel dirampas paksa dari dekapan Elea, dalam hitungan detik sebuah tangan kekar mencekik leher Elea, mengacaukan untaian benang yang sedang Elea buat. Tubuh Elea terangkat dan melayang membentur tembok dengan teramat keras. Elea berusaha mengaktifkan aura untuk melindungi diri, darah segar keluar dari mulutnya, tembok di belakangnya tampak hampir runtuh, tubuhnya bagaikan terkoyak. Ia mencoba berdiri, ketika sebuah tangan yang samba kembali menerobos lapisan pelindungnya dan mencekik lehernya. Badan Elea disudutkan ke tembok dengan hentakkkan keras.
"SIAPA KAU?! JAWAB!"