
"Yang Mulia, hamba rasa kita perlu mengamati terlebih dulu," jawab Gentala mencoba menenangkan Ara.
"Tapi kita tidak punya banyak waktu," Ara menatap Gentala dengan mata berkaca-kaca. "Mereka pasti kesulitan Gentala," lanjut Ara dengan suara bergetar.
Ara takut sesuatu yang fatal dan mengerikan terjadi pada orang-orang yang ia kenal. Ara bahkan tak sanggup membayangkan apabila ia harus kehilangan satu dari mereka, mengingat nenek Isabel yang telah meninggalkannya, ia tak kuat bila harus menanggung hal yang sama untuk kedua kalinya.
Ara memalingkan pandangannya dan menangkap ratusan klan putih yang terbang mendekat. Ia sadar bahwa dirinya dan Gentala tak terlihat oleh mereka, ia pun mendekat ke arah bola sihir raksasa.
"Yang Mulia, berbahaya jika Yang Mulia menyentuhnya, tolong menjauhlah!" teriak Gentala panik melihat Ara yang semakin mendekat ke lapisan pelindung.
Ara menggeleng memberikan jawaban pada Gentala, ia menatap ke arah Raja, Ratu dan Ibu Suri yang tengah khidmat berdiskusi dengan para tetua klan putih, lalu kembali menatap Gentala.
"Saat menyerap energi inti klan merah, ada banyak energi kegelapan di dalamnya," Ara seolah menembus mata Gentala. "Kau bilang bahwa bola sihir ini dibuat dengan kekuatan kegelapan, maka jika aku menggunakan kekuatan kegelapan yang ada di diriku untuk menghancurkannya, akan ada kesempatan bagi mereka untuk memberi bantuan di medan pertempuran."
"Tapi lapisan ini menyerap energi siapa saja yang menyentuhnya, terlalu berbahaya Yang Mulia, hamba mohon bersabarlah hingga.."
"Tidak Gentala, aku tidak ingin terlambat dan menyesal," potong Ara seraya menyentuh lapisan bola sihir raksasa dengan tangan kanannya.
"YANG MULIA!"
Teriakan Gentala mengiringi kenekatan Ara, kegelapan yang dilancarkan Ara untuk menyerang bola sihir, kini tampak diserap dengan brutal, Ara merasa tarikan yang teramat kuat, bagaikan magnet yang saling tarik menarik, Ara tak ingin kehilangan kendali, ia terus melancarkan serangan dengan energi gelapnya. Rasa gemelitik memenuhi seluruh permukaan kulit Ara, semakin lama semakin sulit untuk menahan daya tarik bola sihir, keringat mulai bercucuran di dahinya.
Ara berpikir keras, tak mungkin ia bertahan jika terus seperti ini. "Tunggu, jika bola sihir menyerap semua energi yang mencoba menyerangnya, bagaimana jadinya jika aku tidak menyerang dan mencoba menyerap energi yang terkumpul pada bola sihir?" kata Ara dalam hati.
Tanpa pikir panjang lagi, Ara langsung menarik energi gelapnya dan dengan cepat menyerap energi bola kristal.
"Rasanya seperti mencoba memindahkan gunung! Kenapa sangat berat dan sesak!" Ara memggerutu dalam hati, kesabarannya hampir habis. Ia mencoba memusatkan seluruh auranya dan dengan cepat melontarkannya ke seluruh permukaan bola kristal.
__ADS_1
"APA YANG TERJADI?" Teriak Ibu Suri yang melihat petir merah dan hitam tampak saling beradu di permukaan lapisan bola kristal. "MUNDUR!"
Semua orang yang berada di depan lapisan bola kristal, mematuhi perintah Ibu Suri, sementara Raja dan Ratu tampak membuat lapisan pelindung bagi mereka.
"Yang Mulia, kau bisa meledak jika tak bisa mengendalikannya, biarkan hamba membantu," Gentala berusaha mendekat ke arah Ara.
"Diam kau Gentala!" Ara mengulurkan tangan kirinya dan menghalangi Gentala dengan membentuk barrier yang susah ditembus. "Jangan bergerak, jika terjadi sesuatu padaku, tolong lindungi keluargaku, Gentala!"
Air mata Gentala mengalir di pelupuk mata naganya. "Yang Mulia pasti akan selamat, hamba akan setia menanti."
Ara tersenyum simpul, ia pun kembali fokus memecah belah energi bola kristal, auranya masih tertarik bagaikan magnet, tapi di sisi lain mulai terbentuk gelombang di semua sisi bola kristal, permukaan yang tadinya tenang, kini bagaikan ombak di lautan. Ara memanfaatkan kesempatan untuk menarik auranya, sekaligus menarik aura yang terkumpul di permukaan bola kristal.
"AAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHH!" Teriakan Ara menggema di telinga Gentala, bagaikan pusaran angin raksasa, seluruh lapisan bola kristal yang berupa aura cahaya dan kegelapan, kini menerobos masuk dengan paksa ke dalam fragmen Ara, menjadikan Ara sebagai wadah penampung dalam sekejap.
Ara merasa tubuhnya tercabik-cabik, energi terus menerobos masuk ke dalam dirinya tanpa ampun. Ia mengepalkan kedua tangannya dan mencoba menahannya sekuat tenaga.
"Ibunda, apa yang terjadi?" tanya Raja yang mengamati aliran energi luar biasa yang kini tampak tersedot sesuatu.
"Aku bahkan tak bisa menembusnya, lihat dan amatilah dengan baik, mungkin ini pertama dan terakhir kita bisa melihat sesuatu yang maha dahsyat seperti ini," kata Ibu Suri menjawab pertanyaan sang Raja.
Ratu dan semua orang pun kini mengamatinya dengan mata terbuka lebar, mereka tahu bahwa yang terjadi di hadapan mereka adalah sebuah keajaiban yang akan menjadi legenda.
"AAAAAAAAAHHHHHHH!" Ara kembali menjerit, ia merasa tubuhnya melayang di udara dengan denyutan di seluruh organ, kulitnya terasa panas dan tercabik, tulang-tulangnya terasa remuk, darahnya hampir mendidih.
"Menyerah bukan berarti kalah," sebuah suara muncul dari dalam benak Ara.
"Kau masih saja keras kepala!"
__ADS_1
Ara membuka mata dengan kekuatan yang tersisa, hingga nampak sosok wanita penyihir yang dulu memerintahnya pergi ke gunung kuning. Wanita itu menyokong tubuh Ara dan ikut menyerap lapisan bola kristal bersama dengannya. Bagaikan gelas yang pecah, bunyi gemeretak mulai terdengar memekakkan telinga ketika energi lapisan terserap habis.
"Tidurlah, aku akan menjagamu," kata wanita penyihir dengan tatapan yang tak biasa ke arah Ara yang kini berada dalam gendongannya.
Ara kehabisan tenaga, ia tak mampu menjawab dan hanya bisa pasrah, larut dalam kelelahan.
"Kalian benar-benar tidak punya hati!" Seru wanita penyihir sebelum akhirnya menghilang bersama fragmen Ara.
"Lapisannya menghilang!"
"Apakah ini nyata?"
"Benar-benar sebuah keajaiban!"
"Tetua, anda baik-baik saja?" tanya sekelompok klan putih pada dua orang tetua yang tadinya jatuh pingsan karena energi mereka terserap bola kristal.
"Yang Mulia!"
"Arion, apa yang terjadi?" tanya sang Raja melihat jenderalnya mendekat.
"Terimakasih karena datang menyelamatkan kami, Yang Mulia." Arion tampak membungkukkan badannya, "berkat Yang Mulia, bukan saja lapisan bola kristal menghilang, tapi prajurit kegelapan dan para klan pemberontak tampak bagaikan patung yang tak bisa bergerak."
"Pemberontak? Apa maksudmu?" tanya Raja khawatir.
"Lihatlah Yang Mulia," kata Arion menunjuk ke arah medan pertempuran, yang masih dipenuhi pasukan kegelapan, namun kini mereka bagaikan patung yang kehilangan nyawa, sementara di langit tampak melayang 3 klan pemberontak yang juga sama nasibnya.
"Apakah Yang Mulia mengendalikan mereka?" tanya Arion penuh rasa penasaran. "Yang Mulia benar-benar hebat, hamba bahkan tak bisa memikirkannya."
__ADS_1
"Bukan putraku Arion," kata Ibu Suri memotong sanjungan sang Jendral.
"Ada orang lain yang tampaknya berbesar hati membantu kita."