Putri Yang Terjebak

Putri Yang Terjebak
Al


__ADS_3

Ara mengangguk menatap sang kakek, hatinya bergejolak, beberapa orang muncul dalam benaknya.


"Pergilah," ucap sang kakek sambil tersenyum.


"Apakah aku bisa menemui kakek lagi?" tanya Ara dengan suara bergetar, ia tahu bahwa dirinya sangat membenci perpisahan.


Sang kakek membelai lembut rambut panjang Ara yang kini berubah berwarna merah gelap, selaras dengan bola matanya yang juga berubah dengan warna yang sama.


"Tentu kita bisa saling bertemu kapanpun kau mau nak, kakek akan selalu berada di sini, dan seluruh tempat ini, termasuk desa klan merah akan selalu berada di dalam dirimu," sang kakek menatap lurus mata Ara.


"Benarkah?" Ara melihat sang kakek memberi anggukan pasti padanya.


"Bagaimana caranya kek? Bagaimana caranya jika aku ingin pergi menemui kakek?" tanya Ara bingung.


"Kau hanya perlu memfokuskan dirimu dan menajamkan niatmu, akan sulit di awal tapi semakin lama semakin kau akan terbiasa."


Ara mengangguk, "apakah cara itu juga berlaku untuk keluar dari sini kek?"


"Tentu nak, cobalah!"


Ara kembali mengangguk, ia duduk bersila, menutup matanya dan menajamkan indranya. Ara merasakan aura merah yang sangat kental, bagaikan energi alam yang murni, dengan cepat aura merah di sekitarnya terasa berebut masuk ke dalam dirinya, Ara terperanjat kaget, ia kehilangan fokusnya, keringat dingin bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.


Ara mengepalkan kedua tangannya, melawan semua sensasi aura merah yang teramat kuat, ia berusaha keras sampai menggertakkan giginya, hingga gelap dan kesunyian menyapa. Ara menarik nafas panjang, ia mulai mengatur nafasnya, dalam kegelapan Ara berjalan cepat ke sembarang arah, mengikuti nalurinya. Semakin ia berjalan semakin ia merasa putus asa, karena tak bisa menemukan jalan keluar.


Ara mulai kehilangan kesabaran, ia menghentikan langkahnya dan memandang sekeliling, tapi nihil! Tak ada yang berubah, hanya kegelapan tanpa ujung.


Ara pun kembali duduk bersila, otaknya terasa bekerja sangat keras, berusaha mencari jalan keluar. "Adakah yang bisa membantuku keluar dari sini?" bisik Ara lirih karena terlalu lelah, ia benar-benar hanya asal bicara dan tak mengharapkan jawaban, ia hanya ingin bicara dengan dirinya sendiri, agar ia tahu bahwa dirinya masih hidup.


"Gentala, apa kau pikir ia masih belum selesai?"

__ADS_1


Ara terkejut, tiba-tiba sebuah suara yang tak asing terdengar menyibak kesunyian yang lama ia rasakan. Ara kembali berdiri dan mencoba mengikuti asal suara.


"Maaf tuan muda, sepertinya memang belum. Kenapa tuan bertanya?"


Suara Gentala yang menggelegar, membuat Ara mantap dan berlari dengan cepat ke asal suara, Ara tak ingin kehilangan momen, ia harus berlari secepat mungkin, sebelum mereka berhenti bicara.


"Ada sesuatu yang terjadi di kerajaan, aku harus kembali sekarang juga."


Ara melihat sebuah cahaya terang, ia mempercepat larinya, melompat dan meraih cahaya itu. Ara mengatur nafasnya, ia terengah-engah karena berlari, tubuhnya serasa lemas dan tak bertenaga. Ia membuka matanya dengan cepat, cahaya terang yang masuk ke dalam gua, kini menerobos masuk ke dalam matanya.


"Apa yang terjadi di kerajaan?"


Ara mencoba bertanya, masih dari tempatnya duduk, di belakang Gentala, tapi suaranya berhasil menggema di dalam gua.


"Yang Mulia, Anda telah berhasil?" Gentala memutar tubuhnya dan menatap ke arah Ara yang kini tampak berubah wujud.


"Ara? Putri Eleanor?"


"Apa yang terjadi di kerajaan, tuan Alardo?" tanya Ara kembali mengulang pertanyaannya.


Alardo tampak menghela nafas panjang, ia merasa sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan sang putri, tapi ia tahu bahwa ini bukanlah saat yang tepat untuk mengutarakan kebahagiaannnya. Ia pun mencoba menjawab pertanyaan Ara.


"Saya mendapat pesan dari Jendral Arion bahwa tampaknya akan ada pemberontakan, Yang Mulia," kata Alardo sopan setelah melihat keagungan sang Putri Eleanor di hadapannya. Alardo sadar bahwa ia tak bisa memanggilnya dengan nama Ara tanpa gelar lagi.


Wajah Elrick, jedua orangtua dan neneknya terbayang di benak Ara. "Aku akan ikut dengan anda, tuan."


"Tapi Yang Mulia, anda baru saja bersemedi lebih dari satu tahun tanpa makan sedikut pun, tolong makanlah lebih dulu, Yang Mulia."


Ara mengerjap kaget dan menatap Gentala, "kau bilang satu tahun?"

__ADS_1


Gentala menganggukkan kepalanya, serambi mengeluarkan buah-buahan ke hadapan Ara. "Makanlah dulu Yang Mulia," kata Gentala menyodorkan buah ke arah Ara yang masih takjub.


"Tapi tak ada waktu Gentala, bolehkah aku makan di perjalanan?"


Al menangkap kecemasan Gentala, "Yang Mulia tak perlu buru-buru, biar hamba yang pergi terlebih dahulu. Yang Mulia bisa menyusul setelah pulih," kata Al sembari memberi hormat dan berpamitan.


Ara ingin menolak permintaan Alardo, tapi Gentala menatapnya tajam tanpa ampun. Ara pun hanya dapat menelan lidah dan mengangguk, menyetujui usul Alardo.


"Kami juga ijin pamit, Yang Mulia."


Luke, Olsen dan serigala bersayap milik Al, membungkuk dari mulut gua. Ara kembali mengangguk.


"Jangan khawatir Yang Mulia, hamba yakin Jenderal Arion dan Gigas dapat mengatasinya," kata Alardo sebelum menaiki serigala bersayapnya.


Ara masih tak sanggup berjalan karena tubuhnya terasa amat lelah, maka ia hanya mengikuti kepergian Alardo dengan matanya.


Alardo tersenyum dan mengangguk dari atas punggung serigala bersayap miliknya, dalam hati Al berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa tetap hidup dan kembali bertemu dengan sang putri.


"Ayo kita pergi Blevine!"


Blevine sang serigala bersayap, mulai mengepakkan sayapnya dan terbang di udara. Al menatap Luke dan Olsen yang mengikuti di belakangnya, melihat keduanya tampak siap terjun dalam perang, mata Al kembali beralih ke gua yang baru ia tinggalkan. Hatinya terasa berat untuk pergi, tapi jika ia tak pergi sang Putri pasti akan bersikeras pergi bersamanya dengan kondisi tubuh yang tampak lemah.


Al menghela nafas panjang, matanya beralih menerawang ke langit, ada rasasedih di dalam hatinya. "Kenapa pertemuan dengannya selalu di akhiri dengan sebuah perpisahan?" gumam Al dari punggung Blevine. Angin bertiup kencang seiring kepakan sayap Blevine, bagaikan kilat, Blevine menembus awan di hadapannya dengan cepat.


"Tuan, tampaknya keadaan di bawah sana tidak terlalu baik," kata Blevine melihat api yang membara dan kepulan asap yang tertangkap matanya. Blevine memutuskan untuk terbang memutari kota yang kini menyala bagaikan bara api.


"Bawa aku turun Blevine!"


Tanpa memberi jawaban, Blevine mulai menukik tajam mengikuti perintah Al. Kepakan sayapnya mulai melambat, memeriksa keadaan dan tempat terbaik untuk menurunkan tuannya.

__ADS_1


Al mencoba memahami situasi, matanya terus mencari sosok sang Jendral. "Di sana Blevine!"


Al membagi penglihatannya dengan Blevine, ia menangkap sosok Jendral Arion yang kini berlumuran darah, Pasukan di hadapan sang Jendral tampak menyerang membabi buta, tapi melihat dari keadaan sang Jendral yang masih bisa berdiri tegak, Al yakin bahwa darah yang berlumuran di baju zirahnya bukanlah darah milik sang Jendral.


__ADS_2