
"Apa yang ingin kau lakukan hingga meminta ijinku untuk pergi dari kerajaan?" tanya Elrick menatap Alardo curiga.
Alardo menatap langit malam yang dipenuhi bintang, bulan purnama pun menampakkan dirinya seolah tak mau kalah mempercantik sang langit. "Seperti halnya langit yang tak berujung, hamba yakin dunia ini pun sama, Yang Mulia."
Alardo menarik nafas panjang, ia mengamati beberapa rasi bintang yang terlihat, "hamba menyadari bahwa ilmu yang hamba miliki masihlah teramat dangkal, hamba ingin bebas mengelilingi dunia seraya menambah pengetahuan hamba. Tak ada guru yang lebih baik dari pengalaman, hamba yakin Yang Mulia yang bijaksana, tak akan menahan hamba di sini bukan?"
Alardo beralih menatap Elrick yang kini menatapnya dengan tatapan curiga, "apa kau yakin kalau kau ingin pergi untuk menambah pengetahuanmu? Sejak kapan tuan Alardo yang amat menyukai kerajaan ini, memilih untuk pergi?"
"Ehm," Alardo merasa sedikit terpojok. Ia tumbuh bersama sang putra mahkota sejak kecil, mereka amat mengetahui kepribadian masing-masing. "Bukankah manusia berubah seiring bertambahnya usia?"
"Jadi kau lupa kalau kau bukan manusia?" Elrick tak mau kalah, ia menatap tajam sepasang mata Alardo. Ia melangkah mendekat, hingga hampir tak ada jarak diantara keduanya. "Siapa dia? Siapa wanita yang membuatmu ingin pergi?"
Al mendorong tubuh Elrick, hingga Elrick terpaksa mundur beberapa langkah. "Apa yang kau bicarakan? Benar-benar tak masuk akal! Aku hanya ingin pergi! TITIK!"
Elrick menggelengkan kepalanya, "aku hanya ingin memberimu saran tuan Alardo. Jangan terlalu mencintai seseorang jika kau belum siap untuk sakit hati."
Al merasakan wajahnya menjadi panas, "terserah apa kata Yang Mulia, dengan atau tanpa ijin Yang Mulia, aku akan tetap pergi!"
Elrick menghembuskan nafas kasar, "kata orang, sebagai orang tua harus rela melepas kepergian putranya agar bisa melihat putranya berkembang di luar sana. Tak ada yang bisa kulakukan, pergilah jika itu yang kau inginkan."
Alardo mengerjapkan sepasang matanya, "Yang Mulia mengijinkan hamba?"
Elrick mengangguk, "he-em, pergilah!" Elrick menatap Alatdo yabg tampak bingung mendengar keputusannya. "Pergilah sekarang sebelum aku berubah pikiran!"
"Sampai jumpa Yang Mulia," ucap Alardo yang kembali sadar dari keterkejutannya. Ia membungkuk memberi salam perpisahan.
"Dia pasti akan kembali kalau kehabisan uang," ucap lirih Elrick yang tertangkap pendengaran Alardo.
__ADS_1
"Jangan mengharapkan sesuatu yang belum tentu terjadi, Yang Mulia. Sampai bertemu lagi," jata Alardo seraya menghilang dalam portal.
"Akhirnya kau datang juga!"
Alardo membungkuk memberi hormat pada Ariadna yang tampak menunggunya di dalam gua. Ia lalu menghampiri Blevine yang ia tugaskan berjaga di mulut gua. "Terimakasih Blevine, kau boleh beristirahat lebih dulu, kita masih punya waktu," ucap Alardo seraya mengelus kepala Blevine yang mulai memejamkan matanya.
"Guru, bagaimana keadaan Yang Mulia?" tanya Alardo yang kini mendudukkan diri di samping Ariadna.
"Eleanor sangat pintar menyembunyikan emosinya," Aridana menerawang jauh. "Saat ia berhasil menyatu dengan fragmennya dan membuka mata, aku pikir ia ingin kembali dan mendekap keluarganya. Tapi ternyata keinginannya malah ingin mengubur sang Putri Eleanor, benar-benar anak yang sulit ditebak."
Alardo tersenyum penuh arti, "benar, Yang Mulia memang sulit ditebak. Ia memiliki hati yang lembut, tapi jauh dari kata rapuh. Kekuatannya amatlah tak terkira, tapi tak sedikitpun membuatnya angkuh. Ia rela meninggalkan apapun demi orang-orang yang ia cintai," gumam Alardo. "Tapi Guru, apakah tepat tidak membawa Gentala dalam perjalanan ini?"
"Gentala menyampaikan sumpah setianya kepada Eleanor, kalau ia beranjak dari makam sang Putri, keluarga kerajaan pasti akan merasa aneh dan mencoba menggali keanehan yang terjadi," Ariadna menjawab dengan lugas. "Lagipula ia perlu berkembang biak," tambah Ariadna sambil tersenyum lebar.
"Berkembang biak?" ulang Alardo tak mengerti dengan pemikiran Ariadna.
Ariadna mengangguk, "bukan hanya Gentala, kau juga Al! Bukankah sudah waktunya kau menikah dan mempunyai anak? Aku yakin klan putih dan si tua Agnor juga pasti telah mendesakmu bukan?"
Ariadna menggeleng, "lihatlah aku, sampah ratusan tahun yang tak menikah! Jangan jadi seperti diriku yang menua dan kesepian, qpa kau mau hidup membosankan sepertiku?"
"Guru tidak menua sama sekali, orang lain yang melihatmu akan mengira kau berumur dua puluhan tahun, dan lagi aku tak keberatan memiliki hidup sepertimu, karena pada akhirnya kau bertemu Yang Mulia," Alardo membalik perkataan Ariadna.
"Ah, jadi intinya kau tak apa melajang seumur hidupmu asal bisa melihat Eleanor," Ariadna mengucapkan kata-katanya dengan lantang.
"Guru! Bukan begitu! Bisakah kau pelankan suaramu, bagaimana kalau Yang Mulia mendengarnya dan salah paham?" Alardo panik dqn mengomeli Ariadna.
"Biarkan saja Eleanor tahu KALAU KAU MENCINTAINYA!" Goda Ariadna sambil berteriak, suaranya menggema di seluruh gua.
__ADS_1
"GURU!" Alardo tanpa berpikir panjang ia membungkam mulut Ariadna, "tolonglah Guru, aku sadar aku tak pantas untuk Yang Mulia, jadi tolong biarkan aku berada di sampingnya tanpa menjadi beban."
"Hmmmmm...ummmpppph," Ariadna mencoba melepas bungkaman Alardo, tapi gagal.
"Apa yang kalian lakukan?"
Alardo mengalihkan pandangannya ke mulut gua, dilihatnya Eleanor yang tampak mengenakan jubah hitam panjang.
"Yang Mulia tiba," ucap Blevine memberi informasi secara tak langsung kepada tuannya yang tampak kebingungan.
"Yang Mulia, apakah Yang Mulia tidak ada di dalam gua sedari tadi?" tanya Alardo masih membungkam mulut Ariadna tanpa sadar.
"Ya, aku baru saja tiba setelah berpamitan pada Gentala," jawab Elea cepat.
"Jadi..." Alardo menatap Ariadna yang kini menatapnya marah. "Maafkan aku Guru," ucap Alardo seraya melepaskan bungkaman tangannya di mulut Ariadna. Ia langsung berlari kencang dan memilih bersembunyi di belakang Eleanor.
"DASAR MURID LANCANG! KEMARI KAU, JANGAN HANYA BERANI DI BELAKANG ELEANOR!" Ariadna tampak marah, wajahnya merah padam.
"Apa yang sebenarnya terjadi Blevine?" tanya Eleanor pada Blevine, setelah Alardo pergi dari sisinya dan berlari ke sembarang arah menghindari kejaran Ariadna.
"Tak perlu dipedulikan Yang Mulia, ada saatnya mereka berubah menjadi tikus dan kucing," jawab Blevine dengan mata yang mengikuti Alardo dan Ariadna.
Eleanor menghembuskan nafas kasar, "walaupun terlihat seperti bermusuhan, tapi nyatanya mereka sangat dekat. Bukankah menggemaskan melihat mereka berdua seperti itu Blevine?"
Blevine mengangguk, ia mengingat bahwa Ariadna tanpa sadar telah menggantikan sosok ibu yang telah lama tiada di hati Alardo. "Benar Yang Mulia," jawab Blevine singkat.
"Perjalanan nanti pasti tak akan membosankan karena ada keduanya, aku sangat bersyukur."
__ADS_1
Blevine menatap Eleanor di sampingnya, "apakah Yang Mulia yakin akan tetap melakukan perjalanan?"
Eleanor mengangguk, "tentu Blevine. Aku harus pergi untuk kembali. Aku ingin melihat keadaan di luar sana, sebelum akhirnya memutuskan kembali pulang."