
"Elea bagaimana kalau kita mulai dengan mengunjungi teman lamaku?" usul Ariadna dengan mata berbinar.
Elea mengangguk, "tentu bibi, ide yang bagus karena aku pun tak punya tujuan pasti." Elea lalu menatap Alardo dan Blevine, "bagaimana dengan kalian? Apakah kalian tidak keberatan?"
"Tentu tidak Yang Mulia," jawab Alardo dan Blevine bersamaan.
"Tapi Blevine, bisakah kau merubah wujudmu?" tanya Ariadna.
"Tentu, penyihir agung."
Blevine tampak memejamkan matanya, seketika angin topan kecil menyelubungi seluruh tubuhnya dan boom!
"Kau bisa berubah menjadi manusia?" Elea tampak tercengang dengan perubahan wujud Blevine. "Aku kira kau hanya merubah ukuranmu menjadi lebih kecil, tapi kau merubah wujudmu menjadi manusia?" tanya Elea lagi dengan pandangan mata tertuju pada Blevine.
"Apakah Yang Mulia tidak menyukainya? Haruskah hamba memperkecil ukuran hamba seperti Yang Mulia inginkan?" tanya Blevine polos.
Elea mengerjapkan matanya, Blevine sang serigala bersayap raksasa, kini menjelma menjadi seorang pemuda tampan. Rambut panjang silvernya diikat ekor kuda, tubuhnya setinggi Alardo, mata merahnya bersinar bagaikan ruby dan kulitnya putih bersih bak seorang pangeran. Elea menelan ludahnya, "tidak, tidak perlu Blevine. Melihatmu seperti ini membuatku lebih bersemangat untuk memulai perjalanan."
Elea tersenyum lebar ke arah Blevine, ia memperlihatkan barisan giginya yang rapi tanpa malu.
"Ehm, bukankah Yang Mulia terlalu lama menatapnya?" Alardo tiba-tiba beranjak ke arah depan Blevine, tampak sengaja menghalangi pandangan Elea.
"Kenapa memangnya? Apa ada yang salah? Aku hanya terkejut melihat ketampanan Blevine, bukankah itu wajar?" ujar Elea sewot. "Ah, aku lupa! Apakah kau berpikir kalau aku akan merebut Blevine darimu? Apa kau cemburu padaku?"
"APA?!" Alardo tampak menganga saking kagetnya dengan jalan pikiran Elea yang tak terduga.
"Tenang saja Tuan Al, aku paham kalau kau mencintai Blevine melebihi apa pun di dunia ini. Aku cukup tahu diri untuk tidak menjadi orang ketiga diantara kalian," senyum Elea mengembang sambil menepuk pundak Alardo yang masih tampak bengong.
"Ah satu hal lagi, mulai hari ini kalian perlu memanggilku dengan namaku, okey?" pinta Elea ke arah Alardo dan Blevine.
__ADS_1
"Aku akan memanggilmu Lea mulai hari ini," ucap Ariadna menyela.
"Nama yang bagus! Terimakasih bibi," kata Elea bersemangat sembari bergelanyut di lengan Ariadna. Sifat manja yang tiba-tiba muncul dari Elea yang selama ini tampak kuat, membuat Ariadna tersenyum lembut, matanya seolah tak beranjak dari wajah bahagia sang putri.
"Ehm, Tuan." Blevine memanggil Alardo pelan, "maaf tuan, tapi saya masih lelaki normal."
"APA KAU TIDAK BISA MEMBEDAKAN MANA BERCANDA DAN MANA YANG SERIUS?!" Wajah Al memerah karena marah, ia menatap Blevine kesal. "Cepat rubah wujudmu, atau aku akan menyimpanmu dalam cincin selamanya!"
"Tapi Tuan, Yang Mulia bilang kalau aku tampan dengan wujud manusiaku," kata Blevine sambil tersipu.
"LAKUKAN SEKARANG ATAU AKU AKAN BENAR-BENAR MENGURUNGMU DI DALAM CINCIN!" mata Al tampak bagaikan api yang berkobar. "SEKARANG, BLEVINE!"
"Baik Tuan," Blevine mengangguk pasrah. Blevine kembali memejamkan mata, kini ia merubah wujudnya menjadi serigala kecil yang tampak seperti seekor rubah yang lucu, dengan bulu halus yang tebal.
"Oh ya ampun Blevine, kenapa kau selalu mengejutkanku ketika berubah wujud!" Elea berlari mendekati Blevine, tangannya meraih tubuh Blevine dan mendekapnya. "Kau sangat imut, lucu dan menggemaskan! Bulumu sangat lembut, Yang Kuasa benar-benar memberimu anugerah yang tak terkira," ucap Elea dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Al," panggil Elea tanpa embel-embel tuan.
"Bolehkah aku menggendong Blevine?" pinta Elea dengan wajah memelas.
"Kau harus mengijinkannya jika tak mau ia berpikir kau penyuka sesama jenis," bisik Ariadna di telinga Alardo.
"Ah, ehmm tentu...tentu boleh. Silahkan Lea," jawab Al kikuk. "Tapi ketika kau lelah, biarkan Blevine berjalan sendiri, ia terlalu gemuk, ia perlu berolahraga sedikit," jawab Alardo menambahkan.
"Benarkah? Tapi kupikir Blevine tampak sangat imut sekarang, ia tak perlu berolahraga!"
Alardo menghela nafas panjang, ia mencoba menahan api yang membara di dalam tubuhnya.
"Kau harus bisa menahannya, lagipula Blevine pandai menggunakan sihir peringan tubuh!" bisik Ariadna lagi.
__ADS_1
"Lakukan apa yang kau mau Lea, aku takkan mencegahmu," kata Al pasrah.
"Yeay! Terimakasih Al!" kata Elea seraya memeluk Alardo tanpa sadar. Ia teramat bahagia bagaikan mendapat mainan baru.
"Betulkan kataku? Kau akan mendapatkan sesuatu yang setimpal ketika kau bersabar," kata Ariadna lirih, setelah Elea menggendong Blevine berjalan menjauh menuju portal.
"Ikuti kata-kataku jika kau ingin mendapatkannya, dia memang pintar dalam segala hal, tapi sangat bodoh bila menyangkut masalah cinta! Begitu pula denganmu," Ariadna bicara sambil lalu, ia mulai melangkah meninggalkan Alardo yang masih tampak terkejut dengan apa yang baru saja menimpanya.
"Yang Mulia memelukku?" mata Alardo mengikuti sosok Elea yang terus tersenyum dengan Blevine dalam gendongannya. "Kuharap ini awal dari hal yang positif, oh yang benar saja!" Al menampar dirinya sendiri, "sadarlah Al, sadar! Ini baru awal perjalan!"
"Hei kau murid baru! Cepatlah sedikit!" omel Ariadna yang kini telah berada di mulut portal bersama dengan Elea dan Blevine.
"Apapun yang terjadi, aku harus bisa menjaga kewarasanku!" Al menggumam mengingatkan dirinya sendiri sambil berjalan cepat menyusul ketiganya.
"Kalau kau melamun lagi, aku tak akan ragu meninggalkanmu!" ancam Ariadna, ancaman yang mirip dengan yang Alardo berikan pada Blevine.
"Baik Guru," jawab Alardo singkat.
Ariadna menatap Alardo selama beberapa detik dan memastikannya dakam keadaan baik. "Bersiaplah anak-anak, aku sudah tak sabar bertemu dengan teman lamaku! Bertahanlah akan ada goncangan di dalam portal," kata Ariadna memberi informasi, seraya mengaktifkan portalnya.
Ariadna merangkul pundak Eleanor erat, sementara Alardo bertahan dengan memperkuat tumpuan di kedua kakinya. Awalnya portal berjalan mulus seperti biasa, namun tiba-tiba bagaikan terbanting jatuh, portal terasa terjun bebas dengan kecepatan tinggi, membuat Eleanor memeluk erat tubuh Blevine, sementara Ariadna mencoba sekuat tenaga menstabilkan portal, tangan kanannya memegang erat pundak Eleanor, di sisi lain tangan kirinya memegang pundak Alardo.
"Bertahanlah, sebentar lagi kita sampai!" ucap Ariadna dengan suara bergetar melawan gelombang portal.
"AAAAAHHHHHHHHH!" Eleanor dan Alardo tak sadar berteriak kencang, bagaikan terhisap dalam putaran angin topan.
"BRUGH!"
Ariadna menarik pundak Alardo dan Eleanor agar tak terpisah, walaupun mereka terhuyung beberapa saat, namun akhirnya berhasil mendarat dengan selamat.
__ADS_1
"Guru, bukankah ini lebih dari goncangan?" tanya Alardo yang masih berusaha menguasai tornado di kepalanya. Rambutnya berantakan, fokusnya terpecah dan kakinya seolah kehilangan kekuatan untuk bertumpu.
Di sisi lain, Eleanor tampak sibuk mengamati sekelilingnya. "Di manakah kita?"