
"Makanlah dulu, Yang Mulia." Gentala menggeser buah-buahan yang menggunung ke arah Ara. "Yang Mulia perlu kekuatan untuk membantu mereka."
Ara menatap gunungan buah beraneka macam, "Gentala bagaimana kau mendapatkan buah sebanyak ini? Apakah kau meninggalkanku sewaktu aku bersemedi?"
"Tidak, Yang Mulia. Hamba memetiknya dari sini, karena hamba tak beranjak sejengkal pun dari sisi Yang Mulia."
Ara tak paham dengan ucapan Gentala, bagaimana Gentala bisa memetik buah sebanyak itu jika tubuhnya tak bergerak sedikitpun di sampingnya?
"Bagaimana mungkin?"
Gentala menatap mata Ara, "tentu saja sangat mungkin karena hamba raja dari semua naga, Yang Mulia."
Ara mencoba meraih buah anggur hijau yang berada paling dekat dengannya, dengan hati-hati agar gunungannya tak runtuh.
"Tak akan runtuh Yang Mulia," kata Gentala seolah mengetahui isi pikiran Ara.
Ara menatap ke arah gunungan sambil meraih anggur yang ingin ia makan, dan benar saja tak runtuh bahkan goyahpun tidak, semua masih ada pada tempatnya. Ara pun menatap buah anggur hijau di tangannya, buahnya ranum dan besar, tampak sangat segar, benar-benar menggiurkan. Ara memetik satu buah dari rantingnya dan memasukkannya ke dalam mulut, tanpa sadar Ara menampakkan senyumnya. Rasa segar dan manis bersatu memenuhi indera perasanya.
"Terimakasih Gentala, andai saja aku bisa melakukannya sepertimu, aku pasti akan sangat bahagia," kata Ara sambil terus memasukkan anggur ke mulutnya.
"Siapa bilang Yang Mulia tidak bisa?"
Ara melotot kaget, "uhuk...uhukk...uhukk..."
"Yang Mulia bahkan tak perlu datang ke medan pertempuran," lanjut Gentala tanpa basa-basi.
Ara mendelik ke arah Gentala, meminta penjelasan sambil mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal karena tersedak.
__ADS_1
"Hamba akan memberi penjelasan setelah Yang Mulia menghabiskan semuanya," kata Gentala sambil melirik gunungan buah yang masih bertengger dengan indahnya.
"Tapi Gentala, aku benar-benar harus membantu mereka secepatnya, aku takut terlambat."
"Maka habiskanlah dengan cepat, Yang Mulia."
Ara menatap Gentala dengan tatapan memohon, tapi Gentala tampak tak mengindahkan tatapannya. Ara mencoba memutar otak, agar dia bisa melahap semua buah di hadapannya dalam waktu yang singkat. Ara mulai memejamkan mata, menggunakan energi yang masih tersisa di dalam tubuhnya, ia mulai menyerap energi alam di dalam gua, dan memanfaatkannya untuk mengaktifkan energi inti klan merah yang baru ia dapatkan.
Perputaran energi terasa di dalam tubuh Ara, bagaikan topan yang semakin lama semakin membesar, berputar ke segala penjuru. Tubuh Ara terasa sangat panas layaknya terbakar api, ia berusaha sekuat tenaga tetap fokus dan mengendalikan inti energi yang teramat ganas di dalam tubuhnya.
"Aku hanya ingin melahapnya sampai habis!" teriak Ara bersamaan dengan suara ledakan, topan yang tadinya berputar di dalam dirinya, kini tampak ke luar dari raganya, mengitari gunungan buah yang menjulang tinggi, dan dengan cepat tanpa aba-aba langsung menerobos masuk kembali ke dalam diri Ara.
Bagaikan minum jus dalam volume yang luar biasa banyak, Ara merasakan beraneka rasa buah masuk ke dalam dirinya, menerobos setiap pembuluh darah dan membuat dirinya kembali mendapatkan energi dengan cepat. Tubuhnya terasa segar bagaikan baterai yang kembali terisi, fokusnya semakin tajam dan inderanya berfungsi teramat baik.
"Yang Mulia, kini saatnya Yang Mulia membantu mereka. Fokuskan kembali indera Yang Mulia, serap energi alam yang ada serambi mengaktifkan energi inti. Lalu lacak menggunakan indera Yang Mulia sampai Yang Mulia dapat menemukan medan pertempuran, kenali dengan tepat, salah satunya adalah dengan mengenali aura seseorang yang mungkin berada di medan pertempuran," Gentala memberikan petunjuk dengan lugas yang langsung diikuti oleh Ara.
"Kenali aura seseorang yang mungkin berada di medan pertempuran, Yang Mulia."
Kata-kata Gentala membuat Ara berpikir cepat, cincin milik Jendral Arion dan kalung kerajaan yang sama dengan milik Pangeran Elrick masih terpasang di tubuhnya, ia men-scan aura yang tertinggal di dua benda itu menggunakan energinya, dan mulai mencari aura yang identik pada peta timbul di hadapannya.
Nihil!
Ara mencari dan terus mengulang pencariannya, namun tetap tak ada hasil, bagaikan berada di dunia yang berbeda, ia sama sekali tak menemukan aura energi yang identik. Ketika lelah mulai menghampiri dan kata menyerah hendak keluar dari mulutnya, Ara melihat lapisan pelindung raksasa yang menyerupai bola sihir transparan, dengan sengatan energi bagaikan petir berwarna-warni merambat di seluruh permukaannya.
Ara menghampirinya dengan penuh rasa penasaran, fragmen energinya membentuk sosok jiwanya yang ringan, kini ia melayang mendekati bola sihir raksasa.
"Apa yang terjadi? Kenapa kita sama sekali tidak bisa menembusnya?"
__ADS_1
Ara berhenti tepat di depan bola sihir, ia melihat beberapa orang berpakaian serba putih nampak bingung dan panik, dua orang dari mereka tampak tak sadarkan diri dengan bekas darah di mulut keduanya.
"Jangan menyentuh atau menggunakan energi, untuk sementara waktu kita amati terlebih dahulu," kata kakek tua berjanggut yang tampak serius mengamati permukaan bola sihir.
"Baik tetua," jawab mereka bersamaan.
"Panggil semua klan putih yang masih ada di puncak gunung suci, tampaknya kita harus bersiap untuk keadaan yang terburuk," perintah tetua itu lagi, yang diikuti dengan perginya dua orang pemuda dengan menaiki serigala terbang, lebih kecil dari kepunyaan Luke dan Alardo tapi tetap tampak menakjubkan di mata Ara.
"Gentala, kenapa mereka pergi untuk memberi kabar? Bukankah mereka bisa menggunakan telepati?" tanya Ara pada Gentala.
Fragmen aura Gentala kini mendekati Ara, ia tampak terbang mengelilingi permukaan bola sihir, dan kembali ke samping Ara.
"Yang Mulia, lapisan pelindung ini adalah jebakan yang dibuat dengan kekuatan gelap, siapapun yang menyentuh atau menggunakan energi mereka, sama saja bunuh diri! Lapisan ini akan menyerap energi sampai habis, hingga raga bagaikan rangka kosong tanpa jiwa," lapor Gentala.
"Apakah medan pertempuran ada di dalam lapisan ini?" tanya Ara kembali penasaran.
"Hamba tak dapat memastikan Yang Mulia, tapi tampaknya kemungkinan besar benar adanya," ucap Gentala yang bahkan tak yakin dengan perkataannya sendiri.
"Ada apa ini?"
Hati Ara bergetar mendengar suara laki-laki yang dikenalnya, ia pun menengok ke asal suara dan penglihatannya tak akan pernah salah.
"Hormat kami Yang Mulia Raja, Ratu dan Ibu Suri," suara klan putih terdengar keras menggema.
Ara mundur beberapa langkah dan mengamati mereka, "Gentala, mereka semua pasti dalam bahaya karena para pemimpin kerajaan tak berada di tempat."
Ara berusaha menyingkirkan rasa pedih di hatinya dan kembali fokus pada tujuan utamanya untuk membantu. "Gentala, apakah ada cara untuk menghancurkan lapisan ini?"
__ADS_1