
"Tidak, jangan mendarat Blevine! Teruslah terbang rendah," perintah Al.
Blevine mengikuti perintah Alardo, ia kembali mengepakkan sayapnya. Al meraih busur panah dan mulai membidikkan anak panahnya. Satu anak panah yang ia tembakkan berubah menjadi ratusan anak panah di udara dan seketika membuat musuh panik.
Luke mengikuti gerakan Alardo, walaupun tak sebaik Al, Luke tak kalah hebat. Olsen terbang menjauh dari Blevine, membuat Luke memanah ke arah pasukan pemberontak di luar jangkauan Al, kerja sama yang hebat.
Al tampak tak berhenti, ia terus memanah ke arah musuh. Matanya bagaikan mata elang, tak ada satupun musuh yang tak tertangkap matanya.
"Tuan, ada yang tidak beres!"
Al mengikuti arah pandang Blevine, pasukan musuh yang dipanahnya kini kembali berdiri dan menyerang membabi buta seolah mereka abadi, seolah panah Al hanyalah sebuah jarum, yang hanya membuat mereka jatuh dalam sekejap tapi juga berdiri kembali tak lama kemudian.
"Apakah mereka bukan manusia?" tanya Luke yang kini berada di samping Al, dengan Olsen yang terbang berdampingan dengan Blevine.
"Mereka benar-benar iblis!"
"APA!" kata Luke terkejut, matanya terlihat membulat ke arah Alardo. "Bagaimana bisa pasukan pemberontak adalah iblis?"
"Mereka lumayan cerdik, mengetahui bahwa sang ratu adalah keturunan klan merah yang tak mudah dikalahkan, mereka tampaknya meminta bantuan iblis karena putus asa!"
Al melihat segerombol pasukan musuh, baju zirah mereka kini terkoyak, memperlihatkan kulit mereka yang hitam kelam. Darah merah yang tampak di baju zirah Jendral Arion, kini berubah menjadi hijau tua kehitaman.
"Tapi bagaimana mengalahkan mereka jika senjata kita bahkan tidak mematikan untuk mereka?" tanya Luke panik, ia mengabaikan tata krama pada Al.
"Lapisi setiap anak panah dengan auramu sebelum ditembakkan, setidaknya kita harus mencobanya," usul Alardo.
Tanpa membantah, Luke mengangguk dan meminta Olsen untuk kembali terbang menjauh. Al dan Luke mulai memanah lagi dengan anak panah yang telah dilapisi aura putih mereka. Aura putih melambangkan kesucian, sangat bertolak belakang dengan iblis kegelapan, jika dinalar setiap iblis yang terkena aura putih akan langsung musnah.
__ADS_1
Al menembakkan anak panahnya, ratusan anak panah yang menyala terang menembus ratusan tubuh pasukan musuh, mereka tampak terjatuh seperti sebelumnya, Al terus menembakkan anak panah hingga setengah dari pasukkan musuh terbaring di tanah.
"Tampaknya berhasil, Tuan."
Al mengangguk mendengar konfirmasi Blevine, ia pun terus menembakkan anak panahnya hingga permukaan tanah kini berubah menjafi tumpukkan iblis.
"Ayo kita turun, Blevine."
Blevine menukik tajam, ia mendarat di samping sang Jendral yang tengah mengatur nafasnya. "Terimakasih, kau berhasil tuan Alardo!"
Al menggeleng, "kalau aku berhasil, seharusnya tubuh mereka sudah menjadi abu, Jendral."
"TUUUUAAAAAAN MEREKA BANGKIT LAGIII!" teriakan Luke menggema di udara, membuat Al dan sang Jenderal kembali ke posisi siaga.
"Blevine, pergilah memanggil bantuan ke klan putih!"
Blevine mengangguk dan terbang dengan cepat. Luke tampak sibuk memanah dari udara dengan Olsen yang terus bergerak terbang. Al mengeluarkan pedangnya yang tampak bersinar terang.
"Setidaknya aku harus bertahan sampai mereka datang," ucap sang Jenderal sambil terengah-engah.
"Mereka?" tanya Al bingung.
"Awas di belakangmu!" Teriak Arion keras, ia menarik tubuh Al ke samping dan membantai iblis di belakang Al dengan pedangnya, terakhir ia menebas kepalanya.
Al meringis melihat kebengisan sang Jendral, tapi di sisi lain ia sangat bersyukur telah diselamatkan. "Terimakasih, Jendral."
"Mereka hanya mati jika aku memenggal kepala mereka, hal lainnya sama sekali tak mempan."
__ADS_1
Al mengangguk paham, ia memasang kuda-kuda dan mulai menebas musuh yang datang tanpa ampun. Beberapa iblis mulai menampakkan wujud asli mereka dengan tanduk yang mencuat, atau wajah yang mengerikan. Darah hijau mulai mengotori baju Al, membuatnya meringis tidak suka.
"Datanglah sekaligus, aku sudah muak dengan kalian!" teriak Al pada pasukan iblis di hadapannya. Bagaikan tersulut api, mereka datang menyerang dengan kekuatan penuh, Al mengaktifkan aura putihnya, ia bagaikan bulan di tengah malam yang gelap. Beberapa iblis tampak mudur karena cahaya terang Alardo, mereka tampak takut, tapi hanya sekian detik. Detik selanjutnya mereka tampak bersatu melawan Al dengan kekuatan penuh, mata mereka menyala merah, kaki mereka terus berlari dengan cepat mengepung Al.
Al tak mencoba menjauh dari sang Jenderal, menarik perhatian pasukan iblis dan mengaktifkan aura putihnya, mengubahnya menjadi jutaan pisau cahaya yang melejit dengan cepat menebas kepala para iblis.
Teriakan dan rintihan terdengar membahana, satu per satu iblis kembali jatuh, namun kini dengan tubuh yang terpisah dari kepalanya. Keringat bercucuran hingga membasahi seluruh tubuh Al, wajahnya mulai pucat akibat kehilangan banyak tenaga, ia menggunakan seluruh kekuatannya hingga pandangannya mulai kabur. Al paham ia tak sanggup bertahan lebih lama, ia pun menancapkan pedang pusakanya ke tanah, seketika tanah di bawahnya bergoncang hebat, tanah yang diinjak pasukan iblis dihadapannya tiba-tiba runtuh, cahaya putih muncul dan melahap para iblis yang jatuh.
Al tersenyum puas melihat usahanya tak sia-sia, ia kembali merapalkan mantra dan tanah di hadapannya kembali normal seperti semula. Tenaganya terkuras habis hingga ia jatuh terduduk dengan tangan yang masih bertumpu di pedang pusakanya.
"MATI KAAAAUUU!"
Al melihat seorang iblis berlari ke arahnya dengan pedang berlumuran darah merah, Al hanya bisa menatapnya dengan pasrah, ia tak mampu lagi bergerak, bagaikan tubuh yang telah kehabisan darah, energi Al tak lagi tersisa.
"Jzzzzz.....Crush.....Crus...."
Tiba-tiba kilat menyambar ke arah iblis di hadapan Al, tubuh iblis itu kini hangus terbakar dan menjadi abu.
"Akhirnya mereka datang juga!" seru Arion yang kini meraih tubuh Alardo dan memapahnya.
Al bertumpu erat pada tubuh Arion yang tampak sama lelah dengan dirinya, tapi mata Arion tampak bercahaya menatap ke arah langit. Al mengikuti arah pandang Arion dan menemukan empat orang laki-laki dan satu orang perempuan terbang menaiki awan bagaikan dewa dewi dengan paras yang menakjubkan.
"Siapa mereka? Apakah mereka dewa dewi?" tanya Al penuh kekaguman, matanya tak bisa beranjak dari kelima orang yang terbang dengan menakjubkan.
"Kau akan lebih kagum jika melihat Ratu kami," ucap Arion singkat dan memapah Alardo menjauh dari medan peperangan.
"Kenapa kau membawaku menjauh? Aku masih ingin melihat mereka Jenderal," keluh Al kesal.
__ADS_1
"Apa kau lupa kalau kau hampir mati? Kau bahkan tak bisa bergerak ketika iblis di depanmu menyerang, tapi sekarang tampaknya kau sangat cerewet, aku bahkan kagum dari mana kau menemukan kekuatanmu untuk bicara!"
Al tampak terpaksa menutup mulutnya, ia pasrah diseret Jendral Arion ke arah basecamp. Ia tak lagi mengelak bahwa kekuatannya telah habis terkuras.