Putri Yang Terjebak

Putri Yang Terjebak
Pemuda Berjubah Merah


__ADS_3

"Kenapa aku tak bisa menembusnya?" tanya Ara bingung karena hanya ia yang masih berada di dalam portal, sementara Arion dan Gigas telah menapakkan kaki mereka di tanah kerajaan, Ara merasa ada sebuah lapisan transparan yang menahannya.


"Apa yang harus kita lakukan Jendral?" tanya Gigas pada sang Jendral di sampingnya. "Kenapa Ara tertahan di sana?"


Arion menatap Gigas dengan tajam seolah memberi peringatan tegas, "apa kau ingin mati?"


Gigas bergidik dan langsung menunduk, "Yang Mulia sendiri yang meminta kita untuk memanggil beliau seperti itu, kenapa jadi aku yang salah?"


Arion menghembuskan nafas kasar lalu beralih menatap sang Putri yang seolah terjebak tak bisa menapakkan kaki di wilayah kerajaan, hingga ia tak bisa keluar dari portal yang mengambang. "Yang Mulia nampaknya karena Yang Mulia tak mengaktifkan energi, maka wilayah ini mendeteksi Yang Mulia sebagai benda asing karena Yang Mulia sama sekali tak memiliki energi alam yang berasal dari tempat ini, akan sulit bagi Yang Mulia jika memaksa masuk."


Arion menjelaskan dengan tenang, ia melanjutkan dengan sedikit terdengar seperti bujukan. "Yang Mulia bisa merasakan mual, sakit kepala berkepanjangan hingga energi Yang Mulia terkuras habis, tapi tidak jika Yang Mulia bersedia mengaktifkan energi murni yang ada dalam diri Yang Mulia, pastilah dengan mudahnya Yang Mulia dapat menapakkan kaki di sini."


Ara tersenyum, ia menatap Arion dengan mata birunya. "Jadi menurut Jenderal, alam ini menolakku karena aku menyegel energi Ratu dalam tubuhku?"


Arion mengangguk mantap menjawab pertanyaan sang Putri, "maka bersediakah Yang Mulia mengaktifkan energi tersebut?"


Ara tersenyum lalu tak berapa kemudian ia menggeleng, "ingatlah lagi akan persyaratan yang kuajukan, Jenderal."


Ara menghela nafas panjang, "Sepertinya memang tidak akan mudah untuk menjadi orang biasa di negeri ini, kalau begitu tinggalkan aku di sini untuk sementara waktu, aku akan menyusul kalian setelah berhasil menyerap energi alam yang ada."

__ADS_1


"Yang Mulia, akan berbahaya jika kami meninggalkan anda sendirian," Gigas tampak khawatir. "Apakah Yang Mulia menginginkan saya berjaga di sini?"


Ara menggeleng tanpa ragu, "terimakasih Gigas, tapi bisakah kalian pergi dan meninggalkanku sendiri? Tampaknya aku butuh waktu untuk mengenal tempat lahirku ini. Aku juga ingin menemukan jati diriku dengan melakukannya."


"Maksud Yang Mulia?" tanya Gigas bingung.


"Jika memang aku adalah orang yang selama ini kalian cari, maka seharusnya aku dapat dengan mudah menyerap energi alam yang ada di sini bukan?" Ara menatap keduanya bergantian, "tapi jika aku orang yang salah, maka belum terlambat bagiku untuk kembali."


Ara memandang sekitar yang tampak samar dan masih dipenuhi kegelapan malam, ia menjentikkan jarinya hingga sebuah gelembung transparan seolah membungkus dirinya yang melayang. "Tenang saja, tak ada orang yang akan menyadari kehadiranku di sini selain kalian berdua, jadi pergilah dan tolong ingat syarat yang kuajukan. Besok ketika kita berjumpa lagi, aku ingin kalian memenuhi syarat yang kubuat, malam ini kuanggap sebagai pengecualian karena kalian masih memanggilku dengan sebutan Yang Mulia, tapi besok ketika kita berjumpa lagi dan kalian masih memanggilku dengan cara yang sama, maka aku akan langsung meninggalkan tempat ini," kata Ara menatap tajam Arion dan Gigas bergantian.


Gigas tampak menunduk, ia tak berani menjawab karena takut kembali menerima teguran dari sang Jendral di sampingnya. Sementara Arion menatap Ara penuh arti, "kalau begitu kami undur diri."


"Kesuksesan seorang pemimpin tercermin dari rakyat yang mereka pimpin, sifat seorang atasan tercermin dari bawahannya," Ara terdiam setelah mengatakannya.


Senyum diwajahnya kini menghilang, ia merubah posisi menjadi duduk bersila dengan kedua tangan digabungkan di depan dada. Bayangan akan Isabel muda melakukan hal serupa tergambar dari serpihan ingatan yang ada dalam diri Ara, ia mulai menghirup nafas panjang, memejamkan kedua mata lalu mengisi dirinya dengan kesunyian hingga seluruh indranya menajam, fokus pada satu titik hingga gelap dan kehampaan menyapa.


Tiba-tiba tubuhnya serasa mendapatkan tekanan yang luar biasa, seolah kepala dan kedua pundaknya sedang dihantam oleh batu besar yang teramat besar dan berat. Ara tampak kepayahan, ia mulai gelisah, keringat bercucuran dari seluruh tubuhnya. Ia mengepalkan kedua tangannya dan masih terus mencoba menghilangkan tekanan tak terlihat itu hingga rasa sesak menghalangi jalan nafasnya, membuatnya terengah-engah.


Tapi tak ada dan tak akan pernah ada kata menyerah dalam kamus kehidupan Ara, ia terus mencoba bertahan hingga terdengar sebuah letusan keras.

__ADS_1


"DUUUAAAAAR!"


Sebuah suara letusan besar membuat tekanan besar yang sedari tadi ia rasakan, kini menghilang tanpa bekas, tergantikan dengan munculnya berbagai warna cahaya yang teramat terang. Ingatan Isabel memberitahu dirinya bahwa cahaya-cahaya itu adalah energi alam yang harus segera ia serap. Ara kembali menenangkan diri dan mengatur nafasnya, alangkah terkejutnya ia ketika cahaya berbagai warna itu bagai tersedot masuk ke dalam tubuhnya tanpa ia melakukan apapun, dan seketika membuat tubuh Ara melayang hingga ke atas langit. Tubuh yang tadinya kosong kini terasa penuh dengan energi yang terasa amat menyegarkan bagi Ara, tubuhnya bersinar terang layaknya bintang di langit malam hingga memecahkan lapisan bola pelindung yang ia buat, kulitnya berubah lebih kencang dan mulus, rambutnya memanjang berubah warna menjadi coklat keemasan, matanyapun terasa lebih tajam hingga bisa melihat kejauhan dengan teramat jelasnya.


"Ah, tidak akan baik jika ada yang melihat!" Ara segera meredam energinya dan perlahan mencoba turun dari langit lalu menapakkan kaki di tanah yang tadi sempat menolak diinjak olehnya. Seketika Ara tersenyum puas merasakan kakinya menapak, walau lelah sangat ia rasakan tapi seolah kebahagiaan akan keberhasilan yang ia dapat lebih mendominasi.


"Apa tadi kau juga lihat ada bintang jatuh?"


Ara segera bersembunyi ketika mendengar suara kuda mendekat, jantungnya berdegup kencang karena gugup.


"Benar Yang Mulia, tapi kita belum mengetahui kepastiannya jika belum memeriksanya dengan benar. Saya mohon Yang Mulia untuk lebih berhati-hati."


Ara mengintip dari balik persembunyiannya, dua orang laki-laki berjubah mewah tampak menatap berkeliling, masing-masing menunggangi kuda yang tampak gagah, tanpa disangka mata Ara dapat melihat keduanya dengan jelas tanpa terganggu gelapnya malam, hingga ia harus mundur beberapa langkah.


Jantungnya berdegup kencang, pemuda berjubah merah memiliki wajah yang benar-benar mirip dengannya, sementara pemuda berjubah biru tampak menguarkan aura yang teramat hebat, jelas sekali bahwa keduanya bukan orang sembarangan.


"Entah kenapa aku merasakan bahwa ada seseorang yang terasa asing tapi memiliki darah yang sama denganku di sekitar sini," ucap pemuda berjubah merah.


Ara terkesiap, dengan sigap ia kembali membuat pelindung untuk menghilangkan hawa keberadaannya, ia tidak ingin seorangpun mengetahui keberadaannya sebagai seorang putri.

__ADS_1


__ADS_2