Putri Yang Terjebak

Putri Yang Terjebak
Reona


__ADS_3

"Yang Mulia, tidakkah ini terlalu kejam?" tanya Reona menghampiri seorang gadis yang mengintip di balik awan.


"Ah Reona! Bagaimana kau bisa selalu menemukanku?"


Reona menatap wajah sang gadis yang tampak terkejut melihat kedatangannya, "Yang Mulia Eleanor, anda mungkin bisa menyembunyikan diri dari orang lain, tapi tidak dari hamba, Yang Mulia."


Eleanor menghela nafas panjang dan tersenyum simpul, ia mencium pucuk kepala Reona. "Ini adalah keputusan yang kuambil Reona, aku ingin mereka hidup tanpa mencemaskan Eleanor lagi, karena mereka berhak bahagia," ucap Eleanor seraya mengusap lembut kepala sang naga merah.


"Tapi Yang Mulia, rasa sakit kehilangan seorang putri adalah hal yang sangat menyakitkan, hamba khawatir akan kesehatan Yang Mulia Ratu," kata Reona mengutarakan kekhawatirannya.


Eleanor menatap ibundanya yang menangis pilu di makam yang masih basah, "aku yakin Ratu Aurora sama kuatnya seperti Ibu Suri, walaupun kehilangan seorang anak sangat menyakitkan, tapi mereka akan mendapatkan kekuatan demi kebahagiaan anak mereka yang masih hidup."


"Elrick adalah orang yang terlahir sebagai pemimpin, walaupun ia tak terlahir dengan aura merah, tapi ia membuktikan bahwa tanpa aura pun ia dapat bertahan, dan tetap memiliki hati nurani" Eleanor beralih menatap Elrick yang terduduk seraya menangis, air matanya jatuh membasahi tanah di bawahnya. "Setelah ia mendapatkan aura merah pun, ia tak pernah sekalipun kehilangan hati nuraninya, cara pandangnya tetap bijaksana, maka apa lagi yang harus dipertanyakan darinya?" tanya Eleanor yang kini mengalihkan pandangannya pada Reona.


"Jika memang ini adalah keputusan Yang Mulia, hamba tak bisa menolaknya." Reona tak sependapat dengan Eleanor, tapi keputusan sang putri tampaknya tak dapat dirubah lagi. "Apa rencana Yang Mulia kedepannya?"


Elea kembali tersenyum, "aku juga ingin mencari kebahagiaanku, Reona."


Air mata Reona tiba-tiba mengalir deras, hingga berjatuhan dan membeku menjadi kristal langka. Eleanor memeluk kepala si naga merah, "Reona ada pepatah mengatakan bahwa setelah kesedihan pasti akan datang kebahagiaan."


Elea menatap kedua mata Reona yang basah, "bukankah aku dulu pernah bilang kalau air matamu itu sangat berharga Reona? Jangan menangis, aku masih akan berada di sisi keluargaku, walau mungkin tak terlihat."


"Yang Mulia.." Reona menangis tersedu dalam pelukan Eleanor.


"Aku percayakan Elrick padamu, Reona." Eleanor menarik nafas panjang, ia berusaha sekuat tenaga agar tak meneteskan air mata. Ia mengangkat tangan kanannya ke pucuk kepala Reona, "panggil aku jika kau dalam kesulitan." Cahaya pelangi berpendar di pucuk kepala Reona, menandakan benang tak terlihat yang menghubungkan keduanya.


"Yang Mulia, sudah waktunya untuk pergi." Alardo datang tanpa Blevine, di belakangnya nampak sebuah portal yang masih aktif.

__ADS_1


Eleanor mengangguk, "sampai jumpa Reona."


Air mata Reona masih terus mengalir, mengantarkan kepergian sang Putri. Hatinya terasa teriris, ia mengikuti langkah sang Putri dengan pandangannya, hingga sosok itu menghilang bersama Alardo.


"Reona, ibunda membutuhkanmu."


Sang Naga Merah menangkap pesan telepati dari Putra Mahkota Elrick, tanpa menjawab, ia segera menata hatinya, menyihir rupanya hingga tak tersisa air mata di wajahnya. Ia membawa kristal air matanya seraya terbang memenuhi panggilan Elrick.


Sejauh mata memandang, ia tak menemukan Gentala, Ariadna maupun para petinggi gunung kuning dan Hyana. Jembatan yang tadi menghubungkan tepian danau dan taman wisteria kini telah menghilang, meninggalkan empat anggota kerajaan yang masih diliputi duka.


Reona mendarat tepat di tepian taman wisteria ungu, "Yang Mulia, tolong terimalah."


Reona menyerahkan kristal langka pada Elrick, "hanya ini yang bisa hamba lakukan."


Elrick mengangguk, "terimakasih Reona." Ia bergegas menghampiri Raja, Ratu dan Ibu Suri. Elrick menyerap energi seluruh kristal langka yang diberikan Reona padanya, lalu mentransfer energi itu kepada ketiganya.


"Nenek, ayah, ibunda, sudah saatnya kita pulang," ucap Elrick sambil menenangkan diri.


"Ibu masih ingin menemani Eleanor, kasihan dia pasti kesepian di sini," sahut Aurora pilu.


Ibu Suri mendekati menantunya, "bangkitlah Aurora, aku akan menemanimu untuk mengunjungi Eleanor kapanpun lau minta. Elrick benar, sudah saatnya kita kembali, aku yakin Eleanor pun tak mau melihatmu kedinginan."


"Tapi Eleanor juga pasti kedinginan," ucap Aurora merajuk.


Aaron mengangkat kedua tangannya membuat lapisan pelindung, mengubah udara di taman wisteria yang dingin menjadi hangat, bunga-bunga bermekaran menambah bau harum di sekeliling makam Eleanor.


"Ayo kita pulang Aurora, setidaknya kau tak perlu cemas Eleanor akan kedinginan," Aaron merangkul istrinya, mendekapnya dalam pelukan. "Akan kutitipkan Eleanor pada para tetua Gunung Kuning, aku yakin Gentala pun akan setia menjaga putri kita."

__ADS_1


Aurora kembali menangis dalam dekapan suaminya, "bagaimana bisa putri kita mendahului kita menghadap Yang Kuasa? Kenapa bukan aku saja?"


"Aurora, kau tak boleh berkata seperti itu. Eleanor adalah anak istimewa, Yang Kuasa pasti teramat menyayanginya hingga memanggilnya lebih dulu," ucap Aaron seraya mengelus rambut Aurora.


"Elrick masih membutuhkanmu, Aurora."


Sang Ratu menatap suaminya, ada sebuah simber kekuatan yang muncul dari dalam dirinya. "Kau benar, Elrick membutuhkanku," ucap Aurora dengan lemah.


"Eleanor, ibunda pulang dulu ya. Ibunda janji besok akan kembali menemuimu, tidurlah yang nyenyak malam ini," tetes air mata Aurora kemvali jatuh ke gundukan tanah yang masih basah dan berubah menjadi rangkaian bunga mawar merah yang tumbuh mengelilingi makam itu.


"Elrick, ayo kita pulang nak," ucap Aurora pada Elrick yang tengah memeluk pundak ibu suri.


"Sampai ketemu besok, Eleanor," kata Elrick sebelum menghilang dalam portal.


Reona menatap kepergian keluarga kerajaan, matanya menatap taman wisteria dengan perasaan campur aduk.


"Kenapa kau masih di sini?"


Reona menatap kaget melihat Gentala yang tiba-tiba muncul, "kau? Apa kau sembunyi sejak tadi?"


"Tidak bisakah kau bicara lebih sopan padaku?" tanya Gentala dengan nada yang sedikit meninggi.


Reona mendengus kasar, "tak ada alasan untuk bicara sopan pada naga yang kasar pada tuanku!"


"Benar-benar! Aku melihatmu menangis bercucuran air mata baru beberapa menit yang lalu, kukira kau begitu rapuh, tapi ternyata aku salah! Kau naga paling aneh yang pernah kutemui!" Gentala terbang menjauh meninggalkan Reona yang masih kebingungan.


"Dasar Naga Kasar, Naga Sok Tahu! Benar-benar menjengkelkan! Kenapa aku bisa bertemu denganmu! Huh!" teriak Reona dengan kesal, kesedihannya sedikit terlupakan akibat ulah menjengkelkan Gentala.

__ADS_1


"Apa kau bilang tadi? Aku naga paling aneh? KALAU AKU NAGA PALING ANEH, MAKA KAU NAGA PALING JELEK DI DUNIA!!!" teriak Reona meluapkan amarahnya, ia tak habis pikir bisa bertemu dengan naga yang teramat menjengkelkan, ia kira hanya ia satu-satunya naga yang masih hidup, tapi ternyata ia salah. Tadinya Reona bersyukur mendengar kabar jika Gentala masih hidup, namun nyatanya Gentala terlalu menjengkelkan hingga Reona ingin menarik rasa syukur yang telah ia panjatkan dulu.


__ADS_2