
Token itu kini terbang melewati tubuh Gentala dan berhenti di hadapan Ara yang masih menangis.
"Waktuku untuk membimbingmu tidaklah banyak cucuku, bisakah kau duduk bersila dan mengikuti petunjukku?"
Ara mengangguk dan segera duduk bersila, di sisi lain, Alardo beserta Luke dan Olsen tampak melangkah keluar gua membentuk perisai khas klan putih di mulut gua, sementara Gentala melakukan hal yang sama di dalam gua, ia membentuk lapisan pelindung di sekeliling tubuh Ara dan diam menjaganya.
"Fokuskan aura merahmu dan kunci aura emasmu di satu sisi."
Ara memejamkan matanya dan mulai mengikuti perintah tetua klan merah itu, ia mengatur nafas hingga gelap dan sunyi menyapanya. Tak lama kemudian ia merasa memasuki dimensi lain dengan cahaya emas dan merah yang salin terjalin bersama, Ara kembali memusatkan pikirannya dan mencoba memisahkan aura emas dan menyegelnya di tempat yang terdalam, hingga cahaya merah darah menguar lebih terang dari dirinya.
"Bukalah matamu nak!"
Ara membuka matanya, perlahan ia menemukan sesosok laki-laki tua dengan rambut putih panjang yang dibiarkan terurai jatuh. "Seperti yang kau tahu, inti kekuatan klan merah yang disegel, tidaklah berada di gua ini, melainkan berada beberapa meter di bawahmu, namun kakek akan membantumu membukanya dari sini."
Kakek tua itu berjalan mengelilingi Ara, "tapi sebelumnya kakek ingin kau berjanji 3 hal."
Ara menatap sang kakek memintanya melanjutkan, dan berharap bahwa tiga hal yang diminta bukanlah sesuatu yang ekstrem.
"Pertama, jangan pernah merasa dirimu paling kuat, ingatlah di atas langit masih ada langit," ucap sang kakek sambil sambil mulai kembali melangkah mengitari Ara.
"Yang kedua, ingatlah bahwa kau terlahir sebagai manusia."
Ara mengerjapkan matanya, dan berpikir maksud dari kata-kata sang kakek, ia menyadari bahwa ia terlahir sebagai manusia dan bukankah saat ini ia juga masih manusia?
"Yang ketiga, jangan pernah lupa bahwa dirimu adalah seorang perempuan," kakek tua itu berhenti tepat di hadapan Ara, tangan kanannya terulur hingga menyentuh pucuk kepala Ara.
"Pejamkan kembali matamu, fokuskan energimu, dan rasakan tarikan kekuatan di bawahmu."
__ADS_1
Ara menurutinya, tepat ketika ia memejamkan mata, aura merahnya serasa ditarik oleh sesuatu yang teramat kuat tepat di bawah ia duduk, sangat kuat. Ara mencoba melawannya sepenuh tenaga, hingga keringat bercucuran, tapi semakin ia melawan, semakin ia merasa tubuhnya terjerat ratusan tali yang menariknya ke bawah.
"AAAAAAAHHHHHHHHHHH!!!!!"
Teeiakan Ara menggema hebat, diikuti oleh bunyi dentuman tanah yang roboh seperti suara atap yang runtuh.
"AAAAAAAHHHHHH!"
Teriakan demi teriakan sang Ratu terus terdengar, tubuhnya serasa remuk redam karena dipaksa menembus bermeter-meter tanah di bawahnya, Ara merasa kesulitan bernafas, tapi ia tetap teguh memejamkan mata dan fokus menahan dirinya, hingga ia merasa jatuh terduduk di tempat yang baru.
Aura merahnya terasa bergejolak liar, ratusan tali yang menjeratnya kini bertambah ratusan kali lipat, melilit seluruh tubuhnya, tulang-tulangnya bergemeletak, keringatnya mengalir deras bagaikan aliran air sungai.
"Ingatlah tiga hal yang kuucapkan dan segera temukan segelnya!"
Ara merasakan rasa sakit yang luar biasa, bahkan dirinya merasa berada diantara hidup dan mati. Air mata mulai mengalir kembali, ia mencoba bertahan dengan sekuat tenaga, hingga tiba-tiba suara nenek Isabel menggema di kepalanya.
"Yang Mulia, ingatlah tiga hal tadi."
"AAAAAAAAAHHHHHH! AAAAAAAAAAAHHHHH!"
Teriakan pilu terus keluar dari mulutnya ketika ia merasa ada batu yang luar biasa besar menindih tubuhnya. Nafasnya berat dan tak teratur, kepalanya pusing, sekujur tubuhnya mati rasa, Ara mulai merasa kegelapan ingin melahapnya, tapi jantungnya yang masih terus berdetak, seolah bicara bahwa ia tak boleh menyerah.
Dalam keputusasaan, suara kakek tua itu berkelebat di kepala Ara.
"Jangan pernah merasa dirimu paling kuat, ingatlah di atas langit masih ada langit."
Ara mulai menerka-nerka maksud hal pertama yang diucapkan sang kakek, tapi dirinya merasa tak berdaya. Hingga di satu titik Ara melepaskan seluruh pertahanannya, ia tak sanggup lagi menahan, dalam hatinya ia mengaku kalah.
__ADS_1
"Aku kalah," ucap Ara lirih dengan suara yang masih tersisa.
Untaian cahaya merah yang menterupai ribuan benang, tampak menembus kegelapan yang hendak melahapnya, terjalin satu demi satu mengelilingi tubuh Ara. Kegelapan mulai terurai menjadi benang hitam yang dengan cepat masuk ke dalam jiwa Ara.
"AAAAAAAAHHHH!"
Ara kembali berteriak, kini tubuh dan jiwanya diliputi rasa kekhawatiran, putus asa, tak berdaya, kekalahan dan ketakutan. Ratusan suara tangis dan teriakan terdengar memenuhi telinganya.
"Ingatlah bahwa kau terlahir sebagai manusia."
Ara menangis meraung-raung, hatinya terasa sakit, mendengar rintihan yang tiada henti. Air matanya mengalir deras, nafasnya terdengar menyesakkan dada, dua tangannya mengepal kencang. Ara bersusah payah mengembalikan fokusnya, ia berusaha memecahkan teka-teki dari tiga hal yang diucapkan sang kakek, tadi semua rasa sakit tiba-tiba hilang saat Ara tak lagi melawan dan mengucap kata menyerah. Apakah menyerah jika dibutuhkan, adalah jawaban dari hal pertama?
Lalu apa jawaban dari hal kedua?
Suara-suara itu semakin keras di telinga Ara, berawal dari bisikan, menjalar bagaikan kata-kata dan kini mulai terdengar bagaikan teriakan.
"Mengapa kalian menangis?" tanya Ara di sela-sela isak tangisnya.
Bagaikan sihir, semua suara tangis dan rintihan yang Ara dengar tiba-tiba menghilang, berganti dengan angin yang bertiup ringan.
"Maukah anda membuka mata dan mendengar cerita kami, Yang Mulia?"
Perlahan Ara membuka matanya yang basah, dan langsung terkesiap. Ara berada di tengah desa dengan bangunan-bangunan megah yang menjulang, mengingatkan Ara akan ibu kota di dunia yang pernah ia tinggali dengan nenek Isabel, yang membedakan hanyalah orang-orang yang berkumpul di hadapannya.
Ara mengerjapkan mata beberapa kali, untuk memastikan bahwa apa yang dilihatnya bukanlah ilusi semata. Puluhan pasang mata menatapnya, pakaian mereka tampak sederhana namun bersahaja dan satu hal yang Ara sadari, semua orang di hadapannya adalah laki-laki.
"Apakah kalian yang tadi menangis?" tanya Ara hati-hati.
__ADS_1
Seorang pemuda berjubah merah tampak mendekat beberapa langkah ke arah Ara. "Dulu orang-orang takut pada kami, karena kami memiliki kekuatan yang terkuat di antara semua makhluk di bumi, namun kami lupa bahwa di atas langit masih ada langit. Keangkuhan merasuki kami, hingga kami terlalu malu untuk mengakui kehebatan klan lain, kami lupa bahwa mengaku kalah bukanlah sesuatu yang memalukan hingga akhirnya kami dibantai."
Air mata kembali mengalir di pipi Ara, hatinya terasa sakit, penglihatannya kabur karena air mata yang menggenang.