Putri Yang Terjebak

Putri Yang Terjebak
DOMINAN


__ADS_3

"SIAPA KAU?! JAWAB!!!"


Elea melihat tubuh Carel melayang dalam gelembung aura hitam, sedangkan Acasha tampak mencoba menembus dinding penghalang yang tercipta di balik tubuh lelaki di hadapannya.


Elea mulai kehabisan nafas, tubuhnya mulai merasakan sakit, tapi ia tak mau kalah. Ia mengaktifkan aura inti klan merah dalam dirinya tanpa kontrol, karena aura hitam dominan yang dikeluarkan sang lawan teramat mendominasi.


"AAAAAAAAAHHHHHH!" Elea berteriak ketika kekuatan inti klan merah yang ia sembunyikan, kini menguar tanpa kendali. Cekikan di lehernya mulai melonggar, mata lelaki di hadapannya tampak membulat.


"LEPASKAN!" Teriak Elea seraya mencengkeram lengan laki-laki di hadapannya. "KUBILANG LEPASKAN SEBELUM AKU KEHILANGAN KENDALI! APA KAU TULI?!"


Elea merasakan tubuhnya mulai berubah, ia ingin mengakhiri ini dengan cepat tanpa saling menyakiti.


"AKU TIDAK AKAN PERNAH MELEPASKAN ORANG YANG BERNIAT MENCELAKAI PUTRAKU!"


Laki-laki di hadapan Elea tampak keras kepala dan tak mau menyerah, ia kembali menambah kekuatan tangannya di leher Elea dan kembali menghantamkan tubuh Elea ke dinding yang tampak hampir roboh.


Elea benar-benar muak! Bagaimana bisa laki-laki ini langsung mencekiknya? Bahkan menuduhnya ingin mencelakai Carel?


Elea bagaikan terbakar, api mulai membara di seluruh tubuhnya, panas yang menyengat mulai menggerogoti tangan yang mencekik lehernya.


"KAU KIRA BISA MENGALAHKAN AKU DENGAN INI? KAU PIKIR SIAPA DIRIMU?" Ucap laki-laki di hadapan Elea dengan senyum yang tak indah sedikitpun.


Tangan di leher Elea tiba-tiba terasa mengeras bagaikan baja, Elea terkesiap. Elea mencoba menambah panas di seluruh tubuhnya, api mulai berkobar lebih besar. Elea menatap tajam sepasang mata di hadapannya tanpa ragu, namun ia menemukan mata hitam kelam mirip Carel kini mulai berubah menjadi merah.


"HENTIKAN! APA YANG KALIAN LAKUKAN!"


"PRAAAAAANG!" Lapisan pembatas pecah berkeping-keping.


"TAYRON, ELEANOR, HENTIKAN! APA KALIAN PIKIR KALIAN ANAK KECIL YANG SEDANG BEREBUT MAINAN?" Ariadna memisahkan Elea dan laki-laki yang dipanggil Tayron, ia mencengkeram Elea dengan tangan kiri, sementara Tayron di tangan kanan, lalu membanting keduanya ke lantai.

__ADS_1


"Acasha ambil Carel dan pergilah dengan Blevine dan Al, aku harus mendisiplinkan mereka berdua!"


Acasha langsung meraih Carel dari gelembung pelindung dan membawanya pergi bersama Al dan Blevine yang mengikutinya dari belakang.


Elea dan Tayron tampak lelah, keringat dan luka memenuhi tubuh keduanya. Tayron terlihat masih bisa terduduk, sementara Elea memilih berbaring menikmati dinginnya lantai, berusaha mendinginkan suhu tubuhnya.


Setelah memastikan Acasha keluar, Ariadna kembali pada dua orang di hadapannya. Ariadna berjongkok dan memandangi keduanya bergantian, "Tayron, katakan alasanmu menyerang Elea!"


"Siapa Elea?" tanya Tayron dengan suara dinginnya.


"CUCUKU!" Ariadna mencengkeram baju Tayron dan menatap kedua mata Tayron tajam. "Gadis yang barusan kau cekik adalah CUCUKU, ELEA!"


Mata Tayron membulat menatap balik ke arah Ariadna, "cucu nenek?"


"YA, dan kau menuduhnya akan mencelakai Carel?" Ariadna menumpahkan kekesalannya di depan wajah Tayron. "JAWAB, apakah setelah kau tahu bahwa dia cucuku, kau masih menganggapnya ingin mencelakai CAREL?"


Ariadna menghembuskan nafas panjang, tangan kanannya melayang dan mendarat keras di pipi kanan Tayron.


"PLAK!"


Elea terkejut dengan suara tamparan yang teramat keras, ia tahu kalau itu bukanlah tamparan biasa, ia sadar kalau Ariadna menggunakan kekuatannya. Elea memicing, ia melihat Ariadna melemparkan tubuh Tayron hingga terpelanting setelah sebelumnya menghantam tembok.


Ariadna mengibaskan tangan dan melangkah menghampiri Elea, "bukankah kau pewaris satu-satunya klan merah di dunia ini? KENAPA KAU BEGITU LEMAH?"


Elea mendengarkan serambi berusaha memulihkan tenaga dalamnya. Ia melihat dengan ekor matanya bahwa tubuh Tayron kini tengah tergeletak lemas tak berdaya.


"Apakah kau mengakui kalau kau lalai? Kau bahkan tak mendeteksi kedatangan Tayron!" Ariadna berjongkok di samping Elea, "jika Tayron adalah musuh yang menyerang, kau mungkin tak dapat menyelamatkan Carel! Jika Carel adalah putramu, maka kau akan kehilangan putramu sendiri, karena apa? KARENA KAU LALAI!"


Ariadna menghela nafas kasar, ia mencengkeram baju Elea, menyeret tubuh Elea lalu menghapiri tubuh Tayron dan melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Elea melihat Ariadna membuka portal dengan sangat cepat, hingga Elea tak menyadari keberadaannya.


"BYUUUUR!"


"AAAAAAAAAHHHHH.....BLOOOOOPBLOOOPPPBLOOOOOP"


Ariadna meniup kedua tangannya yang tampak sedikit kotor setelah menceburkan Elea dan Tayron ke dalam sebuah danau.


"TEMUKAN JALAN KELUARNYA SENDIRI, NENEK MAU ISTIRAHAT, KALIAN MAU TERLUKA ATAU MATI DI SINIPUN NENEK TIDAK PEDULI!" Kata Ariadna seraya menghilang.


Tubuh Elea terlempar hingga hampir ke dasar danau yang gelap, tubuhnya yang lemas kini semakin tak berdaya, tapi ia tak ingin mati. Ia mencoba mengerahkan auranya dengan sisa kekuatan dan mengubahnya bagaikan cahaya mentari di dasar danau, seketika pandangannya tak terhalang lagi. Ia segera menggerakkan tubuhnya untuk berenang ke permukaan, tapi seketika ia merasa kaki kanannya teramat berat bagaikan terlilit rumput laut hidup.


Elea menatap ke arah kakinya dan kembali terkejut, kaki kanannya tampak terikat benang merah tipis dengan kaki kiri laki-laki yang tadi mencekiknya tanpa ampun, lebih anehnya lagi, kali ini Tayron tampak tak bergerak, ia terlihat bagaikan tak sadarkan diri.


Elea berusaha terus berenang ke atas tapi nihil, tubuhnya terbawa tubuh Tayron hingga ke dasar danau. Nafas Elea hampir habis, ia menciba memutus benang tipis yang mengaitkan kakinya dengan kaki Tayron, tapi nihil! Jika ia menggunakan seluruh energinya untuk menghancurkan benang, maka ia tak dapat berenang ke permukaan.


Tanpa berpikir ulang, Elea meraih tubuh besar Tayron, merengkuhnya dan menggunakan seluruh sisa tenaganya, Elea mulai berenang menyeret tubuh besar Taylor ke permukaan. Tapi di tengah jalan, Elea merasa kehilangan kendali atas dirinya, tiba-tiba ia merasa tak berdaya, kakinya berhenti bergerak, tenaganya tak tersisa, rengkuhan tangannya mulai tak kuat mempertahankan tubuh Tayron. Perlahan tubuh Elea dan Tayron mulai kembali turun ke arah dasar danau.


Elea mengamati Tayron, ia memperkuat cengkeramannya, bayangan Carel terlintas di benak Elea. Elea tak ingin Carel juga kehilangan sosok ayah dalam hidupnya.


"Tolong selamatkan kami, aku mohon... Aku mohon.." ucap Elea berulang dalam hati, tubuhnya benar-benar sudah tak dapat mengikuti instruksi otaknya. Elea ingin menangis tapi tak bisa, ia hanya bisa mempertahankan tubuh Tayron.


"Maafkan aku Carel," kata Elea kembali di dalam hati seraya menatap wajah Tayron yang masih tak bergerak. Elea putus asa, matanya mulai terus menerus ingin menutup. Elea kembali pasrah, mungkin ini adalah karma dari kematian palsu yang ia buat, mungkin ini adalah balasan bagi seorang anak yang meninggalkan orangtua dan keluarganya.


"Mengapa kau sangat lemah?"


Elea berusaha membuka sedikit matanya, tampak sesuatu berkilau, tapi Elea tak sanggup lagi untuk membuka matanya, ia pasrah, kekuatannya habis tak tersisa.


"Kalian sangat menyedihkan," samar-samar terdengar di telinga Elea suara yang sama. Elea tak mampu lagi menangkap suara itu, semua inderanya mati rasa dalam sekejap.

__ADS_1


__ADS_2