
Ratu Gienka tampak melayang di atas danau, kedua tangannya bergerak ringan, tapi gerakannya tampak berhasil menyapu air danau walau tak menyentuhnya, air danau mutiara mulai bergoncang hebat, warna semerah darah membuatnya tampak mengerikan.
"BANGKITLAH!"
Air danau semakin beriak hebat hingga meluap ke arah ke-empat penguasa dan Hyana, yang sedang mengamati tanpa henti, tampak takut kehilangan momen di hadapan mereka walaupun sekejap.
"KUBILANG BANGKITLAH!" ulang Ratu berteriak tak sabar, matanya tampak menatap menembus ke dasar danau, cahaya emasnya kini tampak bercampur dengan warna merah darah, berkilau teramat terang hingga warna merah danau mutiara pun tampak berkilau memantulkan cahayanya.
Gerakan mulai terlihat menyibak danau, bagaikan ikan raksasa yang mulai muncul ke permukaan, sisik raksasa mulai menampakkan wujudnya, namun tak nampak seperti sisik ikan, melainkan tampak seperti sisik ular yang harus berwarna merah keemasan, selaras dengan cahaya yang berpendar dari tubuh sang Ratu.
"Jangan menguji kesabaranku, keluarlah sekarang!" Ratu mengarahkan tangannya ke arah sisik raksasa yang nampak di permukaan danau, seketika makhluk raksasa tampak terusik, menggeliat hingga air danau kembali meluap, ia menampakkan dirinya dan mengeluarkan seluruh tubuhnya dari danau mutiara.
"Pelindung Agung adalah seekor naga?" Ranu terlihat menganga lebar, sebagai penguasa air ia tahu kalau danau mutiara adalah danau suci tempat tinggal sang pelindung agung, tapi selama ini ia sama sekali tak mendeteksi keberadaan sang naga di dalam air danau mutiara, selama ini ia bahkan berpikir bahwa pelindung agung hanyalah sebuah legenda.
"Naga merah emas merupakan naga leluhur dari naga milik raja Aaron yang selama ini telah dianggap punah, siapa sangka kita bisa melihatnya kali ini, hidup dan tampak sangat agung," mata Arva berbinar menatap sang naga pelindung yang kini memutarkan tubuhnya di sekeliling sang Ratu.
"Apakah naga pelindung agung ada kaitannya dengan naga milik Raja Aaron?" tanya Agra penasaran.
"Tentu," jawab Riley singkat nan misterius. Agra menunggu Riley melanjutkan jawabannya, tapi tampaknya Riley terlarut akan pandangan matanya. Agra pun mengikuti arah pandang Riley dan menemukan sang Naga yang masih berputar mengelilingi sang Ratu dengan tatapan menyelidik.
"Siapa kau? Berani sekali mengganggu tidurku!" suara naga pelindung terdengar menggelegar.
__ADS_1
Ratu Gienka tampak tenang dan menatap mata merah sang naga, "apakah matamu buta karena terlalu lama tertidur?"
Hyana melongo mendengar kata-kata sang Ratu, selama ini ia tak pernah sekalipun mendengar sang Ratu berbicara angkuh ataupun merendahkan orang lain, Ratu Gienka yang ia kenal adalah wanita penuh keanggunan yang berhati-hati dalam setiap ucapannya. Hyana mengerjapkan matanya dan menajamkan pendengarannya, ia tak mau salah melihat ataupun salah mendengar.
"Beraninya kau!" Naga pelindung tampak marah dan mengibaskan ekornya dengan kuat ke arah sang Ratu, kibasannya teramat kuat hingga gunung kuning bergoncang hebat namun sang Ratu masih berdiri di tempatnya tak terusik sama sekali.
"Di mana kau menemukan Ratu? Bagaimana ia sehebat itu?" Ranu bicara ke arah Riley namun Riley tak bergeming.
"Cepat buat pelindung agar rakyat dan seluruh makhluk tak terpengaruh!" Riley memerintahkan Agra tanpa menjawab Ranu.
Agra mengangguk dan mulai membentuk pelindung menyerupai benteng yang keluar menjalar dari tanah, tumbuh tinggi mengelilingi danau mutiara dan tampak teramat kokoh.
Ranu mengangguk, masih dalam lapisan pelindung Riley, ia mulai melapisi benteng Agra dengan air yang keluar dari tangannya, hingga benteng tampak bagaikan benteng tanah liat yang basah namun kokoh, ia kembali membuat tiga susun lapisan air di sekelilingnya.
Tak berapa lama Ranu beralih ke arah Arva, tak lama Arva menangkap isyarat Ranu dan mulai menggerakkan angin, air yang dikeluarkan Ranu sebagian tertiup angin menjadi awan raksasa yang menutup langit dia atas danau, sementara sisanya tertiup angin panas dan berubah menjadi uap yang mengeluarkan energi panas sebagai peringatan agar tak ada yang datang mendekat.
"KAU!" Sang naga berteriak marah, ia mulai mendekatkan wajahnya ke arah Ratu dan tampak mulai membuka mulutnya.
"Oh tidak, YANG MULIA!!" teriak Hyana ngeri melihat api biru merah keluar dari mulut sang naga pelindung ke arah sang Ratu. Hyana bergidik ngeri hingga tubuhnya terasa lemas memikirkan nasih sang Ratu yang malang.
"Jangan terlalu cepat menyimpulkan, lihatlah!" ucap Arva menunjuk ke arah sang Ratu yang bahkan tampak tersenyum mendapatkan serangan api yang keluar dari mulut sang naga pelindung. Kelima pasang mata yang menjadi saksi tampak terkagum, karena mereka sangat tahu, jika yang ada di posisi ratu adalah orang biasa, maka bisa dipastikan bahwa orang itu telah hangus terbakar menjadi abu.
__ADS_1
Mata sang Naga membelalak terkejut, tubuh sang Ratu sama sekali tak terbakar, bahkan api biru merah yang tadi ia keluarkan tampak menyerap ke dalam tubuh sang Ratu.
"Kau? Kau? Bagaimana bisa?" Naga pelindung tampak terkejut, naga yang tadinya marah kini mulai terfokus pada wanita yang berdiri tegap di hadapannya. Tak lama setelah ia diam mengamati, mata merah sang naga tampak terbelalak, seketika ia bersuara, "tolong ampuni hamba, Yang Mulia."
Sang Naga pelindung menundukkan kepalanya dan melingkarkan tubuhnya di hadapan sang ratu, "Yang Mulia benar, tidur panjang telah membutakan mata hamba, hamba pantas mati Yang Mulia."
Ratu Gienka tampak tersenyum sinis, kemudian ia mengulurkan tangan kanannya dengan cepat, "kau memang pantas mati!"
"AAAAAHHHHHHH!" sang Naga meraung kesakitan, cahaya merah keluar dari tangan kanan sang Ratu ke arah jantung sang naga pelindung, tampak jantung sang naga keluar dari tubuhnya, jantungnya berukuran lima kali kepala manusia, berwarna merah kehitaman dengan aura membunuh yang teramat kuat.
Cahaya merah sang Ratu kini diliputi cahaya keemasan, melingkupi jantung sang naga yang masih berdegup, meraup hitam kegelapan dan menggantinya dengan merah keemasan.
Naga pelindung yang tadinya tampak gagah kini terlihat mati suri kehilangan kekuatannya, tak bergerak dengan pandangan kosong. Di sisi lain sang ratu tampak fokus pada jantung sang Naga, melapisinya dengan lapisan aura milik sang Ratu, hingga jantung naga pelindung tampak bersinar terang, walaupun tampak lebih redup dari cahaya sang Ratu, tapi cukup terang bagaikan sinar mentari pagi.
"Jadilah pelindung bagi cahaya, dan penerang bagi kegelapan!" Ratu Gienka mengembalikan jantung sang naga ke tubuhnya, seketika tubuh sang naga jatuh dengan keras ke dalam danau mutiara.
"Apakah naga itu mati?" tanya Agra penasaran.
Arva hendak menjawab ketika suara sang Naga menggelegar, air danau mutiara kembali bergejolak.
"ROOOAAAAAR....ROAAARRR....." Sang Naga pelindung menampakkan keagungannya dari dalam danau, muncul dan terbang ke langit dengan gagah mengitari Ratu Gienka layaknya planet mengitari matahari. Sisiknya kini berubah berwarna emas, tapi aura merah di sekelilingnya tampak teramat kuat. Petir diikuti kilat terlihat di langit bersahut-sahutan, hujan gerimispun turut serta mewarnai kebangkitan sang pelindung agung.
__ADS_1