
Alardo tampak waspada, ia merasakan firasat aneh saat tak sengaja melihat cahaya teramat terang yang melesat bagai bintang jatuh. Di sisinya tampak Pangeran Elrick dipenuhi rasa penasaran, pandangannya tertuju ke berbagai penjuru seolah mencari seseorang.
"Yang Mulia, kita perlu waspada. Saya khawatir jika ini adalah jebakan," ucap Al memberi tanda pada junjungannya itu.
"AWAAAAS!"
Tiba-tiba teriakan seorang wanita terdengar keras, tampak seorang wanita bercadar melompat dari kegelapan ke arah depan kuda mereka, wanita itu membuat Al dan sang Pangeran amat terkejut.
"Siapa kau?" teriak Al tanpa basa-basi seraya mengacungkan pedang di tangannya, tapi sebelum ia mendapatkan jawaban, puluhan panah melesat ke arah mereka. Al bersiap menarik tali kudanya untuk melindungi Pangeran, tapi alangkah terkejutnya ia mendapati wanita asing itu kini mengaktifkan lapisan pelindung hingga puluhan panah yang melesat jatuh ke tanah setelah tak bisa menembus lapisan pelindung yang ia buat.
"Yang Mulia cepatlah pergi dari sini, saya tak bisa menahannya lebih lama," ucap si wanita sambil bersimpuh di hadapan Pangeran.
"Bagaimana kami bisa mempercayaimu? Bisa saja kau adalah bagian dari mereka!" kata Alardo dengan lantang.
"Tenanglah Al," ucap Pangeran menatap Al dengan tenang seolah ia tak terganggu dengan desingan anak panah yang masih terus menghujani mereka.
Si wanita tampak menundukkan kepalanya, "tolong Yang Mulia, lebih cepat lebih baik. Biarkan hamba yang mengatasinya," ulang wanita itu masih dengan bersimpuh dan menundukkan kepalanya.
"Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian dalam bahaya hanya karena ingin menyelamatkanku," ucap Pangeran tegas. "Kalau kau memilih bertarung, aku juga akan bertarung bersamamu, karena akulah yang mereka incar, tapi jika kau menyuruhku untuk pergi maka kau juga harus ikut denganku pergi dari sini."
Elrick menatap tajam ke arah wanita bercadar yang masih bersimpuh di depan kudanya, ia tak bisa melihat wajah si wanita karena ia mengenakan baju serba hitam bertudung, seolah identitasnya sengaja ia sembunyikan. Tapi entah kenapa tak ada sedikitpun terbersit perasaan curiga terhadapnya, Elrick heran dengan dirinya sendiri, ia pun tak dapat melihat aura wanita itu dengan jelas. Lapisan pelindung yang dibuatnya masih membuat Elrick terpana dan menyadari bahwa ternyata ada orang yang bisa membuatnya selain keluarga kerajaan dan sang jenderal Arion.
"Baiklah Yang Mulia," si wanita itu mulai berdiri dan tampak menjentikkan jarinya, seketika sebuah portal besar tercipta di hadapan mereka, anak panah masih terus melesat tanpa henti membuat lapisan pelindung semakin lama semakin menipis.
"Silahkan masuk Yang Mulia, dan tuan. Lapisan pelindung semakin menipis, tolong bergegaslah!"
__ADS_1
Wanita bercadar itu terlebih dahulu masuk ke dalam portal, sementara Pangeran kini menatap Alardo yang tampak ragu, "aku mempercayainya Al."
Alardo menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar, lalu mulai menarik tali kekang kudanya, menyusul sang Pangeran yang memasuki portal tanpa ragu.
Setelah melihat Alardo masuk, wanita bercadar itu langsung menutup portal meninggalkan lapisan pelindung yang semakin menipis.
"Berhenti!" seru Alardo yang bergegas turun dari kudanya, ia menodongkan pedangnya ke leher si wanita, hingga memotong sebagian cadar yang ia kenakan.
"Al!" ucap Pangeran yang tak setuju dengan tindakan Alardo, Pangeran turun dari kudanya dan mendekat ke arah mereka. "Al, dia telah menyelamatkan kita, kenapa kau malah menodongkan pedang ke lehernya? Ini bukanlah sikap yang pantas," kata Pangeran menegur Alardo dengan tegas.
"Ampun Pangeran, tapi hamba masih tak bisa mempercayainya sepenuhnya!"
Sementara si wanita bercadar tampak amat tenang bagai tak terpengaruh akan pedang tajam yang hanya berjarak beberapa senti dari leher mulusnya.
"Terimakasih karena tuan telah menjaga Pangeran dengan sangat baik," suara wanita bercadar itu teramat merdu di telinga Al dan Pangeran hingga membuat keduanya diam. "Tuan ini benar Yang Mulia, Yang Mulia haruslah waspada terhadap semua orang yang anda temui, tak terkecuali saya."
"Amara, Tuan dan Pangeran bisa memanggil saya Ara," ucap si wanita tanpa ragu.
"Ara, nama yang jarang kutemui." Pangeran tampak tersenyum ke arah Ara, "turunkan pedangmu Al! Aku ingin bicara dengan nona Ara tanpa diganggu pedangmu itu!"
"Tapi Yang Mulia," sahut Alardo masih tak setuju, ketika ia hendak melanjutkan kata-kata, ekor matanya menangkap kedatangan sosok yang teramat ia agungkan sedang mendekat ke arah mereka.
"Apa yang terjadi putraku? Kenapa kau di sini?"
Pangeran, Alardo dan Ara langsung menatap ke asal suara. Ara tampak menatap laki-laki di depannya, ada perasaan sesak di dalam hatinya, ia ingin menangis dan memeluk laki-laki itu selayaknya seorang anak yang merindukan sang ayah, tapi ia tidak berani. Ara tahu bahwa laki-laki di depannya adalah sang ayah yang sama dengan yang ada dalam ingatan Isabel karena ia tak banyak menua. Ketika Ara sibuk memandangi laki-laki gagah di hadapannya, Al menarik pedangnya dan memasukkannya kembali ke sarung pedang yang menggantung di sisi kiri badannya.
__ADS_1
"Hormat kami Yang Mulia," seru Pangeran dan Al bersamaan sambil membungkukkan badan, dengan cepat Ara mengikuti keduanya memberi hormat.
"Apa yang membawa kalian ke istana lama selarut ini? Apa yang terjadi hingga Al menodongkan pedang?" tanya sang Raja beruntut.
"Ayah, kami hanyalah sedang berlatih pedang," jawab sang Pangeran berbohong.
"Benarkah?" tanya sang Raja lagi tapi kali ini tampaknya pertanyaan ditujukan untuk Alardo.
Al tampak tersenyum dan menatap Raja, "benar Yang Mulia."
Sang Raja tampak diam mendengar jawaban Al, tapi matanya mulai menelisik ke arah Ara, "dan siapakah nona ini El? tampaknya ayah baru melihatnya."
Alardo dan Elrick berpandangan sesaat, dan tak lama setelahnya sang Pangeran tampak membuka mulut untuk kembali menjawab pertanyaan sang ayah. "Dia Amara, prajurit bayangan yang baru ayah," kata sang Pangeran tanpa ragu.
Sang Raja yang mendengar jawaban putranya, tampak masih ragu hingga ia menelisik tubuh Ara dengan matanya yang tajam. Ara sampai dibuatnya tak bisa bernafas karena saking tegangnya.
"Ah maafkan aku karena tadi aku tak melihat cincin Arion di tanganmu nona," ucap sang Raja sambil tersenyum.
Pangeran El dan Alardo mengikuti arah pandang Raja dan mendapati cincin yang melingkar di jari manis Ara. Al tampak terkejut dengan ukiran elang, lambang khas Jendral Arion yang selama ini ia kenal.
"Jadi apa hubunganmu dengan Arion? Apakah kau prajurit bayangan yang dipilih langsung olehnya?" tanya sang Raja yang tampak tertarik.
Ara menatap sepasang mata sang Raja, "hamba adalah murid Jendral Arion, Yang Mulia."
"Apa? HAHAHAHAAHA..." Raja tampak tertawa keras mendengar jawaban Ara. "Aku tidak menyangka akhirnya aku bisa bertemu dengan murid Arion hari ini. Terimakasih telah memunculkan dirimu di hadapanku, aku tahu kau pastilah sangat hebat hingga Arion luluh mengangkatmu sebagai murid satu-satunya, dan itu membuatku sangat penasaran. HAHAHAHAHA....."
__ADS_1
Ara menghembuskan nafas panjangnya dengan hati-hati agar tak ada yang mendengarnya, sementara Al dan Pangeran tampak mengamati dirinya dalam diam.