Putri Yang Terjebak

Putri Yang Terjebak
Gentala


__ADS_3

"Yang Mulia," ucap sang naga penuh hormat dengan kepala menunduk.


Ara mendekati kepala sang naga, kedua tangannya terangkat mengusap lembut wajah sang naga pelindung, matanya berkaca-kaca. "Maaf karena terlalu lama membuatmu menunggu, Gentala."


Air mata Ara yang kini telah menjadi Ratu Gienka, mulai mengalir seiring dengan ingatan yang terus muncul di kepalanya. Sejak darahnya jatuh menetes ke danau mutiara, aura merah milik sang ratu yang telah tersegel di sudut terdalam dirinya, tiba-tiba bergemuruh memberontak. Saat kakinya mulai menyentuh air danau mutiara, segel terlepas, aura merah terasa berusaha menguasai tubuhnya, mengalir ke dalam aliran darah, menyeruak masuk ke dalam jantung dan hatinya dan menerobos masuk ke dalam kepalanya.


Tubuhnya terasa tak terkendali, terus melangkah tanpa henti hingga sebuah ingatan mulai berkelebat di kepalanya.


Ara kembali meneteskan air matanya, dengan lembut ia mengecup pucuk kepala sang naga. Ara kembali mengingat ingatan yang berkelebat di kepalanya, "entah bagaimana, tampaknya ingatan tuanmu terdahulu masuk ke kepalaku."


Mata sang Naga tampak berkaca-kaca, namun ia tampak diam dan menyimak kata-kata sang Ratu.


"Ia meninggalkan pesan untuk kusampaikan padamu, Gentala." Ara kembali mengusap pucuk kepala sang Naga yang masih setia menunduk di hadapannya. "Ia menyesal karena harus menidurkanmu karena hanya itulah cara untuk membuatmu tetap hidup, ia pun menyesal karena tak bisa mengucap salam perpisahan," ucap Ara dengan mata yang basah.


"Tuanmu selalu mengingatmu hingga nafas terakhirnya, ia merasa beruntung memilikimu dan berterimakasih atas semua yang telah kau lakukan untuknya, baginya kau lebih dari abdi yang setia," Ara menarik nafas panjang mencoba menenangkan hatinya yang terasa sedih.


"Kau menunggu teramat lama, Gentala. Kini sudah waktunya kau bebas dan melakukan apa yang kau inginkan," ucap Ara pada sang naga.


"Yang Mulia," Gentala menatap sang Ratu. "Tuan hamba kini telah tiada, maka bersediakah Yang Mulia menjadi tuan hamba yang baru?"


Hati Ara bergetar hebat, memiliki sang naga yang kesetiaannya tak perlu lagi diragukan adalah berkah bagi setiap orang, namun Ara bimbang, apakah ia pantas menjadi tuan bagi sang naga?


"Gentala, berbeda dengan tuanmu terdahulu, aku hanyalah seorang wanita biasa, aku tak pantas menjadi tuanmu," ucap Ara jujur.

__ADS_1


"Tidak Yang Mulia," Gentala menjawab dengan tegas. "Sebelum menidurkan hamba, tuan berkata bahwa suatu hari akan datang seorang ratu agung dari keturunannya, ratu dengan darah yang lebih murni dari dirinya, yang akan membangunkan hamba dari tidur yang panjang."


"Tuan juga berpesan agar hamba menjadi abdi yang setia dan menjaga Yang Mulia sampai mati, maka hamba mohon Yang Mulia, tolong terimalah hamba sebagai abdi Yang Mulia, hamba berjanji akan mengembalikan kemampuan hamba dan melindungi Yang Mulia seperti apa yang diperintahkan oleh tuan hamba terdahulu."


"Gentala, sebelum kau memutuskan, aku ingin memberi tahu dirimu akan satu hal." Ara menarik nafas panjang, "mungkin aku tampak sebagai seorang ratu di matamu, tapi pada kenyataannya, aku hanyalah seorang anak yang bahkan tidak diinginkan oleh keluargaku sendiri. Keberadaanku membawa bencana, namaku membawa kegelisahan dan kebenaran tentangku membawa perpecahan."


Ara kembali meneteskan air mata, hatinya bagaikan tersayat, tapi matanya tetap menatap lurus ke arah sepasang mata Gentala, "setelah mendengar kebenaran tentangku, apakah kau masih ingin menjadikan aku sebagai tuanmu?"


Gentala kembali menundukkan kepalanya, "tolong Yang Mulia, dengan segenap nyawa hamba memohon, tolong terimalah hamba sebagai abdi Yang Mulia."


Air mata Ara kini bagaikan sungai yang deras, ia tak mengira bahwa naga agung sang pelindung kini bahkan masih memohon menjadi abdinya setelah mengetahui kebenaran akan dirinya.


Ara menjentikkan jarinya, membuka kembali luka diujung jarinya yang mulai mengering, ia mengaktifkan energinya, hingga auranya membutakan mata. Ia melangkah mendekat hingga tangan kirinya mampu mengusap pucuk kepala Gentala, sementara ia mengangkat ujung jari tangan kanannya, lukanya kini terbuka kembali.


"Mulai saat ini, kau bukan hanya abdiku, melainkan keluargaku karena darahku mengalir dalam tubuhmu, Gentala." Ara mencium kepala Gentala, "terimakasih Gentala."


Seketika sebuah mahkota berwarna merah darah muncul di pucuk kepala Gentala. Ara terkesiap, "kenapa ada mahkota di kepalamu?"


"Karena Yang Mulia memiliki darah murni yang terkuat, maka ketika darah Yang Mulia menyatu di dalam diri hamba, hamba pun kini menjadi naga yang terkuat. Raja dari semua naga," kata Gentala menjelaskan.


"Darah murni? Bisakah kau jelaskan padaku mengenai darah murni yang sedari tadi kau bicarakan?"


Gentala menggerakkan tubuhnya, ia terbang mengelilingi sang Ratu semakin cepat dan cepat, tubuhnya yang menyala terang tampak bagaikan kembang api di langit yang gelap. Ara tak berkedip, hingga Gentala mulai mengurangi kecepatannya.

__ADS_1


"Kau memindahkanku?" Ara menatap sekeliling, langit gelap di atas danau mutiara kini berganti menjadi langit yang terang dengan matahari yang bersinar hangat.


Gentala menghampiri sang Ratu, "naiklah ke punggung hamba, Yang Mulia."


Tanpa bersuara, Ara menaiki punggung Gentala. Seketika Gentala mulai terbang, Ara berpegang erat pada sisik Gentala dan baru menyadari bahwa mereka terbang di atas hutan hijau yang rimbun, sangat rimbun hingga Ara tak dapat melihat tanah di dasarnya, yang terlihat hanya dedaunan yang rimbun, bagaikan hutan purba.


Ara terus melihat sekeliling selagi Gentala terbang, hutan itu tampak teramat luas dan dikelilingi oleh gunung berapi yang membentuk lingkaran sempurna. Angin bertiup ringan, kicauan burung terdengar bagaikan nyanyian yang merdu, suara hewan bersahut-sahutan di bawah sana. Ara tampak kagum, setelah mengalami perpindahan tempat beberapa kali, ini pertama kalinya ia melihat dunia yang sungguh berbeda, ia bahkan ragu bisa menemukan manusia di bawah sana.


Tiba-tiba Gentala mulai melambat, Ara melihat sebuah gunung besar di hadapan mereka, dengan kawah yang menyala merah penuh lahar panas di atasnya, seolah siap tumpah kapan saja.


"Yang Mulia," panggil Gentala.


Ara menajamkan matanya dan melihat dinding pelindung yang berlapis, tampak mengelilingi hutan, terlihat membatasi hutan dan pegunungan yang mengelilinginya.


"Apa yang ada di balik lapisan pelindung ini Gentala?" tanya Ara heran, karena teramat jelas bahwa lapisan pelindung tidak dibuat sembarangan.


"Kebenaran, Yang Mulia."


Mata Ara membulat mendengar jawaban Gentala. "Jika ada lapisan pelindung maka kita tak bisa melewatinya, lalu kenapa kau membawaku ke sini?"


"Kita bisa melewatinya, karena hanya kita yang diperbolehkan memasukinya Yang Mulia," kata Gentala tanpa ragu.


"Apa maksudmu, Gentala?"

__ADS_1


Ara menunggu jawaban Gentala, tapi sepertinya sang naga tak berniat menjawab. Gentala mulai menggerakkan tubuhnya, ia terbang dengan kecepatan penuh, membuat Ara bergidik dan memeluk tubuh Gentala dengan kencang.


__ADS_2