
Selamat Membaca Semua π
Deja berdiri di samping balkon kamar nya, Ia bersandar pada sebuah pembatas. Mata nya terlihat sendu tampak jika Ia bangak pikiran akhir - akhir ini.
Deja menghela nafas nya dengan perlahan, "Apa yang gue lakuin selama ini salah?".
Deja mengerang kesal, "Bodo amat gue gak peduli gue gak cinta sama dia".
"Lagi pula dia kan ada Saga pasti Saga bakal lindungin dia".
~
Deja turun dari atas motor nya begitupun teman - teman nya, "Ga gue mau ngomong sama lo, Ikute gue" titah Deja.
Saga hanya menatap datar pada Deja dan segera mengikuti Deja, "Masih marah ya mereka berdua?" tanya Javid.
"Gue rasa gitu" jawab Adriano.
"Itu urusan mereka berdua kita gak usah ikut campur, Oke?" Rega merangkul Adriano dan Javid.
"El ayo ke kelas" ajak Rega.
" Apa yang mau lo Ja? Apa lo mau lepasin Mei gitu aja dan serahin Mei ke Saga? " batin Elgra.
"El buruan!" teriak Rega.
"A - ah iya iya" Elgra meletakan helm nya di atas tanki motor.
Kini Deja dan Saga berhenti di depan toilet laki - laki, Deje bersedekap tangan sambil memandagi Saga.
"Ada apa?" tanya Saga.
"Lo ada hubungan apa sama dia?".
Saga mengerutkan dahi nya pada Deja, "Dia? Dia siapa?".
"Mei" jawab Deja dengan singkat.
"Mei? Gue gak ada apa - apa sama dia" jawab Saga.
"Lo suka sama dia?" terka Deja.
Kembali Saga mengerutkan dahi nya, "Suka?" nada Saga terdengar bingung dan kaget.
"Setiap dia kesusahan lo selalu datang buat bantu dia" jelas Deja.
"Lo suka kan sama dia?".
"Gue gak suka sama dia, gue cuma kasihan sama dia".
Deja mengerutkan dahi nya, "Lo serius? Gue kira lo suka sama dia, kalo emang lo suka sama dia ambil aja! Gue gak butuh cewek kaya dia" kekeh Deja.
Saga membalas kekehan Deja, "Lo pikir dia tipe gue? Gue juga punya pacar" desis Saga.
Deja tersenyum puas, "Bagus kalo lo gak suka sama dia artinya gak ada satu pun cowok yang peduli sama dia" Deja menepuk bahu Saga dan pergi meninggalkan Saga.
Ternyata pembicaraan kedua laki - laki itu di dengar oleh Mei, tangan Mei bergetar hebat, suhu badan nya naik menjadi panas, "T - ternyata mereka semua memang gak punya hati nurani sama aku".
"Harus nya kamu sadar Mei" eluh Mei
Saga masih berdiri di depan toilet laki - laki sambil mengepal kedua tangan nya tampak dari wajah Saga jika Ia sedang menahan amarah dan kesal.
__ADS_1
Ketika jam istirahat Mei memilih makan siang di kantin sekolah, Ia duduk sendiri di sebuah meja di sisi kanan, kali ini Ia sendiri tanpa Melisa karena Melisa tidak masuk.
"Woi cupu!" teriak salah seorang perempuan yang berada di samping nya.
"Mei lihat sini lo! seseorang melempar kulit kuaci pada Mei dan mengenai mata sipit Mei.
Mei hanya diam dan terus menikmati makanan yang ada di hadapan nya, "Sialan lo Mei! Udah berani sama kita lo!" seseorang menjambak rambut pendek Mei.
Tentu saja hal itu menarik perhatian seluruh murid Garuda termasuk Wolf yang sedang duduk di seberang meja Mei.
"Mana temen lo yang urakan itu?!" kekeh mereka.
Mei hanya meringis kesakitan karena menahan rasa sakit akibat jambakan itu, "Mumpung ada tunangan lo di sini minta tolong gih" titah nya.
"Oh iya lo yakin kalo lo itu tunangan Deja" kekeh mereka dengan puas.
Deja hanya diam menyaksikan Mei yang tengah di rundung, "Ja lo gak mau bantuin si Mei?" tanya Adriano.
"Iya Bos si Mei kaya nya kesakitan" suara Javid mulai memelas.
"Kalo lo mau bantu silahkan aja" Deja bersedekap tangan menyaksikan Mei yang tengah terduduk di lantai.
"Jawab pertanyaan gue! Apa bener lo tunangan Deja?!" teriak seseorang.
Mei hanya memejamkan mata nya sambil meringis kesakitan, "Jawab cupu!" jambakan itu semakin kuat.
"Iya Deja tunangan aku" jawab Mei penuh penekanan sontak hal itu membuat Deja mengerutkan dahi nya karena kaget sekaligus kesal.
"Sialan!" desis Deja.
Deja berjalan mendekati Mei, tangan Deja mengambil bubur yang menjadi makan siang Mei, "Gak tahu malu lo!" Deja melempar semangkuk bubur penuh ke arah Mei dan benar saja seragam Mei menjadi kotor.
Seluruh murid Garuda termasuk sahabat Deja terkejut melihat hal itu, Saga ikut membelalakan mata nya. Deja mencengkram dagu Mei, "Mana ucapan lo yang kemaren!" teriak Deja.
"Tepatin janji lo!" desis Deja.
Mei mengangkat wajah nya untuk melihat Deja, "Lihat tuh tunangan lo gak akuin lo" kekeh mereka.
Elgra dan Saga menghampiri Mei yang terduduk lemas di lantai kantin, tangan Saga terjulur untuk membantu Mei berdiri namun Mei mengabaikan bantuan Saga hal itu membuat Elgra ikut bingung.
"Makasih El".
"Lo butuh sapu tangan Mei?" tanya Elgra.
Segera Saga mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna navy pada Mei, mata Mei melirik sekilas ke Saga namun lagi - lagi mengabaikan niat Saga.
"Gue anter lo balik ya" ajak Elgra, namun Mei menggeleng pelan.
"Mei tapi lo - ".
Mei berjalan meninggalkan Elgra dan Saga, "Apa gue susul si Mei aja ya Re?" Adriano menatap miris pada Mei.
Rega menggeleng pelan, "Mei butuh waktu" Rega menahan Adriano.
"Deja kenapa sekasar itu sama Mei?" tanga Javid.
"Apa lo udah gila Deja?! " batin Elgra.
" Ada apa sama dia? Dia marah sama gue? " batin Saga.
Mei mengambil tas nya di dalam kelas, saat ini Ia lebih memilih untuk pulang ke rumah untuk membersihkan diri nya, namun tatapan mata teman sekelas Mei seakan mengintimindasi nya lebih lanjut.
__ADS_1
"Kasihan ya gak di anggap sama Deja".
"Masih ada muka ya ngaku sebagai tunangan Deja".
"Gak sadar diri".
Cibiran itu Mei abaikan saja Ia dengan cepat mengambil tas nya dan langkah kaki Mei menuju pintu luar kelas nya. Mei merangkul tas ransel pada pundak ringkih nya.
Mei melewati kelas Deja, Mei memandang lurus jalan yang ada di depan nya dengan tatapan sendu khas milik nya.
"Deja!" teriak Elgra.
"Apa?!" balas Deja tak kalah sengit.
"Lo gila ya? Kenapa lo gitu sama Mei?" desis Elgra tajam.
"Lo tanya kenapa gue lakuin itu? Apa lo gak paham sama situasi nya!" bentak Deja.
"Susul Mei sekarang juga!" Elgra menarik lengan Deja dengan kuat.
Begitu pun yang lain nya mereka mengikuti Elgra dan Deja, "Bos kita sebenernya kenapa sih?" tanya Javid.
"Diem dulu lah Vid ntar kita di marahin Deja lagi" jawab Adriano.
Mei melewati gerbang sekolah, "Pak saya permisi mau pulang bisa buka gerbang nya?" lirih Mei.
Satpam sekolah itu menatap aneh pada Mei, "Kamu kenapa Mei? Kamu mau pulang? Sama siapa?".
"Mei jalan kaki".
"Tapi mau hujan Mei" ujar satpam itu.
Benar keadaan langit sama seperti hati Mei mendung dan gelap seakan ingin menurunkan segala beban yang awan hitam itu tanggung. Rintik hujan turun membasahi tanah dan orang - orang di sekitar nya.
"Saya mau pulang pak" lirih Mei suara nya terdengar berat.
"I - iya Mei Bapak bukain gerbang nya".
Elgra dan Deja tiba di penghujung kelas, "Mei tunggu!" seru Elgra.
Mei tidak merespon seruan Elgra Ia memilih tetap berjalan ke depan, "Mei gue anter ya?" teriak Elgra.
Lagi Mei tidak memperdulikan bantuan Elgra, "Mei tunggu".
Mei berjalan di bawah deras nya hujan wajah yang kotor dan buruk lengkap sudah membebani seorang Mei.
Elgra berdecak kesal, "Lihat kelakuan lo Ja!".
"Lihat!" teriak Elgra, sedari tadi Deja terus memperhatikan Mei yang berjalan di bawah hujan.
"Gue gak ngerti sama lo, kenapa lo sejahat ini sama Mei!" sarkas Elgra.
"Kalo emang salah satu dari kalian ada yang suka Mei tolong di jaga" Elgra menatap sinis pada Deja dan Saga.
Elgra membalikan badan nya namun Ia menghentikan langkah nya, "Gue gak abis pikir kenapa lo semua bisa kaya gini sama Mei". Rega dan yang lain nya hanya menepuk bahu Deja dan Saga dengan pelan dan ikut pergi.
Masih ada Elgra yang peduli sama Meiπ
Apa kalian percaya sama jawaban Saga?
LIKE, VOTE and COMMENT'S πππ
__ADS_1
Fllw Ig : mandadwisetyorini