RADEJA

RADEJA
Chapter 20 : Me or She?


__ADS_3

Selamat Membaca 💚


Benar menurutnya jika keberuntungan tidak berpihak pada si lemah, tidak lebih tepat nya pada diri nya. Apapun yang Mei mau, Ia tidak pernah mendapatkan nya. Harta atapun Tahta bukanlah hal yang Ia inginkan walaupun Ia memang sudah memiliki nya, yang Ia mau hanya satu Kebahagiaan.


Raymond dan Karina mengintip dari celah kecil pintu kamar Mei yang terbuka, "Kita masuk aja Ma" ajak Raymond.


Raymond dan Karina memilih masuk untuk melihat kondisi Mei, "Mei... " lirih Karina, namun Mei masih diam sambil membelakangi kedua orangtua nya.


"Mei Han... " sekali lagi Karina memanggil nama putri nya itu sambil membelai rambut Mei.


Mei menghapus air mata nya dan membalikan tubuh nya, "Iya Ma" Mei berusaha tersenyum.


Karina menatap nanar pada Mei, "Kamu sebenernya kenapa Mei? Sejak pulang sekolah tadi kamu langsung ke kamar".


"Dan juga setelah dari luar kamu juga langsung ke kamar. Sebenernya ada apa?" tambah Karina.


Mei memalingkah wajah nya dari Karina, "Mei rasa keputusan Papa dan Mama untuk jodohin Mei sama Deja itu bukan hal yang benar".


Raymond memutar mata nya ke arah Mei begitupun Karina, "Maksud kamu gimana Mei?".


"Ini langkah yang salah Pa, di saat Mei dan Deja udah sah menjadi pasangan yang bertunangan - ".


Mei menghela nafas nya seakan tidak sanggup, "Mantan Deja kembali ke sini Pa, dan Deja masih berharap sama dia".


Karina menutup mulut nya seakan tak percaya lain hal nya dengan Raymond pria berumur empat puluh tahun itu menggertakan rahang gigi nya, "Sialan!" desis Raymond di depan anak istri nya.


"Kita harus akhiri pertunangan - ".


Mei menahan tangan Papa nya, "Mei mohon sama Papa kasih Mei waktu buat yakinin Papa kalo Mei bisa pertahanin pertunangan ini".


Karina memeluk Mei, "Jangan di paksa Mei" lirih Karina.


"Mei tahu Mei bukan anak yang bisa mengerjakan segala hal selain sekolah dan musik tapi Mei gak mau permalukan keluarga Han karena masalah ini".


"Mei akan berusaha untuk ambil Deja kembali ke sisi Mei".


"Mei harus perjuangkan apa yang telah menjadi milik Mei".


Raymond menghela frustasi, "Papa gak masalah harus tanggung malu karena gagal di pertunangan kamu tapi Papa gak bisa lihat kamu menderita terus Mei".


Mei mengenggam tangan Raymond, "Papa harus percaya sama Mei, Papa selalu bilang kalau - ".


" Hànzú de nǚrén shì jiānqiáng de nǚrén " (Wanita dari keluarga Han adalah wanita yang kuat) sambung Mei.


Raymond memeluk anak dan istri nya, "Kita semua akan baik - baik saja".

__ADS_1


~


Arsen dan Yasmine tengah mengintrogasi Deja di ruang tamu, atmosfer yang terasa saat ini adalah dingin dan kejam.


"Papa dengar Natalie kembali ke Indonesia".


"Apa benar Ja?" Arsen menoleh ke arah Deja yang tengah terduduk lesu.


"Iya Natalie pulang ke sini Pa".


"Berarti kamu sudah bertemu dengan dia?" Arsen menatap anak nya.


"Iya Pa Deja udah ketemu sama dia" jawab Deja.


"Apa yang Papa takutkan selama ini benar - benar terjadi".


"Kamu tahu maksud Papa bukan?".


Deja memejamkan mata nya, "Iya Deka tahu maksud Papa".


Yasmine berpindah posisi tempat duduk nya di samping Deja, "Kamu harus ingat Ja, kamu udah punya tunangan".


"Jangan main - main sama perasaan".


"Memang apa yang mau kamu lakukakan? Mengurung diri di kamar seperti tiga tahun lalu? Atau apa?" tanya Arsen.


"Deja juga udah dewasa dan Deja punya pilihan sendiri Pa!".


"Papa hargai keputusan kamu tapi kami sebagai orangtua juga berhak atas apa yang kamu pilih Deja!".


Deja menggertakan gigi nya karena kesal, "Apapun jawaban Papa hati Deja tetap pilih Natalie" desis Deja pada Arsen.


Arsen menyipitkan mata nya pada Deja," Kamu gak akan menyesal sekarang tapi di kemudian hari akan menyesal".


"Kalau sampai Papa Raymond marah akan tindakan kamu Papa akan ikut turun tangan" Arsen membalikan badan nya untuk meniggalkan Deja di ruang keluagra itu.


Arsen menghentikan langkah nya yang baru beberapa langkah, "Jangan main api kalau kamu tidak mau terbakar" lanjut Arsen.


~


Di rumah maupun di sekolah Mei memilih diam dan acuh pada sekeliling nya ini bukanlah suatu hal baru bagi Mei setiap hari Ia juga selalu sendiri. Teman - teman Deja juga menjadi bahan diam nya Mei termasuk Melisa rasa nya Mei masih butuh waktu untuk memahami keadaan nya.


Saat berjalan di koridor untuk pulang sekolah Mei berpapasan dengan teman - teman Deja, " Hai Mei... " sapa Adriano.


Mei meluruskan pandangan nya dan memilih tetap berjalan tanpa mau menjawab sapaan Adriano, "Masih marah ya?" tanya Adriano.

__ADS_1


"Gue rasa Mei masih marah sama kita apalagi sama omongan nya Elgra" Javid melirik ke arah Elgra.


"Rega juga" tambah Adriano yang ikut melirik ke Rega.


"Ya kan selama ini Elgra yang baik sama Mei tahu - tahu lo ngomong kaya gitu sama dia" Javid menunjuk Elgra.


"Betapa bodoh nya gue waktu itu" Elgra menahan helaan nafas nya.


Mei berjalan ke arah parkiran motor untuk menunggu jemputan nya, mata hitam nya menangkap dua orang yang kini tengah berduaan di parkiran.


"Mei!" teriak Deja dengan cepat Mei mengalihkan wajah nya dari Deja.


Deja dan Natalie menyusul ke tempat dimana Mei berdiri, "Ada hal yang harus gue omongin sama lo".


"Apa?" hanya satu kata itu yang berhasil keluar dari bibir Mei, mata Mei menatap kesal pada Natalie yang memegangi seragam Deja.


"Gue minta maaf sama lo untuk masalah ini" ujar Deja.


"Aku gak butuh maaf dari kamu".


"Aku tanya sekarang sama kamu?".


Dari arah belakang teman - teman Deja termasuk Melisa tengah menyusul Mei, "Kamu pilih dia atau aku?" mata Mei menatap datar pada Deja.


Jantung Deja berdetak kuat saat Mei menanyakan hal itu pada Deja, "Jawab sejujurnya Ja".


Deja melirik Natalie yang berdiri di belakang nya kemudian mata biru Deja berganti silih menatap Mei, "Apapun hubungan lo sama gue hati gue gak bisa bohong".


"Gue tetap sama Natalie" Deja membalikan badan nya sembari merangkul Natalie.


Tangan Mei dengan cepat meraih tangan Deka untuk Ia genggam, Deja memberhentikan langkah nya dan menatap Mei, "Maaf Mei" Deja berusaha melepaskan tangan nya dari genggaman Mei.


Deja tetaplah Deja siapapun tidak bisa mengalahkan ego nya termasuk kedua orangtua nya, "Deja... " lirih Mei.


Untuk kali ini Mei tidak ingin menangis, Ia harus menjadi perempuan yang kuat, " Dan sekali lagi kebahagiaan tidak berpihak sama kamu Mei " batin Mei.


Deja sempat kembali menghentika langkah nya dan menatap Mei yang sudah berbalik badan, " Are you okay? " tanya Natalie.


Deja mengangguk pelan, Saga yang berdiri di koridor hanya mampu menyipitkan mata nya, "Lagi dan lagi lo di kecewain dan di sakiti dengan orang yang sama Mei" batin Saga.


Pesan : Jangan main api jika tidak mau terbakar :)


Deja emang gak ada akhlak guy's


LIKE , VOTE and COMMENT'S 💚💛💜

__ADS_1


__ADS_2