
Mei termenung di dalam kamarnya. Sudah tiga hari Mei tidak sekolah karena kondisi tangan nya terluka parah. Setelah kejadian itu tentu saja Raymond dan Karina bertindak cepat untuk mengklarifikasi apa yang sebenernya terjadi.
Raymond marah besar pada Deja setelah mendengar pengakuan dari Deja langsung. Raymond langsung memilih pulang dan segera mengobati anak nya yang terluka parah.
Sudah tiga hari juga Deja tidak ada menghubunginya. Persetan jika Deja tidak mau meminta maaf pada diri nya. Untuk saat ini biarlah Mei menyendiri dulu.
Raymond dan Karina mengetuk pintu kamar Mei, " Papa sama Mama masuk ya Mei".
Namun tetap saja tidak ada sahutan dari Mei. Raymond dan Karina memilih masuk ke dalam kamar Mei. Raut wajah Raymond berubah menjadi sendu, anak kesayangan nya, anak kebanggaannya telah menjadi gadis malang.
"Mei makan ya sayang" Karina membelai rambut Mei yang acak - acakan.
Mei menggelengkan kepala nya, " Mei gak lapar Ma".
Karina menutup mulut nya karena tak sanggup menahan kuasa. Mei hanya minum air putih dan sesekali memakan roti bagaimana mungkin anak nya itu tidak lapar.
Raymond memeluk Karina karena dirinya juga ikut merasakan perasaan kalut saat ini. Raymond tidak habis pikir pada Deja yang Ia amanahkan untuk menjaga putri nya.
"H - hati Mei sakit Ma".
"Mei gak tahu Ma kenapa hati Mei sakit" Mei mengeluarkan isi hati nya saat ini.
"Cukup Mei!" teriak Karina sambil memeluk Mei.
"Kamu gak salah Mei! Cinta kamu untuk Deja itu tulus hanya saja Deja tidak bisa menyadari perasaanya sendiri" Karina ikut menangis di samping Mei.
"P - papa".
Raymond yang mendengar panggilan dari anak nya itu segera duduk di samping Mei. Raymond mengusap wajah Mei yang sangat pucat.
"Kenapa sayang? Kamu mau minta apa sama Papa nak?" sungguh Raymond tidak tahu harus berbuat apalagi.
"Papa sayang kan sama Mei?" Mei mengenggam tangan Papa nya dengan kuat seaka takut jika Papa nya akan pergi.
"Papa sayang sama Mei gak mungkin Papa gak sayang Mei" Raymond semakin kuat mengenggam tangan Mei. Kini Raymond bisa merasakan jika Mei saat ini ketakutan dan cemas.
"Kenapa Deja gak bisa sayang sama Mei Pa?".
__ADS_1
Pertanyaan yang keluar dari mulut Mei mampu membuat Raymond terdiam. Sungguh Ia tidak tahu harus menjawab apa pada Mei.
"Perempuan baik akan dapat laki - laki yang baik Mei" suara Raymond terdengar kalut dan bergetar.
"Deja berbuat jahat sama Mei berarti Deja gak bisa jadi pasangan Mei" tambah Raymond. Air mata Raymond jatuh tepat di wajah Mei.
Hati orangtua mana yang tidak marah dan kecewa jika mengetahui anak nya menjadi bahan taruhan oleh tunangan nya sendiri.
Raymond menghapus air mata Mei, "Mei istirahat ya biar cepat sembuh" Raymond mengusap kepala Mei.
Di satu sisi Mei sempat memikirkan Deja. Mengapa hingga saat ini Deja tidak menghubungi nya. Apa benar jika dirinya tidak berharga di mata Deja.
Mei juga sempat mendengar kabar dari Melisa jika sesudah kepergian Raymond , Deja di hajar habis - habisan oleh Arsen. Deja babak belur di tangan Arsen dan mungkin saja jika Miller tidak datang Deja sudah sekarat di rumah sakit.
~
Arsen dan Yasmine keluar dari dalam mobil. Begitu juga Deja keluar dari dalam dengan raut wajah nya frustasi.
Jika biasanya Deja berpenampilan rapi dan maskulin untuk saat ini tidak. Deja hanya mengenakan kemeja putih panjang dan ada beberapa luka lebam di wajah nya.
"Selamat sore Tuan da Nyonya Han" mereka membungkukkan badan.
"Ada perlu apa?" sambut Raymond dengan nada bicara tak suka.
"Kami datang untuk meminta maaf Tuan dan Nyonya" ujar Arsen.
"Tidak! Kami tidak perlu ucapan maaf dari keluarga Anda!" bentak Raymond.
"Tapi - ".
"Pa biarkanlah mereka bertemu sama Mei dulu" ujar Karina.
"Tapi Ma..." Raymond menghela nafas nya dengan panjang.
"Biarkan Deja dan Mei berbicada satu sama lain".
Mendengar lampu hijau dari Mama Karina, Deja langsung bergegas masuk ke dalam dan mencari ke kamar nya. Walaupun ada rasa sakit di sekujur tubuh nya namun Deja lebih mementingkan keadaan Mei saat ini. Jika ada yang bertanya mengapa Deja tidak ada menghubungi Mei alasan nya adalah Arsen membanting ponsel nya dan otomatis ponsel milik Deja rusak.
__ADS_1
Deja membuka pintu kamar Mei. Dari tempat Ia berdiri saat ini Deja bisa melihat Mei yang tengah tertidur dengan mengenakan gaun tidur berwarna putih.
Deja berusaha masuk ke dalam untuk mendekati Mei, "Mei ini aku, Deja".
Mei yang mendengar suara itu langsung membalikan badan nya, "Pergi!" teriak Mei histeris.
"Mei dengerin aku dulu Mei" Deja memegang bahu Mei dengan kuat.
"Pergi! Apa gak cukup kamu sakitin aku terus?!" teriak Mei frustasi.
Deja menarik Mei ke dalam pelukan nya. Deja terus menciumi puncak kepala Mei, "Aku beneran sayang sama kamu Mei".
Mei meremas kuat kemeja Deja hingga kusut. Hati nya terasa sakit, perih dan terlalu luka. Mei terus menangis karena tidak sanggup menahan luka nya.
"Maaf Mei".
"Aku akui awalnya aku memang sengaja tapi akhirnya aku kecewa Mei" Deja ikut menitikan air mata nya.
"Kamu boleh benci sama aku Mei".
"Tapi jangan jauhi aku Mei" Deja membelai kepala Mei.
Mei memejamkan mata nya karena perih menahan air mata nya. Mei menggelengkan kepala nya. Mei melepaskan pelukan nya dari Deja.
Deja mengerti dengan apa gelengan kepala Mei. Deja tidak mau memperkeruh suasana saat ini. Deja menarik kepala Mei agar tidur. Deja tahu jika Mei kelelahan karena menangis.
Mei menuruti setiap gerakan tangan Deja. Mei mulai menidurkan kepala nya di atas bantal. Mei membelakangi Deja dan segera memejamkan mata nya.
Deja menarik selimut untuk menutupi tubuh Mei. Deja ikut berbaring di sebelah Mei, "Aku gak tahu apa kamu bisa maafin aku Mei".
"Jangan pergi Mei" Deja mencium punggung badan Mei.
Apa kalian bakal maafin Deja kalau jadi Mei? Maaf kalau Author buat si Mei jadi sadgirl.
Kalian boleh post ya quotes ini dan jangan lupa tag Ig Author, _mandaaads
__ADS_1