
Selamat Membaca 💚
Mei berjalan sendirian ke arah kantin, Melisa berlari kecil menyusul Mei dari belakang, "Mei tunggu!" teriak Melisa.
Mei menghentikan langkah nya dan membalikan badan nya. Mei hanya menatap datar pada Melisa, "Lo marah sama gue Mei? Kenapa lo hindarin gue?" nafas Melisa terengah - engah.
"Aku cuma belum terbiasa aja sama keadaan yang sekarang" Mei menatap datar pada Melisa.
"Gue tahu Mei lo marah sama gue dan bahkan sama sahabat nya Deja karena gak pernah cerita soal Natalie".
"Gue pikir Nate bakal menetap di Jerman tapi ternyata - ".
Mei menghela nafas nya dengan berat, "Aku gak salahin kamu Mel, tapi aku masih sulit untuk paham sama situasi yang sekarang".
"Lo udah gak marah lagi kan Mei sama gue?" Melisa menahan lengan Mei.
Mei tersenyum pada Melisa, "Mau gak mau aku harus tetap jalanin apa yang ada Mel" Mei ikut menahan lengan Melisa.
Melisa tersenyum sekaligus terkekeh, "Ke kantin yuk Mei gue laper" Melisa menarik tangan Mei.
Mereka berdua duduk di sebuah meja tengah yang di apit dua meja lain nya, "Kamu mau pesan apa Mel? Biar aku yang ke sana".
"Roti sama es teh aja Mei" jawab Melisa.
Mei mengangguk pelan dan menuju ke sebuah warung makan, setelah memesan makanan Mei kembali ke meja makan nya. Mei mengedarkan pandangan nya ke sebelah kiri, mata sipit Mei menjatuhkan fokus nya pada Deja dan Natalie yang tengah jalan berdua.
Mei menggelengkan kepala nya, "Mei... " lirih Melisa.
"Kemarin abis lindungin si Mei sekarang udah ada yang baru".
"Posisi lo kegeser sama yang lebih modis ya Mei" kekeh mereka.
Mei memejamkan mata nya seakan tak mau ambil pusing dengan ucapan mereka yang selalu membully Mei.
"Udah di angkat tinggi eh malah di jatuhin dengan sengaja" kembali mereka tertawa keras.
Deja yang duduk di sebelah Natalie paham siapa yang mereka maksud. Elgra hanya melirik pada Mei, Deja dan Natalie.
"Hadap sini lo Mei!" salah seorang dari mereka menjambak rambut Mei.
"Arghhh... " Mei meringis kesakitan saat rambut hitam nya di jambak dengan kuat oleh mereka.
__ADS_1
Melisa menggebrak meja, tentu saja keributan itu menarik perhatian anak - anak Garuda, "Lo jangan kurang ajar sama Mei" bentak Melisa.
"Diam lo urakan! Gue gak ada urusan sama lo!" Melisa di tunjuk dengan jari telunjuk.
"Mei Han! Lihat sekarang tunangan lo yang kemarin belain lo sekarang sama cewe lain? Lo itu tunangan nya Deja atau perusak hubungan Deja sama dia?!" Deja mulai bingung di satu sisi Ia tidak mau menyakiti Mei ataupun Natalie.
Mei menahan sakit di rambut nya, "Hubungan aku sama Deja gak ada urusan nya sama kalian!" Mei berusaha melepaskan tarikan rambut nya dari mereka.
"Ja lo gak mau tolongin Mei?" Adriano mulai panik.
"Iya Ja lo tega lihat Mei kaya gitu" sambung Rega.
Deja melirik ke arah Natalie namun Natalie menahan tangan Deja sambil menggelengkan kepala nya, "Mei bukan urusan kamu Ja".
Saga menolehkan wajah nya pada Natalie seakan tak percaya dengan ucapan Natalie. Ada sedikit keraguan pada Deja harus menyelamatkan Mei atau mengikuti kemauan Natalie.
"Lepasin tangan kotor lo dari Mei!" sinis Melisa yang kini di tahan oleh teman - teman nya.
"Jawab pertanyaan gue baru gue lepasin!" bentak nya.
Mei memejamkan mata nya, "Aku tunangan Deja, Nate cuma mantan pacar Deja!" bentak Mei.
Deja yang mendengar hal itu membelalakan mata nya begitu pula Natalie, "Apa?!" pekik Deja.
Plakkk
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Mei tentu saja hal itu membuat mereka kaget, "Lo bilang apa? Berani lo bilang itu di depan gue? Ada nyali lo ngomong itu!" bentak Deja.
Melisa menarik lengan Deja, "Lo gila ya tampar tunangan lo sendiri!".
Deja menghempaskan Melisa, "Jangan ikut campur sama masalah gue, walau lo sepupu gue atau sahabat dia!".
"Lo kira dengan gue baik sama lo!" Deja menunjuk Mei dengan jari telunjuk nya.
"Gue suka sama lo?! Cinta sama lo?!" sinis Deja pada Mei.
"Gue gak pernah suka sama lo dan gak akan suka sama lo sampai kapanpun!".
"Dan lihat aja gue bakal batalin pertunangan sialan ini, apalagi cewe sial kaya lo!" sarkas Deja pada Mei.
Deja menarik tangan Natalie dengan cepat, Mei hanya menatap kepergian Deja yang lebih memilih Natalie.
__ADS_1
"Wah jadi di sini kita semua tahu kalo di gak tahu diri!" .
"Cabut!" mereka meninggalkan kantin.
Mei mengalihkan pandangan nya untuk menyembunyikan air mata yang akan jatuh, Melisa menghampiri Mei.
"Mei lo gapapa?" Melisa memegangi Mei yang sudah hampir pucat.
"Aku mau ke toilet" Mei meninggalkan Melisa.
Saga menyipitkan mata nya dan mengikuti kemana Mei pergi, "Ga lo mau kemana?" teriak Adriano.
"Lo semua ikut gue!" perintah Melisa pada kelima cowok itu.
Mei berjalan cepat untuk ke toilet dari sebelah lorong sebuah tangan kekar menarik Mei untuk mengikuti nya.
Mei sedikit terkejut dengan seseorang yang menarik nya, "Kamu mau apa?".
"Apa semua itu kurang jelas buat lo?!" bentak Saga.
Mei memiringkan kepala nya pada Saga, "Ada urusan apa kamu peduli hal ini?".
"Lo bodoh atau gak punya harga diri?! Mau banget lo di injak kaya gini!" bentak Saga.
Mei menatap datar pada Saga, "Apa kurang jelas? Kamu tahu aku tunangan Deja tapi kamu bilang aku bodoh?".
"Yang bodoh itu aku atau kamu?!" Mei berteriak di depan Saga.
"Kenapa kalian selalu bela Natalie? Kalian juga selalu lindungin dia!".
"Di mata kamu mungkin aku bodoh dan gak ada harga diri tapi apa yang aku lakuin semua itu beralasan".
"Alasan? Apa alasan lo?" desis Saga.
"Aku tunangan Deja, suka gak suka aku harus ambil kembali apa yang aku punya".
"Apa kalo gue jadi tunangan lo bakal lakuin hal yang sama?".
Mei menyipitkan mata nya pada Saga, "Siapa pun itu kalo dia udah jadi tunangan ku selama nya akan tetap jadi punya ku" Mei berlalu meninggalkan Saga.
Mei menghentikan langkah nya yang baru beberapa langkah, "Dan perlu kamu ingat! Aku tunangan Deja, Nate cuma peganggu di hubungan ku sama Deja!" desis Mei tajam.
__ADS_1
Saga hanya menatap punggung Mei yang mulai menghilang dari hadapan nya, " Sampai kapan lo mau korbanin diri lo Mei ".
LIKE , VOTE and COMMENT'S 💚💛💜