
Selamat Membaca semua 💚
Sudah tiga hari Mei tidak sekolah dengan alasan sakit, tentu saja bagaimana mungkin seseorang tidak akan sakit jika harus berjalan di bawah deras nya hujan ketika diri nya juga ikut tersakiti.
Melisa juga sudah berusaha menghubungi Mei namun diri nya juga tidak mendapat balasan dari Mei, "Sebener nya Mei sakit apa ya? Gak biasa nya di sampai gak masuk" gumam Melisa.
Melisa teringat sesuatu Mei tidak masuk sekolah tepat ketika Melisa baru masuk berarti ketika Melisa tidak ada di sekolah ada sesuatu yang terjadi dengan sahabat nya itu, "Apa gue tanya aja sama Deja?".
Melisa pergi menuju ke kelas Deja, Melisa berlari untuk segera menemui sepupu nya itu, "Deja!" teriak Melisa.
Pemilik nama itu membalikan badan nya ke arah Melisa dengan tatapan sinis, "Apa?!" balas Deja dengan sinis.
Melisa tersenyum pada Deja dan mengangkat tangan kanan nya, " Plakkk " sebuah tamparan keras mendarat di wajah Deja.
"Berapa kali gue bilang sama lo, panggil gue Kakak!" bentak Melisa.
Deja hanya memegangi pipi nya yang terasa panas akibar tamparan Melisa, "Kenapa lo di sini?".
"Kenapa Mei gak sekolah?".
"Kenapa tanya gue?" sungut Deja.
"Jawab yang bener! Lo mau gue pukul lagi?!" ancam Melisa.
"Gak tahu" Deja memilih duduk di sebuah kursi.
"Lo semua kenapa Mei gak masuk sekolah?" tanya Melisa.
Adriano melirik ke arah Elgra, Javid juga ikut melirik ke arah Deja dan Elgra, "Gak ada yang mau jawab?!" bentak Melisa.
"Mei di bully sama musuh nya, di siram pake bubur, pulang ke rumah jalan kaki waktu hujan" jawab Elgra, sontak hal itu membuat mereka membelalakan mata nya satu sama lain.
"A - apa lo bilang? Di bully ? Di siram pake bubur? Pulang waktu hujan?" pekik Melisa seolah tak percaya.
Elgra dan teman - teman nya kecuali Deja dan Saga mengangguk pelan, " What the **** ? " pekik Melisa.
"Lo sebagai sahabat nya kenapa gak sekolah hari itu?" tanya Deja.
Melisa memutar mata nya sinis pada Deja, tangan Melisa mencengkram kerah seragam Deja, "Lo gak waras ya? Jelas gue ikut ke Belanda buat ngurus perusahaan Kakek Deja!!!" teriak Melisa di hadapan Deja.
"Lo sebagai tunangan nya ngapain aja?!".
"Dan asal lo tahu Mel yang siram bubur ke wajah Mei itu Deja" jawab Elgra.
__ADS_1
Kembali Melisa terbakar api emosi, "Lo mau mati di tangan gue sialan?!" desis Melisa tajam.
Segera Adriano dan Javid menarik Melisa agar menjauh dari Deja, "Melisa lo jangan hilang kendali" Adriano menahan lengan Melisa.
"Laki - laki macam apa yang kasar sama tunangan nya sendiri? Dan kenapa ada manusia kaya lo di bumi ini" Melisa terkekeh renyah di hadapan Deja.
Deja membulatkan mata nya pada Melisa, "Jaga omongan lo Mel! Jangan lo kira lo kakak sepupu gue lo tekan gue terus!".
"Hah apa lo bilang? Jaga omongan gue? Harus nya lo jaga sikap lo sama perempuan. Kok bisa Om Arsen sama Tante Yasmine lahirin Iblis kaya lo" Melisa melepaskan diri nya dari Adriano dan Javid.
"Dasar Brengsek!" sinis Melisa sambil berjalan keluar kelas Deja.
Saga menghela nafas nya setelah menyaksikan pertengkaran antar sepupu itu, "Melisa kuat bener kaya cowok" ujar Adriano.
"Keturunan Papa Miller kali ya" balas Javid.
~
Mei merebahkan diri nya di atas kasur berwarna putih itu, mata nya terasa berat namun panas nya sudah mulai turun, sesekali Ia terus melihat ke arah jam dinding di kamar nya.
Mei berusaha bangkit dari tidur nya, tangan kurus nya meraih sebuah biola coklat klasik yang ada di atas meja nya. Mei mendekatkan biola itu pada diri nya, "Sebentar lagi Spring Romance " Mei mengangguk di depan cermin rias nya seolah tak menguatkan diri nya.
Mei mulai menggesekan Bow pada Body biola dengan penuh perasaan, Mei mengayati setiap gesekan yang Ia hasilkan.
Méi wèishéme nǐ liànxí xiǎotíqín? " (Kenapa kamu sudah berlatih biola Mei?).
Mei menghentikan permainan biola nya saat mendengar suara Karina, " Kěnéng xiǎng zài chūnjì làngmàn zhōng huòshèng " (Mei ingin menang dalam kompetisi Spring Romance).
Karina membelai kepala Mei, "Jangan terlalu memaksakan diri Mei".
Mei menggeleng pelan pada Karina, " Iya Ma" Mei memeluk Karina.
Karina melepaskan pelukan nya dari Mei, "Mama ke bawah ya Mei" Mei mengangguk pelan, ketika baru keluar dari kamar Karina berpapasan dengan suami nya, Raymond.
"Pa kasihan Mei dia lagi sakit tapi masih harus berlatih untuk kompetisi biola nya" Karia mulai khawatir dengan kondisi Mei.
"Apa kita coba lain kali aja Pa?" tanya Karina.
Raymond memegangi Karina, "Mei sudah lama ingin ikut Spring Romance Ma. Mama tahu sendiri kan dari TK dia sendiri yang bilang akan ikut kompetisi ini saat umur 17 tahun nanti".
"Jadi biarkan lah Mei berusaha dulu" Raymond mengusap wajah Karina.
"Permisi Tuan dan Nyonya di luar ada Keluarga Tuan Arsen" ujar pembantu.
__ADS_1
"Pa, Tuan Arsen" ujar Karina.
"Persilahkan mereka masuk" titah Raymond, pembantu itu segera menuruni anak tangga.
Raymond dan Karina juga ikut turun ke bawah untuk menemui calon besan nya itu, "Selamat datang Tuan Arsen" sapa Raymond.
"Terima kasih Tuan Han" Arsen beserta anak istri nya membungkukan badan.
"Kami dengar jika Mei sedang sakit maka dari - ".
Mereka semua terdiam saat mendengarkan suara biola dari lantai atas, Deja terhipnotis dengan permainan biola itu, " The end of the world " batin Deja.
"Apa Mei sedang berlatih biola?" tanya Yasmine.
Karin tesenyum, "Benar itu Mei" Arsen dan Yasmine ikut tersenyum. Deja membelalakan mata nya karena jawaban Karina, Deja sangat terhipnotis akan permainan biola Mei sangat indah dan lembut untuk di dengar.
"Mari silahkan duduk Tuan dan Nyonya" sila Karina.
"Sebentar saya panggilkan Mei" Karina undur diri dan segera menaiki anak tangga.
Tak lama kemudian Karina dan Mei turun dari lantai atas, Mei yang sangat pucat hanya mengenakan kaos putih dan rok pendek hitam, mereka bedua menuju meja makan karena memang sudah jam makan malam juga.
"Mama dengar dari Melisa kamu sakit Mei?" Yasmine menatap nanar pada Mei.
Mei sedikiti canggung, "Iya Ma" jawab Mei dengan singkat.
"Apa benar kamu juga di bully dan di siram dengan bubur?" tanya Yasmine, Deja hanya diam dan menatap dingin pada tunangan nya itu.
Mei menggertakan tangan nya, "Iya Ma" Mei menundukan wajah nya.
Arsen melirik pada Yasmine, "Kalau Papa boleh tahu siapa yang yang melakukan itu Mei? Terutama yang menyiram bubur sama kamu?".
Deja menatap sinis pada Mei takut jika Mei menyebut nama nya karena insiden itu, " T - temen Mei Pa".
Deja membelalakan mata nya pada Mei, Ia pikir Mei akan mengatakan pada semua orang jika Ia lah pelaku nya.
"Siapa Mei? Coba bilang sama Papa biar Papa bantu" ujar Arsen.
Mei menatap Arsen, "Papa gak perlu bantu, Mei bisa selesain sendiri" Mei tersenyum pada Arsen, Raymond dan Karina tersenyum miris pada anak mereka. Deja terdiam karena mendengar jawaban Mei, " Kenapa dia gak sebut nama gue? Kenapa dia lakuin ini ? Apa demi gue? ".
Mei terlalu Bucin 😭 Perasaan gak bisa bohong yahaha :v
LIKE , VOTE and COMMENT'S 💚💛💜
__ADS_1
Fllw Ig : mandadwisetyorini