
Mei mengambil peralatan Biola nya dan segera turun ke bawah, di sana sudah ada Raymond dan Karina, "Udah mau berangkat Mei?" tanya Karina.
"Iya Ma Mei mau latihan" Mei mengambil sebuah roti tawar dan mata nya bergeser pada jam tangan nya.
"Mei berangkat ya Ma udah telat" Mei mencium pipi Raymond dan Karina.
"Hati - hati Mei".
Mei berlari kecil menuju ke arah luar gerbang rumah nya, "Hai Mei" sapa seseorang.
Mei terkejut dengan sapaan itu dan sedikit mengerutkan dahi nya, "K - kamu kenapa di sini?".
Deja melirik Biola yang di bawa Mei, "Mau latihan Biola?".
Mei mengalihkan wajahnya dari Deja, "Gue di sini bukan di sana" Deja menarik badan Mei agar berhadapan dengan diri nya.
"Gue antar ya" Deja menyerahkan sebuah helm pada Mei namun Mei hanya diam dan tidak menerima helm pemberian Deja.
Deja menganggukan kepala nya kecil pada Mei, "Lo beneran gak mau Mei?" Deja mendekatkan wajahnya pada Mei.
Mei memilih tetap diam, "Gue serius mau antar lo Mei" Deja memasang wajah serius nya pada Mei.
Mei menyipitkan mata nya pada Deja, "Serius? Nanti kamu tinggalin aku di tepi jalan lagi?".
"Serius Mei gue antar lo sampai tempat kursus lo" balas Deja.
Mei menganggukan kepala nya dan segera naik ke atas motor Deja. Mei memegang behel motor Deja, "Pegang pinggang gue" Deja menarik tangan ke arah pinggang nya.
~
Deja turun dari motor nya dan mengikuti Mei dari belakang, "Kamu kenapa ikutin aku?" Mei menatap datar pada Deja.
"Gue gak boleh masuk?" balas Deja tak suka pada Mei.
"Kamu mau apa? Kamu juga siswa di sini" jawab Mei.
Deja membuang wajah nya agar tidak terlihat aneh, "Ya gue mau liat lo latihan" jawab Deja.
Mei menggelengkan kepala nya, "Yaudah ikut aku" Mei menarik tangan Deja dari depan. Deja melihat tangan Mei yang saat ini mengenggam tangan nya, "Perasaan ini" Deja merasakan darahnya berdesir dengan cepat.
"Kamu cukup duduk di sini tunggu aku selesai latihan".
Deja menganggukan kepala nya mata nya bergerak mengelilingi isi ruangan itu, "Lo cuma sendiri? Mentor lo mana?".
Mei menurunkan Biola nya, "Aku latihan sendiri hari ini".
Deja mengerutkan dahi nya dan menyipitkan mata nya pada Mei, "Mentor lo kemana?".
__ADS_1
"Lagi ada urusan kata nya" Mei mengangkat body of Biola milik nya dan mulai menggesekan nya
"Emang lo - "
Deja menghentikan ucapan nya, mata nya tertegun pada Mei yang berdiri di hadapan nya saat ini bak seorang malaikat Mei terlihat anggun dan indah. Mei memejamkan mata nya saat menggesek bow pada senar - senar Biola nya.
Deja ikut terhanyut dalam permainan Biola milik Mei, "Cewe yang selalu gue kasarin, tetap bisa jadi seorang malaikat. Apa yang udah gue lakuin sama dia terlalu berat buat dia".
Deja menundukkan wajah nya, "Kalau waktu bisa putar apa gue bisa perbaiki semua nya?".
Mei membuka mata nya tepat di depan Deja mata mereka saling menatap satu sama lain, hal itu membuat jantung Mei berdegup kencang tak karuan, seketika wajah Mei bullshing karena tatapan Deja.
Deja terkekeh melihat reaksi Mei, tentu saja Mei sadar jika Deja tengah menertawai diri nya, Mei kembali melanjutkan latihan nya.
Kurang dari setengah jam Mei berlatih kini saatnya Mei istirahat. Deja yang duduk di sebelah Mei hanya bisa melihat keringat yang turun dari dahi Mei, "Secapek itu ya main Biola?".
"Gak juga cuma penghayatan itu penting maka nya keringatan gini" Mei mengusap keringat nya.
Deja mengernyitkan dahi nya, "Lo gak punya sapu tangan apa?!" ketus Deja.
Tangan Deja beranjak naik ke area dahi Mei tangan kekar milik Deja menyapu keringat Mei dengan perlahan. Mei terdiam saat Deja menyapu keringat nya, jantung nya berdetak kuat seakan ingin melompat dari dalam.
"M - makasih Ja" Mei mengalihkan wajah nya yang telah bullshing dari Deja.
Deja tersenyum miring pada Mei, "Latihan lo udah selesai?".
Mei mengangguk pelan, "Memang kenapa?" Mei memasuka Biola nya pada kotak Biola.
Mei terkejut karena tiba - tiba saja Deja menarik tangan nya, "Kita mau kemana?" Mei berusah mengimbangi langkah Deja.
Deja membalikan badan nya dan tersenyum manis , " Gue mau ajak lo jalan".
~
Deja dan Mei tiba di sebuah taman yang cukup ramai, taman itu ramai dengan anak kecil yang tengah menghabiskan waktu nya bersama orang tua nya.
Mei menoleh pada Deja, "Kamu suka ke Taman?".
"Sejak dulu gue sering ke Taman bareng Papa Mama gue".
"Lo pasti gak percaya?".
Mei menganggukan kepala nya saat Deja bertanya hal itu pada nya, "Cari tempat duduk dulu capek gue".
Deja dan Mei duduk di sebuah kursi panjang berwarna putih dekat dengan taman bunga. Mei sedikit gugup dan canggung karena ini pertama kali nya Ia berduaan dengan Deja.
Deja menjulurkan tangan nya di belakang badan Mei, "Lo gak suka ke Taman ya?" Deja langsung merubah posisi duduk nya.
__ADS_1
Mei menggelengkan kepala nya dan sedikit mengerutkan wajah dan dahi nya karena panas matahari. Deja membulatkan mata nya pada Mei, "Serius? Pantesan aja lo gak punya temen di sekolah".
Mei mengalihkan wajah nya karena malas mendengar ucapan Deja. Rambut hitam Mei tergerai karena sapuan angin, Deja menoleh pada Mei spontan tangan Deja membenahi rambut Mei yang tersapu angin.
"Lo itu cantik".
Mei membulatkan mata nya pada Deja, lagi dan lagi jantung Mei berdetak dengan kuat karena mendengar ucapan Deja.
Deja menarik tangan nya dari rambut Mei sadar bahwasan nya Ia telah membuat Mei salah tingkah. Deja menatap lurus ke sebuah taman bunga, "Lo suka bunga apa?".
"Crissan".
"Crissan? Kenapa?".
"Dari kecil aku selalu lihat bunga itu di ruang tamu setiap perayaan Imlek".
"How Red Rose? ".
"Aku gak suka mawar, dia memang cantik tapi buat luka. Aku gak mau jadi mawar".
"Terus lo mau jadi Crissan?".
Mei berjalan ke arah taman bunga dan mengambil sebuah bunga Crissan berwarna putih.
"Aku mau jadi sosok wanita yang setia, bahagia dan selalu menebarkan cinta yang suci" Mei mencium aroma dari bunga Crissan.
Kembali Deja tertegun dengan pesona Mei kali ini ibarat seorang Malaikat yang tengah membawa bunga. Deja menutup wajah nya dengan lengan nya wajah Deja berubah menjadi bersemu merah. Mei kembali duduk di samping Deja.
Deja berdehem kecil untuk menetralkan pikiran nya. Deja membalikan badan nya, "Apa lo masih mau ke Shanghai, Mei?".
Mei menyipitkan mata nya pada Deja, "Aku tetap harus ke sana".
"Kalo gue ikut ke sana gimana?".
"Aku bakal ajak kamu ke sana tapi bukan waktu itu" ungkap Mei.
"Maksud lo?".
"Bisa aja aku ke Shanghai sebelum ataupun sesudah putus tunangan dari kamu" Mei menatap datar pada Deja.
"Putus tunangan?" pekik Deja.
"Bukan nya kamu sendiri yang bilang kalau kamu bakal akhiri pertunangan ini?".
Jantung Deja berdetak kuat seakan terhantam oleh batu yang keras hati Deja terasa sakit, " M - mei gak - ".
"Kita lihat besok apa kamu tetap jadi tunangan aku kalau aku pergi ke Shanghai" Mei berdiri dan langsung meninggalkan Deja.
__ADS_1
Terima kasih untuk Reader's yang selalu setia dan support author, dan terima kasih juga atas dukungan kalian sama Novel ARSEN karena sekarang ARSEN sudah ada versi Audio Novel, terima kasih love you so muchπππ
LIKE , VOTE and COMMENT'Sπππ