
Angin siang hari ini terasa lebih menyejukkan. Sapuan angin siang itu mampu menerbangkan rambut hitam Mei. Mata Mei mengerjap sesekali karena menahan perih.
Deja yang berjalan dari arah kelas nya ikut tersenyum melihat tunangannya. Deja menepuk bahu Mei hingga membuat Mei terkejut.
"Deja?".
Deja mengurai senyuman nya, "Besok sibuk gak?".
Mei membuka layar ponsel nya dan melihat jadwal yang telah Ia buat sebelumnya, "Gak sibuk emang kenapa ?".
"Aku mau ajak kamu jalan".
"Kemana? Tumben ngajak aku jalan?" Mei memasukan ponsel nya ke dalam saku seragamnya.
"H - mm emang kamu gak ingat ?".
Mei mengerutkan dahi nya dan menyipitkan mata nya, "Ingat apa? Aku gak ingat apa - apa".
"Besok tiga bulan hubungan pertunangan kita".
Deg
Detak jantung Mei berdetak tidak karuan dan cepat. Mei mengalihkan wajah nya, "K - kamu hitung berapa lama hubungan kita?" Mei menggaruk telinga nya yang tidak gatal.
"Apa aku salah?" Deja menatap mata Mei dengan sendu.
"G - gak sih tapi - ".
"Aku gak mau tahu tapi kamu harus datang besok. Mau aku jemput?" tanya Deja.
"A - ah iya aku usahakan datang" Mei segera beralih dari hadapan Deja.
"Oh iya aku sendiri gak usah kamu jemput" Mei segera berlari meninggalkan Deja. Mei menahan malu karena ini pertama kali nya Deja mengajaknya berkencan.
Deja menatap punggung Mei yang semakin menghilang dari pandangan nya. Kepala Deja terasa sakit dan nyeri. Deja sedikit mengerang karena menahan rasa sakit.
" Maaf Mei gue tapi gue beneran tulus lakuin ini. Gue mau lakuin hal yang paling indah sebelum lo jatuh ke tangan Elang ".
Cryatal Cafe, 19.00 pm
Deja datang tiga puluh menit lebih awal karena Ia benar - benar ingin semua nya berjalan sesuai rencana nya. Deja mengenakan kemeja tissue putih dan celana hitam dasar.
Jam tangan Rolex hitam melingkar gagah di pergelangan tangan Deja. Dekorasi bernuansa white rose's adalah pilihan Deja kali ini mengingat dekorasi ini adalah kesukaan Mei dan dekorasi saat mereka bertunangan.
Deja juga sudah meminta tolong pada Melisa agar membantu Mei memilih gaun dan segala urusan nya. Akhir - akhir ini Melisa juga sudah mulai berpihak pada diri nya. Mungkin karena Deja juga sudah mulai menyukai Mei.
Deja memilih duduk di kursi yang telah di tutup dengan kain putih. Deja memejamkan mata nya mengingat segala perbuatan dan ucapan kasar yang telah Ia lontarkan pada Mei. Sekali lagi Deja merasa sebagai laki - laki berengsek.
"Kalau gue buat kesalahan lagi apa lo bisa maafin gue Mei?" resah Deja.
"Gue takut Mei" lirih Deja air mata nya mulai turun ke wajah tampan nya.
"Gue takut ketika lo benar bakal pergi tinggalin gue dan gak akan kembali lagi" helaan nafas Deja terasa sesak dan kasar.
__ADS_1
"Gue harus gimana Mei? Awalnya gue pikir gak bakal nyesal tapi akhirnya tetap aja Mei gue yang nyesal".
"Kalau aja dari awal gue suka sama lo mungkin gue gak akan buat pilihan bodoh ini!" erang Deja.
Prokk Prokk
Deja mengangkat wajah nya untuk melihat ke arah depan. Deja masih belum bisa melihat dengan jelas siapa laki - laki yang telah bertepuk tangan akan penyesalan nya kali ini.
Persetan! umpat Deja.
Laki - laki itu menyunggikan senyuman nya pada Deja. Ia dan kedua antek - antek nya berjalan mendekati Deja.
"Elang?" bingung Deja.
"K - kenapa lo disini?" tanya Deja heran.
"Lo lupa sama kesepakatan kita berdua?" kekeh Elang.
"Hari ini tepat satu bulan batas penyerahan tunangan lo sama gue" Elang berbisik tepat di sebelah telinga Deja.
Deg
Jantung Deja terasa nyeri karena mendengar ucapan Elang. Deja mundur satu langkan untuk menetralkan pikiran nya. Jujur Deja sekarang takut. Takut apabila Mei tahu keadaanya saat ini.
"Gak bisa! Mei tetap jadi milik gue!" bentak Deja.
Elang mencengkram kerah kemeja Deja, "Jangan main - main sama gue!".
"Bukan nya dari awal lo dengan senang hati serahin tunangan lo itu! Terus sekaran apa?! Gila ya lo!" bentak Elang dengan melepaskan cengkeraman nya.
Sebuah ponsel terjatuh dari tangan pemiliknya. Mata nya memerah saat mendengar ucapan sarkasme itu. Ulu hati nya terasa nyeri dan sekujur tubuh nya terasa menggigil.
" M - mei?" wajah Deja berubah menjadi pucat dan ketakutan.
Mei menutup mulutnya tak percaya. Air mata nya lolos tanpa seizin nya. Antara percaya dan tidak percaya namun Mei lebih memilih untuk mempercayainya karena Ia melihat dan mendengar langsung.
"Jadi ini yang mau kamu tunjukin sama aku?".
"Ternyata alasan kamu baik sama aku karena aku bahan taruhan kamu sama dia" Mei menunjuk Elang yang tengah menatap diri nya.
"Pantas aja aku selalu ketemu sama dia karena memang dia mau pantau aku" seketika Deja ikut menangis di dalam hati nya .
"M - mei dengerin - ".
Mei memejamkan mata nya sesak dada yang Ia rasakan tak mampu Ia tahan saat ini. Rasa nya Ia benar - benar ingin berteriak sekuat tenaga nya.
"Aku kira kamu tulus Ja" Mei meringkuhkan dirinya.
Elang yang semula tersenyum bahagia juga ikut bersimpati dengan Mei. Elang memilih mundur satu langkah karena tidak mau menjadi bahan amukan bahan taruhan nya.
"Gila rasanya! Gila!" teriak Mei.
Deja memejamkan mata nya karena tahu apa yang dirasakan Mei saat ini. Deja berusah mendekati Mei seraya untuk menenangkan diri nya.
__ADS_1
"Papa s - sakit - " lirih Mei.
Deja menghentikan langkah nya. Hal yang membuat Deja takut adalah Papa Raymond. Mei berusaha bangkit dan berjalan ke arah meja yang akan jadi meja dinner nya saat ini.
Mei melempar gelas dan vas bunga yang ada di atas meja. Mei menggigit bibir bawah nya dengan kuat. Tidak ada rasa sakit yang bisa menandingi rasa sakit hati nya.
Arrgghhhh
"Aku benci kalian semua! Benci!" Mei mengambil pecahan kaca yang telah Ia lempar. Mei meremas kuat pecahan kaca yang ada untuk menghilangkan rasa sakit nya.
Deja dengan cepat memeluk Mei dari belakang dan menahan segala tindakan gila dari Mei.
"Mei..." lirih Deja.
Mei terus menangis karena benar hati nya sudah tidak bisa Ia tahan. Apalagi yang mau di pertahankan saat ini bahkan tunangan nya saja menjadikan nya sebagai bahan taruhan dengan lawan nya.
"Mei Han!" bentak Deja namun sungguh Deja tidak ingin membentak Mei.
Telapak tangan Mei sudah penuh dengan darah. Darah nya berceceran di lantai Cafe. Wajahnya juga sudah berlumur darah.
"Lepas..." lirih Mei.
Deja masit tetap kekeh memeluk Mei. Deja terus berusaha menahan Mei agar tidak melakukan hal di luar nalar.
"Lepas!" teriak Mei sambil mencengkeram kemeja Deja dan membuat nya kotor karena berlumur darah.
Mei berusaha bangkit dan melepakan dirinya dari Deja. Mei menatap sinis pada Deja dari atas, "Mulai sekarang jangan pernah ketemu sama aku!" Mei berjalan meninggalkan Deja.
Deja berusaha mengejar Mei namun tiba - tiba saja Saga muncul dari luar pintu Cafe. Saga menatap sinis pada Deja.
"Benar dugaan gue kalau yang di maksud sama Elang itu si Mei".
"Lagi Ja! Lo kecewain cewe yang beneran sayang sama lo!" bentak Saga.
Deja menghela nafas nya dengan kasar. Mata nya tak sanggup melihat bila Mei tengah di peluk oleh Saga.
"Kalau lo emang gak bisa berubah jauhi Mei mulai sekarang!".
Saga menuntun Mei untuk berjalan ke arah mobil. Mei menoleh ke belakang sesaat namun Mei langsung cepat membalikan wajahnya.
Deja menatap lemah dari dalam Cafe. Tubuh Deja merosot ke bawah dan meringkuh.
"Maaf Mei gue emang gak pantas untuk lo".
Maaf baru Up Author lagi sibuk kuliah online wkwk. Mata juga sakit banget 😅.
Kalian boleh screenshoot quotes Author ya. Upload di Story Instagram kalian dan jangan lupa tag Instagram Author @_mandaaads.
Kalo emang gak jelas quotes nya kalian bisa DM author ya biar aku author share quotes nya.
Thank you so much, nanti akan Author repost di Story Instagram Author🦢
__ADS_1
LIKE, VOTE and COMMENT'S💚