
Selamat Membaca Semua 💚
Mei terduduk diam di ruang latihan biola nya, mata sipit nya terus memandangi diri nya lewat kaca yang berada do hadapan nya. Semalaman Ia terus berpikir mengapa Deja berubah sikap dengan diri nya, dari buruk menjadi baik.
"Apa Deja udah sadar?" gumam Mei.
"Secepat itu dia berubah? Benar - benar gak di sangka" lanjut nya.
Mei melirik jam tangan nya waktu sudah menunjukan pukul lima sore sudah saat nya Ia pulang. Mei membereskan peralatan biola nya dan segera keluar dari ruang latihan nya. Baru beberapa langkah Mei berjalan Ia berpapasan dengan Saga yang kebetulan juga baru selesai dari latihan nya.
Saga mengalihkan wajah nya dari Mei, terlihat jelas jika wajah Saga itu masih kesal dengan Mei namun Mei memilih acuh dari tatapan Saga. Mei melanjutkan jalan nya hingga berlalu meninggalkan Saga.
"Secepat itu lo luluh sama Deja?" pertanyaan itu membuat langkah Mei terhenti. Mei membalikan badan nya ke arah Saga.
"Iya atau gak itu gak ada urusan nya sama kamu" balas Mei tak kalah datar.
Saga memilih diam tanpa mau menanggapi jawaban Mei, "Bukan nya kamu sendiri yang bilang kamu udah punya pacar?".
"Terus untuk apa kamu selalu ikut campur sama aku?".
"Aku kira kamu beda dari Deja tapi - ".
"The wolf will remain a wolf no matter what the circumstances " Mei melanjutkan langkah nya, Saga hanya menatap punggung Mei yang mulai menghilang.
Mei keluar dari banguna cokelat klasik itu sambil membawa biola nya, mata sipit Mei bergerak ke arah sisi kanan nya, tepat di sisi kanan itu Ia mengenal sosok laki - laki dengan motor sport.
"Mei!" seruan itu membuyarkan lamunan Mei yang terfokuskan pada si peneriak nama nya itu.
"Kamu kenapa di sini?" tanya Mei.
"Jemput lo mau ngajak lo jalan" Deja tersenyum pada Mei.
Mei membulatkan mata nya seolah tak percaya dengan apa yang Ia lihat, selama ini Deja tidak pernah tersenyum pada nya, wajah yang selalu Mei terima adalah wajah amarah Deja.
"Gak bisa aku mau pulang" tanpa ba bi bu Mei menolak mentah - mentah ajakan Deja.
"Kenapa?" hanya kata itu yang keluar dari mulut Deja.
Mei membalikan badan nya, "Kenapa? Apa kamu pikir aku gak tahu maksud kamu? Buat apa kalo kamu lakuin ini semua karena terpaksa" balas Mei.
Deja menahan nafas nya sesaat, "Gue baru tahu kalo lo itu bisa ketus sama gue. Apa karena lo keturunan keluarga Han maka nya gini?".
"Gue tahu lo belum bisa terima gue tapi gue lagi berusah terima lo" ucap Deja.
__ADS_1
Mei yang berdiri di depan Deja mulai goyah dengan ucapan Deja, "Kemaren lo bilang lo lakuin ini semua karena lo mau pertahanin pertunangan ini. Apa gue gak bisa untuk bantu lo?" tanya Deja.
"Maaf selama ini gue selalu kasar sama lo Mei, gue gak butuh maaf lo sekarang. Gue cuma mau lo bisa terima gue dengan perlahan" wajah Deja berubah menjadi sangat sendu.
Mei terus memandangi Deja, "Apa kamu yakin sama ucapan kamu?".
Deja mengangkat kedua mata nya, "Aku lakuin bukan karena paksaan Papa ataupun Mama. Aku lakuin ini karena aku mau berubah untuk masa depan dan - ".
"Dan apa?" tanya Mei.
"Pertunangan kita" Deja mengulas senyum nya pada Mei, tentu saja Mei jadi salah tingkah karena perlakuan dan ucapan Deja yang manis.
"Bisa kan lo jalan sama gue?" pinta Deja pada Mei.
Mei sedikit menggertakan rahang nya, "B - bisa tapi gak lama - lama".
"Iya gue ngerti ayo naik" Deja hendak memasangkan helm pada Mei.
Mei menjauhkan kepala nya dari Deja, "Gak usah aku bisa sendiri".
"Udahlah nurut sama gue, kali ini aja Mei" Deja tetap kekuh memasangkan helm pada Mei.
"Lo mah kemana? Cafe atau Mall ?" Deja menoleh pada Mei.
"Aku laper Ja" jawab Mei.
Saga keluar dari sebalik dinding dan menghela nafas nya dengan kasar, " Apa lo pikir ini pilihan yang bener Mei? Gue gak mau lihat lo jatuh ke dalam lubang yang sama apalagi terjebak sama Deja" gumam Saga.
~
Motor sport milik Deja berhenti di sebuah Cafe elite yang lumayan ramai. Deja dan Mei turun dari atas motor, "Ayo masuk" Deja menarik tangan Mei.
Jantung Mei berdetak kuat kali ini tangan Deja terasa berbeda, jika biasa nya Deja menarik nya dalam keadaan marah maka kali ini genggaman tangan Deja terasa menenangkan efek suasa hati nya sedang bahagia barangkali.
Mereka berdua masuk ke dalam Cafe , mata Mei melirik ke kanan dan kiri. Pengunjung yang ada di Cafe terus saja memperhatikan diri nya dan Deja.
"Gak usah ambil hati sama mereka" Deja menarik sebuah kursi untuk Mei.
"Lo mau pesen apa?" Deja membuka menu book.
" Sphageti " jawab Mei dengan ragu, Deja tersenyum lucu pada Mei.
" Sphageti Jumbo " tambah Mei.
__ADS_1
"Yakin lo bisa abisin sendiri?" Deja melirik ke Mei dengan tatapan nya.
Mei mengangguk pelan, "Minum nya Strawbery milk shake " tambah Mei.
Deja kembali tersenyum karena tingkah Mei, "Ada lagi? Biar sekalian" tanya Deja.
Mei menggeleng cepat, "Oke kalo gitu, mbak saya pesen Sphageti extra, Strawbery milk shake sama Orange juice " pelayan itu menundukan badan nya dan pergi.
"Kamu sering ke sini?" Mei meletakan biola nya di sebelah kursi nya.
"Iya gue sering ke sini, ini tempat tongkrongan gue sama anak - anak" Deja melepaskan jaket denim nya.
Mei menganggukan kepala nya, "Berarti mereka semua kenal sama kamu?".
"Iya gitu lah" jawab Deja.
Deja menghela nafas nya, "Kata Papa Cafe ini dulu nya tempat nongkrong mereka, tempat abisin waktu sama Mama juga".
"Maka nya gue juga nongkrong di sini sebagai penerus Wolf " tambah Deja.
"Oh jadi karena di sini ada kenangan Papa sama Mama".
Deja memutar wajah nya agar tepat berhadapan dengan Mei, "Maaf selama ini gue gak bisa jadi pasangan yang baik buat lo" Deja menatap sendu.
" Tatapan itu lagi " batin Mei.
"Gak ada orang yang sempurna di dunia semua punya kesalahan masing - masing" jawab Mei.
"Asal kamu mau berubah dan ikhlas dari hati semua nya bisa Ja" Mei tersenyum pada Deja.
Deja terdiam karena senyuman Mei, "Entah apa yang gue lakuin sama dia? Dia kelihatan gak keberatan maafin gue? Deja apa yang selama ini lo lakuin ke dia gak pantes dengan apa yang lo terima saat ini, Gue terlalu brengsek buat dia ".
Deja menggelengkan kepala nya, mata nya menoleh ke arah pintu di depan pintu ada sekumpulan laki - laki yang akan masuk ke dalam Cafe itu namun Deja belum sadar.
"Loh Ja lo sama siapa?" Adriano tercengang saat melihat Mei.
Elgra mengerutkan dahi nya, Rega menggelengkan kepala nya seolah tak percaya, sedangkan Javid menoleh ke arah Adriano.
"Ini beneran Deja, El?" bisik Adriano.
" I think yes " Elgra mengulas senyum, Mei tersipu malu karena terpergoki oleh sahabat - sahabat Deja.
Apa Deja sudah mulai suka ya sama Mei ?💚
__ADS_1
Like, Vote and Comment's 💚💛💜
Fllw Ig : mandadwisetyorini