RADEJA

RADEJA
Chapter 31 : Our Feel's


__ADS_3

Deja memakirkan motor sport nya di halaman rumah Mei, seorang pembantu tampak lari ke dalam rumah. Raymond dan Karina menghampiri Deja.


Deja merapikan sedikit pakaian nya. Raymond menatap sinis pada Deja, "Mau apa kamu ke sini?".


Karina mengusap bahu suami nya agar tetap dapat menjaga emosi nya, "Deja mau ketemu sama Mei Pa".


"Lebih baik kamu - ".


"Silahkan masuk Deja, Mei ada di dalam kamar nya lebih baik kamu selesaikan masalah kamu berdua" ujar Karina lembut, memang dari awal pertemuan Karina bersikap baik dan tak pernah marah sekali pun pada Deja.


Deja menganggukkan kepala nya mengerti dengan cepat Deja melangkahkan kaki nya ke kamar Mei. Raymond berdecak kesal pada istri nya, "Kenapa kamu izin Ma?" helaan nafas Raymond terdengar sangat berat.


"Kita kasih waktu buat Deja agar bisa perbaiki semua nya Pa" jawab Karina.


"Tapi - ".


Karina kembali mengusap bahu suami nya, "Anak kita juga butuh waktu Pa" Raymond mengangguki ucapan Karina.


~


Deja berdiri di depan pintu kamar Mei keadaan nya daun pintu kamar Mei sedikit terbuka terlihat jika Mei sedang berbaring membelakangi Deja.


Deja bisa melihat jika keadaan nya saat itu Mei amat rapuh, Mei terus memegangi diri nya seakan Ia benar merasakan luka yang amat pedih.


Deja memberanikan diri nya untuk masuk, dengan perlahan Deja mendekati Mei yang tengah berbaring. Deja hendak menyentuh tubuh Mei yang ringkih namun niatnya Ia urungkan saat Ia mendengar suara isakan dari Mei.


"Hiks....Hiksss" suara isakan Mei mampu menggoyahkan hati Deja yang keras sebelumnya.


"Mei ini gue Deja" lirih Deja.


Mei menghentikan isakan nya dan membulatkan mata nya, "Mei gue kesini karena mau bicara sama lo" ujar Deja.


Mei tetap membelakangi Deja dan tetap memegangi tubuh nya. Deja bisa melihat jika Mei hanya mengenakan white mini dress dengan tali sphageti yang terjuntai di bahu indah nya.

__ADS_1


"Ada apa?" hanya kata itu yang keluar dari bibir Mei. Deja memaklumi itu memang siapa yang ingin berbicara ketika marah.


"Gue mau minta maaf sama lo Mei" perlahan tangan Deja terulur pada kepala Mei.


"Gue tahu lo gak akan mungkin maafin gue sekejap mata. Gue tahu selama ini gue selalu kecewain lo Mei" jelas Deja.


Mei menatap lurus pada jendela kamar nya, "Maafin gue yang pernah tinggalin lo di pinggir jalan dan buat lo di hukum di sekolah" jawab Deja.


"Maafin gue yang selalu kasar sama lo, cekik leher lo sampai luka, dan tampar Lo demi Natalie".


Air mata Mei lolos tanpa izin ketika Mei mengingat semua perlakuan buruk dari Deja hati Mei terasa sakit dan pilu seakan hatinya tergores kaca Mei memilih terus menangis.


"Silahkan lo nangis Mei, gue tahu hati lo sakit karena gue" Deja membelai rambut Mei secara perlahan, Ia pikir hal itu bisa membuat Mei merasa lebih baik.


Mei meremas kuat kain sprei ranjang nya sadar akan hal itu Deja mengenggam tangan Mei agar Mei meremas tangan milik nya. Deja merasakan remasan tangan Mei yang amat kuat menggambarkan perasaan Mei saat ini.


"Hiks...Hikss..." kembali tangisan Mei terdengar jelas di depan Deja.


"S - sakit" Mei tetap meremas tangan Deja dengan kuat namun Deja tetap diam agar bisa merasakan luka yang di alami Mei.


Deja mendekatkan bibir nya pada kepala Mei, "Mei gue gak tahu harus gimana untuk kita" lirih Deja tepat di telinga Mei.


"Apa kita bisa ulang dari awal?" pertanyaan Deja berhasil menyita perhatian Mei yang sedang kacau, bukan nya menjawab tangis Mei semakin pecah di hadapan Deja.


Spontan Deja memeluk Mei dengan lembut, "Kasih luka lo ke gue Mei" Deja kembali mencium kepala Mei. Nafas Mei tersenggal - senggal karena lelah menangis.


Deja terus mengusap punggung Mei, "Gue gak butuh jawaban lo sekarang Mei" Deja terus memeluk Mei dengan erat.


Mei merasakan kepala nya berat dan mata nya terasa sakit akibat terlalu lama menangis sadar akan hal itu Deja melepaskan jaket yang Ia kenakanan. Deja menyelimuti tubuh kecil Mei dengan jaket milik nya.


"Maafin gue yang selalu bunuh perasaan tulus lo Mei" Deja mencium puncak kepala Mei dengan lembut.


"Gue pulang dulu Mei, good night Mei " Deja berjalan menjauh dari Mei yang tengah tertidur. Deja menghentikan langkah nya dan membalikan badan nya, Deja berjalan ke arah Mei sambil memeluk Mei dari belakang.

__ADS_1


"Maafin gue Mei" helaan nafas Deja bisa Mei rasakan, helaan nafas yang begitu frustasi. Deja segera melepaskan pelukan nya dari Mei. Raymond dan Karina mengintip dari celah pintu yang terbuka.


"Biarkan mereka berdua Pa" Karina menahan suami nya agar tidak campur tangan dengan masalah mereka.


~


Mei turun dari tangga lantai rumah nya, Papa dan Mama nya tengah bersiap untuk sarapan bersama.


"Sarapan dulu Mei" seru Karina yang tengah mengoles roti dengan selai cokelat.


"Mei sarapan di sekolah aja Ma" Mei langsung berjalan keluar rumah nya. Mei berdiri di depan gerbang rumah nya untuk menunggu Pak Adi.


Deru motor sport yang sangat keras berhenti di depan Mei, "Selamat pagi" sapa nya. Mei mengangkat kedua mata nya untuk melihat siapa yang datang.


Mei membuang wajah nya dari hadapan Deja namun Deja tidak mau kalah, "Lo gak lihat gue di sini ya Mei?".


Mei tetap memilih diam tanpa mau melihat wajah Deja, "Mei! Gue di sini bukan di sana!" ketus Deja.


Mei tetap pada pendirian nya tidak akan menjawab segala pertanyaan Deja namun Deja tetaplah Deja dia bukan manusia yang sabar akan sikap seseorang.


Deja turun dari atas motor nya dan mendorong tubuh Mei agar rapat pada dinding pagar rumah nya, "Jangan uji kesabaran gue Mei!".


Mei membulatkan mata nya pada Deja, "Siapa yang uji kesabaran kamu?" Mei menatap datar pada tunangan nya.


Deja berdecak bingung, "Maksud lo?" Deja menyipitkan mata nya pada Mei.


"Baru segini aja kamu udah ngeluh".


"Gimana sama aku yang selalu sabar perlakuan kamu" Mei mendengarkan kepala nya pada Deja.


"Aku mau berangkat sendiri" Mei membuka pintu mobil dan segera masuk ke dalam. Deja hanya bisa diam dan menatap kepergian Mei.


"Ini balasan buat lo Deja" Deja menghela nafas nya sambil berjongkok di depan rumah Mei.

__ADS_1


LIKE , VOTE and COMMENT'S💛💚💜


__ADS_2