RADEJA

RADEJA
Chapter 12 : The Charismatic Of Mei


__ADS_3

Selamat Membaca Semua 💚


Deja berdiri di depan samsak tinju nya, sudah dua jam Ia terus memukuli samsak berwarna merah itu dengan keras, cukup untuk melampiaskan kekesalan nya.


Bugh


Bugh


Bugh


Deja terus memukuli samsak itu dengan keras dan cepat, tanpa sadar sedari tadi ada sebuah panggilan yang masuk ke ponsel milik Deja.


"Mama Karina?" gumam Deja, jari Deja menggesere ke menerima panggilan.


"Hallo Ma".


"H - hmm iya Ma, Deja di rumah".


"A - apa Ma? Jemput Mei?".


"B - bisa kok Ma sebentar lagi Deja ke sana" suara Deja terdengar sangat putus asa dan ragu. Putus asa karena Ia harus menjemput Mei dan ragu saat akan menolak permintaan Mama Karina.


Deja menghela nafas panjangan, "Ya ampun kenapa harus gue" Deja menyandarkan diri nya pada sebuah kursi, Deja mengepal kedua tangan nya dengan kuat.


"Mei Han!" Deja menggertakan rahang mulut nya.


Kurang dari dua puluh menit Deja sudah bersiap - siap untuk menjemput Mei. Deja mengambil kunci motor nya yang berada di ruang tamu, "Mau kemana Ja?" Yasmine muncul dari belakang Deja.


Deja terlihat sedikit terkejut, "Jemput Mei" Deja langsung mengalihkan wajah nya.


Yasmine langsung tersenyum mendengar jawaban anak nya, "Mei? Ini inisiatif kamu sendiri Ja?" Yasmine tampak sangat antusias.


"Ya gak lah Ma. Mama kira Deja sebercanda itu mau jemput dia" Deja tersenyum kecut pada Yasmine.


Arsen berjalan mendekati mereka, "Kalau itu inisiatif kamu sendiri Papa sama Mama bangga sama kamu" ujar Arsen.


" How could i do that " Deja membalikan tubuh nya dan segera menuju pintu luar.


Yasmine mendekati Arsen, " Kenapa Deja sulit sekali untuk dekat dengan Mei ya Pa".


Arsen menghela nafas nya, " Tunggu aja sampai Deja mengemis cinta nya si Mei".


~


Deja tiba di tempat kursus musik Mei, tepat di bangunan tua berwarna coklat itu Deja memakirkan motor sport nya, "Kalo bukan karena orangtua nya pergi ke singapura gak bakalan gue ke sini" desis Deja.


Deja mulai memasuki bangunan klasik itu dan berhenti di depan meja resepsionis, "Permisi ada yang bisa saya bantu?".


"Ah saya sedang menunggu seseorang di Sini" jawab Deja.

__ADS_1


"Atas nama siapa jika saya boleh tahu, Tuan?" tanya resepsionis itu.


"Mei Han" ujar Deja.


" The Queen of Violin ? " ujar resepsionis itu.


"M - maksud Anda?" Deja terlihat bingung dengan respon resepsionis itu.


"Jika Anda mencari Mei Han, Ia adalah seorang ratu biola di sini. Mei ada di ruangan tiga silahkan".


Deja mengangguk pelan dan segera menuju ruangab tempat dimana Mei berlatih biola, Deja menelusuri setiap ruangan yang ada. Di mulai dari ruangan pertama di isi seorang perempuan dengan Saxofon , di urutan kedua ada seorang laki - laki dengan piano hitam, Deja sedikit terkejut itu adalah Saga.


"Jadi dia beneran kursus musik di sini?" gumam Deja.


Deja menggelengkan kepala nya dan memajukan kaki nya ke ruangan ketiga. Deja berhenti di depan pintu bewarna hitam itu, tangan Deja membuka knop pintu itu dan melihat Mei sedang memegangi biola nya.


Mei mendekatkan biola itu pada diri nya dan mulai menggesekan Bow pada Body. Mei menggesek dengan pelan biola nya, Ia mulai hanyut dalama permainan nya, tidak bukan hanya Mei melainkan Deja ikut terhanyut.


" Kharisma nya kuat banget ".


Deja terus memperhatikan Mei dari pintu ruangan itu. Mei mengenakan kemeja tisu berwarna navy dan rok pendek berwarna putih, " Kenapa dia kelihatan cantik hari ini ? " gumam Deja.


"Lagu yang di bawain juga sesuai sama situasi hari ini?".


"Sial kharisma nya kuat banget " umpat Deja.


Deja semakin mendekatkan diri nya dengan memasukan kepala nya lebih dalam ke ruangan itu, diam - diam Deja terus melangkahkan kaki nya, hingga kaki panjang Deja menabrak sebuah kursi.


Mei yang semula memejamkan mata nya kini Ia membelalakan mata nya karena terkejut. Mei membalikan badan nya ke arah belakang dan meliha sesosok laki - laki yang tengah memegangi lutut nya.


"D - deja?" ujar Mei.


Deja membulatkan mata nya dan melihat ke arah Mei, segera Mei mendekati Deja, "K - kamu kenapa di sini?".


Deja berdecak kesal, "Nyokap lo yang suruh gue ke sini! Gak usah geer" sungut Deja.


Mei memejamkan mata nya, "Iya tahu kok, tapi kenapa kamu sampai masuk sini?" tanya Mei.


"Gue gak boleh di sini? Apa cuma pemain musik yang boleh ada di sini? Yaudah kalo gitu pulang sendirian aja lo!" sarkas Deja.


"Y - ya bukan gitu Ja, tapi kan kamu bisa tunggu di kursi itu" Mei menunjuk pada kursi tunggu yang ada di depan ruangan.


Deja menoleh pada kursi - kursi itu, Deja berdehem kecil, "Lo masih lama gak?!" bentak Deja.


Mei melirik jam tangan nya, "Masih dua puluh menit lagi Ja".


"Buruan! Gue tunggu!" balas Deja sambil bersedekap dada, Mei mengangguk pelan dan kembali masuk ke ruang latihan nya.


Deja bersandar pada dinding lorong tunggu itu sambil menggerak - gerakan kaki nya. Dari ruang sebelah Saga keluar dari ruang latihan nya. Saga menoleh ke arah Deja dan kedua mata itu saling bertatap satu sama lain.

__ADS_1


Saga berjalan menghampiri Deja dengan tatapan datar nya, aura yang di pancarkan dari Saga dan Deja sangat dingin dan menusuk.


"Kenapa lo di sini?" tanya Saga.


Deja tersenyum smirk pada Saga, "Apa urusan nya sama lo?" ucap Deja.


Saga menahan nafas nya sesaat, "Lo bukan pemusik buat apa lo di sini?".


"Selama gue jadi sahabat lo dan sebalik nya, setahu gue lo bukan tipe orang yang mau tahu sama urusan orang, bener gak?" Deja menoleh pada Saga.


Saga hanya menatap datar pada Deja, "Apa lo bakal ikutan kompetisi kaya dia?" tanya Deja.


"Apa gue perlu jawab pertanyaan lo?" sinis Saga.


"Jadi ini respon lo sama gue? Lo kenapa? Lo beneran suka sama dia?" ejek Deja.


Saga hanya mengepal kedua tangan nya saat mendengar pertanyaan Deja. Mei keluar dari ruang latihan nya sambil memegangi biola nya.


"S - saga? Kamu kok ada di sini?" Mei menatap bingung pada Deja dan Saga.


"Lo gak tahu? Si ketus ini temen kursus lo juga?" tanya Deja.


Mei menggeleng pelan pada Deja, "Udahlah! Buruan pulang urusan gue gak cuma jemput lo aja!" sarkas Deja.


Deja dan Mei berjalan beriringan satu sama lain meninggalkan Deja di lorong itu. Mei berjalan sambil menundukan mata nya, "Lo udah lama belajar biola?".


"Udah Ja dari aku TK aku main biola" jawab Mei dengan lembut.


"Apa motivasi lo main biola?" Deja memandangi Mei yang berjalan di sebelah nya.


Mei menghentikan langkah nya, "Aku mau jadi violin dan akan main biola di Shanghai" Mei tersenyum lurus di hadapan nya.


Deja mengerutkan dahi nya, "Apa lo bilang? Shanghai? Apa harus jadi violin lo baru bisa ke Shanghai?" telisik Deja.


"Bokap lo konglomerat di Jakarta dan lo - ".


"Jadi violin dan pengacara itu cita - cita aku dari kecil Ja, kamu pasti juga punya cita - cita dari kecil kan?" Mei tersenyum pada Deja.


"Enggak" tolak Deja.


"Yakin gak punya?" tanya Mei.


Wajah Deja memerah saat di tatap langsung oleh Mei, "Lo apaan sih?! Gak usah sok care deh lo! Buruan!" Deja mempercepat langkah nya, Mei tersenyum kecil di bibir nya.


"Buruan! Lo mau gue tinggal?!" bentak Deja, Mei mempercepat langkah nya. Saga berdiri di sebalik dinding, Saga melihat dan mendengar obrolan antara Deja dan Mei.


Deja mulai penasaran sama Mei uwuuu 💚


LIKE , VOTE and COMMENT'S 💚💛💜

__ADS_1


Fllw Ig : mandadwisetyorini


__ADS_2