
Mei mengambil sebuah buku Matematika berbahasa Belanda, Mei sedikit mengeluh dengan buku yang Ia ambil dari rak buku. Beberapa tahun terakhir Bahasa Belanda menjadi salah satu mata pelajaran di sekolah nya mengingat Papa Arsen adalah pemilik yayasan sekolah jadilah Arsen menambahkan menjadi bahasa dan mata pelajaran umum.
Mei membuka halaman pertama buku yang ada di hadapan nya sambil memijat dahi nya Mei terus memahami isi buku itu, "Mana Melisa gak sekolah lagi" eluh Mei.
"Gue bisa bantu lo".
Suara berat itu berhasil menarik perhatian Mei. Mata sipit Mei melihat siapa seseorang yang tengah berbicara pada nya, "Aku bisa sendiri".
"Yakin? Setahu gue bahasa Belanda lo jelek" sinis Deja.
"Iya tahu" jawab Mei cuek.
"Makanya gue bantu biar cepat siap" kembali Deja merayu Mei agar mau menerima bantuan nya.
Mei memilih diam dan berusaha memahami setiap bacaan dalam buku nya sekeras apapun Mei berusah namun tetap saja Mei tidak paham akan isi buku yang Ia pegang.
"Jadi orang gak usah gengsi! Gue tahu lo marah sama gue tapi emang lo mau tugas lo gak kelar?".
"Stilte aub! Dit is een bibliotheek" (Harap diam! Ini perpustakaan!) tegur penjaga perpustakaan.
Deja menatap sinis pada penjaga perpustakaan itu, sang penjaga perpustakaan membenarkan kacamata nya saat melihat Deja.
"Sorry dat ik niet wist of jij het was" (Maaf saya tidak tahu jika itu Anda).
Deja membalikan badan nya pada Mei, "Mana tugas lo?" Deja menarik buku yang di pinjam Mei tadi.
"Yang ini" tunjuk Mei.
"Los de bestaande vergelijkingen op".
Mei hanya diam mendengarkan setiap bacaan yang di baca oleh Deja. Mei menunggu jawaban dari Deja.
"Bisa gak? Kalau gak bisa gak usah sok tahu" sungut Mei kesal.
Deja tetap fokus pada bacaan yang ada di hadapan nya, "Vervang variabelen door getallen".
Mei terus menunggu jawaban dari Deja. Mei mendekatkan kepala nya pada Deja, "Lama banget? Tahu gak?" sungut Mei.
"Lo remehin gue? Mama gue asli Belanda dan gue sempat tinggal di Belanda" balas Deja tak mau kalah.
"Terus apa artinya? Kalau gak tahu bilang, tahu gitu aku minta tolong sama Saga aja" ujar Mei.
"Lo gak usah sebut nama dia! Gue gak suka!" ketus Deja.
"Lo suka sama Saga? Beberapa hari belakangan ini lo selalu sama dia terus" Deja menatap sinis pada Mei.
"Saga teman kamu ya teman aku juga" Mei menarik buku yang di pegang Deja.
"Kalo Saga beneran suka sama lo gimana?" Deja mengangkat kedua mata nya pada Mei.
__ADS_1
"Teman ya tetap jadi teman gak lebih" mata Mei tetap fokus pada bacaan nya.
Deja mengangguk pelan pada Mei, "Jadi ini gimana?".
"Selesain semua persamaan yang ada dan ganti semua variabel dengan angka yang ada" Deja menunjuk sebuah tulisan.
"Bisa gak lo?".
Mei fokus pada soal yang ada di hadapan nya, tangan kecil nya terus mencoret pada lembar kertas yang kosong. Di sebalik rak buku yang menghadap meja belajar Deja dan Mei ada Saga yang tengah bersandar pada rak buki sambil membawa sebotol minuman jeruk.
Saga memejamkan mata nya dan menghela nafas nya dengan panjang, "Maaf Mei kalau gue terlalu berharap sama lo tapi perasaan gue beneran tulus sama lo Mei".
~
Deja duduk di atas motor sport nya lengkap dengan teman - teman nya. Saga hanya diam tanpa mau ikut berbicara dengan mereka.
"Lo ada masalah Ga? Diam aja" Adriano menyenggol pinggang Saga.
Deja memutar mata nya malas dari Saga, "Lo putus sama Natalie?".
Pertanyaan Elgra berhasil mencuri perhatian mereka termasuk Saga yang semula seolah tak peduli.
"Serius lo El?" Adriano merubah posisi duduk nya di dekat Elgra.
"Kemarin malam Natalie bilang sama gue kalo dia di putusin sama Deja" Elgra memutar mata nya pada Deja.
"Hati lo udah terbuka untuk Mei? Atau gimana? Kok bisa?" kekeh Rega.
"Maksud lo? Gak ngerti gue" balas Adriano bingung.
"Setahu gue kita selama ini selalu terbuka satu sama lain, yakan?" angguk Rega.
"Natalie pernah jadi mantan dia" Deja mengacungkan jari telunjuk nya pada Saga. Mereka semua terkejut dengan ucapan Deja.
"Serius lo?" mata Rega membulat seolah tak percaya pada Deja.
"Beneran Ga lo mantan si Natalie?" telisik Adriano pada Saga.
Saga tetap memilih diam rasanya Ia malas jika harus menceritakan masa lalu nya, "Kalo lo gak mau cerita juga gapapa kok Ga".
"Iya gue mantan Natalie waktu SMP" Saga langsung memutar mata nya malas.
"Menurut gue sih Saga gak salah kok masalah Natalie pernah jadi masa lalu Saga itu wajar" balas Elgra.
"Dan kalo Saga gak mau cerita juga gak masalah itu juga privasi Saga".
Deja memutar mata nya pada Elgra, "Gue tanya sekarang sama lo kenapa lo kasih alamat gue waktu di Singapura sama Natalie?".
"Dia tanya sama gue ya gue jawab aja".
__ADS_1
Deja menggertakan rahang nya karena kesal, "Makin lama lo semua ngeselin tahu gak!".
Mei berjalan acuh melewati mereka yang tengah duduk di area parkiran, "Mei!" teriak Deja.
"Apa?".
"Pulang bareng gue!" ajak Deja.
"Aku pulang sendiri" Mei kembali melanjutkan jalan nya.
"Arrgghhhh...." erang Deja kesal, teman - teman Deja hanya tertawa dari kejauhan.
"Sekarang dia berusah deketin Mei" ujar Rega.
"Biar dia tahu gimana rasanya jadi Mei" balas Elgra.
"Karma buat Deja biar dia gak jadi orang yang egois" kekeh Adriano.
Saga memasang helm fullface nya dan menghidupkan mesin motor nya, "Mau pulang lo Ga?" tanya Adriano.
Saga mengangguk dan segera meninggalkan parkiran. Saga melewati Deja yang masih berdiri spontan Deja langsung berlari ke arah motor nya, "Buru - buru amat?" ujar Adriano.
"Berisik lo!" sarkas Deja.
Mereka kembali terkekeh dengan respon Deja, "Mei tunggu!" teriak Deja.
Saga berdiri di depan Mei dengan cepat Deja menyusul mereka, "Buru - buru banget sih lo" sarkas Deja pada Mei.
"Ngapain lo di sini?" Deja melirik pada Saga.
"Aku pulang sendiri" tolak Mei.
"Gak bisa! Lo pulang sama gue!" Deja menarik lengan Mei namun tangan Saga juga menahan tangan mereka berdua.
"Jangan paksa orang lain buat turutin kemauan lo" desis Saga.
Mei hanya menatap mata Saga, Deja melirik sekilas ke arah Mei, "Lo siapa sih? Selalu ikut campur sama masalah Mei?".
"Dan Lo siapa?" tanya Saga.
"Gue tunangan nya!" bentak Deja.
Mei gerah dan kesal akan sikap mereka berdua, "Aku mau pulang" Mei melepaskan tangan nya dari mereka berdua.
"Kamu itu sahabat aku" Mei menunjuk pada Saga.
"Dan kamu juga tunangan aku" Mei menunjuk Deja.
"Jelas kan? Minggir!" bentak Mei.
__ADS_1
Deja dan Saga hanya diam menatap Mei hingga lama ada rasa sakit pada hati Saga namun Saga sadar akan siapa diri nya. Deja juga merasakan sakit terlihat jika Mei hanya merespon biasa saja akan status diri nya saat ini.
LIKE , VOTE and COMMENT'S💛💜💚