
Selamat Membaca 💚
Semalaman Mei merenung memikirkan apa yang terjadi dengan diri nya. Menunggu seseorang yang Ia pikir akan cepat menjemput nya namun nyata nya lebih memilih wanita lain.
Kesal? Rasa nya Mei berpikir seperti itu lantas apa lagi kalau bukan kesal? Kecewa tentu saja hal itu Ia rasakan.
Mei menyentuh kalung pemberian Deja dan mengusap lembut permata yang bertuliskan dalam aksra mandarin itu. Sungguh Mei bingung apa yang harus Ia lakukan.
~
Mei masuk ke dalam kelas dan langsung mendudukan diri nya. Mei menidurkan kepala nya di atas meja, perlaha Mei memejamkan mata nya.
"Mei?" seru Melisa.
Mei membuka mata nya dengan cepat, "Masih pagi kok tiduran?" Melisa ikut duduk di sebelah Mei.
"Capek!" jawab Mei dengan suara ketus dan kesal nya.
Melisa merubah raut wajah nya, "Gue denger dari Saga kemarin lo di biarin sama Deja?".
Mei menghela nafas nya secara perlahan, "Aku gak omongin Deja" Mei memalingkan wajah nya dari Melisa.
"Kalo lo butuh bantuan gue lo ngomong aja sama gue Mei" ujar Melisa yang tengah di belakangi oleh Mei.
"Omongan kamu aja bahkan gak di dengar sama Deja apalagi itu atas nama ku Mel".
"Deja cuma bakal dengerin si Natalie" Mei mengangkat kepala nya.
~
Saat jam pulang sekolah Mei berjalan sendirian di koridor sekolah, di parkiran sudah ada Deja dan Natalie memang sejak kedatangan Natalie, Deja selalu pulang bersama nya dari pada Mei.
Mei berjalan melewati kedua insan muda itu mata elang Deja sempat melirik ke arah Mei yang hanya melewati nya saja. Dari arah parkiran Saga mengendarai motor sport nya dan mendekati Mei yang tengah berdiri di depan gerbang sekolah.
"Mau bareng gue?" Saga melirik ke Mei.
"Aku gak mau repotin kamu lagi" mata Mei masih mencari kendaraan yang lewat.
"Buru - buru banget? Mau langsung pulang?" tanya Saga.
"Iya mau istirahat" jawab Mei cuek.
"Bisa temenin gue gak?" suara Saga berubah menjadi berat.
Mei menoleh pada Saga, "Kemana? Harus hari ini?" tanya Mei.
Saga mengangguk pelan, Mei menyipitkan mata nya pada Saga, "Gue gak ada niat buruk sama lo" Saga memejamkan mata nya.
Mei semakin menyipitkan mata nya pada Saga seolah semakin curiga dengan ucapan Saga, "Kalo gak mau - ".
"Iya aku temenin anggap aja balas budi karena kamu selalu tolongin aku" Mei memakai helm yang berada di atas tanki motor sport milik Saga, Mei langsung naik ke atas motor Saga.
__ADS_1
Dari belakang Deja terus memperhatikan mereka berdua dengan tatapan sinis nya, "Deja!" bentak Natalie.
"Ah iya Nate" jawab Deja gugup.
"Kamu lihat apa? Serius banget" tanya Natalie yang sudah tahu siapa yang Deja lihat.
"Bukan apa - apa ayo pulang" ajak Deja.
Saga memberhentikan motor nya di depan sebuah makam nasrani, Saga membawa sebuah bucket bunga crissan putih yang Ia beli sebelum nya. Mei sedikit bingung karena tiba - tiba saja Saga mengajak nya ke taman pemakaman.
Saga berjalan lurus ke depan pemakaman, Mei mengikuti langkah kaki Saga yang cukup cepat dan besar. Saga berhenti di sebuah makam berwarna putih dengan salip yang berdiri di atas nya.
"Makam siapa Ga?" Mei melirik ke Saga yang terus memandangi makam itu.
"Alm. Mama gue" Saga meletakan bucket bunga crissan di atas tanah pemakaman itu.
Mei sedikit terkejut mendengar ucapan Saga, "Yaudah kita berdoa dulu" ujar Mei.
Mei medekatkan kedua tangan nya sambil membaca doa begitu pula Saga menyatukan kedua tangan nya dengan erat.
Tuhan
Berikan Mama tempat di surga Mu
Ampuni segala dosa Mama, Tuhan
Berikan Mama kebahagiaan di bumi Mu
Mama
Saga datang untuk ketemu Mama
Saga kangen Mama
Saga sendirian di sini, Papa udah gak sayang sama Saga
Saga kangen kalau kita pergi ke Gereja bareng sama Mama dan Papa.
Saga membuka kedua mata nya tanpa Ia sadari Ia telah menangis saat berdoa tadi, Mei menghapus air mata Saga dengan sapu tangan pemberian Saga waktu itu.
"Kamu udah selesai?".
Saga menggeleng pelan di depan Mei, "Gue kangen Mama" Saga memegangi batu nisan bernama Laura Phoebe.
"Aku tunggu di luar" Mei membalikan badan nya namun lengan nya di tahan oleh Saga.
"Temenin gue di sini" pinta Saga.
Mei terdiam mendengar permintaan Saga tanpa pikir panjang Mei mengangguki ucapan Saga.
"Mama udah tenang di sana, gak akan ada lagi orang yang sakitin Mama".
__ADS_1
"Saga baik - baik aja di sini Ma, Saga juga selalu pergi ke Gereja dan ibadah".
"Maaf ya Ma Saga gak bisa lama - lama di sini lusa Saga bakal jenguk Mama lagi".
"Saga sayang Mama" Saga mencium batu nisan milik Alm. Mama nya, hati Mei ikut terenyuh saat mendengar ucapan Saga.
Saga berdiri dari duduk nya, "Lo buru - buru gak?".
Mei menggeleng pelan, "Yaudah kita makan dulu" ajak Saga.
~
Mereka berdua sampai di sebuah Restaurant mahal yang ada di Jakarta, "Lo mau makan apa?" Saga tengah melihat menu book.
"Pasta sama milkshake aja" jawab Mei.
Kemudian Saga memanggi pelayan untuk memesan makanan mereka. Mei menatap ragu - ragu pada Saga seakan ingin tahu apa yang terjadi.
"Kenapa? Pasti lo mau tanya sesuatu kan sama gue?" terka Saga.
Mei memalingkan wajah nya dari Saga malu dengan apa pertanyaan Saga, namun Saga malah tersenyum pada Mei, namun karena penasaran Mei memberanikan diri nya.
"Alm. Mama kamu udah lama meninggal?" Mei sedikit ragu dengan pertanyaan nya.
"Udah 5 tahun sejak gue SMP" jawab Saga.
"Sakit atau karena apa?".
Saga menoleh pada arah luar restaurant, "Mama depresi karena Papa, waktu itu gue masih SMP Papa suka main perempuan dan sering bawa perempuan pulang ke rumah".
"Dan hal itu buat Alm. Mama depresi dan sempat masuk rumah sakit jiwa. Di situ cuma gue yang selalu jenguk Mama dan kondisi Mama semakin parah waktu Papa bilang minta cerai sama Mama sampai akhirnya Papa buat Mama pergi selama nya".
Mei hanya diam dan menatap wajah Saga yang semakin sendu, "Sejak saat itu gue semakin nutup diri dari dunia luar".
"Piano, cuma piano yang jadi kenangan gue sama Mama. Mama juga yang kenalin gue sama piano dan mau gue jadi pianis".
"Jadi alasan kamu pendiam dan cuek itu karena ini?" tanya Mei.
"Gak juga, gue sebenernya anak yang gak banyak bicara tapi karena hal ini semakin buat gue lebih tertutup".
Mei mengangguk pelan, "Sapu tangan ini punya alm. Mama kamu?".
Saga yang hendak meminum milkshake terhenti, "Tahu darimana?".
"Tebak aja sih aku pikir alm. Mama kamu suka hal warna putih".
"Kalau memang ini punya Mama kamu kenapa di kasih ke aku?" Mei melirik sapu tangan putih bergambar sehelai bulu angsa.
"Karena lo spesial".
Ada yang tau gak spesial maksudnya apa 😂
__ADS_1
LIKE , VOTE and COMMENT'S 💚💛💜