
"Seburuk apapun Pria , Ia akan tetap ingin mendapatkan wanita yang baik walaupun dia pernah menyakiti wanita itu "
Radeja Atmanegara
Deja duduk di kursi nya sambil bersandar pada dinding kelas. Sapuan angin dari luar membuat diri nya dengan sengaja memejamkan mata nya. Hidupnya terasa tenang dan damai di tambah kehadiran Mei yang mampu membuat segala nya menjadi lebih indah.
Deja mengerutkan dahi nya merasa ada yang berdiri di hadapan nya membuat pandangan nya semakin gelap, "Minggir lo!" bentak Deja tak sabar.
"Gue bilang minggir!" suara Deja semakin meninggi dan pecah.
"Gue mau - " merasa kenal dengan suara itu Deja memilih membuka mata nya, sungguh Ia sangat mengenali suara berat Eropa itu.
"Mau apa lo?" Deja menatap sinis pada Saga yang tengah berdiri di hadapan nya.
Saga hanya menatap datar pada Deja. Ia ragu menanyakan hal ambigu itu pada sahabat nya dan bukan urusan nya pula untuk mengetahui hal tersebut. Saga menelan saliva nya dengan tenang.
"Kalo gak mau ngomong - ".
"Ini masalah Mei!" jawab Saga dengan cepat dan tegas.
Deja melirik sinis pada Saga, "Maksud lo apa masalah Mei?!".
"Apa sekarang Mei udah jadi kebutuhan buat lo?" cela Saga.
Deja mengerutkan dahi nya, "Lo mau ngomong apa brengsek!" Deja mencengkram kerah baju Saga.
Saga hanya menyipitkan mata nya pada Deja, "Apa lo beneran sayang sama Mei?".
Deja menggertakan rahang nya dengan kesal, "Kalo gue gak sayang gak mungkin gue sampai tinggalin Natalie" desis Deja.
Saga yang semula membuang wajah nya dari Deja memilih menoleh dan terkekeh pada Deja, "Tegas banget jawaban lo" kembali Saga terkekeh mendengar jawaban Deja.
Deja mulai melonggarkan cengkraman kerah baju nya, bola mata nya bergerak ke kanan dan ke kiri. Deja kembali menggertakan rahang nya.
"Apa lo gak ingat sama apa yang udah lo lakuin sama tunangan lo sendiri?!" Saga menghempaskan Deja ke sebelah meja belajar yang ada.
"Arrgghh...." Deja meringis kesakitan karena tubuh nya menghatam kuat pada meja belajar yang ada di sebelahnya.
"Saga!Deja!" bentak Elgra dari arah luar di susul oleh Rega dan Adriano.
Adriano membantu Deja untuk berdiri, "Lo gapapa Ja?" Adriano merangkul Deja agar dapat berdiri.
Saga tidak bisa lagi menahan amarah dan gengsi nya, "Lo jawab kaya gitu seakan lo orang yang dari awal peduli sama tunangan lo sendiri!".
"Ga lo kenapa sih?" tanya Rega sambil menenangkan Saga.
"Gue udah pernah bilang sama lo!" Deja menunjuk Saga dengan jari telunjuknya.
"Kenapa? Lo malu kalo gue ingatin sama kesalahan lo" desis Saga tak kalah tajam.
__ADS_1
"Lo berdua kenapa sih?! Mei lagi?" kini giliran Elgra yang tersulut emosi karena pertengkaran dua sahabat itu.
Deja menoleh sinis pada Elgra, "Apa lo bilang?! Mei lagi?! Mei lagi?!!!" nada tinggi Deja mampu membuat seluruh isi kelas menatap takut pada diri nya.
Deja menghempas Adriano agar menjauh dari diri nya, "Gue akuin gue emang brengsek sama Mei dari awal!".
"Dan bahkan gue hampir bunuh dia!".
"Tapi lo semua gak berhak ikut campur sama masalah gue dan gak berhak adilin masalah gue sama Mei!".
"Terutama lo Saga! Gue tahu kenapa lo selalu ungkit - ungkit masalah Mei".
"Gue tahu lo suka sama Mei. Bahkan waktu Mei tertekan karena gue, lo berusaha deketin dia".
"Tapi lo gak cukup kuat buat kalahin gue dan tetap aja Mei lebih milih gue!".
"Ja lo ngomong apa sih Ja? Malu di denger anak - anak Ja" Adriano berusaha melerai Deja.
"Gue emang harus selesain masalah gue hari ini juga" tegas Deja.
Deja membalikan badan nya ke arah Elgra, "Dan buat lo! Jangan pernah anggap remeh sama tunangan gue! Gue udah punya banyak rencana indah sama Mei" tegas Deja.
Deja menatap datar pada semua teman - teman nya, " Apapun itu tentang persepsi kalian gue udah gak peduli" Deja mengambil tas nya dan segera meninggalkan kelas nya.
"Deja! Ja tunggu!" teriak Adriano sambil mengejar Deja keluar kelas.
"Biarin dia tenangin diri dia" Elgra berlalu meninggalkan mereka.
Rega menggigit bibir bawah nya, "Kita gak berantem, kita baik - baik aja" Rega mengusap bahu sahabat nya.
"Maaf"
Satu kata itu keluar dari mulut Saga. Rega dan Adriano menatap sendu pada Saga, "Bukan salah lo Ga".
"Hubungan persahabatan kita memang lagi di uji, bukan cuma hubungan Deja sama Mei tapi kita juga" jawab Rega.
~
Deja berlari ke dalam kelas Mei, "Lihat Mei gak?" tanya Deja pada salah seorang teman kelas Mei.
"Itu Mei" tunjuk nya.
Deja menoleh ke arah belakang segera Deja menarik lengan Mei, " Please ikut sama aku Mei" Deja memohon pada Mei.
"Kamu kenapa Ja? Mau kemana?" tanya Mei bingung.
"Aku mau keluar Mei sama kamu" kembali Deja memohon pada Mei.
"T - tapi kenapa Ja?" tanya Mei semakin bingung.
__ADS_1
Deja segera menarik tangan Mei untuk mengikuti diri nya ke parkiran. Mei masih bingung dan tidak mengerti mengapa Deja tiba - tiba mengajaknya keluar.
"Kamu kenapa Ja?" Mei kesulitan mengimbangi langkah kaki Deja.
Deja semakin mempercepat langkahnya untuk menarik tangan Mei. Nafas Deja memburu dengan cepat. Keringat sudah membasahi dahi dan wajah nya. Bola mata nya bergetar tak menentu.
~
Deja melepas helm fullface nya dengan paksa, Mei masih bingung mengapa Deja mengajaknya kembali ke tempat ini. Deja melepas jas seragam nya ke sembarang tempat.
Greppp
Deja memeluk Mei dengan erat. Mei dapat merasakan nafas dan detak jantung Deja tak beraturan. Deja semakin memperat pelukan nya pada Mei.
Mei mencoba mengusap punggung Deja dengan perlahan, terdengar suara isakan kecil dari bibir Deja.
"K - kamu kenapa Ja?" Mei mulai panik karena ini adalah pertama kali nya Ia mendengar Deja menangis.
Deja meremas kuat seragam belakang Mei. Mei yang semakin kalut dengan keadaan ini mencoba menenangkan Deja, "Lepasin semua beban kamu Ja" Mei mengusap lembut punggung Deja.
Setelah cukup lama Deja memeluk Mei, Deja memilih mengakhiri pelukan nya. Mata Deja terlihat begitu sembab karena harus menahan air mata nya.
"Udah lega?" tanya Mei sambil menyeka air mata. Jantung Deja bereaksi dengan cepat saat Mei menyentuh mata nya.
"Ada apa Ja? Kamu bisa cerita sama aku" Mei mengenggam tangan Deja.
"Mei?" lirih Deja sambil menatap sendu pada Mei yang berdiri di hadapan nya.
"Apa salah kalau aku cinta sama kamu Mei?" bibir Deja bergetar kalut.
"Apa aku masih pantas sama kamu?".
Mei menatap sendu pada Deja. Mei menyentuh wajah Deja, "Siapa pun berhat mendapatkan kesempatan kedua Ja".
"Sekali pun dia orang yang benar - benar jahat. Tuhan aja kasih kesempatan untuk hamba nya kenapa kita yang manusia gak bisa kasih kesempatan itu?" Mei menghapus air mata Deja.
"Terus gimana perasaan kamu sama aku Mei? Apa masih tetap perasaan yang dulu?".
Mei berusaha tersenyum ikhlas, "Bohong kalau aku gak sayang sama kamu Ja".
"Dan bohong juga kalau aku gak benci sama kamu" tambah Mei.
Deja paham akan perasaan Mei pada diri nya, Ia memaklumi perasaan Mei wajar saja jika Mei masih membenci nya.
"Kamu cinta pertama aku Ja" Mei menoleh pada Deja yang tengah termenung. Deja juga ikut menoleh pada Mei.
"Apapun masalahnya mengenai prasangka orang lain sama kita, aku tetap di pihak kamu Ja" Mei mengenggam tangan Deja.
Mata Deja berkaca - kaca mendengar jawaban Mei. Deja menarik Mei dan mencium bibir Mei. Tangan Deja mendorong leher Mei agar semakin mendekat pada nya. Mei juga membalas ciuman Deja dengan ikut menggantungkan tangan nya pada leher Deja.
__ADS_1
Setitik cairan bening berhasil lolos dari mata elang Deja, " Terima kasih Tuhan, aku sudah menemukan nya ".
Menurut kalian gimana nih? Apa Deja benar - benar sudah berubah atau malah sebaliknya? Jawab di komentar ya, terima kasih💚