
" Orang akan menghargai apabila Ia telah kehilangan sesuatu yang berhaga ".
Mei Han
Saga baru saja keluar dari sebuah club malam, Ia berjalan seorang diri dengan menutup wajah nya dengan masker tak ingin jika identitas nya sebagai member Wolf di ketahui oleh orang lain apalagi musuh nya.
"Berhenti!" teriak seseorang dari arah belakang. Mendengar suara itu Saga membalikan badan nya untuk melihat siapa yang mengatakan itu.
"Lo Saga kan? Anak buahnya si Deja?" tanya salah seorang dari mereka.
Saga mengerutkan dahi nya sambil menurunkan masker nya. Saga berusaha untuk mengenali setiap wajah dari mereka.
"Lo gak kenal sama gue?".
Saga hanya berdesah kecil, kini Ia paham siapa yang Ia ajak bicara saat ini. Saga memejamkan mata nya dan menarik nafas dengan dalam.
"Gue elang ketua - ".
"Gue tahu" potong Saga sambil menolehkan wajah nya ke sisi kanan.
Elang terdiam bisu karena mendengar ucapan Saga, Ia pun menganggukan kepala nya karena setuju dengan ucapan teman - teman nya jika Saga adalah tipe orang yang cuek.
"Bener kata antek - antek gue kalo lo secuek ini".
Saga hanya menyipitkan mata nya pada Elang, "Ada urusan apa lo sama gue?!" nada suara Saga terdengar sangat tidak bersahabat.
"Gimana? Udah siap kehilangan? Atau udah kasih ucapan selamat tinggal?" Elang terkekeh puas sambil melirik anak buah nya yang berdiri di samping nya.
"Maksud lo?" Saga mengerutkan dahi nya sambil menatap sinis pada Elang.
Elang tersenyum licik pada Saga, "Lo gak tahu? Serius?" kekeh Elang.
"Jawab!" Saga mulai tersulut emosi sambil mencengkram kerah baju Elang.
Elang kembali tertawa, "Gue baru tahu lo gampang kesulut emosi".
Saga menghela nafas nya yang terasa sesak, deru nafas nya terdengar sangat tidak beraturan, mata nya terasa panas, "Jawab gue brengsek!".
Elang menggertakan rahang gigi nya sambil menghempas Saga agar menjauh dari diri nya, "Jangan cari masalah sama gue!".
"Kita sesama laki - laki dan gue juga bisa kesulut emosi karena omongan lo!".
"Persetan buat lo!" desis Elang sambil menjauh dari Saga. Elang dan anak buah nya memilih langsung pergi meninggalkan Saga.
Saga mendesah frustasi karena ucapan Elang. Saga mengepalkan kedua tangan nya sambil menatap tajam punggung Elang, "Brengsek!" sumpah Saga.
__ADS_1
Crystal Cafe 15.30 am
Deja dan Mei sedang menghabiskan waktu akhir pekan mereka dengan menikmati makanan di kafe langganan mereka. Mei tampak menikmati strawberry cake dan Latte milik nya, sedangkan Deja juga tengah menikmati cheese cake dan Americano nya.
"Enak Mei? Mau coba punya aku?".
Mei melirik ke arah cheese cake milik Deja kemudian Mei mengangkat mata nya ke atas untuk menatap Deja, "Aku boleh coba?" sambil menggigit sendok.
Spontan Deja mencubit pipi Mei dengan gemas, "Boleh Mei, coba aja".
Mei menyendok cheese cake itu dengan ukuran besar. Mei memejamkan mata nya dan tersenyum, "Manis banget" Mei tersenyum bak anak kecil.
"Kalau kamu suka makan aja aku biar pesan lagi" Deja mengangkat tangan nya untuk memanggil pelayan kafe.
"G - gak usah Ja. Kamu makan aja aku biar makan yang ini" potong Mei.
"Gapapa kalau kamu - ".
Mei menyendokan cheese cake ke dalam mulut Deja, "Makan aja punya kamu".
Deja tertegun menatap Mei, sebuah senyuman terukir di sudut bibir Deja. Mei tiba - tiba menundukan wajah nya karena malu.
"Kamu habis ini mau kemana Mei?".
"Langsung pulang aja Ja, Papa suruh aku pulang cepat".
Dari arah luar kafe sekumpulan laki - laki masuk ke dalam kafe. Mereka terlihat seperti anak motor dengan jaket denim berwarna putih bergambar burung elang.
Mei ikut melihat mereka yang memilih duduk di seberang Mei. Deja membalikan badann nya untuk melihat siapa yang datang karena suara yang terdengae begitu ramai.
Deja membelalakan mata nya saat tahu siapa yang datang, Elang. Mei kembali melanjutkan memakan strawberry cake nya.
"Bos itu bukan nya Deja sama tunangan nya ya bos?".
Elang yang mendengar nama Deja langsung membalikan badan nya. Elang tersenyum licik ke arah Deja, "Benar kata lo semua kalau tunangan si Deja cantik" Elang mengusap bibir nya.
Deja mulai panik dan bingung karena keberadaan Elang. Deja bukan nya takut melawan Elang namun ini adalah perjanjian antara diri nya dan Elang karena kalah balapan. Deja juga tidak takut melawan Elang yang Ia takutkan adalah jika Mei marah dan kecewa pada diri nya.
"Kamu udah - ".
Tringgg
Deja melihat di layar ponsel nya siapa yang menelfon nya saat ini, " Elang! " geram Deja dalam hati.
" Itu tunangan lo? Cantik juga gue suka cewe rambut pendek apalagi cewe mata sipit ".
__ADS_1
" Gak nyangka aja gue bisa ketemu sama bahan taruhan kita di sini. Jaga baik - baik calon pacar gue jangan sampai rusak di tangan lo! " kekeh Elang
" Dan ingat 20 hari lagi gue ambil tunangan lo brengsek! " kembali Elang terkekeh.
Nafas Deja memburu di dalam dada nya, telinga nya memerah karena menahan emosi. Deja mengepal tangan kanan nya dengan just untuk menahan emosi. Deja membalikan badan nya untuk melihat Elang. Dari meja yang cukup jauh dari Elang, Deja bisa melihat wajah licik Elang dan bagaimana Elang tertawa.
"Deja kamu kenapa? Kamu kenal sama mereka?" Mei menatap Deja yang tengah bingung sejak tadi.
"Ah aku gapapa Mei, kamu udah siap?" jawab Deja gugup.
"Udah kok Ja".
"Kita pulang sekarang aja ya Mei" Deja mengenggam tangan Mei.
Mereka berdua berdiri dan langsung memilih pulang melewati Elang dan teman - teman nya. Elang melirik ke arah Mei dan tersenyum licik pada teman - teman nya.
Deja membuka pintu kaca kafe dan mempersilahkan Mei keluar terlebih dahulu. Elang berlari kecil menyusul mereka, "Tunggu".
Mei berhenti dan membalikan badan nya. Elang menyerahkan sebuah saputangan berwarna merah maroon pada Mei, "Ini punya kamu kan? Tadi jatuh".
" O - oh iya terima kasih" Mei mengambil saputangan milik nya.
"Sama - sama cantik" Elang tersenyum dan menyipitkan mata nya. Elang langsung kembali sambil melewati Deja.
" I like her " Elang menepuk bahu Deja tanpa diketahui Mei.
Deja menggertakan rahang nya dan segera menarik Mei untuk pulang. Elang merasa puas dengan apa yang Ia lakukan pada musuh nya.
~
Deja telah sampai di rumah Mei. Deja melepaskan helm dari kepala Mei, "Langsung masuk ke dalam" titah Deja.
Mei menganggukan kepala nya, "Dan kalau kamu ada keperluan keluar bulang sama aku biar aku yang antarin kamu".
Mei mengangguk paham, "Dan jangan pernah keluar sendirian" Deja menatap serius pada Mei.
"Aku tahu Ja".
Mei kembali berjalan ke dalam rumah, "Aku sayang kamu Mei" ujar Deja.
Mei tersenyum dan membalikan badan nya, "Aku juga sayang kamu Deja" balas Mei.
Deja tersenyum miris di saat ada orang yang benar - benar mencintai dan menyanyangi diri nya Ia malah menjadikan nya bahan taruhan.
" Maafin aku Mei, aku gagal selamatin kamu ".
__ADS_1
Menurut kalian perjanjian antara Deja dan Elang apa bakal tetap berlanjut? Silahkan di jawab ya hehe