
Deja duduk di atas motor nya dengan mata yang menatap lurus ke depan. Elgra dan Rega juga duduk di atas motor mereka sambil bercanda satu sama lain. Saga hanya diam dan ikut menatap lurus ke arah koridor sedangkan Adriano tengah mengantri membeli batagor di seberang sekolah.
"Tumben masih di sini? Gak pulang lo?" Elgra memutar posisi badan nya pada Deja.
"Gue lagi tunggu Mei".
Rega mengerutkan dahi nya, "Mei? Yakin?" Rega sedikit terkekeh.
Deja memutar mata nya dengan malas, Saga yang duduk di samping nya hanya menatap sekilas pada Deja. Mereka masih perang dingin tidak mau berbicara satu sama lain dan diam adalah pilihan yang baik menurut mereka berdua.
"Lo berdua mau sampai kapan kaya gini?" dari arah belakang Adriano merangkul Deja dan Saga.
Deja mengalihkan wajah nya dari Saga begitupun Saga, "Kita ini sahabatan masa iya berantem" ujar Adriano.
Deja menggertakan rahang gigi nya, "Gue tahu lo kesel sama Saga begitu pun lo sama Deja" Adriano menunjuk Saga.
"Deja!" Natalie berlari kecil ke arah Deja, tiba - tiba saja Natalie menarik lengan Deja.
"Apaan sih!" Deja melepaskan tarikan tangan Natalie.
"Aku perlu bicara sama kamu".
"Tentang kita" suara Natalie mulai meninggi pada Deja.
Deja membalikan badan nya dan mengerutkan dahi nya, "Kita? Ada hubungan apalagi lo sama gue?!".
Wajah Natalie berubah menjadi gugup dan ketakutan, "A - aku gak mau putus".
"Peduli apa gue sama lo?" Deja menatap tajam dan sinis pada Natalie.
Natalie mulai memundurkan langkah nya dari hadapan Deja, "T - tapi Ja - ".
Deja langsung menoleh pada seseorang yang tengah melewati keberadaan nya tidak hanya Deja perhatian Saga pun ikut teralihkan pada seseorang yang baru saja melewati nya.
Deja menarik tangan orang itu, "Berhenti!" Deja mencengkram kuat tangan Mei.
"Lepas! Kalau mau ngomong ya ngomong aja" Mei berusaha melepaskan cengkraman tangan Deja.
"Lo gak lihat gue?".
"Lihat" jawab Mei singkat.
Deja mengerutkan dahi nya sambil menahan panas matahari, "Terus kenapa lo lewat gitu aja?".
Mei membalikan badan nya pada Deja, "Bukan nya kamu lagi ada urusan sama Natalie?" Mei menyipitkan mata nya.
Deja mengusap wajah nya frustasi, "Dari tadi gue tunggu lo Mei" Deja sedikit mengerang karena kesal.
"Aku gak tahu" Mei mebalikan badan nya segera meninggalkan Deja.
Deja mencekal tangan Mei, "Jangan buat gue marah Mei!" Deja menatap Mei dengan tajam.
__ADS_1
"Deja!" seru Natalie yang ikut menghampiri Deja dan Mei.
Deja kembali menggertakan rahang nya, "Apa lagi sih!" bentak Deja.
Natalie memegangi lengan Deja, Mei pun ikut melirik pada cekalan tangan Natalie dan situasi semakin rumit. Natalie menahan tangan Deja sedangkan Deja menahan Mei agar tidak pergi.
"Lepasin tangan lo!".
Natalie hanya menatap sedih pada Deja, "Gue bilang lepas!" bentak Deja dan mau tak mau Natalie melepaskan tangan nya dari Deja. Mei juga ikut melepaskan tangan nya dari Deja.
"Ikut gue" Deja menarik tangan Mei agar mengikuti nya. Mei hanya menggelengkan kepala nya saat di paksa oleh Deja.
"Mei Han!" bentak Deja.
Saga dan yang lain nya hanya melihat dari arah belakang. Adriano merangkul bahu Saga, "Cemburu Ga?" Adriano menaikan sebalah alis mata nya.
"Apaan sih!" sungut Saga, mereka hanya terkekeh karena respon Saga.
~
Deja dan Mei turun dari motor mereka berhenti di sebuah tempat yang seperti hutan namun tidak jauh dari jalan kota. Deja menarik tangan Mei agar mengikuti nya sedangkan Mei masih menelusuri setiap sudut hutan itu.
"Kita mau kemana Ja?" Mei mengikat rambut pendek nya. Ia mulai merasakan panas karena sengatan matahari.
Deja hanya diam dan tetap menarik tangan Mei namun Mei mulai menyipitkan mata nya ke arah Deja, "Atau kamu - ".
"Gak usah mikirin yang aneh - aneh deh" bantah Deja.
Deja berhenti secara tiba - tiba hingga membuat Mei menabrak punggung Deja. Mei mengusap dahi nya yang terbentur punggung Deja.
Mei terdiam saat melihat sebuah rumah pohon yang ada di hadapan nya. Rumah pohon yang cukup besar, dengan atap berwarna merah membuat rumah pohon itu terlihat manis.
"Ini rumah pohon siapa?" Mei menoleh pada Deja yang tengah tersenyum memandangi rumah pohon itu.
"Kita naik ke atas nanti gue ceritain sama lo" Deja mulai menaiki tangga kayu untuk ke atas rumah pohon.
"A - aku takut jatuh" Mei mengeratkan kedua tangan nya.
Deja melihat ke bawah dan tersenyum, "Gue naik dulu nanti gue tolongin lo dari atas".
Mei menggelengkan kepala nya layak nya anak kecil yang ketakutan Deja kembali terkekeh, "Percaya sama gue Mei".
Deja kembali menaiki anak tangga rumah pohon hingga Ia tiba di atas, "Ayo Mei naik" Deja mengulurkan tangan nya seakan ingin menolong Mei.
Mei mencoba menaiki anak tangga kaya itu sambil sesekali Mei menghela nafas Mei tetap berusaha menaiki anak tangga itu. Deja mengulurkan tangan nya pada Mei, "Ayo gue pegangin".
Mei mempercepat langkah nya agar sampai di atas. Mei tiba di atas rumah pohon itu mata nya takjub dengan suasana hangat yang ada di atas pohon. Mei berjalan mendekati sebuah pot bunga matahari.
"Jadi ini rumah pohon kamu?" Mei menyentuh bunga matahari itu dengan perlahan.
"Bukan punya gue tapi sama yang lain juga" Deja masuk ke dalam rumah pohon dan membuka jendela rumah itu.
__ADS_1
"Masuk Mei panas".
Mei meletakan kembali pot bunga matahari itu dan berjalan masuk ke dalam rumah pohon. Mei meletakan tas ransel nya di atas sebuah karpet permadani merah.
"Kamu sering ke sini?".
"Gak juga udah lama gue gak ke sini".
Mei menganggukan kepala nya, mata Mei melihat sebuah foto lima anak laki - laki yang tengah memakai kostum Halloween. Mei terkekeh saat melihat foto yang Ia yakini jika itu adalah Deja saat mengenakan baju harimau terlihat wajah Deja yang kesal dan tak mau tersenyum. Di samping Deja ada Saga yang mengenakan kostum beruang berwarna coklat. Elgra dan Rega serasi mengenakan baju anjing dan kucing dan terakhir ada Adriano yang mengenakan kostum kelinci putih.
Deja sadar jika Mei tengah menertertawakan foto diri nya dan para sahabat nya, "Gak usah di lihat bikin malu aja" Deja menarik bingkai foto itu.
"Emang kenapa? Lucu lo" kekeh Mei.
Wajah Deja bersemu merah karena ucapan Mei. Deja mengalihkan wajah nya dari Mei sambil menutup wajah nya yang terasa panas karena menahan malu.
"Itu acara hallowen kapan?".
"O - oh itu waktu kita di Amerika, terpaksa juga karena itu acara sekolah".
Mei tersenyum pada Deja, "Kalian udah lama sahabatan ya" ujar Mei.
"Sejak kapan kamu sekolah di Amerika?".
"H - hmm dari TK gue di Amerika sampai SMP terus mulai masuk SMA gue di sini".
"Mereka juga sekolah di Amerika?".
"Iya mereka sekolah bareng gue di Amerika dari sebelum sekolah di Amerika kita juga selalu bareng".
Mei mengalihkan wajah nya pada sebuah bingkai foto Deja dan Saga terlihat dari foto itu Deja tengah merangkul Saga. Mereka kompak mengenakan seragam panahan sambil membawa anak panah.
"Ini kamu sama Saga?".
Deja terkejut dan ikut mendekat pada Mei, "Iya itu gue sama Saga waktu ikut kelas panahan di sekolah" dengus Deja.
Mei meletakan kembali bingkai foto itu dan melihat ke arah jam tangan nya, "Udah sore Ja".
"Nanti dulu" Deja menahan tangan Mei agar tidak pergi.
"Gue mau berduaan sama lo di sini" Deja menarik Mei ke sebelah nya.
Jantung Mei berdegup kencang karena tarikan tangan Deja, "T - tapi Ja".
"Lo cewe pertama yang gue ajak ke sini" Deja memejamkan mata nya dan menarik kepala Mei agar bersandar pada bahu nya. Mei hanya diam ketika di paksa untuk bersandar pada bahu Deja. Mei merasa nyaman, aman dan tenang ketika bersandar pada tunagan nya itu.
"N - natalie?".
"Gue gak punya niat untuk ajak dia ke sini, hati gue gak yakin kalo dia mau gue ajak ke sini" Deja membelai rambut Mei dengan perlahan.
Mei menggigit bibir bawah nya karena gugup bersandar pada bahu Deja dan tersipu malu akan ucapan Deja tadi, "Mei jangan sampai luluh sama Deja".
__ADS_1
Selamat pagi semua nya, akhir - akhir ini Author jarang up karena Author sedang sibuk belajar untuk itu Author mohon pengertian nya dari kalian semua, Dan kemungikanan dua Minggu ke depan Author jarang up karena sudah mendekati jadwal ujian kampus. Author mohon doa dan dukungan dari pada Reader's sekalian semoga Author bisa lulus ujian kampus😇
Terima kasih atas support dan dukungan kalian pada Author💚