Rahasia Takdir Cinta

Rahasia Takdir Cinta
Curiga


__ADS_3

Siang ini Irfan berniat datang kesekolah SMA Dharma Bangsa untuk menjemput Alisia, kebetulan hari ini Alisia berangkat sama temannya. Siapa lagi kalau bukan si Jimi, hari ini bukannya sekolah dua remaja itu malah bolos pergi ke sirquit buat balapan.


Mama sama papa mereka pulang lebih cepat dari Australi, jadi hari ini adalah kepulangan orangtua mereka. Irfan ingin menjemput mama sama papanya ke bandara dengan Alisia.


Sebuah mobil lamborgini berwarna silver memasuki area parkiran sekolah SMA Dharma Bangsa, mata semua orang tertuju ketika seorang pria dengan balutan kaos berwarna putih keluar dari mobil mewahnya.


Tubuh pria itu begitu tegap dan atletis, kulit putih, hidung mancung, dan jangan lupa sebuah kaca mata yang bertengger di hidungnya menambah kadar ketampanannya. Ketika pria itu membuka kacamatanya, dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling membuat para siswi berteriak histeris ketika melihat wajahnya yang begitu tampan. Dia adalah Irfan kakak nya Alsia.


Irfan melangkahkan kakinya cepat menuju ruang kelas Alisia, X IPS¹. tak lupa dia mengenakan kembali kacamatanya. Saat ini jam istirahat jadi tak heran jika banyak pasang mata yang memandang memuja akan ketampanannya.


"Permisi, apa kalian melihat Alisia." ucapnya dengan suara serak-serak basah miliknya.


"Oh tuhan ini malaikat dari kayangan kah, tampan banget." ujar seorang siswi teman sekelas Alisia.


"Kakak ganteng main sama dedek yuk." ajak seorang siswi nakal dikelas itu.


"Maaf kakak cari siapa ya?" tanya Alif ketua kelas Alisia.


"Saya mencari Alisia, apa kamu melihatnya?" tanya Irfan lalu melepaskan kacamatanya.


"Oh may god, demi apa kakak ini ganteng banget." ujar siswi dikelas Alisia.


"Maaf kak, Alisia tidak datang dari tadi pagi. Sepertinya dia bolos kak." terang Alif.


Mendapat penuturan dari Alif, wajah Irfan tiba-tiba merah. Itu tandanya dia sedang marah saat ini, hal yang Irfan paling tidak sukai adalah melanggar peraturan. Keluarga Rennald sangat menomer satukan pendidikan, dan sungguh malu bagi mereka jika anggota keluarga mereka melanggar peraturan yang mereka sendiri membuatnya. Seperti Alisia saat ini contohnya, membolos.


"Kakak siapa ya?" tanya Alif memberanikan diri.


"Irfan Rennald." jawab Irfan, lalu pemuda itu melangkahkan kakinya menuju ruang kepala sekolah.


"A***r, anak pemilik sekolah. Jadi Alisia itu anak dari pemilik sekolah, adeknya Irfan Rennald yang dalam usia muda sudah menjadi CEO dari perusahaan miliknya sendiri. Kenapa gue baru sadar sekarang ya, sama nama belakang Alisia. Pantas aja tuh anak bisa berbuat sesukanya, dan guru segan ke dia." gumam Alif ke dirinya sendiri.


Di ruang kepala sekolah Irfan lansung meminta kepada kepala sekolahnya untuk mengumpulkan para guru, pria itu akan mengadakan meeting untuk membahas masalah adiknya kali ini.


"Tuan, kita akan membahas apa? tumben sekali anda mengunjungi sekolah dan mengadakan meeting mendadak." tanya kepala sekolah dengan heran.


"Bagaimana bisa kalian mengurus satu murid saja tidak becus." marah Irfan.


"Maksud anda tuan?" tanya seorang guru tak mengerti.


"Kenapa bisa Alisia bolos kalian diam saja dan tidak melaporkan pada saya." ucap Irfan dengan nada tinggi.


"Kami minta maaf tuan, kami takut kalau nona Alisia akan marah sama kami." ujar kepala sekolah.


"Kalian takut sama anak kecil kaya adek saya." ucap Irfan tak percaya.


"Walaupun dia anak dari pemilik sekolah, posisi kalian lebih tinggi disini di banding dia. Kalian seorang guru, dan dia hanya murid disini." jelas Irfan.


"Kami benar-benar merasa segan pada nona tuan." sambung seorang guru.


''Dan tak ada seorang pun diantara kalian yang berani menegur atau menghukumnya ketika dia berbuat salah." tanya Irfan ke para guru.


"Saya berani." ucap seorang guru, yap bu Laura sang singa betina.


"Saya harap kalian bisa mencontoh bu Laura, jangan takut dan segan pada Alisia. Jika anak itu salah maka kalian harus menghukumnya, semua anak disekolah ini sama. Walaupun anak dari pemilik sekolah sekalipun jika salah harus tetap dihukum." ucap Irfan panjang lebar.


"Baik tuan." jawab para guru kompak.


"Jika anak itu sering melanggar peraturan, hukum saja dia biar jera. Kalau dia marah, bilang kalian semua sudah mendapat izin dari saya. Dia pasti tak akan berani marah." pesan Irfan pada para guru.


"Saya minta daftar kehadiran Alisia, dan catatan poin untuk pelanggaran yang dia lakukan." pinta Irfan.


''Baik tuan, segera saya siapakan." ucap seorang guru bagian kesiswaan.


"Saya tunggu, cepat saya harus segera ke bandara." ujar Irfan.


Setelah mendapatkan berkas laporan kedatangan Alisia dan catatan pelanggaran yang gadis itu lakukan, muka Irfan lansung memerah itu tandanya pria itu sedang marah.


Lagi dan lagi Alisia berhasil membuat pria tampan itu marah, segera Irfan berangkat ke bandara untuk menjemput kedua orang tuanya.

__ADS_1


Dibandara...


Irfan menunggu kedatangan mama dan papanya dari Australia, tapi sebelum itu dia sempatkan untuk menelpon Alisia.


"Halo." jawab suara dari seberang telepon


"Al, kamu dimana sekarang?" tanya Irfan.


Padahal jelas dia tau Alisia tengah tak berada disekolah. Ia ingin mengetes kejujuran adiknya, apakah dia akan jujur mengatakan kalau dia tak berada disekolah atau sebaliknya.


"Al lagi ada disekolah kak, ini lagi masuk." jawab Alisia yang tentunya berbohong.


"Yakin, emangnya sekarang siapa yang masuk." tanya Irfan mencoba membuat Alisia jujur.


"Ini pak Rey yang lagi masuk kak, guru sejarah." bohong Alisia.


"Rey, emangnya ada guru sejarah bernama itu." tanya Irfan sedikit kaget mendengar nama itu.


"Ada kak, kayanya guru baru sih." jawab Alisia.


"Kamu pulang sekarang, mama sama papa sebentar lagi sampai dibandara." ujar Irfan.


"Bukannya mama sama papa pulangnya masih lama, kenapa mereka pulang sekarang." heran Alisia.


"Karena tugas mereka udah selesai, makanya mama sama papa pulang." jelas Irfan.


"Ooh, yaudah deh kak Alisia akan lansung pulang." jawab Alisia.


"Bukannya kamu sedang disekolah, seharusnya kamu pulang nanti sore kan." ucap Irfan membuat Alisia bingung harus jawab apa, hampir saja kebohongan nya terbongkar.


"Eh iya kak Al lupa, yaudah ya kak aku tutup telponnya nya ya." ucap Alisia mulai panik.


"Kamu kan sedang dikelas dan gurunya masuk, gimana kamu bisa nelpon. Gak mungkin kan kamu nelpon dikelas." ujar Irfan yang terus membuat Alisia merasa terpojok karena kebohongan yang dia lakukan.


"Al nelpon nya diluar kelas kak, minta izin tadi." jawab Alisia terus berbohong.


"Pintar sekali kamu berbohong sekarang dek, hari ini udah berapa kali kamu bohongin kakak." gumam Irfan lalu tersenyum penuh arti.


Di Cafe Clay tempat Alisia dan Jimi.


"Jim, nanti pas udah jam pulang sekolah lo anterin gue pulang ya." pinta Alisia.


"Kalau emang kakak lo nyuruh pulang buat ketemu ortu yaudah sekarang aja, kenapa harus nanti." ucap Jimi dengan heran.


"Ya gak bisalah, yang ada gue dimarahin karena pulang waktu jam sekolah. Gue kasih alesan apa." tolak Alisia.


"Ya bilang aja mau ketemu sama mama papa lo." ujar Jimi.


"Itu alasan gak masuk akal, kan nanti gue bisa ketemu mereka waktu udah pulang." ucap Alisia.


"Rindu." gumam Jimi.


"Gak bisa Jim, keluarga Rennald itu ngeutamain pendidkan. Dan peraturan yang udah di buat gak boleh di langgar." jelas Alisia.


"Trus sekarang mau gimana?" tanya Jimi.


"Yaudah kita tunggu aja dulu sampai waktu jam pulang sekolah." jawab Alisia.


"Gila mau nunggu disini seharian, gak ah. mending pergi kemana gitu. Emang nya kenapa sih kalau lo pulang sekarang." ucap Jimi mulai bete.


"Lo mau gue di ceramahin sama orang tua gue, apalagi kak Irfan. Astaga bisa mampet ni telinga, lagain lo nanti juga bakalan kena marah." ucap Alisia kesal.


"Kok gue di bawa-bawa sih, kan lo yang bolos dan ngelanggar peraturan." ucap Jimi tak terima.


"Gue berangakat ke sekolah tadi sama siapa?" Alisia balik bertanya.


"Gue." jawab Jimi polos.


"Nah lo juga kena, karena gue berangkat bareng lo. Lo yang akan disalahin kenapa gak nganter gue sampai kesekolah." jelas Alisia.

__ADS_1


"Kan lo yang ngajak buat bolos ogeb." ucap Jimi tak mau kalah.


"Salah lo kenapa mau nurutin perintah gue, lagian lo tadi bilang mau nganter gue kemana aja yang gue mau." ucap Alisia mengingatkan Jimi akan perkataan yang tadi dia ucapkan.


"Iya tapi Al, gak harus bawa-bawa gue kemasalah lo juga kali." ucap Jimi kesal.


''Gak bisa bro, gue perginya sama lo." ucap Alisia.


''Ahhh, terserah lo. Kalau gue disalahin, gue bilang aja lo ngajak gue ke sirquit." ucap Jimi santai.


"Yang ada kakak gue tambah marah, karena lo bawa adeknya ke tempat bahaya kaya gitu." ujar Alisia.


"Kan lo yang ngajak." jawab Jimi.


"Walaupun gue yang ngajak tetep aja, kenapa lo mau nurutin perintah gue." ucap Alisia dengan nada tinggi karena mulai kesal.


"Sans donk Al, jangan marah-marah ntar cepet tua lo." canda jimi.


Mendengar kata itu raut wajah Alisia yang tadinya kesal mendadak jadi sedih, bukan karena kata Tua melainkan waktunya didunia ini yang mungkin tak sampai pada masa ia tua.


"Lo kenapa Al, gue salah ngomong ya. Maaf gue cuaman becanda kok bilang lo tua." ucap Jimi lembut, dia menyadari perubahan pada wajah Alisa.


"Gak kok, lo aja yang baperan. Orang gue gapapa." ucap Alisia berusaha tersenyum.


"Yakin, kalau ada sesuatu cerita ke gue Al." ucap Jimi khawatir.


"Apaansih, lebay banget lo. Orang gue gapapa juga." ucap Alisia sudah kembali normal.


"Yaudah kalau emang lo gapapa." jawab Jimi.


Setelah cukup lama mereka berdua menunggu jam pulang sekolah, akhirnya jam pulang sekolah pun tiba. Alisia memutuskan untuk menunggu di Cafe Clay, Jimi mengajaknya jalan-jalan tapi Alisia menolaknya. Dengan alasan ''Lelah".


"Ayok pulang." ajak Alisia.


"Yok." jawab Jimi.


Lalu mereka berdua pun mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, Alisia yang memintanya.


"Udah sampai." ucap Jimi ke Alisia.


"Thanks, lo udah mau jadi supir free gue hari ini. Lain kali gue bayar gaji lo kok, sekarang lo pulang sana." ucap Alisia dengan nada bercanda.


Lalu dia segera turun dari motor Jimi.


"Gak tau terimakasih lu, pakai bilang gue supir gratis lagi." jawab Jimi dengan nada dibuat kesal.


"Hahahaha, becanda gue Jim. Baperan amat lu kaya cewe lagi Pms aja." balas Alisia dengan tertawa.


"Gue seneng liat lo ketawa bahagia kaya gitu Al." ucap Jimi dengan tersenyum.


Alisia yang mendengarnya pun lansung berhenti dari tawanya.


"Gue masuk dulu ya, hati-hati lo." pamit Alisia.


Jimi mengangkat jarinya membentuk oke.


***


**Hai lovly aku UP nih, gimana seru gak ceritanya. kira-kira apa ya...


yang membuat Alisia selalu nolak Jimi, padahal kan babang Jiminya baik, gannteng udah gitu perhatian lagi. Aduh ga tega aku tuh sama dia, mantan playboy tapi ditolak sama Alisia yang cantik. Apa ya rahasia yang disimpan sama Alisia.


Siapa yang rindu sama Rey, angakat tangan...


 


follow @alfaazzahra\_2373**


 

__ADS_1


__ADS_2