
Alisia hari ini mengikuti semua pelajaran yang masuk, dia sudah tak bisa bebas membolos dan cabut seperti biasanya. Jika dia nekat untuk membolos, bersiaplah hukuman lain yang akan datang dari kakaknya.
Saat ini kelas XIPS¹ kosong, karena guru yang mengajar adalah Rey. Dan Rey tidak datang kesekolah sudah hampir 3 hari, semenjak dia mendapat telpon waktu itu dia tak masuk lagi untuk mengajar.
"Al lo kemaren kemana?" tanya Ikbal.
"Kemana hati gue ingin pergi." jawab Alisia.
"Serius Al, kenapa lo gak sekolah sih?" tanya Ikbal lagi.
"Kepo lo ah, bikin gue kesel aja tau nggak." jawab Alisia.
"Lo kenapa sih, marah-marah mulu sama kita berdua." sambung Chaca.
"Lo lupa?" tanya Alisia.
"Apa?" ucap Chaca.
"Gue paling gak suka ada orang yang ikut campur urusan gue." ucap Alisia.
"Gue denger lo lagi deket ya sama Jimi?" tanya Ikbal lagi.
"Iya." jawab Alisia seadanya.
"Lo harus jaga jarak dari dia Al, dia itu playboy." saran Ikbal.
"Gak ah, gue pengen temenan sama Jimi. Bahkan kalau bisa lebih." tolak Alisia.
"Tapi Jimi itu pergaulan nya bebas Al, lo bisa terjerumus ke hal yang gak baik kalau temenan sama dia." ucap Ikbal.
"Gak selamanya hal yang terlihat jelek diluar juga jelek didalam Bal, Jimi itu beda. Gue tau Jimi orangnya gimana, karena gue temen dia." ucap Alisia ke Ikbal.
"Gue sayang sama lo Al, gue gak pengen terjadi hal yang buruk sama lo." ucap Ikbal.
"Gue tau lo sayang dan peduli sama gue, tapi lo juga gak berhak ngatur hidup gue Bal. Lo emang orang yang paling bisa ngertiin gue, dan lo juga orang yang tau tentang keaadan gue sekarang." ucap Alisia.
"Terus kalau lo tau, kenapa lo gak mau dengerin gue. Kenapa lo tetep ngelakuin hal yang ngerusak diri lo." ucap Ikbal.
"Karena gue pengen nikmatin hidup yang gue sendiri gak tau kapan gue bakalan pergi." jawab Alisia.
"Itu bukan alasan yang masuk akal Al, lo bisa nikmatin hidup lo tanpa harus ngelakuin hal yang gak baik. Lo bisa sem.. " ucapan Ikbal terpotong karena mulutnya lansung ditutup oleh Alisia.
"Jangan coba-coba lo bongkar, untuk masalah itu urusan gue. Dan lo gak usah khawatirin gue, kalaupun nanti gue emang harus pergi gue ikhlas kok. Kerena gue udah ngelakuin hal yang belum pernah selama ini gue lakuin." ucap Alisia, lalu setelah itu dia melepaskan tangannya yang tadi menutup mulut Ikbal.
"Gue gak ngerti lo berdua ngomong apa?" sambung Chaca yang dari tadi cuman jadi pndengar.
"Lo gak perlu tau." jawab Alisia.
"Ah lo berdua ma gitu." ucap Chaca pura-pura merajuk.
Kring kring~~~~
Bel istirahat pun berbunyi.
Didepan pintu kelas sudah ada seorang cowok yang berdiri menunggu Alisia untuk kekantin bareng.
"Kantin yuk." ajak Chaca.
"Lo berdua duluan aja." suruh Alisia.
"Lo nanti nyusul kan?" tanya Ikabal.
"Iya, udah sana duluan aja." suruh Alisia.
Setelah membereskan buku dan perlengkapan tulisnya, alisia pun segera berjalan keluar untuk menyusul ke dua sahabatnya.
Tapi baru saja dia hendak melangkahkan kaki untuk keluar melewati pintu, ada seseorang yang menariknya.
"Mau kemana lo?" tanya suara itu.
"Bikin kaget aja lo, gue kira tadi siapa." ujar Alisia.
"Kantin yuk, gue kenalin lo sama sahabat gue." ajak Alisia.
"Yok." lalu mereka berdua pun berjalan menuju kantin.
Di kantin...
Banyak pasang mata yang melihat kearah Alisia dan Jimi. Tapi Alisia tak memperdulikan itu semua, tapi Jimi dia malah merangkul Alisia. Seolah-olah dia mengatakan dengan sikapnya itu kalau Alisia hanya miliknya.
"Sejak kapan mereka dekat."
"Ganjen banget sih jadi cewek."
"Mereka cocok banget, tuh cewek cantik dan Jimi ganteng. Aduuh the bets couple ini mah."
Kira-kira seperti itulah kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh orang-orang yang melihat kedekatan Alisia dan Jimi.
"Hai, sorry gue lama." ucap Alisia kepada dua sahabatnya yang sudah lebih dulu memesan makanan.
"Al, lo pesen apa?" tanya Jimi.
__ADS_1
"Jus jerus sama batagor." pinta Alisia.
"Ok, tunggu disini jangan kemana-mana biar gue yang pesenin." ucap Jimi, lalu dia segera berjalan ke stand yang menjual makanan dan minuman.
"Ganteng ya Al, kenalin gue donk ke dia." pinta Chaca.
"Ogah, kalau mau lo kenalan aja sendiri." tolak Alisia.
"Ah gak asih lo, pelit amat jadi orang." ucap Chaca kecewa.
"Nih pesanan lo." ucap Jimi ke Alisia.
"Makasih Jim." ujar Alisia.
Ikbal yang dari tadi cuman melihat saja hanya diam, tapi raut wajahnya seolah memancarkan kesedihan.
"Gue mau ngomong sama lo Al." ucapnya.
"Yaudah ngomong aja." jawab Alisia yang sedang memakan makanannya.
"Gak bisa disini, gue perlu ngomong empat mata sama lo." ucap Ikbal.
"Nanti aja Bal, gak mungkin kan Jimi gue tinggalin." tolak Alisia.
"Gapapa kok Al, lo pergi aja sama sahabat lo. Mana tau ada yang penting." suruh Jimi.
"Yaudah deh." ucap Alisia dengan menghela nafas panjang.
"Lo mau ngomong nya di mana?" tanya Alisia.
"Taman belakang." jawab Ikbal.
Lalu mereka berdua pun berjalan menuju taman belakang, taman belakang memang jarang dikunjungi oleh siswa maupun siswi. Karena keadaan nya yang dijadikan markas oleh anak-anak nakal.
Sampai disana, Ikbal lansung memegang tangan Alisia.
"Al, gue mau ngomong sesuatu yang penting banget sama lo." ucap Ikbal.
"Mau ngomong apa?" tanya Alisia sambil menatap Ikbal.
"Lo tau kan kita udah sahabatan sejak SMP, dan semenjak itu pula kita selalu bareng-bareng." ucap Ikbal.
"Iya tau, terus emangnya kenapa?" bingung Alisia.
"Gue sayang sama lo Al, dan gue pengen yang terbaik buat lo." ucap Ikbal lagi.
"Kan kita sahabat, ya wajarlah lo sayang sama gue." ucap Alisia tak mengerti kemana arah dari ucapan Ikbal.
"Maksud lo apaansih, gue gak ngerti lo dari tadi ngomong apa. Kalau ngomong lansung ke intinya, lo taukan gue gak suka orang yang berbelit-belit." ucap Alisia mulai kesal.
"Gue cinta dan sayang sama lo Al, bukan sebagai seorang sahabat. Tapi sebagai kekasih." ujar Ikbal.
Penuturan dari Ikbal berhasil membuat Alisia terdiam, dia tak percaya sahabatnya itu menyimpan rasa padanya.
"Sejak kapan lo suka sama gue." tanya Alisia datar.
"Sejak kelas 3 SMP Al, sejak lo memutuskan untuk melupakan cowok yang lo cintai waktu itu. Lo tau, betapa senengnya hati gue saat tau lo nolak cowok yang lo cintai. Tapi hati gue juga sakit dan sedih saat tau kenyataan tentang keadaan lo." ucap Ikbal.
"Kenapa lo gak jujur dari dulu ke gue Bal, kenapa baru sekarang. Kenapa baru ketika waktu gue didunia ini udah gak lama lagi baru lo bilang." ucap Alisia dengan mata berkaca-kaca.
"Gue pengecut Al, gue gak punya keberanian buat ngomong ke lo. Gue pikir dengan gue nyimpan perasaan ini sendiri bisa lebih baik buat gue. Tapi kenyataan nya nggak, gue cemburu liat lo deket sama cowok lain." ujar Ikbal.
"Dan lo tau, ketika keadaan lo semakin memburuk dan gue gak punya hak untuk melarang lo melakukan ini dan itu hati gue sakit Al. Gue khawatir dengan kesehatan lo, tapi lo malah ngelakuin sesuatu yang malah membuat kesehatan lo makin memburuk. Gue ngerasa gak berguna sebagai cowok, karena gak bisa ngelindungin lo." ucap Ikbal panjang lebar.
"Bal, maaf gue gak bisa balas perasaan lo. Dari dulu gue cuman nganggap lo sebagai sahabat dan keluarga gue." ucap Alisia.
"Tapi kenapa Al, gak adakah sedikitpun dihati lo rasa cinta buat gue." ucap Ikbal sedih.
"Maaffin gue, lo taukan keadaan gue gimana. Dan gak mungkin bagi gue untuk pacaran Bal. Lo ingatkan gimana gue waktu itu nolak kak Doni." ucap Alisia.
Dulu waktu semasa SMP Alisia pernah menyimpan rasa pada kakak kelasnya, tapi dia menyimpan rasa itu sendiri. Sampai suatu hari Doni menyatakan perasaan nya pada Alisia, hati Alisia senang bukan main waktu tau cintanya tak bertepuk sebelah tangan.
Tapi Alisia terpaksa menolaknya, betapa kecewanya hati Doni waktu ditolak oleh Alisia. Tapi Alisia jauh lebih sakit, dia harus mendapat kenyataan yang pahit tentang dirinya dan harus menolak cinta dari cowok yang dia suka.
"Tapi Al, gue yakin lo gak harus pergi ninggalin dunia ini. Kalau lo mau berusaha." ucap Ikbal.
"Untuk apa gue usaha, kalau pada akhirnya gue juga akan pergi. Gue gak mau bikin keluarga gue khawatir karena keadaan gue, dan gue gak mau bikin mereka sedih kalau gue nanti mati." ucap Alisia.
"Lo bisa sembuh Al, lo bisa sehat kaya dulu lagi kalau lo berusaha." ucap Ikbal.
"Gak Bal, gue sendiri yang dengar Dokter bilang apa. Memang gue bisa sembuh, tapi gue harus diterapi. Dan untuk itu harus didampingi orangtua, dan gue gak mau mereka tau penyakit gue." ucap Alisia.
"Tapi suatu saat mereka juga akan tau Al." ucap Ikbal.
"Memang mereka suatu saat akan segera tau tentang penyakit gue, tapi setidaknya untuk saat ini mereka gak tau. Gue gak mau liat mama papa sama kak Irfan sedih, jadi gue mohon sama lo untuk tetap rahsiain ini." ujar Alisia.
"Lo mau kan janji sama gue." ucap Alisia, sambil mengayunkan jari kelingking nya ke Ikbal.
"Iya gue janji." jawab Ikbal dengan tersenyum kecut. lalu dia meraih jari kelingking Alisia untuk ditautkan ke jarinya.
"Sekali lagi gue mintak maaf ya Bal, gue beneran gak bisa nerima cinta lo. Dan gue harap lo jangan marah apalagi benci ya sama gue, dan kita tetap sahabatkan." tanya Alisia.
__ADS_1
"Gue gak papa kok Al, gue mana pernah bisa marah dan benci sama lo. Tentu kita masih tetap sahabat." jawab Ikbal dengan tersenyum.
Walaupun Ikbal terlihat baik-baik saja, tapi jauh dilubuk hati nya yang paling dalam dia sangat sedih dan kecewa. Tapi dia tak bisa egois untuk mendapatkan keinginannya, dia tak ingin melihat Alisia sedih karenanya.
Kring... kring~
Bel masuk pun berbunyi, itu tandanya jam istirahat telah habis.
Alisia dan Ikbal segera melangkahkan kakinya pergi meninggalkan taman belakang.
"Bal, tolong izinin gue ya. Badan gue gak enak ni." ucap Alisia, padahal sebenarnya dia berbohong.
"Lo kenapa Al? yaudah lo istirahat aja nanti gue bilangin. Lo perlu gue anter ke uks." ucap Ikbal dengan raut wajah khawatir.
"Eh gak perlu, gue bisa pergi sendiri." tolak Alisia, yang ada rencananya gagal untuk cabut kalau Ikbal mengantarnya.
"Lo yakin Al, gue khawatir sama keadaan lo." ucap Ikbal.
"Iya gue yakin, udah sana lo masuk." usir Alisia.
"Kalau ada apa-apa lo bilang gue ya." ucap Ikabal lagi.
"Iya, sono buruan masuk." suruh Alisia.
Setelah memastikan Ikbal masuk kedalam kelas, Alisia melangkahkan kakinya menuju tempat yang sekarang menjadi tempat favoritnya.
Tapi di koridor ada seseorang yang membuatnya harus menghentikan langkahnya.
"Alisia." sapa orang itu sambil tersenyum.
"Eh, Siska. Ada apa?" tanya Alisia.
"Tentang kesepakatan kita waktu itu gimana." Siska menyakan tentang kesepakatan yang dulu mereka buat.
"Oh itu, untuk itu lain kali aja ya Sis. Soalnya gue lagi malas buat berurusan dengan dengan pak Rey. Lagi pula sekarang kan dia gak masuk. Nanti biar gue kabarin lo, kapan gue pengen ngerjain dia." ucap Alisia.
"Ok." Balas Siska.
"Kalau gitu gue duluan." pamit Alisia.
Lalu Alisia melanjutkan jalannya yang tadi sempat tertunda, kemudian sampai lah dia ditempat yang dituju.
Alisia melihat ada seorang cowok yang sedang menatap ke langit dengan menyesap sepuntung rokok.
"Woi, disini lo ternyata." ucap Alisia.
Cowok itu pun mengalihkan atensinya ke Alisia, kemudian dia tersenyum.
"Udah selesai urusannya?" tanya cowok itu yang tak lain adalah Jimi.
"Udah Jim, oh iya bagi donk rokoknya." pinta Alisia.
Alisia kini tengah berada di Rooftop, tempat yang sekarang menjadi favoritnya.
"Nih." Jimi memberikan sebungkus rokok dan sebuah korek api ke Alisia.
"Thanks." ucap Alisia, lalu gadis itu segera menghidupkan api dan kemudian menyesap rokok itu.
"Oh iya Jim, ngomong-ngomong lo ada tempat tongkrongan yang seru gak. Gue lagi galau banget ni." ucap Alisia sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
"Galau kenapa lo?" tanya Jimi.
"Kepo amat sih, tinggal jawab ada atau nggak aja susah banget." kesal Alisia.
"Ada, emangnya lo mau pergi kapan." ujar Jimi.
"Nanti malam, gue lagi pusing banget nih. Galau dan gue butuh tempat yang asik buat nenangin pikiran." ucap Alisia.
"Yaudah nanti malam gue jemput lo, tapi gimana kalau ketahuan." tanya Jimi.
"Tenang aja, kakak gue lagi gak ada dirumah. Mama sama papa pulangnya juga udah lewat tengah malam. Dirumah cuma ada pembantu, satpam, supir sama tukang kebun." ujar Alisia.
"Gila, banyak banget pembantu dirumah lo." ujar Jimi.
"Makanya lo tunggu di jalan dekat komplek, nanti biar gue yang samperin lo." ucap Alisia.
"Ok." jawab Jimi.
"Eh, ngomong-ngomong kok lo bisa cabut sih. Kalau guru yang masuk nanti ngaduin lo ke kak Irfan gimana." tanya Jimi tiba-tiba.
"Udah lo tenang aja, gue alesan gak enak badan tadi." ujar Alisia.
Lalu Jimi menganggukkan kepalanya, mereka berdua pun menghabiskan waktu bersama di Rooftop dengan mabar dan merokok.
*****
**Hai gays aku sengaja ni tulis ceritanya agak panjangan, sekarang kalian udah taukan kenapa Alisia gak mau pacaran. Oh iya, kalian penasaran gak rencana apa yang bakalan Alisia dan Siska lakukan untuk Rey? kalau penasaran tunggu chapter selanjutnya, OK.
Dan siapa yang pengen kenalan dengan Doni, cowok yang udah berhasil merebut hati Alisa. jawab di komen.
Aku UP setiap hari pukul 20.15 wib.
__ADS_1
Follow @alfaazzahra\_2373**