
Setalah mobil Rey hilang dari pandangan nya, Aliisia memasuki ruangan pesta. Saat ini ruangan pesta tak seramai tadi, karena sebagian tamu sudah pulang.
Disana Chaca dan Ikbal khawatir karena dari tadi menunggu Alisia yang pergi dengan Rey belum juga kembali, tapi kemudian ke khawatiran mereka hilang saat melihat Alisia memasuki tempat pesta.
"Syukurlah tuh anak akhirnya balik juga, tapi dia kok sendiri. Bukannya tadi sama pak Rey ya." ucap Chaca bingung.
"Nanti kita tanya sama dia, sekarang kita kesana dulu." ucap Ikbal menarik pergelangan tangan Chaca.
"Dari mana lo sekarang baru balik, habis ngapain aja." tanya Chaca menyudutkan Alisia.
"Kepo banget sih lo, gak bisa liat orang senang aja." ucap Alisia kesal.
"Gue tau lo abis pergi sama pak Rey, tapi kok mata lo sembab gitu abis kayak orang nangis. Dan kenapa penampilan lo berantakan kaya gitu, jangan-jangan lo habis di apa-apain lagi." ledek Chaca.
"Enak banget tu mulut ngomong, gue abis nangis karena terharu. Bukannya nangis karena diapa-apain, nih rambut gue kusut karena pak Rey tadi yang ngacak nya." ucap Alisia sambil mengacak rambut Chaca karena kesal.
"Kenapa rambut gue lo acak-acak." ucap Chaca kesal.
"Nanti pikiran kotor lo itu mikirnya acak-acak yang lain, jadi mendingan gue contohin biar lo gak salah paham." ucap Alisia.
"Memang nya lo dibawa kemana sih, sampai terharu gitu. Penasaran gue." goda Ikbal.
"Adalah, besok-besok aja ya gue cerita nya. Gue mau nemuin mama sama papa dulu." ucap Alisia lalu pergi meninggalkan ke dua sahabatnya.
"Udah ada perkembangan tuh anak." ucap Chaca.
"Ya baguslah kalau gitu." ucap Ikbal.
"Gue dengar ya, emang nya gue hamil apa pakai perkembangan segala." ucap Alisia yang berada tak jauh dari Chaca dan Ikbal.
"Tajam juga tuh telinga si Al ya Bal." ucap Chaca.
Sewaktu Alisia ingin memasuki ruangan dimana mama dan papanya berada, ada seseorang yang menarik tangan nya dan membekap mulut nya. Orang itu membawanya ke sudut ruangan yang sedikit sunyi, Alisia menggigit tangan orang itu dengan kuat. Dan akhirnya bekapan di mulutnya terlepas.
"Auuu, lo sio anj*ng ya." ucap nya sambil meniup tangan nya yang digigit Alisia.
"Rasain lo, siapa suruh lo narik sama bekap mulut gue. Kayak lo mau nyulik dan ngejual gue tau gak kesannya." ucap Alisia marah.
"Marah-marah terus kerja lo, gue cuman mau tanya soal hubungan lo sama pak Rey.
"Bukan urusan lo, kalau mau tau cari tau aja sendiri. Lagian lo juga bukan siapa-siapa gue, jadi lo gak usah ikut campur urusan gus lagi." ucap Alisia dan hendak pergi dari situ.
"Lo gak bisa pergi sebelum jawab pertanyaan gue." ucapnya sambil menahan Alisia agar tidak pergi.
"Udah deh Jim, lo gak usah lagi ikut campur urusan gue. Sekarang lo bukan siapa-siapa gue lagi, lo udah bukan sahabat gue." ucap Alisia.
Orang yang tadi menarik Alisia itu adalah Jimi, Jimi dari tadi memperhatikan gerak-gerik Alisia dan Rey waktu mereka berdansa. Dan Rey tau dari cara Alisia menatap gurunya itu kalau Alisia mencintai nya.
"Gue cuman mau tanya apa hubungan lo sama dia, kalau benar lo cinta sama dia. Gue akan mundur dan gue gak akan pernah ganggu lo lagi." ucap Jimi.
__ADS_1
"Iya, gue cinta sama dia. Sekarang udah jelaskan, jadi lo jangan ganggu gue lagi." ucap Alisia lalu pergi meninggalkan Jimi yang seketika lansung terdiam.
"Inikan yang lo mau Jim, dapat kepastian dari dia. Sekarang lo udah dengar dari mulutnya kalau dia sama sekali gak mencintaii lo, dan dia udah jatuh cinta sama orang lain." ucap Jimi pada dirinya sendiri.
"Tapi kenapa gue gak rela lo sama orang lain, padahal kan yang gue mau lo bahagia sama orang yang lo cinta. Cukup bagi gue lihat lo bahagia, tapi nyatanya bahagia lo bukan gue. Jadi gue mencoba untuk melupakan lo, dan lihat lo bahagia maka gue akan bahagia. Tapi kenapa rasanya berat banget." ucap Jimi lagi pada dirinya sendiri dengan menyedihkan.
"Lo harus belajar untuk lupain dia." ucap seseorang kemudian menepuk bahu Jimi.
"Elo Bal." ucap Jimi.
"Gue jugak cinta sama Al, tapi demi kebahagiaan dia gue belajar untuk ngelupain dia walau berat. Cinta tak selalu harus memiliki, cinta yang tulus dari pria sejati itu adalah melihat wanita nya bahagia. Walaupun bukan bersamaya." ucap Ikbal.
"Memang sekarang lo udah lupain Alisia." tanya Jimi.
"Gue sepenuhnya memang masih belum bisa lupain Al, tapi gue mencoba untuk kuat dan memendam rasa cinta gue. Melihat dia bahagia walaupun bukan sama gue, hati gue lebih senang walau juga diiringi rasa sakit. Tapi hati gue akan lebih sakit lagi ngeliat dia sedih walau dia sama gue." ucap Ikbal dengan menatap Jimi.
"Jadi gue mohon sama lo, demi kebahagiaan dia gue minta lo lupain dia. Gue dulu juga egois kayak lo, tapi gue sadar kalau gue terus memaksa kehendak gue untuk memiliki Alisia yang ada dia jadi meninggalkan gue. Dan gue gak mau Alisia ninggalin gue hanya karena keegoisan gue yang memaksa dia untuk mencintai gue, Bagi gue persahabatan dan kebahagiaan dia lebih penting." ucap Ikbal lalu kemudian pergi meninggalkan Jimi seorang diri.
"Apa bisa gue lupain lo Al, jujur gue emang pengen lihat lo bahagia. Tapi untuk lupain lo gue masih belum bisa, asal lo tau gue tersiksa waktu harus menjauh dari lo." batin Jimi.
Diruangan tempat keluarga Rennald
"Loh, katanya mama sama papa ada disini. Kok gaada sih." gumam Alisia.
"Mama sama papa lagi nemuin kolega bisnis." ucap Irfan dari belakang tubuh Alisia.
"Kamu dari mana tadi tiba-tiba menghilang dari pesta?" Irfan pura-pura bertanya, padahal dirinya tau.
"Itu, Al tadi pergi sama teman." bohong Alisia.
"Gak usah bohong kamu, kakak tau kamu pergi sama Rey bukan. Kakak gak mau lihat kamu jalan lagi sama dia, jauhi dia karena dia bukan orang baik." ucap Irfan.
"Atas dasar apa kakak melarang Al, terserah Al mau pergi sama siapa." ucap Alisia.
"Atas dasar apa kamu bilang, atas dasar dia orang jahat dan bakalan nyakitin kamu." ucap Irfan dengan nada tinggi.
"Kakak seharus nya ngaca, apa kakak udah gak bisa ngaca lagi lihat muka kakak sendiri. Kakak tuh yang jahat, justru pak Rey itu orang yang baik." ucap Alisia tak mau kalah.
"Baik kamu bilang, dan kamu bilang kakak jahat. Kakak lebih tau siapa Rey daripada kamu." ucap Irfan.
"Jelas lah kakak lebih tau dia dari pada Al, kakak kan sahabat nya. Sahabat yang tega nyakitin sahabatnya sendiri, kakak pikir dong kalau kakak itu masih punya hati apa nggak." ucap Alisia tanpa menoleh pada Irfan.
"Darimana kamu tau kalau kakak sahabatnya Rey, apa dia yang cerita sama kamu." tanya Irfan.
"Kakakak gak perlu tau aku tau darimana, yang jelas kakak kok tega banget nusuk pak Rey dari belakang. Jelas-jelas dia sahabatnya kakak, tapi kakak malah nyakitin dia." ucap Alisia dengan nada tak bersahabat.
"Terserah kamu bilang apa, yang kakak mau kamu lupain dia dan jangan dekat lagi dengan nya. Masih banyak pria lain yang sayang sama kamu." ucap Irfan.
"Dulu kakak selalu tanya kapan Al akan punya pacar, dan kenapa selalu nolak kalau Al di tembak. Giliran sekarang Al udah nerima dan punya cowok, kakak malah larang Al. Al gak ngerti sama jalan pikiran kakak." ucap Alisia kesal pada kakak nya.
__ADS_1
"Ya tapi jangan sama Rey, kan masih ada Jimi sama Ikbal." Irfan mencoba membujuk adiknya itu.
"Kakak pikir cinta bisa dipaksa apa, lagian Jimi udah punya pacar. Dan Ikbal itu sahabat Al." ujar Alisia.
"Itu karena kamu nolak Jimi, makanya dia punya pacar." ucap Irfan.
"Terserah apa alasannya, Al gak akan ninggalin pak Rey. Cuman karena keegoisan kakak Al harus ninggalin dia Al gak mau." tolak Alisia dengan nada tinggi.
"Harus berapa kali kakak bilang kalau Rey itu bukan orang baik, jauhin dia sebelum kakak yang jauhin kamu darinya dengan paksa." ucap Irfan dengan nada tinggi.
"Kok kakak jadi egois gini sih, kan kakak yang salah kenapa Al yang harus jadi korban." ucap Alisia tak mau kalah.
"Karena dia bisa aja nyakitin kamu kalau dia tahu kamu itu adik kakak Al, jadi demi " kamu jauhin Rey." ucap Irfan mencoba untuk sabar.
"Dia gak akan tau kalau kakak gak ngasih tau." Alisia tetap pada pendirian nya.
"Percuma, karena cepat atau lambat dia akan tau. Dan sebelum terlambat kamu harus jauhin dia, kakak takut karena dendam nya sama kakak dia bakalan nyakitin kamu." ucap Irfan dengan nada lembut.
"Kan itu salah kakak, kenapa kakak tega rebut Mutia dari dia dan menghancurkan pernikahan nya. Dan sekarang kakak minta Al untuk ninggalin dia, Al gak akan pernah ninggalin dia hanya karena kesalahan kakak." tolak Alisia begitu keras kepala.
"Kalaupun nanti dia nyakitin Al karena dendam nya sama kakak, Al rela kok. Al gak akan ninggalin pak Rey karena Al cinta dan sayang sama dia, Al gak akan biarin dia terluka lagi dan merasakan kehilangan untuk kedua kalinya." ucap Alisia dengan nada serius.
"Sebegitu besar nya kah cinta kamu untuk dia dek." ucap Irfan.
"Iya, Al gak akan nyakitin dia kalaupun nanti dia nyakitin Al. Dan kakak jangan harap untuk memisahkan kami, karena Al gak sama dengan perempuan yang bernama Mutia itu. Yang cuman mencintai harta saja." ucap Alisia.
"Jaga ucapan kamu, Mutia bukan perempuan seperti itu." ucap Irfan.
"Cih, masih saja kakak belain perempuan itu. Pada kenyataan nya dia memang perempuan yang tidak baik." ucap Alisia.
"Kamu kalau gak tau kebenarannya jangan asal ngomong." ucap Irfan marah.
"Al tau kok, dia ninggalin pak Rey karena kakak rebut. Dan dia cuman mau harta pak Rey doank, iyakan." sindir Alisia.
Irfan pun cuma diam tak lagi membalas ucapan adiknya itu.
"Udahlah, kakak gak usah ikut campur urusan Al. Kakak taukan Al paling gak suka kalau ada orang yang ikut campur urusan Al." ucap Alisia.
Setelah berdebat dengan cukup panjang, Alisia meninggalkan kakak nya itu seorang diri.
"Kamu gak tau kebenarannya Al, kebenaran yang kamu tau itu salah. Kakak cuman gak mau nantinya Rey membalas kan dendam nya sama kamu." batin Irfan dengan raut wajah sedih.
***********
Ada apalagi nih, sebenarnya kebenaran apa yang Irfan sembunyikan dari adiknya.
Kalian setuju gak kalau Alisia itu nanti sama Jimi?
**Follow @alfaazzahra\_2373**
__ADS_1