Rahasia Takdir Cinta

Rahasia Takdir Cinta
Harus Memilih


__ADS_3

Alisia kini berada di sebuah cafe dengan kakak nya Irfan, suasana diantara mereka sangat canggung. Karena Irfan sangat dingin dengan nya kali ini, dan itu membuat Alisia sedih.


"Kamu mau ngomong apa Al, ngajak kakak kesini." tanya Irfan tanpa melihat kearah adiknya.


"Al udah putusin kok, milih kakak atau pak Rey." ucap Alisia tenang.


"Kamu milih kakak atau dia?" tanya Irfan dingin.


"Al lebih milih kakak." ucap Alisia tetap tenang.


Mendengar keputusan adiknya itu, membuat Irfan lansung menatap Alisia dalam.


"Kamu yakin dengan keputusan kamu?" tanya Irfan.


''Yakin." jawab Alisia singkat.


"Baguslah kalau gitu, kakak ngelakuin ini juga demi kebaikan kamu." ucap Irfan tidak lagi dengan nada dingin.


"Kamu bebas mau dengan siapa aja, asal jangan dengan Rey." ucap Irfan.


"Hmm." jawab Alisia singkat dan datar.


Selesai makan Irfan mengajak adiknya itu ke Moll, dia ingin menghibur Alisia yang mungkin saat ini sedang sedih. Irfan menggndeng tangan Alisia yang terlihat tidak bersemangat.


"Al, dua minggu lagi kan ulang tahun kamu." ucap Irfan.


Alisia hanya diam tak menanggapi ucapan kakak nya itu.


"Doni kapan pulangnya dari London?" tanya Irfan.


Mendengar nama Doni membuat Alisia merasa bersalah, karena sekarang hatinya benar-benar sudah diisi oleh Rey seorang. Akankah nantinya Doni kecewa padanya, pikir Alisia.


"Ga tau, dia gak kasih kabar sama sekali." ucap Alisia.


"Oohh, kita udah dari tadi nih keliling-keliling. Kamu mau cari apa." tanya Irfan.


"Ga tau." jawab Alisia singkat.


"Al mau ke toilet dulu." ucap Alisia sambil berlalu pergi meninggalkan Irfan.

__ADS_1


"Kanepa lagi tuh anak." ucap Irfan.


Di perjalanan menuju toilet, Alisia melihat Rey bersama seorang perempuan. Hatinya sakit melihat hal itu, sehingga Alisia memutuskan untuk pergi dari situ dan tidak jadi ke toilet. Tapi ternyata Rey melihat dirinya, Rey pun mengejar Alisia yang berjalan dengan terburu-buru.


"Al, kamu sama siapa kesini." tanya Rey yang sudah berada di samping Alisia.


"Kakak." jawab Alisia singkat.


"Sayang, kamu ngejar siapa sih sampai aku ditinggalin." ucap perempuan itu dengan nada manja.


"Dia ini murid ku di sekolah, namanya Alisia." ucap Rey memperkenalkan siapa Alisia pada perempuan itu.


"Gue cuman dianggap sebagai murid kah." batin Alisia kecewa dengan ucapan Rey.


"Ooh, murid kamu. Tapi cantik banget ya dia." ucap perempuan itu.


"Saya permisi pak, soalnya saya masih ada urusan." ucap Alisia lalu pergi dari situ dengan kesal.


"Apaansih kamu Am, lihat gara-gara kamu tuh anak pasti salah paham." ucap Rey.


"Ya maaf kak, kan aku cuma bercanda. Dianya aja yang masukin ke hati." ucap perempuan itu yang bernama Amber.


"Ya bilang aja yang sebenarnya, kalau kita ini saudara sepupu." ucap Amber merasa tak bersalah.


Alisia perasaannya saat ini benar-benar kecewa pada Rey, sudahlah dia harus memutuskan untuk menjauh dari Rey demi kakaknya. Dan sekarang dia melihat Rey dengan perempuan lain.


"Kamu kok cepat banget kembali dari toilet?" tanya Irfan.


"Gak jadi toilet nya rame, kita pulang yuk kak." ajak Alisia.


"Yaudah kalau kamu mau pulang." ucap Irfan menuruti kemauan Alisia.


Di dalam mobil Alisia hanya diam dan menatap kosong kesamping kearah jalanan, Irfan yang sadar ada yang salah dengan adik nya itu pun menghentikan mobilnya.


"Udah sampai ya kak." tanya Alisia tetap dengan tatapan kosong.


"Kamu kenapa Al, dari tadi kakak lihat kamu gak fokus gitu." ucap Irfan.


"Gapapa kok, kayak nya Al kecapekan." jawab Alisia bohong padahal hatinya tengah sakit saat ini.

__ADS_1


"Kamu keberatan ya dengan permintaan kakak untuk menjauh dari Rey." tanya Irfan.


"Nggak kok kak, justru Al malah senang bisa jauh dari dia." jawab Alisia.


"Kenapa, dia nyakitin kamu." tanya Irfan.


"Iya kak, lebih sakit melihat dia dengan perempuan lain dari pada hanya menjauh." jawab Alisia yang ia ucapkan didalam hatinya.


"Nggak, Al cuman pengen coba untuk melupakan dia saja." jawab Alisia berbohong.


"Yaudah deh kalau gitu, kalau kamu sakit atau apa bilang kakak ya." ucap Irfan.


Alisia hanya mengangguk, sampai di rumah Alisia lansung berlari cepat menuju kamarnya.


Di dalam kamar dia menangis sejadi-jadinya, belum lama Rey menyatakan perasaan nya kemarin tapi dia sudah harus berpisah dari Rey. Dan hatinya tambah sakit saat melihat Rey yang berduaan dengan perempuan lain, mungkin kah Rey sudah mengetahui kalau dia adik nya Irfan. Sehingga Rey berbuat kejam padanya, pikir Alisia dengan tangis yang makin menjadi.


"Sesakit ini kah harus berpisah dari orang yang kita cintai, dan sesakit inikah saat melihat orang yang kita cintai bersama orang lain." gumam Alisia dengan airmata yang terus jatuh dari pipinya.


"Apa aku salah mengambil keputusan, haruskah aku memilih dia dari pada kakak. Mungkin seharusnya aku memilih dia, sehingga tidak akan sesakit ini rasanya." ucap Alisia pada dirinya sendiri.


"Tapi melihatnya bersama perempuan itu, mungkin keputusan yang aku ambil sudah tepat. Menjauh darinya untuk sementara waktu, atau mungkin untuk selamanya." ucap Alisia sambil mengingat Rey bersama perempuan yang tadi dia lihat di moll.


"Apa mungkin selama ini dia cuma mempermainkan aku karena dendam nya sama kakak, dan sebenarnya dia udah punya kekasih tapi dia malah menyembunyikan nya." tebak Alisia sambil menyeka airmatanya.


"Sudah pasti perempuan tadi kekasihnya, jelas-jelas dia memangggil pak Rey dengan sayang dan nada manja. Sedangkan pak Rey pun tak menyangkal waktu perempuan itu memanggil nya sayang." ucap Alisia dengan airmata yang kemabali turun.


"Mungkin seharusnya aku tidak jatuh cinta padanya, karena pada akhirnya aku juga akan mati. Meninggalkan dunia ini dan meninggalkan dirinya." ucap Alisia sambil menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan.


"Aku memang udah ditakdirkan untuk gak bahagia, tapi ditakdirkan untuk selalu menderita. Kenapa ketika aku berusaha untuk tetap bertahan hidup demi orang yang aku cintai, dia malah membenci karena dendam pada kakak." ucap Alisia yang terus menangis.


"Kalau tahu begini lebih baik aku memendam rasa ini, mungkin memang sudah takdir ku tidak bisa bersama dengan orang yang aku cintai. Mulai sekarang aku harus bisa melupakan nya, pak Rey untuk bahagia dengan perempuan lain daripada harus denganku yang penyakitan ini." ucap Alisia pada dirinya sendiri.


Sampai waktu makan malam Alisia tak keluar dari kamarnya, ketika mamanya memanggil untuk makan malam dia pura-pura tidur. Padahal dia sedang menangis waktu itu, semalaman Alisia terus menangis meluapakan kesedihan nya.


########


Syukurlah sekarang Alisia dan Jimi udah baikan kayak dulu, tapi Alisia salah paham dengan Rey. Apakah kalian setuju Alisia meninggalkan Rey?


Baca Novel baruku, judulnya "Cinta Istri Ke Dua"

__ADS_1



__ADS_2