Rahasia Takdir Cinta

Rahasia Takdir Cinta
Tidak Mungkin


__ADS_3

Mobil milik Rey melaju dijalanan ibukota dengan tenang, syukurlah malam ini tidak terlalu banyak kendaraan karena sudah hampir larut malam.


"Kita sebenarnya mau kemana sih, dari tadi kok gak sampai-sampai." tanya Alisia.


"Sebentar lagi sampai kok, kalau kamu capek kamu tidur saja." ucap Rey.


"Tapi bapak jangan macam-macam ya." ucap Alisia.


Rey tersenyum melihat tingkah Alisia.


"Saya tidak akan memakan kamu sebelum kamu menjadi istri saya, jadi kamu tidak perlu takut." ucap Rey.


"Memakan." gumam Alisia dengan bingung.


"Sudah jangan dipikirkan." ucap Rey.


"Maksud bapak, bapak bakalan masak saya gitu kalau saya jadi istri bapak." ujar Alisia.


"Bukan begitu maksud saya, sudahlah sulit untuk menjelaskan nya. Lebih baik kamu tidur saja." suruh Rey.


"Kan tadi bapak yang bilang kalau bapak mau makan saya." bingung Alisia.


"Maksud saya bukan memakan dalam artian saya akan memasak dan memakan daging kamu." ucap Rey dengan tersenyum.


"Lalu, memang nya memakan seorang istri itu memiliki artian lain ya. Selain memasaknya dan memakan daging nya seperti kanibal." ucap Alisia tambah bingung.


"Kamu tidak berpikir saya seorang kanibal kan." ucap Rey.


"Ya enggak lah pak, tapi maksud bapak memakan saya tadi itu apa." tanya Alisia tak mau kalah.


"Maksud nya, sudah lah nanti kamu akan tau sendiri." ucap Rey.


"Yasudah kalau tidak mau kasih tau, saya akan cari tau sendiri." gumam Alisia.


Mobil Rey terus melintasi jalan raya hingga sampai lah mereka di sebuah tempat yang gelap dan sunyi, Alisia memperhatikan sekitarnya dengan takut.


"Bapak ngpain bawa saya kesini, saya belum mau mati." ucap Alisia takut.


"Memang nya siapa yang mau bunuh kamu." tanya Rey heran.


"Ga ada sih, tapi kenapa bapak bawa saya kesini. Kalau nanti terjadi apa-apa saya minta tolong sama siapa, di sini sepi lagi gaada orang." ucap Alisia.


"Kamu tidak perlu takut, ada saya disini yang jagain kamu. Lagian ini wilayah saya." ucap Rey mencoba menenangkan Alisia.


"Hah wilayah, maksudnya ini daerah kekuasaan bapak gitu. Bapak bukan mafia yang mau bunuh saya kan, dan bukan hantu kan." tanya Alisia mulai takut.


Rey hanya tertawa kecil melihat kepolosan Alisia, lalu Rey menarik tangan Alisia menajuh dari mobil.


"Eh ini kita mau kemana, bapak belum jawab pertanyaan saya." ucap Alisia.


"Kamu ikut aja, nanti kamu akan tau sendiri." ucap Rey.


"Gak mau, ini tempatnya gelap. Saya takut sama gelap, saya gak kuat buat jalan." ucap Alisia yang mau menangis.


"Kamu takut gelap, yasudah kamu biar saya gendong saja. Ayo nik." Rey berjongkok dan menawarkan punggung nya agar dinaiki oleh Alisia.


"Emang nya gapapa?" tanya Alisia.


"Ayo naik, sebelum saya berubah pikiran. Saya bisa saja memakan kamu disini." ucap Rey menakuti Alisia.


Alisia pun menurut dan dia naik ke gendongan Rey, walaupun sebenarnya Alisia sedikit takut. Tapi dari pada ia harus jalan kaki di tempat gelap ini, ditambah lagi jika Rey benar akan memakannya.


"Saya berat ya pak?" tanya Alisia.


"Nggak kok, yang ada saya merasa seperti menggendong adik saya." jawab Rey.


Rey berjalan sampai didepan sebuah bangunan yang masih dalam keadaan di bangun, Rey masuk kedalam bangunan itu dan menaiki anak tangga satu persatu hingga sampai di lantai paling atas.


"Kamu kok dari tadi cuman diam, biasanya aja berisik kaya di mobil tadi." ucap Rey.

__ADS_1


"Cuman lagi pengen diam aja." jawab Alisia sambil mengeratkan pelukan nya.


"Kok berhenti sih?" tanya Alisia.


"Bukak mata kamu, dan lihat sekeliling ada apa." suruh Rey.


"Kok bapak tau saya dari tadi nutup mata." ucap Alisia yang masih enggan membuka ke dua matanya.


"Karena kamu dari tadi cuman diam semenjak saya gendong, kalau kamu gak nutup mata kamu. Kamu pasti bakalan tanya atau ngomong sesuatu ke saya." jelas Rey.


"Tapi saya takut untuk buka mata, saya takut lihat nya." ucap Alisia memohon.


"Kalau kamu lihat sesuatu yang seram, kamu boleh mukul saya." ucap Rey.


Alisia pun membuka ke dua matanya perlahan, samar-samar dia melihat pemandangan yang indah dan cahaya yang terang.


"Ini kan pemandangan kota saat malam hari, bagus banget." ucap Alisia saat melihat pemandangan didepan matanya.


"Kamu suka?" tanya Rey.


"Iya saya suka." ucap Alisia dengan senang.


"Sekarang kamu lihat ke atas." suruh Rey.


Alisia pun menurut, dan dia melihat langit malam dengan taburan bintang yang banyak diatasnya.


"Bapak tahu dari mana tempat ini?" tanya Alisia.


"Ini salah satu bangunan yang dibangun oleh perusahaan saya." jawab Rey.


"Kayak nya kamu gak mau turun dari gendongan saya." ucap Rey pada Alisia yang masih dalam gendongannya.


"Eh, maaf. Habisnya saya terlalu senang, jadi lupa kalau saya masih bapak gendong." ucap Alisia dengan pipi merah karena malu.


"Kalau kamu gak mau turun, juga gak masalah kok." ucap Rey menggoda Alisia.


"Sa, saya turun aja." ucap Alisia gelagapan dan segera turun dari gendongan Rey.


"Saya mau bilang sesuatu sama kamu." ucap Rey.


"Yaudah bilang aja, saya dengerin." gumam Alisia tanpa melihat kearah Rey.


"Kamu tahu siapa orang yang mengadakan pesta malam ini?" tanya Rey.


Alisia lansung mengernyit kan dahinya waktu mendengar pertanyaan Rey, tentu saja dia kenal. Kan yang mengadakan pesta itu kakak nya Irfan. Apa mungkin Rey tidak tahu kalau dia adalah adik nya Irfan, Alisia lebih memilih diam untuk mendengar apa lagi yang akan Rey katakan.


"Tujuan saya tadi di sekolah untuk mengajak kamu pergi bersama ke pesta itu adalah, karena dia adalah orang yang telah merebut Mutia dan menghancurkan pernikahan saya." jelas Rey dengan nada dan tatapan penuh kebencian.


Alisia lansung terbelalak kaget saat mendengar ucapan Rey, dia kaget karena kakaknya lah yang telah menghancurkan kehidupan Rey. Membuat Rey begitu terpukul karena ditinggalkan oleh perempuan yang dia cintai, membuat ke dua orang tuanya menanggung malu karena pernikahan nya gagal. Ditambah lagi dia menjadi orang yang berbeda, dia menjadi begitu dingin dan benci pada yang namanya cinta.


"Bapak gak bercanda kan?" tanya Alisia dengan suara bergetar mencoba untuk memastikan apakah tadi dia salah dengar.


"Mana mungkin saya bercanda, memang pria itu yang telah mengahancurkan saya. Saya sangat membenci nya bahkan seluruh keluarga nya pun saya benci." ucap Rey dengan nada penuh kebencian didalamnya.


Alisia terdiam, tak dapat lagi ia bicara setelah mendengar kenyataan ini. Kenyataan yang begitu membuat hatinya sakit, kenapa ia harus jatuh cinta dengan pria yang telah kakak nya sakiti. Ia bingung harus berkata apa sekarang, jadi dia lebih memilih untuk diam.


Kenapa kakak nya yang begitu ia hormati tega melakukan hal keji seperti ini, hatinya bertambah sakit saat Rey mengatakan kalau dia membenci kakaknya bahkan sampai keluarga nya. Itu tandanya Rey juga membenci dirinya, matanya sudah berkaca-kaca tapi Alisia berusaha menahan agar airmata nya tidak jatuh.


"Kamu kenapa diam saja, kamu pasti kenal kan dengan pria itu." ucap Rey.


"Iya saya kenal." jawab Alisia dengan menunduk, ia tak mau Rey melihat matanya yang sudah berair.


"Dia itu adalah pria yang tak punya hati, sudah lama saya menjalin persahabatan dengan nya. Tapi dia tega nusuk saya dari belakang." ucap Rey sambil menarik nafas panjang.


"Terimakasih kamu sudah mau mendengar cerita saya, saya merasa lebih lega setelah menceritakan semuanya. Dari dulu hampir dua tahun saya memendam ini semua sendiri, terimakasih kamu telah membuat saya sadar kalau cinta tak selamanya selalu ada luka dan berkahir dengan buruk." ucap Rey dengan nada lembut dan tulus.


Rey kemudian menarik Alisia kedalam pelukannya, memeluk gadis itu seakan tak mau lagi kehilangan.


"Saya mencintai kamu, saya tidak mau kehilangan kamu Alisia. Jadi saya sangat berharap kamu jangan pernah meninggalkan saya." bisik Rey ditelinga Alisia.

__ADS_1


Alisia membalas pelukan nya, airmata yang dari tadi dia tahan aikhirnya jatuh juga. Beginikah bahagianya saat orang yang kamu cintai juga mencintai mu, dan cinta mu tidak bertepuk sebelah tangan. Dan beginikah sakitnya saat orang yang kamu cintai membenci mu tapi bukan karena kesalahan mu.


Saat ini perasaan Alisia campur aduk, senang karena Rey mencintai dirinya. Kecewa karena kakak nya telah menyakiti orang yang dia cintai tapi dia juga harus kena imbasnya. Sedih karena Rey membenci dirinya, Alisia tak mau mengatakan bahwa dia adalah adik dari Irfan.


Dia baru saja merasakan kebahagiaan karena pria ini mencintai nya, jadi biarkanlah dia merasakan kebahagiaan ini sebentar saja walau pada akhirnya Rey akan tahu dan pasti akan membenci dirinya.


Rey melepas pelukannya dan menatap Alisia dalam, dari tatapan nya menggambar kan kalau dia tulus dan sangat msncintai Alisia.


"Apa kamu juga mencintai saya, atau kamu sudah memiliki orang lain yang kamu suka." tanya Rey penuh harap.


"Saya juga mencintai bapak." Jawab Alisia, didalam sana hatinya masih sakit harus menerima kenyataan Rey membencinya.


"Syukurlah kamu juga mencintai saya, sekarang ayo saya antar kamu pulang." ajak Rey.


Tidak, Rey tidak boleh tahu sekarang kalau dia adalah adiknya Irfan. Dia harus mencari alasan untuk menolak nya.


"Kelurga dan teman saya masih ada dipesta, mereka akan kehilangan nantinya kalau saya lansung pulang kerumah." ucap Alisia, saat ini Rey tdak boleh tau dimana rumahnya.


"Kalau begitu saya antar kamu kembali kesana, kamu mau jalan atau digendong lagi." tanya Rey.


"Saya jalan saja." jawab Alisia.


Rey memegang erat jemari Alisia dan membawa nya turun dari bangunan itu, sampai di mobil Rey membukakan pintu untuknya.


"Silahkan naik my queen." ucap Rey dengan tersenyum.


"Makasih." jawab Alisia gugup waktu mendengar Rey mamanggilnya my queen.


Diperjalanan mereka berdua hanya diam, sibuk memikirkan perasaan mereka masing-masing. Sampai ditempat pesta Rey membukakan pintu untuk Alisia.


"Saya harus segera pulang, jadi saya tidak bisa menemani kamu." ucap Rey.


"Gapapa kok pak, makasih hari ini sudah bikin saya bahagia." ucap Alisia.


"Iya sama-sama, saya juga terimakasih karena kamu telah mencintai saya." ucap Rey


Di atas balkon ada seseorang yang dari tadi terus mengamati mereka berdua, menatap dengan tatapan penuh kebencian.


"Kalian harus berpisah, apapun caranya." ucap seseorang itu.


"Pak, saya boleh minta sesuatu." tanya Alisia malu-malu.


"Kamu mau minta apa?" tanya Rey saat hendak masuk ke mobilnya, tapi dia urungkan.


"Boleh saya peluk bapak?" tanya Alisia.


Rey merentangkan ke dua tangan nya.


"Tentu boleh, ayo sini." ucap Rey.


Alisia berlari kedalam pelukan Rey, dan memeluknya dengan erat. Dia ingin pelukan hangat ini selalu memeluk tubuhnya, dan tidak pernah meninggalkan nya. Tapi apakah keinginan nya akan terkabul setelah semua kenyataan yang telah ia dengar, apakah pria ini akan meninggalkan nya setelah tau bahwa dia adalah adik dari orang yang telah melukai nya.


Alisia saat ini tak mau memikirkan itu semua,walaupun itu mengganggu pikiran nya dari tadi. Karena saat ini dia hanya ingin berada dalam pelukan orang yang dia cintai.


"Apa sekarang aku sudah boleh pergi." tanya Rey.


Alisia melepas pelukannya.


"Maaf, saya cuman tidak mau jauh dari bapak." ucap Alisia jujur.


"Yasudah, saya pergi dulu." pamit Rey sambil mengacak gemas rambut Alisia.


Kali ini dia tidak marah Rey mengacak rambutnya.


Orang yang dari tadi mengamati Alisia dari atas balkon ternyata masih berdiri disana.


"Gak akan gue biarin lo nyakitin adek gue Rey." ucap nya lalu pergi meninggalkan balkon.


*******

__ADS_1


Maaf karena ada sesuatu hal Author tidak bisa menepati janji untuk creazy UP waktu itu, sekali lagi Author minta maaf. Coba tebak siapa pria itu?


__ADS_2