Rahasia Takdir Cinta

Rahasia Takdir Cinta
Kejujuran


__ADS_3

Sehabis pulang sekolah Alisia memenuhi keinginan Rey untuk datang kerumah nya, Alisia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mobil mewah itu membelah jalanan ibukota Jakarta yang cukup ramai.


"Tumben banget si balok es nyuruh gue main kerumah nya, kayak nya ini saat yang tepat deh buat gue bilang tentang ciuman itu." gumam Alisia.


Sampai di rumah Rey Alisia menekan bel, lalu pintu rumah pun di buka oleh bik Meli.


"Eh non Alisia, silahkan masuk non." suruh bik Meli.


"Tumben non main kesini, ada apa nih?" tanya bik Meli.


"Loh bukannya bibik ya yang nyuruh saya kemari." ucap Alisia bingung.


"Bibik gak ada nyuruh non buat kesini, emang nya siapa yang bilang." ucap bik meli yang juga bingung.


"Pak Rey." jawab Alisia.


"Oh mungkin aden pengen ngajak non main kesini, tapi dia gengsi buat bilang nya. Makanya dia pakai nama bibik, padahal dia yang pengen non kesini." ucap bik Meli.


"Ngapain dia nyuruh saya kesini bik?" tanya Alisia.


"Mungkin saja aden kangen sama non." jawab bik Meli.


"Terus sekarang dia dimana?" tanya Alisia.


"Ada di taman belakang non, non susul aja dia kesana." suruh bik Meli.


Lalu Alisia pun menuju taman belakang, disana dia dapat melihat Rey yang sedang fokus ke laptopnya.


"Kok dia tambah ganteng ya kalau lagi serius kayak gitu." ucap Alisia dalam hati.


Alisia berjalan perlahan ke tempat Rey, rencana nya dia akan mengagetkan Rey.


"Kenapa jalan nya diam-diam gitu kayak kucing." ucap Rey yang tetap fokus pada laptopnya.


"Yah gagal deh, kok bapak bisa tau sih." ucap Alisia.


"Sia bisa mencium bau tubuh kamu dari sini." jawab Rey dingin.


"Emang nya saya bauk ya, enggak kok." gumam Alisia yang mencium bau tubuhnya.


"Memang nya saya ada bilang kamu bauk?" tanya Rey.


"Nggak sih, terus bau apa donk yang bapak cium." tanya Alisia.


"Bunga daisy, kamu suka parfum bunga daisy." tanya Rey.


"Kok bapak bisa tau parfum saya." bingung Alisia.


"Adik saya juga suka sama parfum bunga daisy, makanya saya bisa tau kalau itu kamu." ujar Rey.


"Ooh, adek bapak perempuan ya." tanya Alisia.


"Iyah." jawab Rey singkat.


Alisia yang tau kalau adiknya Rey telah meninggal, akhirnya dia cuman diam saja.


"Bapak ngapain nyuruh saya kesini, nggak usah bohong saya udah tau." tanya Alisia.


"Gapapa, saya pengen aja kamu main kesini. Kamu bisa bikin saya lebih tenang dan nyaman." ucap Rey.


Ucapan Rey itu membuat pipi Alisia merah merona.

__ADS_1


"Gombal nya gak laku." canda Alisia.


"Saya serius, ngapain juga saya bercanda." ucap Rey.


"Bapak ngapain sih dari tadi?" tanya Alisia.


''Saya lagi nyelesein pekerjaan kantor." jawab Rey.


"Hmm, saya boleh nanya gak?" tanya Alisia.


"Tanya aja?" ucap Rey.


"Sabar Alisia, lo harus sabar berhadapan dengan balok es. Lo harus terbiasa sama sikap dingin nya." batin Alisia.


"Bapak kan udah punya perusahaan, dan perusahaan itu milik bapak sendiri. Dan bapak juga seorang CEO tapi kenapa bapak malah jadi guru sejarah." tanya Alisia.


"Tanyakan pertanyaan lain." ucap Rey.


"Saya cuman pengen tanya itu." ujar Alisia.


Rey cuman diam tak menanggapi ucapan dari Alisia.


"Pak, saya dari tadi di cuekin terus." ucap Alisia.


Rey menghembuskan nafas panjang sebelum berkata.


"Kamu mau bicara apa?" tanya Rey.


"Soal ciuman itu." ucap Alisia.


"Kamu tau siapa orang yang saya cium?" tanya Rey, sekarang fokus nya sudah pada Alisia.


"Bapak benar-benar gak ingat apa yang udah bapak lakuin?" tanya Alisia.


"Iya juga sih, kenapa gue tanya pertanyaan bodoh gini ya." batin Alisia.


"Sebelum saya jawab, bapak harus jawab pertanyaan saya dulu." ucap Alisia.


"Kenapa bapak malam itu menyebut nama perempuan yang bernama Mutia." tanya Alisia.


Rey cuman diam, sampai ucapan Alisia membuat nya harus menjawab.


"Kalau bapak gak mau jawab, saya gak akan pernah kasih tau siapa gadis yang udah bapak cium." ancam Alisia.


Rey lalu menghela nafas panjang, sebelum menjawab pertanyaan Alisia.


"Ini adalah kali pertamanya saya cerita ke orang lain tentang masalah saya." ucap Rey.


"Malam itu saya sedang pusing, karena saya waktu pergi ke Brunei bertemu dengan ****** itu. Saya sangat muak melihatnya, sehingga saya pergi minum untuk menenangkan pikiran. Tapi waktu di toilet saya melihat gadis yang sangat mirip wajahnya dengan ****** itu, mungkin itu karena efek dari minuman yang saya minum. Lalu saya lepas kendali dan mencium gadis asing yang tidak saya kenal." ucap Rey dengan nada penuh penyesalan.


Alisia yang mendengarnya jadi terdiam, baru kali ini dia mendengar seorang Rey yang dingin bicara dengan panjang lebar. Karena Rey biasanya bicara begitu singkat.


"Tapi bibir bapak yang terluka karena gigitan waktu itu, gapapakan." tanya Alisia.


"Kamu tau dari mana, apa gadis itu menceritakan semuanya." tanya Rey.


Alisia mengumpulkan keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Sebenarnya, gadis yang waktu itu bapak cium adalah saya." ucap Alisia dengan tertunduk, karena sekarang wajah nya sudah merah seperti kepiting rebus.


Rey yang mendengar nya tidak kaget, dia cuman tersenyum.

__ADS_1


"Kenapa bapak cuman diam?" tanya Alisia yang masih menunduk.


"Lihat saya Al." suruh Rey.


Alisia pun mengumpulkan keberanian nya untuk menatap wajah Rey.


"Jangan ledek saya." ucap Alisia.


Waktu Alisia melihat wajah Rey, Rey tersenyum waktu itu. Alisia terpana waktu melihat ketampanan nya.


"Maaf saya sudah melukai kamu, pasti itu ciuman pertama kamu kan." ucap Rey, nada bicara nya begitu lembut dan tidak dingin seperti biasanya.


"Iya gapapa, saya udah maafin kok. Tapi kenapa bapak nggak kaget." tanya Alisia.


"Sebenarnya saya udah tau kalau yang saya cium itu kamu, tapi saya ingin memastikan nya dengan pengakuan lansung dari kamu." ucap Rey.


"Bapak tau dari mana?" tanya Alisia.


"Wangi tubuh kamu, saya bisa mencium bau harum bunga daisy waktu itu. Ditambah kamu marah-marah tanpa sebab sama saya pagi itu, dan dugaan saya makin kuat dengan gambar dan pengakuan dari Siska. Awalnya saya bingung dan berpikir apa salah saya sampai kamu semarah itu, setelah saya ingat akan harum bunga daisy yang menempel di kemeja saya. Akhirnya saya tau kalau kamu yang saya cium." jelas Rey.


"Sepertinya saya harus ganti parfum." ucap Alisia.


"Jangan, saya suka bau bunga daisy. Bau nya begitu harum dan lembut, kamu jangan ganti yang lain." ujar Rey.


"Kenapa saya harus ikutin mau nya bapak?" bingung Alisia.


"Saya tidak tau, saya merasa bisa perlahan melupakan masa lalu saya karena kamu. Kamu membuat hidup saya yang dulunya gelap, perlahan sedikit berwarna." ucap Rey.


"Bapak suka sama saya?" tanya Alisia.


"Tolong jangan bicara tentang cinta pada saya." ucap Rey.


"Mungkin karena udah pernah disakitin sama mantan nya, balok es jadi trauma sama cinta." ucap Alisia dalam hati.


"Syukurlah jika kamu memang sudah memaafkan saya, sebagai ucapan permintaan maaf saya. Saya mau mengajak kamu untuk makan siang besok, apa kamu bisa." ucap Rey.


"Yah saya bisa pak." jawab Alisia.


"Kalau kamu pengen main kesini, main aja." suruh Rey.


"Iya pak, kalau gitu saya pulang dulu ya." pamit Alisia.


"Ayo saya antar kamu kedepan." ajak Rey ramah.


Alisia dan Rey pun meninggalkan taman bunga dan segera menuju halaman depan.


"Kamu hati-hati di jalan, jangan ngebut lagi." ucap Rey.


"Udah kebiasaan soalnya." jawab Alisia sambil tersenyum.


Alisia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Dia benar-benar gadis kecil yang langka." ucap Rey.


************


**kayak nya udah ada benih cinta deh antara Alisia dan Rey, semoga mereka berdua selalu bersama. episod selanjutnya semuanya tentang Alisia dan Rey, jadi tim Jimi harap barsabar ya.


 


follow @alfaazzahra\_2373**

__ADS_1


 


__ADS_2