
Setelah dari gudang tadi Alisia malah pergi ke kantin, sekarang moodnya benar-benar hancur.
"Bu, es jeruk satu." ucap Alisia ke penjaga stand.
"Sebentar ya neng." jawab ibu penjaga stand.
Lima menit kemudian, es jeruk yang dia pesan pun datang.
"Ini neng, lagi sakit ya bibirnya." ucap sang ibu.
"Nggak kok bu." jawab Alisia sambil memegang bibirnya.
"Nggak usah malu neng, lagian es jeruk bagus kok neng untuk sariawan atau kekurangan vitamin C." jelas sang ibu.
"Iya bu makasih." ucap Alisia.
Setelah ibu itu pergi, Alsia mengeluarkan sebuah cermin kecil dari roknya. dan dia kaget, ternyata itu adalah bekas luka karena ciuman semalam.
"Kok gue baru sadar sih kalau bibir gue luka, tau gini mending gue pakai masker tadi." gumam Alisia sambil memperhatikan luka di bibirnya.
Kring~~
Jam istirahat pun tiba, dan kantin hampir penuh didatangi oleh para manusia yang kelaparan.
"Woi Al, disini lo rupanya." ucap Chaca yang tiba-tiba duduk disebelah Alisia.
"Ada masalah apa lo sama pak Rey Al?" tanya Ikbal.
"Please deh Bal jangan bikin mood gue tambah ancur, gue malas banget bahas manusia salju." ucap Alisia kesal.
"Oke, maaf." ucap Ikbal.
"Kapan lagi nih kita jalan-jalan ke mol, kayaknya persahabatan kita agak renggang deh." ucap Chaca.
"Salahin tuh Ikbal, dia selalu ikut campur urusan gue." ucap Alisia sinis.
"Please ya Bal, lo gak usah lagi ikut campur urusan Alisia. Biar dia yang urus urusannya, gue gak mau ya gara-gara itu persahabatan kita jadi ancur. Kan gak lucu, yang ada dimana-mana persahabatan tuh hancur karena cinta bukan karena hal kayak gini." ucap Chaca ke pada dua sahabatnya yang lansung terdiam.
"Ini emang karena cinta Cha, emang gue yang salah. Gue salah udah jatuh cinta sama. Alisia." ucap Ikbal dalam hati.
"Maafin gue Cha, Bal. Gue terpaksa agak jahat ke lo berdua, soalnya gue gak mau lo berdua ngerasa sedih kalau gue nanti mati." ucap Alisia dalam hati.
"Kok lo berdua pada diam sih, dari tadi gue ngerasa ngomong sama patung." gumam Chaca.
"Gue cabut dulu ya." ucap Alisia.
"Lo mau kemana Al?" tanya Chaca.
"Cari angin." jawab Alisia singkat.
Di ruangan guru....
"Ada apa kamu mencari saya Siska, ada yang perlu saya bantu." tanya Rey.
__ADS_1
"Ada yang mau saya bicarakan pak, tapi bapak tolong bukak maskernya dulu." pinta Siska.
"Bicara saja, saya akan dengarkan. Saya tidak bisa membuka masker karena lagi sakit." tolak Rey.
"Tolong pak, ini tuh penting banget." bujuk Siska.
"Emangnya apa hubungan nya dengan saya menggunakan masker atau tidak." tanya Rey heran.
"Nanti apa yang bapak katakan tidak jelas, saya mau rekam pembicaraan saya dengan bapak." ucap Siska.
"Kenapa harus direkam segala, penting banget ya." tanya Rey.
"Iya pak, tolong saya donk pak." Ucap Siska memelas.
"Yaudah deh, hanya rekam suara kan." ucap Rey pasrah.
"Iya pak, cuman rekam suara." jawab Siska semangat.
"Kenapa perasaan ku gak enak ya." batin Rey.
Rey pun membuka maskernya, dan terkejutlah Siska waktu melihat luka pada bibirnya Rey.
"Ini kan luka karena bekas ciuman." gumamnya dalam hati.
"Sekarang cepat katakan apa yang ingin kamu bicarakan, saya harus pergi setelah ini." ucap Rey.
"Saya mau bicara tentang sejarah pak, kebetulan bapak kan guru sejarah." ucap Siska.
Handpon yang tadinya berguna untuk perekam suara, sekarang beralih fungsi jadi kamera.
"Sejarah cinta." jawab Siska cepat.
Rey yang mendengar Siska mengatakan kata cinta tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi datar, kalian taukan kalau Rey amat benci dengan sesuatu yang berbau dengan cinta.
Siska bicara tentang sejarah cinta padanya, jadi wajar saja jika raut wajahnya berubah.
"Jadi pak menurut bapak cinta itu seperti apa?" tanya Siska.
Rey yang berubah jadi kesal, datar, dan dingin memudahkan Siska untuk memoto dirinya. Karena Rey tak akan peduli dengan apa yang dilakukan oleh gadis itu, dia sudah terlanjur kesal karena gadis itu bicara tentang cinta.
Siska mengarahkan handponnya dengan hati-hati ketika membidik wajah Rey, setelah pas dia lalu menekan tombol untuk menjadikan sebuah foto.
Cekrek.. sebuah foto dengan pose wajah datar tanpa senyum telah siap.
"Cinta itu akan menghancurkan mu, tak ada akhir bahagia pada cinta." jawab Rey.
"Oohh, gitu ya pak. Yaudah kalau gitu makasih ya pak, saya izin keluar dulu." pamit Siska.
Lalu Rey pun mengangguk, setelah itu dia mengenakan kembali maskernya. Andai dia tau Siska hanya ingin mendapatkan fotonya pasti dia tak akan mau meladeni gadis itu, bukan karena Rey tak mau berfoto tapi pada bibirnya ada luka jadi dia menutupnya dengan masker. Tapi tetap saja nantinya luka bekas ciuman itu akan tersebar.
"Sekarang aku hanya perlu mencetak foto ini, dan menambahkan tulisan yang diinginkan Alisia." gumam Siska dengan tersenyum senang.
Di Taman belakang...
__ADS_1
"Jim, lo bantuin gue ya buat manjat ni pagar." ucap Alisia.
"Lo yakin Al mau bolos lagi, nanti kalau kakak lo tau gimana." tanya Jimi tak yakin.
"Itu urusan belakangan, yang penting sekarang gue mau keluar dari ni sekolah." ucap Alisia.
"Yaudah deh, tapi lo jangan bawa-bawa nama gue kalau nanti kena masalah." jawab Jimi setuju.
"Pasti, udah lo tenang aja." ucap Alisia.
Jimi membantu Alisia dengan menggendong nya agar bisa memanjat pagar lebih mudah, dan Jimi mengatakan sesuatu yang paling Alisia benci.
"Lo berat banget Al sumpah, gue rasa sekarang badan lo sedikit gendut deh." ucap Jimi ketika menggendong tubuh Alisia.
"Enak aja lo ngatain gue gendut." ucap Alisia tak terima.
Happ.. Alisia berhasil meloncat turun dari pagar, sekarang tinggal giliran Jimi. Tapi naas ketika Jimi melompat cowok itu malah jatuh dan berakhir dengan menindih tubuh Alisia, Alisia dibawah dan dia berada diatas. Sungguh posisi yang memalukan.
"Woi ngapain lo nindih gue, minggir tubuh lo berat." ucap Alisia dengan mendorong tubuh Jimi agar menjauh darinya.
"Sakit Al, udah tau gue jatuh bukannya ditolongin malah didorong." gumam Jimi.
"Lo jatuhnya diatas tubuh gue ogeb, gue yang rasain sakitnya karena ditimpa sama badan lo yang gede." bela Alisia.
"Badan gue bukan gede gendut kayak lo ya Al, badan gue ini berotot dan atletis." ucap Jimi bangga.
"Sekali lagi lo ngatain gue gendut kita gak akan temenan lagi." ancam Alisia serius.
"Yaelah Al baperan amat lo, gue kan cuma bilang lo gendut bukan jelek." ucap Jimi.
"Fine, mulai sekarang lo bukan temen gue." ucap Alisia lalu berdiri dan bersiap pergi meninggalkan Jimi.
"Salah gue apa?" tanya Jimi yang kemudian juga berdiri.
"Lo udah bilang gue GENDUT, dan gue paling gak suka kalau dibilang GENDUT." ucap Alisia dengan berteriak di telinga Jimi.
Lalu Alisia pun pergi meninggalkan Jimi yang masih bengong dan mengusap telinganya.
"Cewe aneh memang, gak ada sifat manis dan imutnya dia. Cuma dibilang gendut doank ngambek." gumam Jimi.
"Gue denger lo ngatain gue Jim." teriak Alisia dengan kesal dari jauh.
"Al tungguin gue." teriak Jimi sambil berlari menyusul Alisia.
Alisia sama seperti kebanyakan cewek diluaran sana, gak suka kalau dikatain **GENDUT.
***
**Ada yang kangen gak sama authorr ni....
tunggu yaaa, bakalan banyak Creazy UP buat kalian.
Oh iya, do'in aku ya agar bisa lulus tes buat masuk SMA fav. Kalau aku lulus masuk SMA fav nya, aku janji bakalan Creazy UP 30 chep buat kalian.
__ADS_1
Follow @alfaazzahra\_2373****