Rahasia Takdir Cinta

Rahasia Takdir Cinta
Dansa 2


__ADS_3

"Lo mau kemana, gue belum selesai ngomong sama lo. Jawab dulu pertanyaan gue." ucap Jimi.


"Gue bilang ga ada ya ga ada, terserah lo mau jalan sama siapa. Mau tante-tante kek, nenek-nenek kek, sama cowok pun kalau lo mau jalan gue gak akan peduli lagi." ucap Alisia.


"Tapi kenapa?" tanya Jimi.


"Karena gue gak cinta sama lo, lo mau tanya lagi gue akan tetap jawab kalau gue gak cinta sama lo." ucap Alisia dengan nafas yang terengah-engah.


"Ok, kalau emang itu pilihan lo. Gue gak akan ganggu lo lagi." ucap Jimi dengan nada sedih.


Tiba-tiba ponsel Alisia berdering, dia pun menormalkan nafas dan suaranya. Bisa khawatir nanti mereka kalau sampai tau Alisia baru selesai menangis.


"Iya Cha, kenapa." tanya Alisia.


"Acara dansa bentar lagi mulai, lo sama kak Jimi kemana. Oh ya lo harus cepetan kesini, soalnya ada pujaan hati lo." ucap Chaca.


"Pujaan hati apaan, lo jangan ngaco deh. Iya bentar lagi gue kesana." jawab Alisia.


Lalu sambungan telepon pun terputus.


"Gue bisa ngelupain lo kalau lo udah nemuin cowok yang lo cintai, dan cowok itu bisa ngejaga lo." ucap Jimi.


"Masalah ini kita bicarakan lain kali, sekarang kita kembali ke aula karena acara dansa nya akan segera dimulai. Lo gak mau bikin semua orang khawatir karena kita tiba-tiba menghilang dari pesta kan." ucap Alisia sambil berjalan menuju aula.


"Gue gak akan pernah bisa lupain lo Al, gue bisa terima kalau emang lo gak bisa cinta dan jadi cewek gue. Tapi gue gak bisa terima kalau lo nyembunyiin sesuatu dari gue, gue akan cari tau sendiri kalau emang lo gak mau kasih tau gue." ucap Jimi dalam hati lalu menyusul Alisia ke aula pesta.


"Lo kemana aja sih Al, non lo liat tuh itu siapa." ucap Chaca sambil menunjuk seseorang.


"Ah, itukan pak Jimi." ucap Alisia tak percaya.


Kesedihan nya tiba-tiba hilang begitu saja saat melihat Jimi berada didepan matanya.


"Lo jangan senang dulu, dia pasti bakalan ikut dansa kan. Lo emang nya tau pasangan dansa dia siapa." ucap Chaca.


"Lo kayaknya gak bisa liat gue senang deh, baru juga gue senang eh lo hancurin." ucap Alisia kesal.


"Lo berdo'a aja semoga tuhan berpihak sama lo, semoga waktu ganti pasangan dansa nanti pasangan lo itu dia." ucap Chaca.


"Semoga ya bisa dansa sama dia." ucap Alisia penuh harap.


"Baiklah semuanya, pesta dansa akan dimulai. Nanti saat lampu dimatikan maka kalian harus bsrtukar pasangan." jelas Irfan.


Musik pun mulai dimainkan, masing-masing pasangan mulai berdansa dengan pasangan mereka. Sedangkan Alisia terus melihat ke arah Rey, siapakah perempuan yang akan berdansa dengan nya. Alisia berharap Rey melihat bahwa dirinya ada disini, tapi itu semua hanya khayalan nya saja. Karena Rey sama sekali tidak melihat keberadaan nya.


"Lo liat apa dari tadi?" tanya Jimi yang mulai memegang tangan Alisia.


"Lo gak usah kepo, terserah gue mau liat apa. Lo kan gak peduli lagi sama gue." ucap Alisia sinis.


Mata Alisia terus menatap Rey, untungnya Rey berada dibelakang Jimi. Jadi Jimi tidak mengetahuin siapa yang dari tadi Alisia lihat dan perhatikan.


"Lihat deh Gi, anak aku sama kamu cocok banget." ucap Lidya.


"Iya, Alisia anakku sangat cantik dan Jimi yang tampan. Kalau mereka nikah pasti anak mereka bakalan lebih cantik dan tampan." ucap Anggi.


"Gimana kalau mereka kita jodohin aja." ucap Lidya.


"Untuk ini kita bicarakan nanti aja." ucap Anggi.


Ternyata pasangan dansa Rey adalah Sania sekretaris nya, Alisia sedikit kesal melihat nya.


Tibalah saat untuk bertukar pasangan, dan lampu pun dimatikan. Para pasangan dansa berpisah dari pasangan mereka, dan berdansa dengan orang yang mereka pegang. Jika mereka berdansa dengan sesama jenis, itu adalah nasib yang tidak bisa dihindari. misalkan pria dengan pria, maka dia harus menerima kenyataan kalau pasangan dansanya adalah pria.

__ADS_1


Alisia sedikit takut jika dia mendapatkan pasangan dansa yang tidak baik, Alisia merasakan ada seseorang yang menariknya. Semoga saja orang ini orang yang baik, Alisia memejamkan matanya karena takut. Dia bisa merasakan deru nafas dari orang yang kini menjadi pasangan dansanya, Alisia menebak orang ini adalah laki-laki.


Laki-laki itu memeluk pinggang Alisia dengan erat, Alisia ingin berontak tapi hatinya mengatakan jangan.


"Jangan takut, kamu tidak perlu takut." bisiknya tepat ditelinga Alisia.


Alisia tidak bisa menebak siapa orang yang menjadi pasangan nya, karena suaranya begitu kecil dan tak terlalu bisa didengar karena suara alunan musik.


Tiba-tiba lampu pesta pun kembali hidup, orang-orang yang mendapatkan pasangan dansa yang beruntung melanjutkan dansa mereka. Dan bagi yang kurang beruntung mereka lebih memilih berhenti berdansa, contohnya Ikbal dan Irfan mereka berdua mendapatkan pasangan dansa laki-laki. Jadi mereka lebih memilih berhenti.


Semua mata orang-orang tertuju pada Alisia, karena dia mendapatkan pasangan dansa seorang pria yang begitu tampan.


"Buka mata kamu, tidak perlu takut." ucap laki-laki itu dengan nada pelan.


Alisia pun mencoba berani untuk membuka matanya, dan dia sedikit kaget dan tak menyangka kalau pasangan dansanya adalah Rey. Rey tersenyum begitu lembut pada Alisia.


"Sa, saya gak mimpikan." ucap Alisia pada dirinya sendiri.


"Tentu kamu tidak bermimpi, kamu bisa berdansa." tanya Rey.


"Tapi bagaimana saya bisa berdansa dengan bapak, iya saya bisa kok berdansa." ucap Alisia.


"Itu hal yang mudah bagi saya, nanti saya akan menjawab pertanyaan kamu itu. Sekarang yang terpenting kita harus beradansa sebaik mungkin." ucap Rey.


Alisia pun mengangguk setuju, Alisia berdansa dengan Rey. Dansa mereka membuat semua tamu terkagum-kagum, dari cara mereka bertatapan sangat jelas kalau mereka saling mencintai.


"Wah, itu kan tuan muda swarn. Astaga gadis itu sangat cocok dengan tuan muda swarn yang tampan." ucap seorang perempuan yang berada didekat Lidya dan Anggi.


"Dari cara mereka bertatapan sangat jelas kalau mereka adalah sepasang kekasih, mereka sepertinya sangat mencintai." sambung seorang perempuan.


"Anggi, apakah pria benar kekasihnya Alisia." tanya Lidya.


"Itu tidak mungkin, Alisia selama ini hanya dekat dengan 3 cowok. Sedangkan pria itu belum pernah Alisia mengenalkan nya padaku." ucap Anggi yang juga bingung.


"Iya anak mu Jimi, lalu sahabatnya Ikbal. Dan satu lagi Doni kakak kelas nya waktu SMP yang sekarang berada di London. Jadi sangat tidak mungkin kalau itu kekasihnya Alisia." jelas Anggi.


"Semoga saja begitu, aku sangat ingin Alisia menjadi menantuku." ucap Lidya.


Andai saja jika Lidya tau kalau anak nya sudah ditolak berkali-kali oleh Alisia, apakah dia masih berharap Alisia menjadi menantunya.


"Bagaimana bisa Rey mengenal adikku, ini tidak bisa dibiarkan." ucap Irfan.


"Pak, kita menjadi pusat perhatian. Dan orang-orang sepertinya sedang membicarakan kita." ucap Alisia pelan pada Rey.


"Tidak apa-apa, biar mereka tau kalau kamu adalah milik saya. Biar mereka tau kalau saya mencintaimu." ucap Rey.


Pipi Alisia pun merah karena mendengar ucapan Rey, jantung nya terus berdegup begitu kencang. Kalau dia tidak segera menormalkan detak jantungnya, mungkin saja dia akan mati dalam pelukan Rey sekarang.


"Jika kamu takut, kamu tempelkan kening kamu pada kening saya. Lalu tatap mata saya saja, anggap diruangan ini hanya ada kita berdua." ucap Rey begitu lembut.


Alisia pun menurut, dia menempel kan keningnya pada kening Rey. Dan sekarang wajah mereka tidak berjarak sama sekali, Alisia bisa merasakan deru nafas Rey yang begitu lembut. Mata mereka saling bertatapan, saling tersenyum satu sama lain. Seolah hanya ada mereka berdua disini.


"Kalau terus seperti ini, saya bisa mati." ucap Alisia pelan.


Alisia begitu gugup ditatap dari dekat oleh Rey, terlebih lagi tidak ada jarak diantara mereka berdua.


"Apa kamu ingin menyudahi dansa nya, kalau iya saya ingin mengajak kamu ke suatu tempat." ucap Rey.


"Kemana?" tanya Alisia.


"Kamu akan tahu nanti, tapi sebentar lagi baru kita sudahi dansanya. Saya ingin menatap mata kamu dari dekat lebih lama." ucap Rey.

__ADS_1


"Bal, lo liat deh baik-baik. Kayaknya Alisia sahabat kita yang ceroboh dan aneh itu benar-benar udah jatuh cinta deh sama pak Rey." ucap Chaca.


"Yah, jika itu emang bisa buat dia bahagia. Maka gue juga harus ikut bahagia, dan gue harus bisa lupain rasa cinta gue ke Alisia." ucap Ikbal.


"Gue salut sama lo, demi persahabatan lo mau ngorbanin perasaan lo sendiri." ucap Chaca.


Di lain tempat di sebuah ruangan.


"Kamu kenapa dari tadi papa lihat gelisah terus." ucap Alex.


"Gapapa kok pa." jawab Irfan.


Saat ini Irfan begitu khawatir pada adiknya, bagaimana kalau Rey menyakiti adiknya karena Rey dendam padanya.


"Papa lihat dari cara Al menatap tuan muda swarn, sepertinya Al sangat mencintai nya." ucap Alex.


"Pa, tadi Lidya bilang kalau dia ingin kita menjodohkan Alisia dan Jimi." ucap Anggi.


"Lalu apa mama mengiyakan ucapan Lidya." tanya Alex sedikit kaget.


"Tidak, mama belum menjawab pertanyaan nya itu." jawab Anggi.


"Syukurlah kalau begitu, untuk pasangan biar lah Al yang menentukan pasangan nya. Kita sebagai orangtua hanya bisa mendukung dan memberikan nasihat padanya, kita tidak berhak menentukan dengan siapa anak kita akan berjodoh." ucap Alex bijak.


"Boleh dengan siapapun, asal jangan dengan tuan muda swarn." ucap Irfan.


"Memang nya kenapa, setahu papa Rey adalah orang yang baik. Bukankah Rey teman baikmu." tanya Alex heran.


"Papa kenal dengan pria yang tadi berdansa dengan Alisia, tapi Alisia belum pernah mengenalkan nya sama mama." ucap Anggi.


"Hanya sekedar kenal karena ayahnya adalah rekan bisnis papa dulu, dan setahu papa Irfan dan Rey itu teman baik. Jadi apa salahnya jika Alisia berpacaran dengan Rey." ucap Alex.


"Tidak apa-apa, hanya menurut Irfan Rey kurang baik saja buat Al." jawab Irfan.


Orangtuanya tidak boleh tau masalah antara dia dan Rey, jika orangtuanya tau pasti mereka akan kecewa atas apa yang dia lakukan di masalalu.


"Kamu tidak bisa membuat kesimpulan begitu saja, kebahagiaan adikmu kamu tidak bethak ikut campur." ucap Alex.


Irfan pun diam dan tak membantah ucapan papa nya, sekarang yang perlu dia lakukan adalah menyelidiki hubungan antara adiknya dan Rey.


Di aula pesta...


"Eh, itu Alisia mau dibawa kemana sama pak Rey." ucap Chaca.


"Udah biarkan saja, pak Rey tidak mungkin menyakiti Alisia." ucap Ikbal.


Jimi dari tadi terus memperhatikan Alisia dari jauh.


"Apa karena kamu sudah mencintai pak Rey, makanya kamu tidak peduli lagi padaku." ucap Jimi dalam hati.


Rey membawa Alisia keluar dari aula pesta menuju parkiran.


"Itu, sebenarnya kita mau kemana." tanya Alisia.


"Kamu akan tahu nanti, kalau saya kasih tau sekarang nanti tidak jadi kejutan. Sama ada hal penting yang ingin saya bicarakan sama kamu." ucap Rey.


Alisia pun penasaran hal penting apa yang ingin Rey bicarakan padanya.


Sampai di parkiran mereka pun segera meninggalkan tempat pesta, dan pergi menuju tempat yang Rey katakan sebagai keejutan untuk Alisia.


*************

__ADS_1


Wah ada dendam apa nih antara Rey dan Irfan, bagi yang tau jawab di komentar donk. Sepertinya hubungan antara Alisia dan Jimi makin memburuk, bagaimana nanti ya cara Alisia memperbaiki hubungan nya dengan Jimi. Sesuai permintaan kalian aku hari ini creazy UP 10 chepter, tapi UP nya satu-satu. Jadi kalian harus sabar ya.


__ADS_2