
Hari ini adalah hari terakhirnya Alisia dirawat dirumah sakit, sekarang dia sedang melihat anak-anak kecil bermain di taman Rumah Sakit. Mamanya pergi sebentar menemani papanya dikantor karena ada pertemuan dengan kolega bisnis dari luar negeri.
Sedangkan Irfan akan datang nanti untuk menjemput nya, jadi sekarang dia hanya sendiri sehingga dia bisa keluar untuk mencari angin.
"Akhirnya gue bisa juga keluar dari ruangan pengap itu." gumam Alisia.
Alisia duduk di bangku taman sambil melihat anak-anak kecil yang menggunakan pakaian rumah sakit bermain dengan riang.
Di Kantor Perusahaan Rey...
"Pak, 1 jam lagi kita ada meeting dengan perusahaan dari Jepang." Sania memberi tau jadwal Rey.
"Batalkan saja, saya ada urusan penting hari ini." ucap Rey dengan nada dingin seperti biasanya.
"Tapi pak, ini tentang penandatanganan kontrak kerja sama dengan perusahaan mereka." jelas Sania.
"Saya suruh batalkan ya batalkan saja, ada yang lebih penting dari kontrak kerja sama itu." ucap Rey tak mau di bantah.
"Kalau mereka membatalkan kerja samanya bagaimana pak." tanya Sania.
"Yasudah cari perusahaan lain yang mau kerja sama dengan kita, lagian perusahaan kita ini sudah masuk pasar global. Jadi pasti banyak perusahaan yang ingin bekerja sama dengan kita." jelas Rey.
"Baik pak, kalau gitu saya permisi." pamit Sania.
Rey lalu membereskan berkas-berkas di mejanya, kemudian dia mengambil kunci mobil dan segera pergi meninggalkan perusahaan nya.
"Semoga anak itu belum pulang." gumam Rey.
Rey melajukan mobilnya menuju Rumah
Sakit, sepertinya dia ingin menjenguk Alisia.
Setelah sampai di Rumah Sakit Rey
memarkirkan mobilnya dan berjalan cepat menuju ruangan Alisia dirawat.
Sampai diruangan Alisia, Rey tidak menemukan Alisia berada didalam.
"Kemana gadis itu, apa dia sudah pulang." batin Rey.
"Eh, tuan cari nona ya." ucap seorang perawat.
"Iya, dimana dia?" tanya Rey.
"Nona ada di taman tuan." jawab perawat itu.
Tampa banyak tanya Rey lansung pergi ke taman Rumah Sakit, di taman Rey melihat Alisia yang sedang tersenyum manis melihat anak-anak kecil yang bermain.
Rey berjalan menuju bangku tempat Alisia duduk, lalu dia duduk disebelah gadis itu.
"Kamu pulang hari ini kan." tanya Rey tanpa melihat Alisia.
Sontak Alisia melihat ke Rey, raut wajah yang tadi tersenyum sekarang berubah jadi datar.
"Ngapain bapak kesini?" tanya Alisia tak suka.
"Ini tempat umum, jadi terserah saya mau kesini atau nggak." jawab Rey dingin.
"Yaudah kalau gitu saya permisi." Alisia berdiri hendak pergi, namun pergelangan tangannya ditahan oleh Rey.
"Saya mau bicara sama kamu." ucap Rey serius.
"Kalau bapak mau bicara tentang gambar itu saya nggak mau jawab." ucap Alisia.
"Saya tidak bicara tentang gambar itu, saya mau bicara tentang kamu." ucap Rey.
"Tentang saya?" tanya Alisia.
"Iya, makanya sekarang kamu duduk dulu. Soalnya ini penting." Rey menatap Alisia serius.
Alisia pun menurut, dia duduk lagi dibangkunya. Alisia menatap Rey bingung, soalya Rey ingin bicara tentang dirinya.
"Apa yang mau bapak bicarain tentang saya." tanya Alisia bingung.
"Apa saya pernah mencium kamu?" tanya Rey.
Pertanyaan Rey membuat pipi Alisia merah, dia lansung menunduk tidak mau menatap wajah Rey.
"Kenapa bapak menanyakan hal itu?" tanya Alisia.
"Soalnya cuman kamu yang tau penyebab bibir saya terluka, okay saya akui bibir saya luka memang karena ciuman. Tapi sungguh saya tidak tau siapa gadis yang saya cium." jelas Rey.
"Apa kamu kenal dengan gadis yang saya cium, saya mau minta maaf sama dia soalnya waktu itu saya dalam keadaan mabuk. Jadi saya tidak ingat kalau saya menciumnya." ucap Rey.
"Bukan cuma kenal pak, orang yang bapak cium itu saya." tapi sayangnya Alisia cuman mengucapkan kalimat itu dalam hati.
"Saya tidak kenal, dan saya tidak tau-menau tentang bapak mencium orang atau tidak. Itu bukan urusan saya, saya permisi." ucap Alisia.
"Hei, tunggu kamu mau kemana?" tanya Rey.
"Sepertinya kakak saya sudah tiba untuk menjemput saya pulang, jadi saya permisi dulu pak." pamit Alisia.
Alisia berjalan dengan cepat untuk menghindar dari Rey, awalnya Rey dapat menyusul nya tapi syukurlah Rey bertabrakan dengan orang sehingga Alisia bisa kabur.
"Al, kamu darimana. Kenapa tergesa-gesa kayak dikejar setan." tanya Irfan.
"Bukan apa-apa kok kak, kita pulang sekarang kan." tanya Alisia dengan nafas terengah-engah.
"Iya, kamu tunggu disini dulu. Kakak mau lunasin adeministrasinya." ucap Irfan.
"Okay, cepeten ya kak." ucap Alisia.
Irfan pergi ke resepsionis untuk melusi semua pembayaran biaya Rumah Sakit selama Alisia dirawat. Dalam perjalanan menuju kesana Irfan berpapasan dengan Rey.
"Apa kabar brengse*." sindir Rey dengan senyuman devil miliknya.
"Elo lagi, gak nyangka gue bisa ketemu lagi dengan iblis kayak lo." ucap Irfan.
"Lo yang iblis, mengambil milik orang lain sesuka hati." sindir Rey.
"Terserah lo mau bilang apa, seharusnya lo terimakasih sama gue." ucap Irfan.
"Terimakasih sama orang yang udah hancurin pernikahan gue, sorry gue gak sebodoh yang lo kira. Lo ingat ya, gue akan tetap cari cara buat hancurin perusahaan lo." ucap Rey serius.
"Lakuin aja hal yang bisa buat lo bahagia, gue mau ngundang lo. Dalam waktu dekat ini perusahaan milik gue ngerayain hari ulang tahun yang ke tiga, jadi gue harap lo bisa hadir." ucap Irfan lalu beranjak pergi dari Rey.
"Sombong lo fan, gue pastiin lo akan hancur sehancur-hancurnya." ucap Rey dengan seringai lebarnya.
Setelah membayar biaya Rumah Sakit Irfan kembali ke ruangan rawat Alisia untuk menjemputnya.
"Kok kakak lama banget sih." kesal Alisia.
"Kakak ada urusan sebentar tadi, sekarang ayo kita pulang." ajak Irfan.
Alisia dan Irfan pun pergi meninggalkan Rumah Sakit dan kembali ke rumah mereka.
Di tengah perjalanan pulang...
"Akhirnya aku bebas juga dari ruangan terkutuk itu." ucap Alisia.
"Besok kamu gak usah sekolah dulu, istirahat dirumah. dan kamu harus ingat pulang pergi sekolah kamu diantar sama supir. Kalau papa sama kakak gak sibuk kamu berangkatnya sama kita nanti pulangnya di jemput sama supir." jelas Irfan.
"Iya kak, Al udah tau kok." ucap Alisia kesal.
"Ada yang kamu gak tau." ucap Irfan.
"Apa?" tanya Alisia.
__ADS_1
"Mama akan selalu dirumah sekarang buat jagain kamu, mama udah gak jadi asisten papa lagi. Jadi kamu gak bakal kesepian lagi dirumah." jelas Irfan.
"Kakak serius?" tanya Alisia semangat.
"Iyalah, emangnya kakak bercanda." ujar Irfan.
"Tapi mereka gak terpaksa kan kak ngelakuin nya." tanya Alisia.
"Ya nggak lah dek, kayaknya mama sama papa udah sadar kalau kamu itu lebih berharga dari apapun termasuk bisnis mereka." ucap Irfan.
"Ooh, bagus deh kalau gitu." jawab Alisia.
Setelah itu tidak ada lagi percakapan diantara mereka.
Setelah istirahat dua hari dirumah atas permintaan mamanya, sekarang Alisia telah sekolah seperti biasa.
"Gue seneng Al lo udah sekolah, soalnya kalau gak ada lo gue gatau mau contek pr sama siapa." ucap Chaca.
"Yah, jadi lo bersyukur deh karena gue udah sembuh." jawab Alisia.
"Lo gak ngerasain sakit lagi kan Al, kalau sakit lo harus buru-buru ke Dokter." ucap Ikbal.
"Plis Bal jangan mulai lagi deh, gue gak mau bahas itu. biar penyakit gue jadi urusan gue." ucap Alisia.
"Ayolah gays, kita baru ngumpul lagi nih jangan berantem donk." ujar Chaca.
"Ikbal sih Cha, ikut campur mulu sama urusan gue." ucap Alisia kesal.
"Gue bukannya ikut campur Al, gue cuman mau yang terbaik buat lo." ucap Ikbal.
"Terserah lo deh, males gue debat sama lo." ucap Alisia lalu dia beranjak pergi dari sahabatnya.
"Eh, lo mau kemana Al?" tanya Chaca.
"Kantin." jawab Alisia singkat.
"Elu sih Bal, udah tau juga Alisia gak suka kalau kita ikut campur sama urusannya." ucap Chaca.
''Gue cuman mau yang terbaik buat dia, gue sayang dan cinta sama dia Cha. Tapi dia gak pernah tau itu." ucap Ikbal.
"Gue tau lo cinta sama Alisia, tapi cara lo itu yang salah. lo harusnya lakuin apa yang dia suka, dukung pilihan nya. Bukan nya lo ikut campur dan ngatur kehidupan dia Bal." jelas Chaca.
"Emang kalau gue lakuin semua yang Alisia suka dia bakal cinta sama gue." tanya Ikbal.
"Cinta itu gak bisa dipaksa Bal, kalau orang nya gak mau yaudah jangan dipaksa. Setidaknya lo dukung semua pilihan Alisia sebagai sahabat nya dan lupain semua rasa cinta lo ke dia." nasihat Chaca.
"Gak bisa Cha, gue udah terlanjur sayang sama Alisia." ucap Ikbal.
"Bisa kalau lo mau Bal, yang ada dengan sikap lo yang suka ikut campur semua urusan Alisia dia bakal benci dan ngejauh dari lo Bal." jelas Chaca.
"Kok lo jadi nyalahin gue sih Cha, harus nya lo dukung gue donk." ucap Ikbal kesal.
"Gue bukan nyalahin lo, lo sadar gak sih Bal. gara-gara rasa cinta lo itu Alisia makin ngejauh dari lo." ucap Chaca.
Ikbal yang mendengarnya jadi terdiam, benar juga apa yang Chaca bilang. gara-gara rasa cintanya itu sahabatnya makin menjauh.
"Gue akan coba lupain Alisia." ucap Ikbal.
"Nah gitu donk, jadi lo gak usah galau lagi karena patah hati. Gue yakin lo bisa move on dari Alisia." ucap Chaca.
Di Kantin Sekolah...
Alisia duduk sendirian sambil menikmati jus jeruknya, sampai tiba-tiba seseorang datang dan membuat nya kaget.
"Woi, bengong aja lo. Kesambet baru tau rasa." ucap Jimi.
"Apaan sih lo Jim, gajelas banget sumpah." ujar Alisia.
"Al, lo nanti pulangnya bareng gue ya." pinta Jimi.
"Ya bilang donk ke supir nya lo mau pulang bareng gue." ucap Jimi.
"Emang nya gue mau pulang sama lo." tanya Alisia.
"Serius donk Al, gue nanti pengen lo nemenin gue latian basket buat turnamen besok." ucap Jimi.
"Hmm gimana ya, yaudah karena gue kasian lo gue temenin deh latian basket nanti." ucap Alisia setuju.
"Thanks ya, gue pergi dulu ada urusan." Jimi mengacak rambut Alisia.
"Rusak rambut gue ogeb." teriak Alisia.
Kring~~~~
Bel pulang pun berbunyi
Alisia sekarang sedang dikelasnya dan tengah menelpon supirnya.
"Gimana, udah selesai belum." tanya Jimi.
"Udah kok, gue udah bilang kalau gue pulang sama temen jadi dia gak perlu jemput." jawab Alisia.
"Yaudah yok kita ke lapangan basket." ajak Jimi.
"Lo tunggu gue disini ya, gue mau ganti baju dulu. Lo jangan kemana-mana." ucap Jimi.
"Siap kapten." jawab Alisia.
beberapa menit kemudian Jimi selesai mengganti pakaian nya. Lalu dia menghampiri Alisia yang menunggunya di bawah pohon.
"Gue lama ya?" tanya Jimi.
"Nggak kok Jim, lo latiannya sampai jam berapa." tanya Alisia.
"Sampai jam setengah 5 sih, lo gapapa kan nunggu gue." ucap Jimi.
"Ngga papa sih, eh mereka udah pada kumpul tu. Mendingan lo kesana." suruh Alisia.
"Lo tunggu gue disini ya sampai selesai latian, lo jangan kemana-mana." ucap Jimi.
"Iya, udah sana lo pergi."
Jimi bermain dengan begitu keren di lapangan, sampai Alisia terpesona dengan kemampuan nya. Permainan Jimi dalam basket patut diacungkan jempol, jadi pantas saja dia jadi kapten basket.
"Sumpah, lo keren banget Jim." teriak Alisia dari pinggir lapangan.
Setelah selesai latihan Jimi lansung menghampiri Alisia.
"Kita pulang yok Jim." ajak Alisia.
"Yok, tapi kita pamit dulu sama anak-anak." ucap Jimi.
Alisia dan Jimi pergi ke kumpulan anak basket yang satu tim dengan Jimi.
"Woi, gue balik duluan ya." pamit Jimi.
"Tumben lu pulangnya cepet Jim." ujar seorang teman Jimi.
"Iya soalnya Alisia baru sembuh, gue takut kalau kelamaan nunggu gue dia nanti sakit lagi." ucap Jimi.
"Lo sama Alisia pacaran ya?" tanya nya.
"Do'ain aja." ucap Jimi sambil menggandeng tangan Alisia.
"Lo kok ngomong nya gitu sih, kalau mereka salah paham gimana." ucap Alisia.
"Yah bagus donk kalau mereka salah paham dan ngira kita pacaran." ujar Jimi santai.
__ADS_1
Di perjalanan pulang Alisia cuman diam, dia kesal dengan Jimi.
"Lo marah ya sama gue, karena gue secara gak lansung pengen lo jadi pacar gue." tanya Jimi.
"Lo pikir aja sendiri." jawab Alisia.
Setelah itu tidak ada lagi percakapan diantara mereka, sampai dirumahnya Alisia masih kesal dengan Jimi.
"Senyum donk." ucap Jimi sambil mencubit pipi Alisia gemas.
"Sakit tau Jim." ucap Alisia.
"Udah sana masuk, istirahat habis itu minum obat. Besok pagi lo berangkat sama gue, gak ada penolakan." ucap Jimi.
"Gue pulang dulu ya." pamit Jimi sambil mengusap kepala Alisia.
"Hati-hati, lo jangan lupa istirahat." teriak Alisia.
Setelah motor Jimi menghilang dari pandangan nya, Alisia segera masuk ke rumahnya. Ternyata di ruang tamu sudah ada mamanya.
"Itu tadi siapa sayang." tanya Anggi.
"Teman ma." jawab Alisia sambil duduk di sofa sebelah mamanya.
"Kok mama baru liat, teman baru ya." ucap Anggi.
"Enggak kok ma, mama aja yang jarang di rumah makanya gak ketemu sama dia." jawab Alisia.
"Kemaren waktu kamu sakit dia jenguk kamu gak." tanya Anggi.
"Jenguk ma, pas hari ke dua aku dirawat. Waktu itu mama pulang sebentar jemput makanan buat Al." ujar Alisia.
"Kenalin donk dia ke mama, ajak main kerumah." pinta Anggi.
"Hmm, lain kali yah ma. Al pasti ngenalin mama ke dia." ucap Alisia.
"Namanya siapa sayang?" tanya Anggi.
"Jimi ma, Jimi Ardiansyah." jawab Alisia.
"Jimi Ardiansyah, kok mirip ya nama nya sama anak teman mama." ujar Anggi.
"Kebetulan aja mungkin ma, Al keatas dulu ya mau mandi." ucap Alisia.
"Yaudah sana, nanti turun ya waktu makan malam." ucap Anggi.
"Iyah ma." jawab Alisia.
Pagi nya di rumah Alisia...
"Hari ini aku berangkat sama teman." ucap Alisia.
"Sama siapa Al." tanya Alex.
"Jimi pa, Al nanti juga pulang telat soalnya mau nonton turnamen basket." jelas Alisia.
"Gak boleh." larang Irfan.
"Apaansih kak, orang bicara sama mama papa bukan sama kakak. Nyambung aja." gumam Alisia.
"Kamu berangkatnya sama supir, dan pulang sekolah langsung pulang ke rumah." ucap Irfan.
"Gak mau, orang udah janji." ucap Alisia.
"Kamu pergi aja sayang, dan berangkat sekolah bawa aja mobil kamu." ucap Alex.
"Jadi Al udah boleh nih pa bawa mobil Al sendiri." tanya Alisia semangat.
"Boleh donk sayang, emang ada yang larang kamu. Itukan mobil punya kamu hadiah ulang tahun kemarin dari papa." ucap Alex.
"Adalah pa, tuh si manusia purba yang larang." ucap Alisia sambil melirik Irfan.
"Manusia purba?" bingung Anggi.
"Kak Irfan ma." jawab Alisia.
"Kok kakak kamu di kasih nama manusia purba?" tanya Alex.
"Emang dia hidup nya di jaman purba pa, kuno banget jadi orang. Ini gak boleh, itu gak boleh kan aneh." sindir Alisia.
"Kakak kamu melarang juga pasti ada sebab nya sayang." ujar Alex.
"Ada sebab sih ada sebab, tapi gak semua juga sih dilarang." ujar Alisia.
"Al, lo udah siap belum." teriak seorang cowok dari luar.
"Mah pa Al berangkat dulu ya, Jimi udah sampai." pamit Alisia.
"Hati-hati Al, sampein salam papa buat Jimi ya. Lain kali ajak dia main kerumah." ucap Alex.
"Siap pa." jawab Alisia.
Alisia tak memperdulikan Irfan yang dari tadi cuman diam, sepertinya Irfan kesal pada adiknya itu karena diaduin ke mama papa nya.
"Al ada yang kelupaan." teriak Irfan.
"Apaan." tanya Alisia.
Irfan mengangkat tangan nya agar Alisia salim.
"Ohh salim, Al kira apaan." ujar Alisia.
Alisia menyalim tangan Irfan, tak lupa menginjak kaki kakaknya.
" Al berangkat ya kak." teriaknya sambil beralri.
sedangkan Irfan mengadu kesakitan sambil memegangi kakinya.
"Awas ya kamu nanti malam Al." teriak Irfan dari dalam rumah.
"Kenapa tuh kakak lo teriak, lo apain dia Al." tanya Jimi.
"Gapapa, udah yok berangkat nanti kita telat lagi." ajak Alisia.
"Kayak murid rajin dan disiplin aja lo neng." canda Jimi.
"Banyak bacot lo, buruan jalan." ucap Alisia.
"Sabar donk Al." ujar Jimi.
Lalu mereka berdua pun berangkat ke sekolah, Jimi mengendarai motor nya dengan kecepatan sedang.
****
**menurut kalian Jimi sama Alisia cocok gak?
Kalian tim siapa nih...
tim Jimi atau tim Rey?
buat kalian semua tetap jaga kesehatan ya, jangan sampai sakit. Oh ya, aku pengen kenalan donk sama kalian. Kalian bisa chat aku di group chat, aku penasaran siapa aja yang suka sama cerita ini.
follow @alfaazzahra\_2373**
__ADS_1