
Semenjak pengakuan Rey waktu itu, kalau dia tidak ingin Alisia meninggalkan nya. Maka Alisia pun berusaha keras untuk tetap hidup dan melawan penyakit yang dia derita.
Nanti malam adalah hari ulang tahunnya perusahaan milik Irfan, perusahaan yang dia dirikan dari nol. Padahal dia adalah pewaris perusahaan milik ayah nya, dan akan menggantikan ayah nya menjadi seorang CEO. Tapi dia berkata dia ingin mandiri, makanya dia mendirikan perusahaan miliknya. Walaupun pada akhirnya dia tetap akan menjadi pewaris "Rennald Group".
Pagi harinya di Rumah Alisia...
"Al, mama udah pesan gaun untuk kamu pakai nanti malam dari desainer terkenal." ucap Anggi.
"Kamu hari ini pulang sekolah nya jangan terlambat ya." ucap Alex.
"Tenang aja pa, malam nanti Al akan jadi princes tercantik." ucap Alisia.
"Awas aja kamu dandan nya gak cantik." ucap Irfan.
"Al ini udah cantik dari lahir, walaupun gak pakai make up udah cantik. Iya kan ma." tanya Alisia minta pembelaan.
"Iya Fan, adik kamu itu cantik nya alami." ucap Alex.
"Dengerin tuh." ucap Alisia bangga.
"Al berangkat dulu ya." pamit Alisia.
Alisia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, waktu lampu merah dia menurunkan kecepatan mobilnya. Dan dia melihat Jimi yang sedang membonceng seorang cewek.
"Itu kan Jimi, kayaknya itu cewek kemarin yang bernama Clara itu deh. Syukurlah jika Jimi udah bisa lupain gue." ucap Alisia.
Setelah lampu berubah warna jadi hijau, Alisia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sampai di sekolah dia tiba nya bersamaan dengan Jimi.
"Hai, Al gimana kabar lo." tanya Clara.
"Mata lo buta atau gimana, jelas gue sehat dan baik-baik aja lah." jawab Alisia.
"Sayang, kayaknya dia cemburu deh liat kemesraan kita." ucap Clara pada Jimi.
"Prett, cemburu dari mananya. Yang ada gue pengen muntah liat kalian berdua, sejak kapan selera lo rendah kaya gini Jim. Mendingan lo balikan aja sama Farah dari pada pacaran dengan cabe-cabean." ucap Alisia.
"Awas ya lo, enak banget tu mulut bilang gue cabe-cabean." ucap Clara emosi.
"Fakta kan yang gue bilang." sindir Alisia.
Clara pun bersiap untuk menampar pipi Alisia, tapi lansung ditahan oleh Jimi.
"Jangan pernah lo sakitin Alisia, walaupun sekarang lo pacar gue. Tapi jangan harap lo bisa nyentuh dia dengan tangan kotor lo." ucap Jimi ke Clara.
"Tapi sayang aku kan pacar kamu, sedangkan dia cuman cewek yang gak punya hati dan membuang kamu. Kenapa kamu bela dia yang cuman sampah dan bukannya bela aku pacar kamu." ucap Clara tak terima.
"Jaga ucapan lo." marah Jimi pada Clara.
"Kapan gue membuang Jimi, yang ada Jimi yang ninggalin gue dan milih lo." ucap Alisia.
"Maaf kan kelancangan mulut cewek ini." ucap Jimi meminta maaf pada Alisia.
"Lo gak salah, ngapain lo yang minta maaf. Mulut mak lampir itu aja yang gak pernah disekolahin." ucap Alisia.
"Lo." ucapan Clara terpotong karena Jimi yang menarik nya pergi.
"Maaf." ucap Jimi pada Alisia.
"Lo udah berubah Jim." gumam Alisia sambil melangkah menuju kelasnya.
Sewaktu berjalan Alisia melihat Rey yang ingin masuk ke kantor, lalu dia pun memanggil nya.
"Pak." panggil Alisia dari jauh.
Rey pun menoleh dan menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Rey.
"Ga ada, cuman pengen ketemu bapak aja." ucap Alisia.
"Kebetulan kamu disini, nanti malam saya mau ajak kamu ke acara ulang tahun perusahaan seseorang." ucap Rey.
"Seseorang, maksudnya." bingung Alisia.
"Saya akan kasih tau siapa dia setelah kita pergi." ucap Rey.
"Hmm, gimana ya pak. Saya mau banget pergi sama bapak, tapi nanti malam saya juga ada acara." ucap Alisia.
"Yasudah gapapa, semoga acara yang kamu hadiri sama dengan yang saya hadiri juga. Sehingga kita bisa bertemu disana." harapan Rey.
"Kamu ke kelas sana, sebentar lagi bel bunyi." suruh Rey.
"Kalau gitu saya permisi dulu ya pak." pamit Alisia.
__ADS_1
"Pak Rey kan CEO penting, jadi seharusnya kakak pasti ngundang dia ke acara ulang tahun perusahaan nya." batin Alisia.
Beberapa jam kemudian, bel pulang pun berbunyi.
Di parkiran sekolah...
"Lo berdua nanti malam datang ya, awas kalau ga datang." ucap Alisia ke pada dua sahabatnya.
"Gue jelas pasti datang." ucap Chaca.
"Nanti gue datang." ucap Ikbal.
Alisia pun lansung melajukan mobilnya pulang, karena mamanya meminta pulang cepat hari ini.
Malamnya di Aula Pesta tempat perayaan hari ulang tahun perusahaan Irfan.
"Sumpah lo cantik banget Al pakai gaun ini, siapa yang milihin gaunnya." tanya Chaca.
"Gue udah cantik juga kali kalau gak pakai gaun ini, mama yang mesanin gaunnya." jawab Alisia.
"Eh ada Ikbal sama Chaca, kalian apa kabar." tanya Anggi yang tiba-tiba datang.
"Baik tante, tante sendiri gimana." tanya Chaca.
"Tante juga baik, oh ya tante ada urusan. Kalian nikmati pesta nya ya." ucap Anggi yang kemudian berlalu pergi.
"Lo kenapa Bal, dari tadi diam aja." tanya Alisia.
"Acara kali ini, ada pesta dansa ya." tanya Ikbal.
"Iya ada, emang nya kenapa." tanya Alisia heran.
"Lo nanti bakal ikut dansa?" tanya Ikbal.
"Pasti donk gue ikut." jawab Alisia.
"Lo nanti dansa sama siapa?" tanya Ikbal.
"Gue dansa sama lo aja ya, kebetulan gue belum ada pasangan dansa. Lo gimana Cha." ucap Alisia.
"Gue gak ikut ah, gue gak jago dansa. Kak Irfan pasti udah ada pasangan dansa nya kan." gumam Chaca.
"Iya sih udah ada, tapi Bal nanti semua lampu bakal dimatiin pas ditengah pesta. Saat itu tuh semua pasangan dansa bakal tukar pasangan dengan pedansa lainnya." jelas Alisia.
"Kolega bisnis kakak gue gak ada yang aneh lah Bal, jadi lo gak usah khawatir." ucap Alisia.
"Al, tante kangen banget sama kamu." ucap seorang wanita paruh baya yang masih kelihatan muda dan cantik.
Wanita itu datang bersama anak laki-lakinya.
"Tante, Al pikir tadi siapa." ucap Alisia sambil memeluk wanita itu.
"Sayang kamu makin cantik, kamu tau gak kalau Jimi banyak cerita tentang kamu. Awalnya tante kira siapa cewek yang udah bikin Jimi berubah jadi lebih baik, eh gak taunya kamu." ucap wanita itu sambil membalas pelukan Alisia.
"Ma, gak usah di ungkit bisa gak sih." ucap Jimi.
Alisia dan wanita itu melepaskan pelukan mereka lalu saling tersenyum.
"Oh iya, Bal, Cha. kenalin ini tante Lidya teman nya mama gue dan sekaligus mamanya Jimi." ucap Alisia dengan tersenyum.
"Saya Chaca tante, dan ini Ikbal." ucap Chaca sambil memperkenalkan diri.
"Ma, Jimi kesana dulu." ucap Jimi hendak pergi.
"Eh, mau kemana kamu. Nanti dulu." cegah Lidya.
"Al, kamu nanti dansa sama Jimi ya." pinta Lidya.
"Ma, apaansih. Lagian Alisia pasti udah punya pasangan dansa." ucap Jimi.
Alisia bingung harus bagaimana, dia sedikit gak enak untuk menolak permintaan tante Lidya. Tapi disisi lain dia udah minta Ikbal untuk jadi pasangan dansa nya, masa tiba-tiba harus batalin.
"Gue nantinya dansa sama Chaca, lo dansa nya sama Jimi aja." ucap Ikbal tiba-tiba.
Alisia melihat Ikbal dengan tatapan tak mengerti, Ikbal yang mengerti dengan tatapan Alisia itu. Lansung melihat Alisia dengan tatapan seolah-olah dia mengatakan "Gue gapapa, gue tau lo gak enak buat nolak permintaan tante Lidya." Lalu Ikbal pun mengangguk setuju, dan Alisia akhirnya dia bisa bernapas lega.
"Iya tante, Al bisa kok dansa sama Jimi." ucap Alisia.
"Syukurlah kalau gitu, nanti kamu harus main kerumah ya. Soalnya tante udah kangen banget sama kamu, Jimi kamu jangan lupa bawa Alisia main kerumah." ucap Lidya.
"Sebenarnya anak mama itu aku atau Alisia sih." ucap Jimi jengkel.
"Kamu lah anak mama, tapi Alisia secepatnya bakal jadi anak mama juga." ucap Lidya lalu pergi begitu saja.
__ADS_1
"Tante, maksud tante apa." panggil Alisia.
"Maksud mama gue, lo bakal jadi menantunya." jawab Jimi.
"Menantu?" bingung Alisia.
"Udah gak usah lo pikirin, gue tau lo gak suka sama gue." ucap Jimi dingin.
"Bal, sebaiknya kita cabut aja yuk darisini. Dari pada kita jadi penonton." ajak Chaca pada Ikbal.
Ikbal dan Chaca pun diam-diam pergi meninggalkan Alilisia dan Jimi.
"Lo kenapa, gue punya salah apa sama lo." tanya Alisia.
"Cih, lo tanya salah lo apa. Lo pikir aja sendiri apa kesalahan lo." ucap Jimi yang lalu pergi dari aula pesta.
"Jim lo mau kemana, gue gak bakal tau kesalahan gue apa kalau lo gak ngomong." ucap Alisia sambil berjalan menyusul Jimi.
Alisia terus berjalan mengikuti Jimi, tanpa sadar dia sudah berada di taman belakang aula pesta.
"Tungguin gue, gue susah jalan nih karena gaun ini. Lo bukan nya bantu gue jalan malah ninggalin gue di belakang." omel Alisia.
Lalu Jimi pun tiba-tiba berhenti, dan Alisia yang tak melihatnya menabrak punggung Jimi.
"Aduh, lo kalau berhenti jalan tuh kasih aba-aba donk. Kepala gue sakit nih kebentur sama punggung lo." omel Alisia sambil mengusap kening nya.
"Lo bisa diam gak sih." ucap Jimi dingin.
"Mana bisa gue diam, lo berubah kayak gini sama gue dan gue gak tau penyebabnya apa." ucap Alisia.
"Gue kan suruh lo buat mikir sendiri kesalahan lo, apa ucapan gue kurang jelas." ucap Jimi dengan nada dingin.
"Mana bisa gue mikir kesalahan gue apa ogeb, udah deh lo gak usah becanda bisa gak sih." ucap Alisia mulai kesal dengan sikap Jimi.
"Gue gak becanda." gumam Jimi.
Alisia menarik tubuh Jimi agar berhadapan ke arahnya, sekarang mereka saling tatap-tatapan.
"Lo lihat gue baik-baik, sekarang lo pikir pakai otak lo itu. Yang tiba-tiba ngehindar dari gue siapa, yang jalan sama cewek lain siapa, yang tiba-tiba gak peduli dan ngejauh gitu aja siapa." tanya Alisia dengan emosi.
"Sekarang lo bilang ini salah gue, salah gue dimananya. Lo mikirin gak sih gimana perasaan gue saat lo ngejauh dan ngegindar dari gue, lo mikir gak sih gimana sakit nya hati gue saat lo gak lagi peduli sama gue." teriak Alisia didepan wajah Jimi.
"Mikirin perasaan lo bilang, sekarang gue tanya. Lo pernah gak sih sekali aja mikirin perasaan gue, gimana sakitnya hati gue lihat lo pelukan sama cowok lain." ucap Jimi.
Alisia seketika terdiam, dia tak bisa menjawabnya. Mulutnya seakan terkunci untuk menjawab pertanyaan dari Jimi.
"Gak pernahkan, jadi buat apa gue mikirin perasaan lo. Terserah gue mau ngejauh dan gak peduli lagi sama lo, terserah gue mau jalan sama siapa. Emangnya lo peduli saat gue jalan dan jadian sama Clara." ucap Jimi sinis.
"Gue emang gak peduli lo mau jalan dan jadian sama cewek manapun, tapi setidaknya lo gak ngejauh dan ninggalin gue." ucap Alisia dengan tangis yang tertahan.
"Cih, lo pikir airmata lo bisa buat gue kasian gitu. Gak akan, lo sadar gak sih kalau lo itu egois. Lo minta orang buat ngertiin perasaan lo, tapi lo sendiri gak pernah mau ngertiin perasaan orang lain." ucap Jimi dengan nada tajam.
"Gue emang egois, terus lo mau apa. Lo pikir lo udah ngertiin perasaan gue gitu, kalau emang lo udah ngertiin perasaan gue. Lo gak akan ninggalin gue." ucap Alisia dengan tangis yang sudah pecah.
Jimi yang tahan melihat gadis yang dia cintai menangis karena dirinya, lansung membawa Alisia ke pelukan nya.
"Maaf gue salah, lo jangan nangis lagi gue gak bisa lihat lo sedih." ucap Jimi mengeratkan pelukan nya.
"Lo bilang lo gak bisa lihat gue sedih, tapi lo sadar gak sih kalau diri lo sendiri yang bikin gue sedih." ucap Alisia sambil mendorong tubuh Jimi agar pelukan nya terlepas.
"Gue kaya gini ngejauh dan menghindar dari lo agar lo tau rasanya kehilangan, agar lo tau rasanya kehilangan." jelas Jimi dengan nada yang mulai melembut.
"Iya gue merasa kehilangan sekarang, kehilangan seorang sahabat yang begitu penting." gumam Alisia.
"Jujur sampai saat ini gue masih cinta dan sayang sama lo Al, dan selamanya akan tetap seperti itu. Gue masih belum bisa terima lo nolak gue tanpa alasan yang jelas." ucap Jimi.
"Gue sama sekali gak cinta sama lo, apa alasan ini cukup." ucap Alisia.
"Gue bisa terima kalau memang lo gak bisa cinta sama gue, tapi apa lo gak bisa kasih tau gue siapa cowok yang lo suka." ucap Jimi.
"Maaf, untuk itu gue sama sekali gak bisa kasih tau lo. Kalau memang lo gak masalah sama gue yang nolak cinta lo, terus kenapa lo menjauh." tanya Alisia.
"Gue ngerasa lo nyembunyiin sesuatu dari gue, dan itu yang bikin lo nolak cinta gue. Karena dari dulu lo selalu bilang kalau lo mau pergi ke tempat yang jauh, dan untuk cinta lo bilang itu bisa tumbuh dengan sendirinya. Jadi gak masuk akal kalau alasan lo nolak gue karena gak cinta." ucap Jimi yang membuat Alisia terdiam.
"Lo bilang sama gue, apa yang lo sembunyiin dari gue. Gue sama Clara itu cuma sebatas pelarian aja." ucap Jimi.
"Gue gak ada nyembunyiin apapun dari lo, terserah lo mau pacaran sama siapa gue gak akan peduli lagi." ucap Alisia hendak pergi.
*************
Guys, sebaiknya Alisia tetap merahasiakan nya atau jujur pada Jimi tentang sakitnya. Mungkin kalau jujur Jimi akan mengerti kali ya, tulis pendapat kalian di komentar.
Jangan lupa like nya...
__ADS_1