Rahasia Takdir Cinta

Rahasia Takdir Cinta
Kangen Ortu


__ADS_3

Pagi ini Alisia bangun dengan malas, gadis itu masih kesal karena kejadian kemarin. Sekarang dia sudah tak bisa lagi mengenderai mobil kesayangannya.


Berangkat kesekolah diantar oleh supir, pergi keluar harus izin. Siksaan berat apa lagi yang akan Alisia dapatkan.


Gadis itu menuruni tangga dengan raut wajah tak bersahabat, dimeja makan sudah ada mama, papa, dan tentunya manusia yang membuatnya kehilangan mood. Siapa lagi


kalau bukan kakaknya Irfan.


"Eh anak mama udah cantik aja ni." sapa Anggi ke Alisia.


"Ya jelas cantik donk ma, kan copyan mama dan hasil bikinan papa." ucap Alex bangga.


Tak ada tanggapan dari Alisia mengenai perbincangan mama dan papanya Itu.


"Mama sama papa kapan pulangnya?" tanya Alisia sambil menggigit roti berisi selai stroberi kesukaannya.


"Semalam sayang, hampir subuh." jawab Alex papa Alisia.


"Oooh, sekarang mama sama papa mau pergi lagi." tanya Alisia lagi.


"Iya sayang, emangnya kenapa? kamu ada perlu sesuatu." ucap Anggi.


"Gak ada, cuman pengen nanya aja." ucap Alisia datar tanpa melihat kearah Mamanya.


Mama dan papa Alisia memang bekerja satu kantor, karena besarnya rasa cinta Alex pada Anggi dia menjadikan istrinya itu sebagai asisten pribadinya. Jadi mereka selalu bersama, kemana pun Alex pergi Anggi juga akan ikut dengan suaminya itu.


Irfan yang dari tadi hanya menyimak percakapan pun akhirnya mengalihkan atensinya ke adiknya, dia melihat ada rasa kecewa dan kesedihan yang terpancar di raut wajah Alisia.


"Dek kamu hari ini berangkat sama kakak ya, oh iya, hari ini kakak mau ke Malaysia. Kamu mau nitip sesuatu?" tanya Irfan ke Alisia.


"Kakak juga pergi." ucap Alisia keget.


"kenapa semua orang dirumah ini sibuk dengan urusan mereka sendiri dan tak mempedulikan ku lagi. Apa aku sudah tak dianggap dan mereka tak menyayangi ku lagi." ucap Alisia dalam hati.


"Al cuman nitip kakak cepat pulang, dan nemenin Al dirumah. Al bosen sendiri dirumah, dirumah kayak gak ada kehidupan." lanjut Alisia, lalu gadis itu berdiri dari duduknya dan segera berjalan keluar.


Tapi sebelum itu dia menyalimi tangan mama dan papanya yang cuman diam karena ucapannya.


"Ayo kak berangakat, nanti Al telat." ajak Alisia ke Irfan.


Irfan yang mengerti akan perasaan adiknya lansung meninggalkan sarapannya yang belum habis, lalu berdiri dari duduknya dan pamit dengan Alex dan Anggi.


"Ma pa, aku pamit ya." ucapnya.


"Hati-hati sayang." balas Anggi.


Sedangkan Alex dia cuman diam, dia masih memikirkan maksud dari ucapan putrinya tadi. Dia bingung apa maksud ucapan Alisia yang mengatakan "Rumah ini kaya nggak ada kehidupan", walaupun Alex sibuk akan pekerjaan kantornya dia tak pernah melupakan anak-anaknya.

__ADS_1


Di perjalanan menuju ke sekolah, Alisia hanya diam saja. Selalu seperti itu, asal bertemu dengan mama dan papanya keceriaan Alisia pasti akan hilang. Entahlah apa sebabnya yang membuat gadis itu kehilangan senyuman manisnya kalau sudah bertemu dengan Alex dan Anggi.


Mungkinkah karena Alex dan Anggi terlalu sibuk jadi Alisia merasa diabaikan, hanya Alisia yang mengetahui perasaannya.


"Udah sampai Al." ucap Irfan menyadarkan Alisia dari lamunannya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Alisia lansung keluar dari mobil Irfan, tapi dicegah oleh Irfan. Alisia mengarahkan pandangannya ke irfan, menanyakan apa maksud Laki-laki itu mencegahnya untuk keluar.


"Ada apa?" tanya Alisia datar.


"Kamu jangan sedih Al, nanti suatu saat mama dan papa pasti akan peduliin kamu lagi." hibur Irfan.


"Suatu saat kapan kak, pas aku udah pergi untuk selamanya baru mereka akan peduli." ucap Alisia dengan pelan.


"Maksud kamu?" tanya Irfan bingung akan ucapan Alisia barusan.


"Gak ada maksud apa-apa, Al cuman kangen sama mama dan papa." ucap gadis itu lagi, lalu air mata menetes membasahi pipinya.


Alisia adalah gadis yang kuat, sangat jarang gadis itu menangis. Biasanya kalau lagi ada masalah dia cuman bakalan kelihatan sedih, tapi tidak sampai menumpahkan air mata. Tapi beda halnya jika sudah berhubungan dengan mama dan papanya, dia tidak bisa menahan air matanya untuk tidak keluar.


Irfan membawa Alisia ke pelukannya, lalu mengusap punggung gadis itu lembut agar dia tenang. Seolah-olah Irfan ingin agar kesedihan yang dirasakan adiknya itu biar dia saja yang merasakan, karena dia sangat menyayangi Alisia dan tak mengnginkan ada air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.


Irfan melepaskan pelukannya dari Alisia.


"Kakak janji bakalan pulang cepet, kalau urusan perusahaan kakak udah selesai kakak akan lansung pulang." ucap Irfan berusaha membuat Alsia tak sedih lagi.


"Pinky promise." ucap gadis itu sambil berusaha tersenyum.


"Pinky promise." balas Irfan, lalu dia mencubit hidung adiknya itu pelan.


"Al cengeng ya kak?" tanya Alisia sambil menghapus jejak bekas air matanya.


"Nggak kok, udah sana masuk. Dan selama kakak pergi jangan nakal." pesan Irfan.


"Gak janji ya, dah kakak." ucap Alisia lalu keluar dari mobil mewah kakaknya.


Alisia berjalan di koridor menuju kelasnya dengan bersenandung kecil, lalu tiba-tiba ada yang merangkulnya dari samping.


"Hai cantik." sapa Jimi.


"Elo ogeb, gue kira siapa." ucap Alisia.


"Gimana semalem, lo udah ketemu sama mama papa lo? ." tanya Jimi penasaran.


"Gue gak ketemu sama mama papa, yang ada baru pulang gue lansung di ceramahin sama kakak gue." ucap Alisia tak semangat.


"Kenapa lo bisa di ceramahin sama kakak lo, dan mama papa lo kemna?" tanya Jimi tak sabar.

__ADS_1


"Mama sama papa ke perusahaan, dan gue di ceramahin karena ketahuan bolos sama Kak Irfan." jawab Alisia.


"Serius lo, trus lo diapain. dan gimana kakak lo bisa tau." tanya Jimi lagi.


"Biasa aja kali nanya nya, emang keluarga gue mafia apa. Sampai lo nanya nya berlebihan kaya gini." ucap Alisia.


"Gue serius ini Al, jangan becanda mulu napa." ucap Jimi mulai kesal.


"Ya gue juga serius Jim, siapa juga yang becanda coba." ucap Alisia lagi.


"Terserah lo deh, jadi gimana." tanya Jimi.


"Apanya yang gimana?" Alisia balik bertanya yang semakin membuat Jimi jengkel.


"Au ah, males gue ngomong sama lo." jawab Jimi, lalu dia berjalan mendahului Alisia.


"Woi tungguin gue, gitu aja ngambek lo." ucap Alisia sambil tertawa, lalu dia segera menyusul Jimi yang berada didepannya.


"Gue cuman dihukum." ucap Alisia kemudian.


"Apa hukumannya?" tanya Jimi.


"Gue cuman gak dibolehin bawa mobil gue lagi, dan kemana-mana harus diantar sama supir. Kak Irfan tau karena kemarin dia kesekolah." jawab Alisia.


"Ooh gitu, ya gue gak bisa pergi-pergi bareng lo lagi berarti." ucap Jimi kecewa.


"Bisa, nanti semuanya bisa diatur." jawab Alisia dengan tersenyum penuh arti.


Setelah sampai didepan kelasnya Alisia pun masuk, dan Jimi juga pergi entah kemana. Perlu kalian ketahui Jimi adalah kakak kelas Alisia, dia kelas XI MIPA³. Dan jangan lupakan cowok ini juga kapten basket di SMA Dharma Bangsa. Oh iya, PLAYBOY nya jangan dilupain.


Tapi semenjak kenal dengan Alisia Jimi udah tobat main cewek, mungkin karena dia ingin Alisia melihat ketulusannya kalau dia benar-benar mencintai gadis itu.


***


Hai readers seru gak ceritanya, apa sih rahasia yang Alsia sembunyiin. Aduh si Rey kemana sih hilangnya?


semenjak dapet telpon hari itu, Rey gak keliatan lagi. kenapa ya? ada yang ingat gak sama chapter sebelumnya.


Jangan lupa aku UP setiap hari, setiap pukul 20.15 wib....


babay lovely...


 


**Follow @alfaazzahra\_2373**


 

__ADS_1


__ADS_2