
Pagi-pagi sekali Rey sudah rapi dengan kemeja putih dan jas hitam yang membalut tubuh atletisnya.
Pagi ini dia ada pertemuan dengan CEO dari perusahaan yang akan membuat kerja sama dengan perusahaan milik nya. Saat ini Rey berada di Brunei.
Tok Tok Tok terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan Rey.
"Masuk." ucap nya.
"Permisi pak, satu jam lagi pertemuan nya akan di mulai." ucap Sania sekretaris dari Rey.
"Atur semuanya sebaik mungkin." ucap Rey.
"Baik pak, kalau gitu saya permisi dulu." pamit Sania.
"Hmm" balas Rey.
Di SMA Dharma Bangsa...
"Hai kita ketemu lagi." sapa Jimi ke Alisia yang baru keluar dari mobil Ferari merah nya.
"Ngapain sih lo?" ucap Alisia tak suka.
"Gue kangen sama lo Al." jawab Jimi tersenyum jahil.
"Gue nggak tuh." balas Alisia singkat.
"Nggak papa biar gue aja yang kangen sama lo, karna kangen itu berat. Jadi gue tau lo gak bakalan sanggup nahannya." ucap Jimi dramatis.
"Apaansih, gaje banget tau nggak sih." ucap Alisia.
"Nggak tau tuh Al, jelasin donk." pinta Jimi berlaga layak nya orang bodoh.
"Gajelas lo." balas Alisia.
"Al, gue pengen jadi teman lo." ucap Jimi tiba-tiba.
"Bayar." canda Alisia.
"Gak ah, lo kan orang kaya. Ngapain gue ngabisin duit gue buat lo." ucap Jimi tak mau.
"Yeee, gue juga gak mau kali makan duit lo."
"Serius donk Al, jangan becanda mulu." ucap Jimi mulai kesal.
"Gue juga serius, siapa juga coba yang bercanda." balas Alisia dengan memasang tampang wajah serius.
"Ok gue akan bayar, berapa pun yang lo minta" ucap Jimi pada akhirnya.
"Eh, gak usah gue cuma becanda kali. Baperan amat sih lo jadi cowo." gumam Alisia.
"Jadi kita temenan nih?" tanya Jimi.
"Yoi, lo temen gue. Gue duluan ya." pamit Alisia.
Alisia berjalan menuju kelasnya, hari ini dia berniat akan masuk dan tidak cabut lagi kaya kemarin. Baru niat bisa jadi nanti nya hanya jadi wacana pada akhir nya.
"Woi Al, lo cabut kemana kemarin?" tanya Ikbal ke Alisia.
"Rooftoop." jawab Alisia singkat.
"Jangan bilang lo ngerokok lagi." tebak Ikbal.
"Suka-suka gue lah, kok lo yang repot sih." balas Alisia.
"Tapi kan Al, itu gak baik buat lo. Nanti keadaan lo makin." ucapan Ikbal terpotong ketika Chaca datang.
__ADS_1
"Ada apa nih, serius amat?" tanya Chaca.
"Lo ingat ya, gue paling gak suka orang lain ikut campur urusan gue. Dan lo tau itu kan. Sekali lagi gue bilang ke lo, JANGAN SAMPAI LO BOCORIN tentang gue." ucap Alisia dengan marah dan penuh penekanan di setiap kata jangan sampai lo bocorin.
kemudian Alisia berlalu pergi meninggalkan ke dua sahabat nya.
"Dia kenapa?" tanya Chaca.
"Gak tau." jawab Ikbal.
"Jujur gue takut keadaan lo makin memburuk Al, gue ngerasa orang paling gak berguna kalau sampai lo kenapa-napa." ucap Ikbal dalam hatinya.
Disinilah Alisia sekarang dia berada di Rooftof, tak lupa rokok yang berada di tangannya. Alisia menyesap rokok nya kemudian membuang nya sembarangan.
"Kalau lagi ada masalah di selesein." ucap seorang cowok yang sudah berada di samping Alisia.
"Gue gak ada masalah, hidup gue selalu bahagia." ucap Alisia dengan senyum kecut nya.
"Lo gak pinter bo'ong." balas cowo itu yang tak lain adalah Jimi.
"Keliatan ya?" tanya Alisia.
Jimi cuma mengangguk membenarkan.
"Salah ya kalau gue pengen bahagia." tanya Alisia
"Gak, gak salah kok. setiap orang berhak bahagia." jawab Jimi bijak.
"Tapi gue gak pernah di takdirin buat bahagia."
ucap Alisia sendu.
"Lo berhak bahagia Al." sambung Jimi.
"Lo bisa bahagai Al, kalau lo mau." ucap Jimi lagi.
"Eh, gimana kalau lo ikut gue nanti malam." ajak Jimi mengalihkan topik.
"Kemana?" tanya Alisia.
"Lo bakalan tau nanti, kita ketemu di cafe Klay
ucap Jimi lalu pergi meninggalkan Alisia.
"Woi gue belum jawab sutuju atau enggak, main pergi aja lo." teriak Alisia.
Jimi tak memperdulikan teriakan dari Alisia, baginya saat ini melihat gadis itu tersenyum adalah kesenangan tersendiri buatnya.
Malam nya .....
Alisia keluar dengan hati-hati dari rumahnya, karna jika kakak nya tau dia mau keluar malam sudah di pastikan dia tak akan mendapat izin.
Alisia keluar dengan cara turun dari balkon kamar nya menggunakan sprei yang udah di ikat jadi satu, lalu dia memanjat pagar rumahnya setelah memastikan satpam nya tertidur dengan pulas.
sekarang pukul 23.48 pm
Alisia sengaja minta ketemuan nya hampir tengah malam ke Jimi agar dia bisa keluar dengan mudah tanpa di ketahui kakak nya.
Alisia berjalan keluar dari komplek rumahnya menuju jalan raya, disana dia mengehentikan taxi dan segera menuju cafe tempat dia janjian dengan Jimi.
Alisia berjalan memasuki cafe dan segera mencari meja tempat Jimi berada, di sana sudah duduk seorang laki-laki dengan memainkan handpond nya.
"Udah lama?" tanya Alisia.
Laki-laki itu mengarahkan pandangan nya ke Alisia.
__ADS_1
"Eh elo Al, nggak kok gue juga baru nyampe." ujarnya.
"Mau apa lo ngajak gue ketemuan." tanya Alisia.
"Buru-buru amat, baru nyampe juga." ujar Jimi.
"Gue gak suka berbelit-belit." ucap Alisia.
Jimi pun akhirnya mengalah, dari pada gadis ini pulang nantinya.
"Gue cuman pengen kenal lo lebih dekat, setidaknya kita lebih dari seorang teman." ucap Jimi serius.
"Maksud lo? lebih dari teman kaya gimana. Sorry untuk pacaran gue gabisa." tolak Alisia cepat.
"Belum juga di tembak udah ditolak gue nya." gumam Jimi sedikit kecewa.
"Gue cuman pengen jadi sahabat lo, gue pengen jagain lo, dan bikin lo tersenyum bahagia." ucap Jimi dengan tersenyum tulus.
"Apa, lo bilang apa. Gue gak salah denger kan barusan." tanya Alisia tak percaya.
"Lo gak salah denger kok Al, gue memang pengen lebih dekat dengan lo. Walaupun ga jadi pacar, tapi setidaknya gue bisa selalu ada di deket lo." ucap Jimi lagi dengan ketulusan lebih dalam.
"Lo kenapa tiba-tiba jadi aneh gini si Jim, lo sehat kan." tanya Alisia khawatir.
"Gue sehat kok, mungkin lo ga akan percaya dengan semua yang gue bilang. Gue akui gue emang playboy dan suka nyakitin perasaan cewek. Gue emang brengsek, tapi untuk kali ini gue bener-bener tulus sama lo Al." ujar Jimi dengan harapan Alisia mau menerima nya.
"Jim, kita baru aja kenal kemarin. Dan untuk jadi sahabat gue, itu sama aja artinya lo jadi orang terdekat gue." ucap Alisia.
''Al, gue cuman pengen jagain lo. Dan buat lo tersenyum bahagia." ujar Jimi.
"Maaf gue gabisa Jim, walaupun itu hanya sahabat. Kita cukup temenan aja ya." tolak Alisia.
"Tapi kenapa Al, gue gak minta lo buat nerima gue jadi pacar lo. Cuman sahabat apa salahnya." tanya Jimi.
"Lo gak akan sanggup sahabatan sama gue, hidup gue terlalu banyak drama." ujar Alisia.
"Setidak nya lo kasih tau gue alasan yang masuk akal." pinta Jimi.
"Kita cuman bisa sahabatan bentar, abis itu gue harus pergi. Dan gue takut lo gak bisa nerima kepergain gue." jawab Alisia dengan sedih.
"Emang nya lo mau pergi kemana, sampai gue gak bisa nerima kepergian lo?" tanya Jimi tak mengerti.
"Pergi ke tempat yang jauh pokoknya, dan lo gak bakalan bisa ketemu gue lagi." jelas Alisia.
"Gue bakalan ikut kemana pun lo pergi." ucap Jimi yakin.
"Gak bisa Jim, cuman gue sendiri yang bisa pergi." ujar Alisia.
"Cukup gue aja yang pergi Jim, lo gak usah ikut. Masa depan lo masih panjang." ucap Alisia dalam hati.
"Gue pulang dulu ya." pamit Alisia.
''Gue anter, lo pasti naik taxi kesinikan." tebak Jimi.
Alisia cuman mengangguk tanda setuju, sekarang perasaan gadis itu sangat kacau. Dia merasa bersalah telah menolak Jimi, Alisia tau Jimi mengatakan semua yang dia ucapkan dengan tulus. Tapi egonya mengatakan kalau dia harus menolak Jimi, cukup dia yang menyimpan luka nya sendiri dan jangan sampai membaginya ke orang lain.
Hanya Ikbal satu-satunya orang yang mengetahui Rahasia yang Alisia simpan. kakaknya, orangtuanya tak tau akan Rahasia itu.
**Hai gays aku up nih buat kalian, komen donk gays. Oh iya, ngomong-ngomong apa ya Rahasia yang Alisia sembunyiin dari semua orang. Ada yang tau gak? coba jawab donk di komen. jangan lupa like....
follow @alfaazzahra\_2373**
__ADS_1