
Hari ini Alisia tak bisa lagi bebas seperti sebelumnya, karena Irfan kakaknya telah pulang dari Malaysia. Antara senang dan kesal, senang karena dirumah ia tak akan lagi kesepian dan kesal karena ia tak bisa lagi kembali bebas.
"Al bangun, ini udah pagi dek." panggil Irfan
dari luar pintu kamar Alisia.
"Al bangun, nanti kamu kesiangan lagi berangkatnya." panggil Irfan lagi, tapi Alisia tak juga kunjung bangun.
Akhirnya Irfan mencoba untuk membuka pintu kamar Alisia, tapi pintu kamarnya dikunci. Jadi Irfan pun turun kebawah untuk sarapan, membiarkan Alisia terlelap dengan mimpinya.
"Mana adek kamu Fan?" tanya Anggi.
"Masih tidur kayaknya tuh ma, cobadeh mama yang bangunin." ucap Irfan.
"Yaudah kalau gitu mama bangunin adek kamu dulu." ucap Anggi.
"Fan, mulai sekarang mama kamu akan dirumah mengurus kalian. Dan papa akan cari asisten pribadi baru pengganti mama kamu." ucap Alex.
"Untuk apa pa, bukannya mama lebih baik kalau yang jadi asisten papa?" bingung Irfan.
"Yaah, mama kamu memang asisten yang baik untuk papa. Tapi tidak akan baik jika anak-anak papa juga asisten yang mengurusnya, kalian juga butuh mama kan disamping kalian." terang Alex.
"Alisia yang lebih butuh kalian pa, kalau Irfan udah besar dan bisa ngurus semuanya sendiri. Papa gak tau kalau Alisia sering nangis karena rindu sama kalian, dan papa juga bisa liat perbuhan sikap Alisia. Alisia sekarang banyak melanggar peraturan dan suka memberontak." jelas Irfan.
"Itu semua kesalahan papa, papa terlalu egois memikirkan bisnis sehingga melupakan putri kesayangan papa." ucap Alex menyesal.
Dikamar Alisia...
"Sayang buka pintunya, ini mama nak." panggil Anggi, namun tetap tak ada jawaban dari Alisia.
"Alisia, bangun sayang. Hari ini mama masak makanan kesukaan kamu loh, dan nanti papa yang akan antar kamu berangkat sekolah. Kak Irfan juga udah pulang loh nak dari Malaysia, dia bawa banyak oleh-oleh buat kamu." ucap Anggi, namun semuanya sia-sia.
Akhirnya Anggi pun kembali ke meja makan dengan sedih, karena putrinya tak mau keluar dari kamar.
"Gimana ma?" tanya Alex.
"Alisia tetap gak bangun pa, bahkan pintu pun dia kunci." ucap Anggi.
"Aneh, udah berkali-kali di panggil tapi tetap tak ada jawaban. Yaudah kita dobrak aja pintu kamarnya, takutnya Alisia kenapa-napa." ucap Alex.
Akhirnya mereka bertiga berjalan menuju kamar Alisia.
"Biar Irfan aja yang dobrak pa." ucap Irfan.
Brakk, Braakk. Akhirnya pintu kamar itu pun terbuka, dan betapa kagetnya mereka saat melihat Alisia. Gadis itu terbaring kesakitan dilantai, dengan posisi tangan memegangi perutnya.
"Alisia." teriak mereka ber tiga bersamaan.
Mereka berlari menuju gadis itu, tubuhnya panas dan keringat dingin bercucuran. bibir pucat, kulitnya pun putih pucat. Dia menahan rasa sakit di perutnya, tadi sewaktu ia hendak membukakan pintu waktu Irfan memanggil tiba-tiba rasa sakit itu menyerangya.
"Sayang kamu kenapa nak." ucap Anggi panik.
Irfan lansung menggendong Alisia dan beralari membawa gadis itu menuju mobil.
"Ayo ma pa, kita bawa Alisia kerumah sakit." ucap Irfan.
Lalu mereka pun melarikan Alisia kerumah sakit.
Alisia terbangun dengan melihat ke sekelilingnya dengan bingung, ruangan serba putih dan bau obat-obatan menyengat hidungnya.
"Gue udah mati ya, kok ini ruangan putih semua?" gumam Alisia dengan bingung.
"Syukurlah anda sudah bangun nona, kalau gitu saya panggil Dokter dulu mencek kondisi anda." ucap perawat itu ramah.
Kemudian seorang Dokter perempuan cantik sebaya kakaknya masuk kedalam ruangan tempat Alisia dirawat.
"Gimana perasaan kamu?" tanya nya ramah.
"Saya Dok, saya ngerasa agak pusing dan perut saya sedikit sakit." jawab Alisia.
"Sudah berapa lama kamu menderita gagal ginjal." tanya sang Dokter.
"Dokter tau dari mana saya menderita gagal ginjal." tanya Alisia kaget.
"Saya kan Dokter, tentu saya tau." jawab sang Dokter dengan tersenyum ketika selesai memeriksa Alisia.
"Dokter belum bilang apa-apa kan ke orang tua dan kakak saya, tentang penyakit ini?" tanya Alisia penuh harap.
"Memangnya keluarga kamu belum tau tentang penyakit kamu?" kaget sang Dokter.
"Belum Dok, dan saya minta Dokter untuk ngerahasiain ini semua dari mereka. Bisa kan." pinta Alisia.
"Tapi ini semua menyangkut sama kesehatan kamu, kalau orang tua kamu gak tau maka kamu gak bisa kemo terapi." ucap sang Dokter.
"Gapapa kok Dok, saya udah pikirin semuanya." jawab Alisia dengan tersenyum.
"Jika sekarang kamu di terapi maka ada kesempatan untuk kamu sembuh tanpa operasi, tapi jika ditunda keadaan kamu akan memburuk dan satu-satunya cara nanti untuk menyelamatkan kamu adalah dengan transpalantasi ginjal." jelas sang Dokter.
"Saya tau Dok, bahkan dari sejak lama." jawab Alisia.
"Udah berapa lama kamu menderita nya?" tanya sang Dokter.
"Udah dari 6 bulan yang lalu Dok, waktu saya masih kelas 3 SMP." jelas Alisia.
Dokter itu menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kata-kata yang akan dia ucapkan.
"Golongan darah kamu itu langka, hanya sedikit orang yang memiliki golongan darah seperti kamu. Saya takut jika keadaan kamu memburuk, maka nanti akan susah mencari ginjal baru yang cocok dengan kamu." jelas Dokter itu tak habis pikir.
__ADS_1
"Saya udah siap kalau memang saya harus mati." jawab Alisia dengan tersenyum.
"Yasudah jika itu pilihan kamu, kalau keadaan kamu tiba-tiba nanti memburuk. kamu bisa mencari saya, nama saya Citra." ucap sang Dokter.
"Makasih ya Dok, dan tolong rahasiain ini semua." ucap Alisia.
"Pasti, kalau gitu saya keluar dulu dan kamu harus istirahat. Oh ya, kalau bisa kamu berhenti merokok. Karena merokok membuat kerusakan pada ginjal kamu makin parah." jelas Dokter Citra sebelum pergi meninggalkan ruangan rawat Alisia.
Alisia hanya menjawab nya dengan senyuman.
"Gimana keadaan putri saya Dok?" tanya Anggi ketika Dokter keluar dari ruangan rawat Alisia.
Dokter Citra tersenyum, seolah-olah dengan senyuman itu dia mengatakan bahwa Alisia baik-baik saja. Padahal kenyataan nya tidak, gadis itu menderita gagal ginjal yang bisa kapan saja merenggut nyawanya.
"Anak nyonya dan tuan baik-baik saja, dia hanya kelelahan dan perlu istirahat." ucap Dokter Citra.
"Kalau gitu kapan adek saya bisa pulang?'' tanya Irfan.
"Maaf tuan, nona harus dirawat selama tiga hari dirumah sakit untuk memulihkan keadaan nya yang belum satbil." jawab Dokter.
"Lakukan lah apa pun itu Dok, yang penting putri kecil saya bisa sembuh." jawab Alex.
"Pasti tuan, untuk itu kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan nona." jawab Dokter Citra.
"Apa kami boleh menjenguk nya Dok?" tanya Anggi.
"Tentu nyonya, silahkan." ucap Dokter Citra dengan sopan.
"Terimakasih." jawab Anggi, lalu dia pun segera masuk ke ruangan Alisia.
"Yasudah tuan, kalau gitu saya permisi." pamit sang Dokter.
Diruangan Alisia dirawat...
"Kamu kenapa bisa kecapekan sayang." tanya Anggi.
"Nggak kok ma, Alisia aja yang fisiknya lemah." jawab Alisia berbohong.
"Yaudah, habis ini kamu harus banyak istirahat. Dan Dokter bilang kamu harus dirawat selama tiga hari dirumah sakit." jelas Alex.
"Tapi pa, Irfan rasa ada yang aneh. Alisia kan cuma kecapekan tapi kenapa harus dirawat selama tiga hari dirumah sakit, kan dia bisa istirahat dirumah." ucap Irfan.
"Mungkin Dokter khawatir kalau dirumah Alisia gak bisa istirshat total, makanya dia dirawat dirumah sakit." jawab Anggi.
Disekolah SMA Dharma Bangsa...
Para siswa dan siswi berdesak-desakan untuk melihat gambar yang terpajang di mading sekolah, ada yang mengcopy gambar itu dan menyebarkannya. Namun kebanyakan dari mereka hanya berani berkomentar, dan bergosip tentang orang yang ada digambar.
"Itu kan pak Rey, guru ssjarah. Kenapa gambarnya bisa ada di mading." gumam seorang siswi.
"Eh, coba baca deh tulisannya. "Manusia yang suka mencium bibir para gadis" emangnya pak Rey suka cium bibir orang ya?" bingung seorang siswi ketika membaca tulisan yang terera pada gambar.
"Jangan ngomong sembarangan kamu, bisa jadi itu cuma jebakan dari orang yang gak suka sama pak Rey." bela seorang siswi.
"Ck, lo masih aja bela cowok kayak pak Rey. Oh, atau jangan-jangan lo udah pernah lagi ciuman sama dia." ucap cowok itu.
"Jaga ya omongan lo, kalau ngomong di saring dulu. kelamin aja lo laki-laki, tapi mulut lo sama aja kayak emak-emak suka. ngegosip." balas cewek itu tak mau kalah.
"Berani lo sama gue." tantang cowok itu.
"Berani." jawab cewek itu.
"Berapa sih harga lo dibayar sama cowok brengse* itu semalam, segitunya banget lo ngebela dia." sindir cowok itu.
"Jaga ya omongan lo bro, temen gue gak kayak yang lo pikirin." ucap seorang laki-laki.
"Oh, lo pakai ni cewek berapa bayarnya. Gue juga mau pakek, kayaknya ni cewek spesial banget." ucap cowok itu kembali merendahkan.
"Jaga omongan lo." ancam laki-laki tadi.
"Bal, udah. Percuma kita ngomong sama orang gila kayak dia. Dia emang murid yang gak tau terimakasih sama jasa guru." ucap cewek itu.
"Tapi Cha, gue gak terima lo dihina kayak gini." ucap laki-laki itu yang ternyata adalah Ikbal.
"Udah gue gapapa, ayok kita pergi dari sini." ucap Chaca.
"Pengecut lo." ledek cowok tadi.
Akhirnya Chaca dan Ikbal memutuskan untuk pergi ke kantin.
"Bal, Alisia kemana ya. Kok dia gak sekolah lagi." tanya Chaca.
"Mungkin bolos lagi tuh anak." jawab Ikbal singkat.
"Lo kenapa, lagi berantem ya sama Alisia." tanya Chaca.
"Gak, gue lagi patah hati aja." jawab Ikbal tanpa menoleh ke Chaca.
"Patah hati sama siapa lo?" tanya Chaca penasaran.
"Menurut lo." Ikbal balik bertanya.
"Please jangan bilang karena Alisia, itu sumpah gak lucu banget." ucap Chaca.
"Emang gak lucu kok." ujar Ikbal.
"Jadi lo beneran suka sama Alisia, demi apa Bal." ucap Chaca kaget.
__ADS_1
"Udah ah, males gue ngomongin itu." ucap Ikbal kesal.
Di Rooftop...
Jimi menyesap rokoknya dengan duduk santai di sebuah sofa yang sudah lumayan tua.
"Alisia kemana ya, tumben tuh anak gak kesini buat ngerokok." gumam Jimi.
"Kayak nya gue bener-bener udah jatuh cinta deh sama tuh anak, awalnya gue cuman tertarik aja sama dia. Kenapa sekarang gue jadi kepikiran dia terus ya." ujar Jimi.
"Apa gue cari dia aja kekantin." ucap Jimi.
Lalu Jimi membuang rokoknya dan pergi kantin mencari Alisia.
Sampai dikantin Jimi mengedarkan pandangan nya mencari Alisia, tapi dia tidak menemukan gadis itu. Yang dilihat cuma sahabat Alisia, lalu Jimi pergi ke meja Ikbal untuk bertanya tentang keberadaan Alisia.
"Hai, boleh gue gabung." ucap Jimi.
"Bo-boleh kok kak, silahkan." ucap Chaca gugup.
"Gue gak ganggu kalian kan?" tanya Jimi.
"Ganggu banget." jawab Ikbal.
"Nggak ganggu sama sekali kok kak, Bal lo kalau ngomong tuh yang sopan donk sama senior." ucap Chaca.
"Gue cuman mau tanya tentang Alisia." ucap Jimi.
"Tanya aja kak, nanti saya jawab." jawab Chaca semangat.
Ikbal yang melihat Chaca begitu semangat cuman diam saja.
"Kalian tau Alisia ada dimana?" tanya Jimi serius.
"Bukannya dia bareng lo ya akhir-akhir ini, kenapa lo tanya sama kita." ucap Ikbal.
"Alisia gak bareng gue hari ini, gue aja gak ketemu sama dia sejak tadi pagi." ucap Jimi.
Ikbal yang mendengarnya pun lansung kaget, dia khawatir dengan gadis itu.
"Lo serius gak bereng dia." tanya Ikbal memastikan.
Jimi pun menggeleng, lalu Ikbal mengeluarkan handponnya dan menelpon Alisia. Tapi gadis itu tidak mengangkatnya.
"Lo ngapain Bal, panik gitu?" tanya Chaca bingung.
"Gue lagi telfon Alisia, tapi dia gak
angakat." jawab Ikbal tak sabar.
"Biar gue coba telfon." ujar Jimi.
"Gimana?" tanya Ikbal tak sabar.
"Sama, juga gak diangkat." jawab Jimi.
"Mending lo telfon kak Irfan ajadeh." saran Chaca.
"Lo aja deh yang telfon." suruh Ikbal.
Chaca pun menelpon Irfan untuk mengetahui dimana Alisia berada, cukup lama dia menunggu tapi akhirnya telfon itu diangkat oleh Irfan.
"Halo kak, Alisia kenapa ya gak sekolah?" tanya Chaca.
"Hah, oke kak." jawab Chaca, lalu sambungan telfon pun mati.
"Alisia kenapa Cha, dia baik-baik aja kan." tanya Ikbal khawatir.
"Alisia masuk rumah sakit, kata kak Irfan dia tadi pagi pingsan." jawab Chaca.
"Apa pingsan, terus sekarang keadaannya gimana?" tanya Ikbal.
"Dia baik-baik aja kok, cuman perlu dirawat aja selama tiga hari kata kak Irfan." ucap Chaca.
"Syukurlah kalau gitu, nanti pulang sekolah kita jenguk Alisia ya Cha." ajak Ikbal.
"Ok, kak Jimi mau ikut." tawar Chaca.
"Mau sih tapi gak bisa, soalnya gue nanti latian basket. Mungkin selesainya malam" ucap Jimi.
"Ohh, yaudah kak nanti aku sampein ke Alisia kalau kakak gak bisa dateng buat jenguk." ucap Chaca.
"Mungkin besok, atau pas hari ketiga gue baru bisa jenguk. Sampein salam gue buat dia ya." ucap Jimi.
"Pasti kak." ucap Chaca.
*****
**Hai gays i am sorry kerena aku gak up nya lama, thanks buat do'anya ya...
Semoga aku lulus, amiiiiin.
Sesuai janji aku creazy UP buat kalian. Dan ada kejutan jika aku lulus.
follow @alfaazzahra\_2373**
__ADS_1