
Semenjak perdebatan malam itu, Alisia tak lagi begitu banyak bicara dengan kakak nya. Biasanya setiap pagi terdengar suara kakaknya yang selalu membangunkan nya untuk berangkat sekolah, tapi sekarang kakaknya tak ingin lagi membangunkan adik kesayangan nya itu. Jadi Alisia bangun sendiri, alhasil dia sering terlambat berangkat sekolah.
Untung pagi ini mama nya membangunkan nya, kenapa Anggi tak memabangunkan putrinya itu. Karena Irfan lah yang biasanya membangunkan Alisia setiap pagi, jadi yang ia tau Alisia sudah dibangunkan oleh Irfan.
Tapi melihat Alisia yang akhir-akhir ini sering terlambat, sepertinya kakak nya itu tak lagi membangunkan adiknya. Duga Anggi.
"Al, bangun sayang. Ini udah siang nak." ucap Anggi sambil menggedor pintu kamar putrinya.
"Alisia, mama suruh dobrak pintunya kalau kamu masih belum bangun." marah Anggi.
Anggi bukanlah orang yang bisa sabar membangunkan putrinya itu, ia mudah marah jika sudah dibangunkan tapi tak bangun-bangun. Ditambah Alisia yang tidurnya seperti orang mati, sangat sulit untuk dibangunkan. Maka ia akan ngomel dan marah tak jelas saat membangunkan Alisia.
"Irfan, tolong bangunkan adik mu." teriak Anggi pada Irfan yang sarapan di meja makan.
"Irfan buru-buru ma, mama aja yang bangunin itu kebo." teriak Irfan.
"Cepat kamu bangunin, sebelum mama marah." teriak Anggi lagi.
"Udah sana kamu bangunin adek kamu, kamu mau kuping kita ini jadi tuli karena teriakan mama kamu." suruh Alex.
Irfan akhirnya menaiki tangga dan berjalan menuju kamar Alisia.
"Udah sana mama sarapan temenin papa, biar Al Irfan yang bangunin." ucap Irfan.
Anggi pun menuruni tangga meninggalkan Irfan menuju meja makan.
"Dek bangun donk, ini udah pagi dek. Ayo bangun nanti kamu telat, kamu gak mau kan dihukum sama bu Laura." ucap Irfan sabar.
Irfan selalu sabar saat membangunkan adik kesayangan nya itu, kadang hampir 10 menit dia berdiri didepan pintu kamar Alisia hanya karena untuk membangunkan nya saja.
Sedangkan didalam kamar Alisia yang mendengar namanya dipanggil oleh suara yang sudah lama tak membangunkan nya, segera bangun. Suara yang begitu ia rindukan karena sudah beberapa hari ini setiap paginya ia tak pernah lagi mendengar suara itu, tapi pagi ini suara itu kembali membangunkan nya.
"Apa kakak udah gak marah ya sama gue." batin Alisia.
Alisia lansung menuju kamar mandi dan bersiap-siap, sedangkan Irfan masih setia berdiri didepan puntu kamar adiknya itu untuk membagunkan nya.
"Apa terjadi sesuatu lagi sama Al, kayak waktu itu." batin Irfan waktu mengingat Alisia yang pingsan di kamarnya.
Irfan pun memutuskan untuk mendobrak pintu kamar adik nya itu, baru akan mengambil ancang-ancang pintu kamar sudah di bukak oleh Alisia.
"Kakak ngapain, mau siap-siap lomba lari." tanya Alisia waktu melihat Irfan yang mengambil ancang-ancang ingin mendobrak pintu kamarnya.
"Gak." jawab Irfan dingin lalu berlalu pergi meninggalkan Alisia.
"Aneh tuh orang, seharusnya gue yang marah sama dia. Eh ini malah dia yang ngambek." gumam Alisia sambil memperhatikan kakaknya yang menjauh darinya.
__ADS_1
"Al, cepat sarapan. Nanti kamu telat lagi kayak kemarin." panggil Anggi dari bawah.
Alisia segera menuruni anak tangga dengan cepat menuju meja makan, sebelum mamanya itu ngomel dan teriak-teriak.
"Ma, nanti malam Al nginap di rumah Chaca ya. Jadi nanti Al pulang ke rumah Chaca." ucap Alisia.
"Terserah kamu, tapi nanti jangan lupa makan." ucap Anggi.
"Siap ma." jawab Alisia.
"Kalian berdua lagi bertengkar ya." ucap Anggi.
Pertanyaan Anggi itu membuat Alisia tersedak waktu minum.
"Uhukkk, mama ngomong apa sih. Mana ada kita bertengkar." bohong Alisia.
"Gak usah bohong kamu, kalau gak bertengkar kenapa Irfan gak bangunin kamu beberapa hari ini." ucap Anggi.
"Itu mungkin karena kakak lagi sibuk, coba aja mama tanya sama dia." ucap Alisia.
"Gak mungkin, sesibuk-sibuk nya Irfan dia pasti selalu bangunin kamu. Waktu lagi buru-buru aja dia bangunin kamu kok, apalagi cuaman karena sibuk. Gak usah bohong." ucap Anggi.
Alisia terdiam, dia paling tidak bisa bohong pada mama nya itu. Terlebih lagi Irfan kakaknya, Alisia tidak akan pernah berhasil membohongi Irfan. Seperti waktu dirumah sakit waktu itu, dia tahu ada yang aneh dari Alisia. masa cuman karena kelelahan dirawat sampai 3 hari, untung saja Dokter Citra tak memberi tahu tentang penyakit Alisia.
"Yaudah ma, Al pamit dulu." ucap Alisia mencoba menghindar dari pertanyaan mama nya.
"Mama tanya aja sama kakak, Al udah mau telat nih." gumam Alisia.
Alisia pun berlari dari meja makan dan pergi ke garasi untuk mengambil mobilnya, lalu dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sampai di sekolah dia lansung berjalan ke kelasnya, tapi di koridor dia melihat Jimi dan Clara sedang bertengkar.
Alisia mencoba untuk mengabaikan mereka, tapi saat namanya di sebut Alisia pun lansung menghampiri ke duanya.
"Apa-apan nih, kok nama gue dibawa-bawa." ucap Alisia.
"Gara-gara lo kak Jimi mutusin gue." ucap Clara.
"What, gara-gara gue lo bilang. Jimi nya aja kali yang bosan sama lo." ucap Alisia tak terima.
"Kalau bukan karena kak Jimi cinta sama lo, gak mungkin dia mutusin gue." ucap Clara dengan nada tinggi.
" Maaf nih ya buk, kan Jimi nya yang cinta sama gue. Kecuali gue godain Jimi dan rebut dia dari lo, baru lo bisa nyalahin gue." ucap Alisia.
"Enak aja lo manggil gue buk, gue masih muda. Kalau gitu lo suruh Jimi untuk lupain lo." suruh Clara.
"Dandanan lo aja kayak emak-emak mau kondangan, ya wajarlah gue manggil lo buk. Dengar baik-baik ya Clara, gue udah suruh Jimi lupain gue. Bahkan sekarang hubungan gue sama Jimi gak kaya dulu lagi." ucap Alisia kesal.
__ADS_1
"Ya lo berubah jadi jelek atau apa gitu, biar Jimi gak suka lagi sama lo." ucap Clara.
"Eh nenek lampir, muka gue udah begini cantik nya dari lahir. Gimana gue merubah nya jadi jelek, gak mungkin kan nih muka gue gesekin ke aspal biar ancur." ucap Alisia kesal dengan permintaan Clara.
"Lo coba aja, siapa tau berhasil." ucap Clara santai.
"Gila lo nenek lampir, muka lo aja sana gesekin ke aspal biar make up tebal lo pada rontok semua." ucap Alisia.
Jimi yang dari tadi hanya menjadi pendengar ke dua gadis itu bertengkar akhirnya tertawa.
"Ih sayang, kok kamu ketawa sih." ucap Clara manja.
"Jangan panggil gue sayang, gue bukan pacar lo. Asal lo tau gue gak pernah cinta sama lo." ucap Jimi dengan nada dingin.
" Mati lo, makan tuh cinta." ucap Alisia sambil berlalu pergi.
"Tunggu, lo mau kemana?" tanya Jimi mencegah Alisia pergi.
"Ke kelas lah, kenapa lo mau ikut." ucap Alisia.
"Gak, lo ada waktu gak nanti pulang sekolah. Ada hal yang mau gue omongin sama lo." tanya Jimi.
"Gue nanti mau jalan sama Chaca dan Ikbal, kalau nanti malam gue mau nginap dirumah Chaca." ucap Alisia seakan tau Jimi pasti akan mengajak keluar nanti malam.
"Oh, yaudah lain kali aja deh." ucap Jimi dengan raut wajah kecewa saat mendengar ucapan Alisia.
"Gue duluan." pamit Alisia.
Waktu jam istirahat.
"Kita nantik jalan ke mol ya, oh ya Cha. Gue mau nginap nanti malam dirumah lo." ucap Alisia.
"Lo lagi ada masalah ya, tumben nginap. dirumah gue." ucap Chaca.
"Iya, masalah nya lumayan berat. Jadi gue butuh saran dari pakar cinta." ucap Alisia.
"Emang lo pikir gue pisikolog cinta apa, bilang aja mau curhat." ucap Chaca.
"Nah itu maksud nya." ucap Alisia.
"Bisa aja lo Al." ucap Ikbal.
Pada saat pulang sekolah ke tiga sahabat itu mengahabiskan waktu di Mol yang terkenal di kota Jakarta bagian timur.
*************
__ADS_1
Jimi udah putus dari Clara, menurut kalian apa yang akan Jimi bicarakan pada Alisia? Hubungan Alisia dan Irfan jadi renggang deh, menurut kalian Alisia akan bertahan demi Rey atau lebih memilih keputusan kakak nya?