Rahasia Takdir Cinta

Rahasia Takdir Cinta
Jatuh Sakit 2


__ADS_3

Kring~


Bel masuk pun berbunyi, dan semua siswa siswi bergegas masuk ke kelas masing-masing.


"Kalau gitu kita masuk dulu ya kak." pamit Chaca ke Jimi.


Jimi menjawabnya dengan senyuman, lalu dia pun meninggalkan kantin dan segera pergi ke kelasnya.


Seperti biasa jika Bel masuk sudah berbunyi maka para guru akan bersiap untuk mengajar, Rey pun menyiapkan buku-bukunya dia akan mengajar di kelas X IPS¹. Yah, kelas nya Alisia.


Waktu dia berjalan di koridur, dia melihat dua orang guru perempuan yang sedang berkumpul di mading. Dan yah si Rey yang dingin tidak peduli akan urusan mereka, tapi dia berhenti saat guru itu membicarakan namanya.


"Kok bisa ya buk pak Rey berbuat kayak gitu, mencoreng nama sekolah perbuatan nya." ucap seorang guru.


"Palingan bentar lagi dia dipanggil sama kepsek atau pemilik sekolah, dan habis itu dia diberhentiin deh ngaajar nya." ucap guru satunya lagi.


"Eehem." deheman Rey membuat dua guru itu kaget dan lansung ciut.


"Eehh, pak Rey. Saya duluan ya pak soalnya udah masuk." ucap guru itu.


"Bukannya bel sudah berbunyi dari tadi." ucap Rey dingin tanpa ekspresi.


Disekolah ini Rey sangatlah dihormati dan disegani oleh para guru, karena dia orang yang tegas dan berwibawa. Selain itu yang membuat para guru kagum adalah, Rey tidak pernah takut untuk menghukum murid yang nakal. Padahal murid itu adalah anak Direktur dan orang penting.


"Sa-saya juga duluan ya pak, Permisi." pamit guru satunya lagi.


Rey pun melihat mading, dan dia kaget karena disitu terpampang gambarnya dengan tulisan


"Manusia yang suka mencium bibir para gadis." yang lebih membuatnya kesal dan marah adalah luka pada bibirnya, luka itu mendukung tulisan bahwa dia adalah orang yang suka msncium bibir seorang gadis.


Rey mencabut gambar yang tertempel di mading lalu membawanya. Dia meneruskan langakahnya ke kelas X IPS¹.


Saat Rey masuk, kelas yang tadinya berisik sekarang hening seketika.


"Keluarkan buku kalian dan kerjakan latihan di Bab 5, nanti kumpulkan kemeja saya." ucap Rey.


"Memangnya bapak mau kemana?" tanya Chaca.


"Saya ada urusan, siapa yang tidak hadir hari ini?" tanya Rey dengan nada dingin.


"Alisia pak." jawab Alif.


"Kenapa lagia dia tidak masuk?" tanya Rey.


"Dia sakit pak, dan sekarang dia dirawat dirumah sakit." ucap Ikbal.


"Kapan dia akan masuk?" tanya Rey lagi.


"Gak tau pak, yang jelas dirawat selama tiga hari di rumah sakit. Dan mungkin dia harus istirahat lagi dirumah." jelas Chaca.


"Pak, kenapa bapak pakai masker?" tanya seorang siswi.


"Saya lagi sakit." jawab Rey singakat.


"Bukannya karena berita itu ya pak." ucap siswi itu lagi.


"Itu semua tidak benar, sudah kerjakan saja tugas kalian saya pergi dulu." ucap Rey.


"Mana ada maling yang mau ngaku pak." gumam siswi itu.


Rey lalu berjalan menuju parkiran, sepertinya dia akan mengurus gambar yang merusak nama baiknya.


Mobil Rey melaju membelah jalanan ibukota Jakarta, ketika lampu merah dia menelpon seseorang.


"Saya ada tugas buat kamu, kita ketemu di kantor." ucap Rey.


"Baik pak." jawab orang dari seberang. Lalu sambungan telpon pun terputus.


Waktu lampu lalu lintas berubah jadi hijau, Rey segera melajukan mobilnya.


Sampai dikantornya Rey segera naik lift khusus CEO dan masuk keruangan nya.


"Permisi pak." ucap seorang perempuan.


"Masuk." jawab Rey dingin.


"Apa yang perlu saya lakukan pak." tanya Sania sekretaris Rey.


"Apa yang terjadi sebelum saya pingsan di toilet waktu di klub." tanya Rey.


"Saya tidak tau pak, soalnya orang-orang menemukan bapak dalam keadaan pingsan." ucap Sania.


"Saya mau kamu selidiki ini." Rey lalu memberikan gambar yang dia ambil di mading tadi.


"Baik pak." jawab Sania.


"Saya tau siapa orang yang mengambil gambar ini, kamu cukup tanyakan padanya apa tujuan dia membuat berita seperti itu tentang saya." ucap Rey.


"Siap pak, maaf siapa orang nya pak?" tanya Sania sopan.


"Namanya Siska dia murid saya, dia kelas X IPS²." jelas Rey.


"Baik pak, kalau gitu saya permisi dulu." pamit Sania.


Di Rumah Sakit...


Alisia merasa bosan dirumah sakit sendirian, papanya ke kantor dan kakaknya juga pergi kekantor. Sedangkan mamanya pulang menjemput baju dan keperluan nya yang lain selama tiga hari dirumah sakit.


"Bosen banget disini, gue jalan-jalan aja keluar kalau gitu." gumam Alisia.


Lalu Alisia turun dari ranjangnya dengan msnyeret botol impus yang tergantung pada besi penggantung. Dia sedikit kesusahan berjalan karena badannya masih lemah, ditambah dia harus membawa serta botol impusnya.


"Ini impus nyusahin banget." gumam Alisia.


Alisia berjalan menuju taman Rumah Sakit, disana dia melihat banyak anak-anak yang menggunakan pakaian seperti dirinya.


"Hai kak." sapa seorang anak laki-laki ke Alisia.


"Hai, nama kamu siapa?" tanya Alisia ramah.


Oh iya, kalian harus tau Alisia ini sangat menyayangi anak-anak kecil. Menurutnya anak kecil itu lucu, dan dia sangat ingin punya adik sayangnya mama dan papanya tak pernah mengabulkan nya.


"Namu ku Dino kak, kakak baru ya disini." tanya Dino.

__ADS_1


"Iya, kakak boleh tau kamu sakit apa" tanya Alisia.


Alisia melihat Dino begitu semangat, walaupun rambutnya sudah tidak ada dan dia harus duduk di kursi roda.


"Kata mama, aku sakit karena tuhan sayang sama aku. dan mama juga bilang kalau aku akan ketemu papa sebentar lagi di surga." jawab Dino dengan tersenyum.


Alisia yang mendengarnya lansung menangis, ternyata Dino menderita penyakit yang parah dan sebentar lagi dia harus meninggalkan dunia ini. Tapi dia tetap semangat ditambah papanya juga sudah tiada.


"Kakak cantik jangan nangis, nanti kalau aku dikasih permen sama kakak ganteng Dino janji akan kasih kakak." ucap Dino sambil menghapus airmata Alisia.


Alisia tersenyum manis ke Dino.


"Kakak tambah cantik kalau senyum, oh ya nanti Dino kenalin kakak ke kakak ganteng ya." ucap Dino semangat.


"Memangnya kakak ganteng nya siapa?" tanya Alisia lembut.


"Dino." panggil seorang pria dengan kantong plastik yang besar ditangan nya.


Dino dan Alisia pun menoleh ke sumber suara, dan Alisia kaget saat mengetahui siapa pria itu.


"Kakak ganteng." teriak Dino.


Pria yang dipanggil kakak ganteng oleh Dino itu berjalan kearah Dino setelah selesai membagikan hadiah untuk anak-anak yang ada di taman itu.


"Gimana keadaan kamu sekarang Dino?" tanya pria itu lembut dan tersenyum.


"Dino udah sehat kok kak, oh ya Dino punya teman baru loh." ucap Dino semangat.


"Siapa?" tanya pria itu.


"Ini, namanya kakak cantik. Kakak ini baik banget lo kak, kakak ini kalau ngomong suaranya lembut banget kayak mama Dino. Dan senyum nya kakak cantik juga manis." ucap Dino sambil melihat ke Alisia.


Sontak pria itu mengalihkan atensinya ke Alisia, dan dia juga kaget saat melihat Alisia.


"Alisia, jadi kamu dirawat disini." ucapnya.


"Kakak kenal sama kakak cantik?" tanya Dino ke pria itu.


"Iya kakak kenal, oh ya ini hadiah buat Dino." pria itu memberikan sebatang coklat untuk Dino.


"Coklat ini buat kakak cantik aja, soalnya Dino udah sering dapat hadiah dari kakak ganteng." Dino memberikan coklat itu pada Alisia.


"Kalau ini buat kakak, terus untuk Dino apa?" tanya Alisia lembut dan tersenyum manis.


Pria itu tertegun waktu mendengar nada bicara Alisia yang begitu lembut, dan senyuman itu baru pertama kali dia melihat Alisia tersenyum dengan begitu manis.


"Gapapa kok kak, Dino udah sering kok dapat hadiah dari kakak ganteng." jawab Dino.


"Dino." panggil seorang perempuan.


"Mama manggil Dino, kalau gitu Dino pergi dulu ya kak." pamit Dino.


"Hati-hati ya dek." ucap Alisia dengan mata berkaca-kaca.


"Kalau mau nangis, nangis aja." ucap pria itu.


"Lebih baik lo diam, gue gak butuh omongan lo." ucap Alisia tak suka.


"Kamu masih marah sama saya, setidaknya kamu kasih tau saya apa kesalahan saya." ucap pria itu sabar.


"Kalau kamu kayak gini, saya tidak tau apa kesalahan saya." ucap pria itu.


"Tolong ya pak Rey Swarn yang terhormat, saya tidak ingin membicarakan masalah itu lagi." ucap Alisia kesal.


Alisia bersiap untuk kembali ke ruangan rawatnya dan meninggalkan taman ini, tapi sialnya tubuhnya malah sempoyongan dan hampir saja dia jatuh kalau saja tidak ada Rey yang sigap memegang tangannya.


"Lepas, saya bisa sendiri." ucap Alisia menarik tangannya.


"Kamu masih sakit dan lemah, lebih baik kamu saya gendong." tawar Rey lembut.


"Gak, gue gak butuh kebaikan lo." ucap Alisia keras kepala.


Lalu Alisia menarik tangan nya paksa dari genggaman Rey, dan dia mencoba untuk berjalan. Tapi dia jatuh karena kakinya belum sanggup untuk menahan tubuhnya.


"Udah saya bilangin, kamu sih keras kepala." ucap Rey sambil jongkok untuk menggendong Alisia.


Rey lalu menggendong tubuh Alisia dengan lembut.


"Kamu pegang ya botol impusnya, ruangan rawat kamu dimana." tanya Rey.


Alisia pun akhirnya cuman bisa pasrah saat digendong oleh Rey.


"Dilantai 3, ruangan melati vviv nomor 2." jawab Alisia.


Rey lalu berjalan meninggalkan taman untuk mengantar Alisia ke ruangan rawatnya, saat berada dalam gendongan Rey mata Alisia selalu melihat wajah Rey.


"Andai bapak gak dingin dan buat saya marah, pasti saya udah lama jatuh cinta sama bapak." gumam Alisia.


"Kamu bilang apa?" tanya Rey yang tak begitu jelas Mendengar suara Alisia.


"Bu-bukan apa-apa kok, bapak jalan aja." ucap Alisia terbata-bata.


"Perasaan tadi saya dengar kamu bilang jatuh cinta, kamu lagi jatuh cinta sama seseorang ya." tanya Rey.


Seketika pipi Alisia jadi merah merona, dia sungguh malu saat ini. Rasanya dia ingin menyembunyikan wajahnya agar Rey tak dapat melihatnya.


"Sudah sampai." ucap Rey.


Rey membaringkan Alisia kembali ke ranjang Rumah Sakit, bertepatan dengan itu seorang suster masuk.


"Eehh, maaf saya datangnya kurang tepat ya." ucap suster itu dengan tersenyum saat melihat Rey yang membaringkan tubuh Alisia ke ranjang.


"Enggak kok sus, masuk aja." ucap Alisia.


"Tadi saya cari nona gak ada, rupanya nona lagi jalan-jalan sama pacarnya." ucap sang suster.


"Nggak sus, kita gak pacaran kok." sangakal Alisia.


"Kalau pacaran juga gapapa kok, Nona cocok kok sama tuan." ucap suster waktu memberikan suntikan ke Alisia.


"Auu sakit, kenapa harus disuntik sih." kesal Alisia.


"Memangnya kenapa kalau kamu disuntik, kan itu obat. Biar kamu cepat sembuh." ucap Rey.

__ADS_1


"Kok masih disini sih, udah sana keluar." usir Alisia.


Alisia bingung harus manggil Rey dengan sebutan apa didepan suster, jika dia manggil pak terkesan aneh karena suster mengira nya pacaran. Jika manggil lo terkesan tidak sopan didepan suster karena Rey lebih tua darinya, ditambah Rey memanggilnya kamu.


Jika Alisia menggunakan aku kamu dia takut Rey akan gr, walaupun sebenarnya Rey tak mempermasalahkan apapun panggilan Alisia padanya.


"Yaudah kalau gitu saya pergi dulu, kamu cepet sembuh karena banyak tugas sekolah yang harus kamu kerjakan." ucap Rey.


"Iya nanti dikerjain, tapi bantuin." ucap Alisia.


"Nanti saya bantuin, yang penting kamu sembuh dulu. Tapi kenapa kamu tidak suka suntik." tanya Rey.


Entah sejak kapan Rey peduli dengan orang takut suntik atau tidak, sepertinya sifat dinginnya itu menghilang karena tingkah aneh Alisia.


"Karena aku takut sama suntik." jawab Alisia, setelah itu Alisia menarik selimut dan menutup wajahnya yang sudah memerah.


"Kalau gitu saya pergi dulu." pamit Rey.


"Udah sana pergi." usir Alisia.


Rey pun pergi meninggalkan ruangan Alisia, dia tersenyum tipis karena tingkah aneh gadis itu.


"Pacarnya nona udah pergi kok." ucap suster.


"Syukurlah." Alisia menarik selimut yang tadi menutup wajahnya.


"Tuan Rey itu sering loh kesini, dia kesini sering ngasih hadiah ke anak-anak yang sakit." jelas suster.


"Ngapain dia ngasih hadiah?" tanya Alisia penasaran.


"Yang saya tau sih, dia dulu kehilangan adik perempuan nya karena sakit trus meninggal. Kebetulan adik nya itu meninggal di Rumah Sakit ini." jelas suster.


"Nona beruntung banget bisa jadi kekasihnya tuan Rey, karena dia orangnya lembut dan penyayang. Udah gitu ganteng lagi dan kaya, walaupun nona juga gak kalah jauh kayanya dari dia." ucap suster.


Alisia yang mendengarnya cuman diam, memang hari ini dia melihat sisi lain dari seorang Rey. Rey yang lembut, penyayang dan hangat. Berbeda jauh dengan Rey yang biasanya dingin, irit bicara, dan cuek.


"Yaudah ya non, saya permisi dulu." pamit suster.


Ketika Alisia hendak tertidur karena efek suntikan, sahabatnya datang dan membuatnya tak jadi tidur.


"Hai Al, gimana keadaan lo." tanya Chaca.


"Memburuk semenjak kalian datang, gue mau tidur dan kalian malah ngeganggu." ucap Alisia bercanda.


"Jangan gitu donk Al, kita udah jauh-jauh lo dari sekolah mau ngejenguk lo." ucap Chaca.


"Apa kata dokter?" tanya Ikbal.


"Bukan urusan lo, lo udah tau kan gue kenapa jadi jangan tanya lagi." kesal Alisia.


"Al, lo dapat salam dari kak Jimi, dia gak bisa jenguk lo karena latian baaket. mungkin besok dia baru bisa jenguk lo." ucap Chaca.


"Iya gapapa, lo berdua tau darimana gue masuk rumah sakit." tanya Alisia.


"Kak Irfan, soalnya kita telpon lo gak diangkat." jawab Chaca.


"Handpon gue ketinggalan dikamar." ucap Alisia.


"Lo sendiri aja, tante Anggi mana?" tanya Ikbal.


"Mama pulang jemput baju gue." jawab Alisia.


"Al, gue ada berita penting buat lo. Gue gak tau sih reaksi lo bakalan senang apa kasian." ucap Chaca.


"Apa beritanya?" tanya Alisia yang mulai ngantuk.


"Ada orang yang bikin berita jelek tentang pak Rey, diberita itu ditulis pak Rey itu suka mencium bibir para gadis." jelas Chaca.


Keterangan dari Chaca membuat Alisia yang tadinya ingin tidur tidak jadi.


"Beritanya udah kesebar?" kaget Alisia.


"Maksud lo, jelas lah kesebar orang ditempel di mading. Kenapa lo kaget gitu dengarnya." tanya Chaca curiga.


"Bukan apa-apa kok, gue ngantuk banget ni soalnya baru siap disuntik tadi." ucap Alisia yang tidak dapat menahan rasa kantuknya.


"Lo tidur aja, gue akan jagain lo sampe tante Anggi dateng." ucap Ikbal.


"Sorry Al, gue harus pulang dan gak bisa jagain lo." ucap Chaca tak enak.


"Ya gapapa, lo pulang aja bentar lagi mama gue dateng kok. Makasih ya kalian udah jenguk gue." ucap Alisia.


"Iya Al, udah lo tidur aja." suruh Chaca.


Tak lama Alisia pun tidur, 10 menit kemudian mamanya tiba. Kebetulan banget Chaca mau pulang jadinya dia bisa nebeng ke Ikbal dan tak perlu pulang sendiri.


"Eh ada Ikbal sama Chaca, udah lama ya kalian jagain Alisia nya." ucap Anggi yang baru sampai dengan tas yang berisi barang-barang Alisia.


"Nggak kok tan, baru 15 menit kok." jawab Chaca.


"Makasih ya udah jagain Alisia, kalian pulang aja kayaknya capek banget tuh. Pasti kalian belum makan kan." ucap Anggi.


''Heheh, belum tan." jawab Chaca dengan cengengesan.


"Yaudah kita pamit pulang dulu ya tan." ucap Ikbal.


"Iya hati-hati ya, jangan lupa makan." ucap Anggi.


"Siap tan." jawab mereka kompak.


Setelah Ikbal dan Chaca pergi, Anggi menatap anak gadisnya itu penuh sayang.


*******


**Hai gays gimana seru gak ceritanya, jangan lupa lke dan fav kan ceritanya ya. aku ngetiknya sampai 2.300 lebih lo katanya. Demi kalian...


Ngomong-ngomong Rey bisa juga bersikap lembut dan manis ya..


menurut kalian Rey itu tipe cowok yang gimana? jawab donk dikomen....


 


follow @alfaazzahra\_2373**

__ADS_1


 


__ADS_2