
Sampai di sekolah Alisia lansung meninggal kan Jimi dan berjalan cepat menuju kelasnya.
"Hei, tunggu gue." teriak Jimi sambil mengejar Alisia.
"Lo mau kemana?" tanya Jimi.
"Ya ke kelas lah, masuk." jawab Alisia.
"Mending kita cabut." ajak Jimi.
"Nggak ah, sekarang bu Laura yang masuk. Gue gak mau dihukum sama singa betina." tolak Alisia.
"Kalau gitu nanti pas istirahat lo ke Rooftop ya." ucap Jimi.
"Ok." jawab Alisia.
Kring~~~~
Bel masuk pun berbunyi.
"Tumben lo gak cabut Al, kesambet apa lo." tanya Alif sang ketua kelas.
"Gak kesambet apa-apa." jawab Alisia.
Alisia mengikuti pelajaran bu Laura dengan baik, tapi saat bu Laura keluar dan pergantian jam pelajaran Alisia berniat untuk cabut.
"Eh, lo mau kemana Al." tanya Chaca.
"Cabut lah, males gue belajar sejarah." ucap Alisia.
"Bukan nya sejarah itu pelajaran fav lo ya." ucap Ikbal.
"Pelajaran nya sih emang fav gue, tapi karena guru nya gue jadi malas belajar sejarah. Kecuali gurunya diganti." ujar Alisia.
"Terus lo mau kemana?" tanya Chaca.
"Tempat favorit gue lah." jawab Alisia.
"Dimana tu?" tanya Chaca.
"Kepo lo Cha, udah ah gue pergi dulu." ucap Alisia.
Ketika dijalan hendak menuju Rooftop, Alisia berpapasan dengan Rey. Tapi dia berpura- pura tidak melihatnya.
"Alisia, kamu mau kemana?" tanya Rey.
"Eh bapak, saya izin mau ketoilet ya pak." ucap Alisia.
"Saya kasih kamu waktu 5 menit." ucap Rey.
Rey tidak tau, 5 menit bagi Alisia itu bisa jadi 1 jam bahkan lebih.
"Thanks pak, kalau gitu saya permisi." pamit Alisia terburu-buru.
Sampai di Rooftop Alisia lansung duduk, soalnya dia berlari untuk menghindari bu Laura yang sedang patroli.
''Kenapa lo, kayak di kejar setan aja." tanya Jimi.
"Gue habis lari nih menghindari bu Laura, entah sejak kapan tu singa betina patroli." ujar Alisia dengan nafas ngos-ngosan.
"Biasa kali, dia patroli tuh dari 3 hari yang lalu. Lo gak tau karena gak sekolah, lo kemarin kan sakit." jelas Jimi.
"Bahaya nih kalau kayak gini, kalau mau cabut sama bolos kita harus hati-hati. Jangan sampai tertangkap." ucap Alisia.
"Tenang ada gue, lo gak usah khawatir." ucap Jimi.
Kring~~~~
Bel keluar main pun berbunyi
"Kantin yok Jim." ajak Alisia.
"Lo duluan aja, nanti gue nyusul. Gue ada urusan bentar." suruh Jimi.
"Ok." jawab Alisia.
Alisia bsrjalan menuju kantin, disana dia melihat Chaca dan Ikbal yang sedang makan.
"Woi, kayak orang kelaparan aja nih kalian." canda Alisia.
"Emang kita lagi lapar." jawab Chaca.
"Kayak nya minuman lo enak nih Bal." ucap Alisia.
Alisia meminum minuman Ikbal sampai tandas.
"Minuman gue." ucap Ikbal.
"Lo kan sahabat gue yang paling baik." ucap Alisia dengan imut.
"Lo tau gak Al, pak Rey tadi lama banget mulai belajar nya." ucap Chaca.
"Nggak tau, gue kan gak masuk tadi. Emang nya kenapa dia lama mulai pelajaran nya." bingung Alisia.
"Karena lo la ogeb, lo bilang ke dia izin ke toilet. Tapi habis tu lo gak balik-balik lagi." jelas Chaca.
"Salah dia kenapa psrcaya sama gue." jawab Alisia.
"Al, lo di suruh sama pak Rey ke ruangan nya tu." ucap Alif.
"Ngapain, gak ah males gue kesana." tolak Alisia.
"Udah pergi aja siapa tau penting." suruh Chaca.
"Yaudah deh." gumam Alisia pasrah.
Alisia pergi ke kantor guru dengan malas, waktu dia hendak masuk semua guru tersenyum padanya. Biasa dia akan anak pemilik sekolah, jadi guru-guru pasti segan sama dia.
''Permisi." ucap Alisia.
"Masuk." suruh Rey.
''Ngapain bapak nyuruh saya kesini?" tanya Alisia.
"Kamu duduk dulu, baru saya kasih tau." ucap Rey.
"Sekarang saya udah duduk, jadi cepetan kasih tau." pinta Alisia.
"Kamu sering gak masuk waktu jam pelajaran saya, bahkan kamu cuma masuk 3 kali selama semester ini. Sebentar lagi mau ujian semester jadi gimana cara kamu buat memperbaiki nilai." tanya Rey.
"Yaudah gak usah diperbaiki." jawab Alisia tak peduli.
"Kalau gitu nilai rapor kamu bakalan merah di pelajaran sejarah." ujar Rey.
Alisia yang mendengarnya lansung terbelalak, apa yang harus dia jawab ke orangtua nya kalau ada nilai merah dan dia tidak jadi juara kelas.
Walaupun Alisia suka cabut dan bolos dia selalu mengumpulkan tugasnya, waktu ulangan atau ujian mendadak dia selalu mendapatkan nilai tertinggi. Karena nemang dia cerdas dan memiliki kecerdasan diatas rata-rata.
Tapi memang untuk pelajaran sejarah Alisia sama sekali tidak pernah mengumpulkan tugas, dan tidak pernah mengikuti ulangan atau ujian mendadak. Jadi wajar nilainya kosong.
''Saya gak mau gara-gara di pelajaran sejarah merah tidak jadi juara kelas." ucap Alisia.
__ADS_1
"Kalau gitu kumpulin tugas-tugas kamu, dan ulangan susulan di rumah saya." ucap Rey.
"Tugas akan saya kumpulkan, tapi untuk ulangan nya gak bisa disekolah aja pak?" tanya Alisia.
"Saya sibuk, dan gak ada waktu buat kamu. Kalau kamu mau dapat nilai tinggi datang ke rumah saya untuk ulangan susulan, kalau nggak mau ya gak papa bukan saya juga yang rugi." jelas Rey.
"Yaudah deh, kapan bapak ada waktu untuk saya ulangan susulan." ucap Alisia pasrah.
"Besok pagi sehabis pulang sekolah kamu datang ke rumah saya." ucap Rey.
"Yaudah kalau gitu saya keluar dulu pak." pamit Alisia.
Alisia berjalan meninggalkan ruangan guru dengan raut wajah masam.
''Lagi-lagi gue harus berurusan sama balok. es, yang ada gue sial lagi nih kalau terus-terusan bareng dia." gumam Alisia.
Dikantin...
"Alisia mana?" tanya Jimi.
"Al lagi pergi ke kantor guru kak." jawab Chaca.
"Udah lama." tanya Jimi lagi.
"Belum lama kok kak." jawab Chaca.
"Woi bagi gue minum." pinta Alisia.
"Nih dia nongol orangnya." ucap Chaca.
"Bal mintak minum lo donk." pinta Alisia.
"Nih, lo kenapa Al. Dimarahin sama pak Rey." tanya Ikbal.
"Gak kok, gue lagi unmood aja nih." jawab Alisia malas.
"Eh, kalian mau liat turnamen basket sekolah kita lawan SMA Garuda gak nanti habis pulang sekolah." tanya Jimi.
"Mau donk kak, Bal kita nanti pergi ya." ajak Chaca.
"Gak ah, buang-buang waktu." tolak Ikbal.
"Bal lo ikut ya, lo mau biarin gue nonton sendiriann sama orang yang gak gue kenal." ucap Alisia memelas.
"Emang nya turnamen nya dimana?" tanya Ikbal.
"Ngapain lo nanya, tadi kata lo buang-buang waktu." sewot Chaca.
"Di SMA Garuda." jawab Jimi.
"Nanti gue nonton." ucap Ikbal.
"Giliran Alisia yang ngajak lo mau, giliran gue lo gak mau." omel Chaca.
"Sewot aja lo Cha." ucap Ikbal.
Kring~~~
Bel masuk pun berbunyi
"Lo mau cabut lagi?" tanya Ikbal.
"Gak, gue masuk aja." jawab Alisia.
Alisia mengikuti semua pelajaran sampai bel pulang berbunyi.
Kring~~~~
"Al, itu kak Jimi udah nungguin lo tuh." panggil Chaca.
"Yaudah yok." ajak Alisia.
"Barang lo gak ada yang ketinggalan." tanya Jimi.
"Gak ada, yuk buruan." Alisia menarik lengan Jimi menuju parkiran.
Sampai di SMA Garuda Alisia kagum melihat interior nya, walaupun masih bagusan SMA Dharma Bangsa milik keluarga nya.
"Bagus sih ni sekolah, tapi masih bagusan sekolah punya keluarga gue." ucap Alisia.
"Kalau siswa sini dengar lo ngomong kayak gitu, bisa panjang nantik urusan nya." ucap jimi.
Alisia dan Jimi berjalan menuju lapangan basket, tribun penonton sudah cukup ramai diisi oleh siswa dari SMA Garuda dan SMA Dharma Bangsa.
"Gue ke ruang ganti dulu ya, lo tunggu gue disini." ucap Jimi.
"Gue mau ke toilet." ucap Alisia.
"Yaudah gue anter." ucap Jimi.
"Gak usah gue bisa sendiri, lo mendingan ganti baju aja." tolak Alisia.
Alisia berjalan mencari toilet, tanpa dia sadari ada seorang perempuan yang mengikutinya.
Sampai di toilet Alisia menutup pintunya, tapi sebelum itu ternyata ada orang dari luar yang mengunci nya dari luar. Setelah selasai ketika hendak membuka pintu, ternyata pintu nya terkunci.
"Tolong, siapa pun diluar tolongin gue. Gue kekunci didalem." teriak Alisia.
Alisia terus menggedor-gedor pintunya tanpa henti, perlahan dia mulai menagis karena takut. Alisia dulu waktu kecil pernah diculik dan dikunci di sebuah rumah tua yang gelap, jadi semenjak itu dia jadi trauma dan takut pada kegelapan apalagi terjebak di sebuah ruangan yang terkunci. Dia takut akan dua hal itu.
Di toilet laki-laki....
"Lo denger gak ada suara cewek lagi nangis." ucap seorang cowok.
"Denger, palingan habis diputusin sama pacarnya." ucap cowok satunya lagi.
"Yuk kita keluar, pertadingan nya bentar lagi mulai." ajak cowok yang tadi bertanya.
Ketika dua cowok itu melintasi toilet wanita, mereka mendengar suara Alisia yang meminta tolong.
"Lo kenapa?" tanya mereka.
"Tolong gue kekunci, gue takut disini gelap." ucap Alisia dengan tangis tersedu-sedu.
"Lo mundur biar pintunya gue dobrak." ucap seorang cowok.
Alisia pun menurut dan dia mundur kebelakang. Brakk pintu toilet pun terbuka, Alisia sontak lansung berlari keluar.
"Alisia, lo kenapa bisa kekunci di dalem." tanya cowok satunya lagi yang ternyata adalah Haikal.
"Mana gue tau ****, orang gue kekunci didalem." ucap Alisia.
"Al, lo kok lama banget sih ditoilet." ucap Jimi.
"Cewek lo nangis tuh." ujar Haikal.
"Hei, Al lo kenapa?" tanya Jimi sambil mengusap air mata Alisia.
"Ada yang ngunciin dia di toilet, cewek lo udah nangis teriak ketakutan tadi didalem." jelas Haikal.
"Tapi lo gapapa kan Al, ada yang luka atau ada yang sakit. Apa kita perlu ke Rumah Sakit." tanya Jimi khawatir.
__ADS_1
"Gak gue gapapa kok, gue cuman takut aja karena didalam gelap." ucap Alisia dengan tersedu-sedu.
Jimi membawa Alisia ke pelukan nya untuk menenangkan gadis itu.
"Udah lo ga perlu takut, ada gue yang jagain lo. Nanti kita cari siapa yang ngunci lo didalem." ucap Jimi.
"Gak nyangka gue Jim, cewek lo yang berani ini takut sama gelap." ledek Haikal.
"Mending lo diem, disini ada cctv gak." tanya Jimi.
"Ada, mending nanti habis tanding baru lo cek." saran Haikal.
"Yaudah yok Al, sekarang kita ke lapangan. Ikbal sama Chaca juga udah dateng. Mereka pasti khawatir liat kondisi lo kayak gini, lo jangan nangis lagi ya." bujuk Jimi.
Alisia pun mengangguk dan Jimi melepaskan pelukan nya.
Sampai di tribun penonton Ikbal dan Chaca heran kenapa Alisia terlihat seperti habis menangis.
"Lo kenapa Al?" tanya Ikbal.
"Dia gapapa, gue titip Alisia bentar ya sama kalian selama gue tanding. Tolong jagain dia bentar, nanti gue jemput Alisia kesini." pesan Jimi.
"Siap kak." jawab Chaca.
"Kalau gitu gue kelapangan dulu ya Al, lo baik-baik disini." ucap Jimi lalu mengacak rambut Alisia gemas.
Orang-orang yang ada di tribun penonton melihat kedekatan Alisia dan Jimi berbisik-bisik karena iri, hal itu sudah biasa secara Jimi adalah most wanted nya SMA Dharma Bangsa yang famous (terkenal) karena ketampanan wajah nya. Selain itu Jimi juga terkenal di kalangan murid sekolah lain, contohnya SMA Garuda ini.
Pertandingan antara SMA Garuda melawan SMA Dharma Bangsa sementara ini lebih unggul SMA Garuda, Alisia melihat Jimi bermain begitu santai dilapangan tapi tetap serius.
"Lo harus menang Jim, kalau lo kalah gue gak mau temenan sama lo lagi." teriak Alisia.
Penonton yang mendengar teriakan Alisia cuma menatap nya bingung, tapi ada satu orang perempuan yang menatap Alisia dengan tatapan benci penuh permusuhan.
Jimi melihat kearah Alisia lalu tersenyum manis kearah gadis itu, Jimi mengangkat tiga jarinya pertanda isyarat ok.
"Cewek lo gak mau lo kalah tu Jim, jadi lo jangan malu-maluin." teriak Haikal yang berhasil merebut bola dari tangan Jimi.
"Gue gak akan kalah dari lo." jawab Jimi yakin.
Bola basket itu berpindah alih ke tangan Jimi, dan dengan kemampuan nya Jimi bsrhasil mencetak poin.
"Jimi aku yakin kamu pasti menang." teriak seorang perempuan.
Alisia yang mendengarnya menoleh kearah sumber suara, dan Alisia sedikit kaget saat melihat perempuan itu.
"Itu kan perempuan yang sama Haikal waktu di klub." batin Alisia.
Pertandingan pun berlanjut dengan sengit, akhirnya kemenangan di raih oleh SMA Dharma Bangsa.
Banyak murid perempuan yang berlari kearah Jimi untuk menawarkan minuman dan handuk kecil untuk menarik perhatian cowok itu, termasuk perempuan yang tadi berteriak menyemangati Jimi yang didengar oleh Alisia. Tapi Jimi sama sekali tak mempedulikan mereka, Jimi justru berjalan kearah Alisia.
"Yok kita cek cctv nya." ajak Jimi.
"Tapi lo baru aja selesai tanding, lo pasti capek. Udahlah gak usah di cek biarin aja, gue juga gak papa kok." tolak Alisia yang melihat kondisi Jimi yang kelelahan.
"Gue gak capek kok Al, lo lebih penting dari apapun." ucap Jimi seakan mengerti isi pikiran Alisia.
''Tapi.. " ucapan Alisia terpotong karena Jimi yang tiba-tiba menarik tangannya.
Jimi membawa Alisia ke rangan cctv dan meminta petugas yang menjaga untuk mencek toilet perempuan pukul 16.15, betapa kagetnya Jimi dan Alisia saat tau siapa yang melakukannya.
"Itukan perempuan yang sama Haikal waktu di klub." gumam Alisia.
"Farah, mau apa lagi anak itu." ujar Jimi.
"Farah?, namanya Farah." tanya Alisia.
"Ayok lo ikut gue." ajak Jimi.
Jimi tak menjawab pertanyaan Alisia, justru dia malah menarik tangan Alisia dan membawanya menuju tim basket SMA Garuda. Dimana disana ada Haikal dan perempuan yang bernama Farah itu.
"Apa maksud lo ngunci dia di toilet." tanya Jimi dengan marah ke perempuan itu.
"Tenang Jim, lo kalau ngomong baik-baik donk. Gak usah bentak cewek gue juga donk." ucap Haikal.
"Ajarin tuh cewek lo, ngapain dia ngunci Alisia di toilet." marah Jimi.
"Lo jangan asal nuduh ya Jim, gak mungkin Farah ngunci cewek lo. Apa juga untung nya buat dia." ucap Haikal.
"Gue gak nuduh ****, kalau lo gak percaya mending cek cctv sono." suruh Jimi.
"Far ayok kita cek, buktiin kalau kamu gak salah." ajak Haikal.
"Udah lah Kal, lo gak usah sok ngebela gue deh gue gak butuh. Emang gue yang ngunci nih cabe di toilet trus lo mau apa Jim." tantang Farah.
"Apa salah dia sama lo, sampai lo tega ngurung dia di toilet." ucap Jimi.
"Salah nya simpel, dia udah bikin lo ngelupain gue." jawab Farah singkat.
"Maksud kamu apa Far?" tanya Haikal ke pacarnya itu.
"Lo bodoh atau gimana sih, lo taukan Haikal gue dari dulu gak pernah cinta sama lo. Dan sampai kapanpun gue akan tetap cinta nya sama Jimi." jawab Farah.
"Far, gue tuh dulu cuma jadiin lo mainan gue doank. Gue gak pernah ada rasa cinta sama cewek mana pun selain Alisia, dan lo tau kan gue playboy dan mantan gue banyak. Jadi lo gak usah berharap lebih sama gue." jelas Jimi.
"Tapi Jim, gue gak rela lo jadi milik cewek ini. Dan kenapa lo hadiain gue ke Haikal." tanya Farah dengan mata yang berkaca-kaca.
"Lo gak ngerti ya dengan apa yang gue bilang, Haikal itu sahabat gue dan dia cinta sama lo. Jadi lo gue hadiain aja ke dia pas ulang tahunnya, secara gue udah bosan sama lo." jelas Jimi.
"Dan lo harus ingat ini baik-baik, gue gak pernah cinta sama lo nona Farah Geomika. Jadi berhenti lo gangguin Alisia, dan jangan pernah lo hubungin gue lagi." ucap Jimi.
Jimi menarik tangan Alisia menjauh dari tempat itu, karena mereka sudah jadi tontonan orang banyak. Sedangkan Farah dia cuman bisa menangis.
Sampai di parkiran Alisia menarik tangannya dari genggaman Jimi, Alisia menatap Jimi tak percaya.
"Lo kok bisa setega itu sih Jim, dia itu cewek lo Jim." ucap Alisia.
"Al dengerin gue, siapa pun orang yang nyakitin dan bikin lo sedih dia akan berhadapan sama gue. Dan gue gak mau liat lo sedih, lo harus selalu tersenyum." ucap Jimi sambil memegang kedua pipi Alisia.
"Lo berlebihan tau gak sih." ucap Alisia.
"Ok gue minta maaf, gue emang salah udah kelewatan sama dia." ucap Jimi mengalah.
"Harusnya lo tuh minta maaf nya sama Farah bukan sama gue." ujar Alisia kesal.
"Yaudah mending sekarang kita makan deh untuk ngerayain kemenangan sekolah kita, kita makan di Cafe biasa." ajak Jimi.
"Gak ah, gue mau pulang." tolak Alisia.
Jimi pun mengalah dan akhirnya dia mengantar Alisia pulang ke rumah nya.
******
**Author sih juga pengennya Alisia sama Jimi, secara Jimi orang nya hangat dan gak dingin kayak Rey. Udah gitu perhatian, pengertian, Romantis, selalu ngalah, gak egois. Tapi takdir kayak nya mau Alisia bahagianya sama balok es deh, alias Rey. Oh ya, Farah Geomika itu mantan pacarnya Jimi ya. Yang sekarang dia itu pacarnya Haikal, kalau kalian lupa Farah itu cewek yang ngeremehin Alisia di klub malam. Tapi Author gak kasih identitas nya waktu itu sama kalian.
follow @alfaazzahra\_2373**
__ADS_1