Rahasia Takdir Cinta

Rahasia Takdir Cinta
Fakta


__ADS_3

Sesuai permintaan Rey kemarin, nanti sehabis pulang sekolah Alisia akan kerumahnya untuk ulangan susulan.


"Al, lo udah bawa mobil lagi hari ini." tanya Jimi.


Saat ini mereka sedang ada dikantin karena jam istirahat.


"Udah donk." jawab Alisia senang.


"Tapi gimana caranya, bukan nya lo dihukum ya." bingung Jimi


"Kan ada papa gue, ya gue ngadulah dan kakak gue cuman bisa diam." ujar Alisia.


"Terus supir lo apa fungsinya?" tanya Jimi.


"Nganterin mama gue buat nyalon, shopping, arisan, jalan-jalan." jawab Alisia.


"Gimana kalau nanti kita ke sirquit balapan habis pulang sekolah." ajak Jimi.


"Gak bisa gue, gue nanti ada urusan." jawab Alisia.


"Woi, disini kalian ternyata." ujar Chaca yang baru sampai dengan Ikbal.


"Lo nanti masuk gak Al?" tanya Ikbal.


"Kali ini gue masuk." jawab Alisia.


"Bukannya nanti jam pelajaran pak Rey ya, lo kan... " ucapan Chaca lansung dipotong oleh Alisia.


"Yang penting gue masuk, gak usah dibahas." ucap Alisia.


Kring~~~~


Bel masuk pun berbunyi


"Yok Al, kita masuk." ledek Chaca.


"Gak usah dibilangin gue juga tau kali, mentang-mentang gue suka cabut lo malah nyindir gue." kesal Alisia.


"Maklum Al, nih anak kayaknya gak mau dapet contekan gratis lagi dari lo." ujar Ikbal.


"Nyambung aja lo Bal." omel Chaca.


Lalu mereka bertiga pun masuk ke kalas, tak berapa lama Rey pun masuk. Rey mengedarkan pandangan nya, lalu dia tersenyum sangat tipis saat melihat Alisia yang masuk dan tak lagi cabut.


"Kita hari ini ulangan, silahkan simpan semua buku kalian." ucap Rey.


"Yah pak, kok bapak suka banget sih ulangan mendadak. Saya gak ada persiapan nih, yang ada nilai saya jelek jadinya." Keluh Alif.


"Saya tidak meminta kamu untuk curhat kan." ucap Rey datar.


"Hhaah, rasain lo tuh. Makanya di rumah tu belajar." ledek Chaca.


"Diem lu, kayak lu belajar aja." kesal Alif.


"Gue emang gak belajar, tapi gue ada peri cantik yang bisa bantu." bangga Chaca.


"Alisia, kamu pindah duduk di samping Alif." ujar Rey.


"Yah kasian, peri penolong nya terbang. Makanya lo jadi orang jangan bangga." ledek Alif.


"Sudah, kalau kalian ribut soalnya akan saya ganti ke yang lebih sulit." ancam Rey.


Lalu semuanya pun diam dan tak ada lagi yang berani bersuara, hanya suara Rey yang sedang membacakan soal saja yang terdengar.


Beberapa jam kemudian Bel pulang pun berbunyi.


Alisia melangkah menuju parkir dengan malas, karena dia harus pergi ke rumah guru yang tidak dia sukai.


"****, tau gini manding gue masuk aja jam pelajaran dia." gerutu Alisia.


sampai di parkir Alisia bertemu dengan Rey.


"Saya ada urusan sebentar, lebih baik kamu ikut saya saja." ucap Rey.


"Ikut kemana lagi pak?" tanya Alisia tak semangat.


"Green Cafe." jawab Rey dingin dan singkat.


Lalu Alisia pun malajukan mobilnya dengan cepat menuju Green Cafe, sedangkan Rey cukup jauh tertinggal di belakang. Tak lama Rey pun berhasil menyusul mobil Alisia, lalu mereka berjalan beriringan di jalan raya.


Sampai di tujuan Alisia keluar dari mobilnya dengan malas, lalu dia mengekori Rey dari belakang.


"Pak, kenapa saya juga harus ikut sih." protes Alisia.


"Tidak apa-apa, saya cuma tidak mau kamu menunggu saya di rumah sendirian. Karena mungkin ini akan sedikit lama." jelas Rey.


"Lah terus ulangan saya kapan donk kalau urusan bapak aja lama." omel Alisia.


"Kamu kan pintar, saya yakin hanya butuh 15 menit bahkan mungkin kurang dari itu kamu bisa menyelesaikan semua soalnya dengan mudah." ujar Rey.


"Terserah bapak aja deh." ucap Alisia pasrah.


Rey membawa Alisia ke ruangan VVIV di cafe ini, entahlah apa yang ingin Rey lakukan.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Rey.


"Gak pesan apa-apa." jawab Alisia betek.


Rey lalu menghembuskan nafas panjang.


"Cuma sebentar kok, saya janji akan kabulin satu permintaan kamu." bujuk Rey.


"Bener nih, tapi bapak harus janji dulu." ucap Alisia semangat.


"Iya saya janji." ucap Rey dengan tersenyum karena tingkah lucu Alisia.


Alisia terdiam saat melihat senyum Rey yang begitu manis, ini adalah kali pertamanya melihat seorang Rey yang dingin dan muka datar tersenyum.


"Balok es tampan banget kalau lagi senyum kayak gini, walaupun gak senyum gue akui dia tetap tampan sih." ujar Alisia dalam hati.


"Pak, 10 menit lagi tuan Hidomoto akan datang." ujar Sania.


Alisia menoleh ke perempuan yang tadi bicara.


"Dia siapa?" tanya Alisia.


"Perkenalkan saya Sania nona." ucap Sania ramah.


"Pacar bapak ya." ujar Alisia.


"Bukan." jawab Rey dingin.


"Permisi tuan ini pesanan nya." ucap seorang pelayan perempuan yang membawa dua gelas minuman.


"Ini buat kamu." ucap Rey.


"Tapikan saya nggak pesan apa-apa." bingung Alisia.


"Saya yang pesanin buat kamu." jawab Rey.


"Bapak tau dari mana saya suka milkshake." tanya Alisia saat melihat minuman miliknya.


"Tidak tau, perasaan saya mengatakan gadis manja kayak kamu suka minuman seperti ini." jawab Rey.


"Saya gak manja kok, saya mandiri tau." ujar Alisia.


"Kamu kalau bangun pagi dibangunin atau bangun sendiri, bisa masak gak, bisa ngerjain pekerjaan rumah gak." tanya Rey.


"Itu saya nggak bisa semua pak, kalau bangun pagi kakak yang sering bangunin." jawab Alisia dengan tersenyum malu.


Rey tersenyum mendengar jawaban Alisia, dia sendiri tidak menyangka kalau tebakan nya benar.


"Halo tuan muda swarn." sapa seorang pria muda sebaya Rey.


"Maaf kemarin saya terpaksa membatalkan penandatanganan kontrak nya, dan terimakasih karena anda tetap mau menjalin kerja sama dengan perusahaan saya." ujar Rey.


"Sama-sama, tapi saya penasaran apa sebenarnya yang membuat seorang Rey yang terkenal profesional. Harus membatalkan janji bahkan dengan mendadak." ucap Hidomoto sambil duduk di kursi sebelah Alisia.


"Itu urusan pribadi yang sangat penting, sehingga saya harus membatalkan meeting kita." ucap Rey biasa.


Alisia dari tadi cuman diam menikmati milkshake strowberi nya sambil mendengar apa yang di bicarakan oleh ke dua pria itu.


"Apa karena gadis cantik ini." ucap Hidomoto.


Alisia yang dari tadi cuman diam sontak melihat sekeliling, untuk memastikan apakah orang yang dimaksud dirinya. Tapi di ruangan ini cuman ada dua perempuan yaitu dirinya dan Sania.


"Saya ke kamu gadis kecil, bukan Sania." ujar Hidomoto seakan tau jalan pilkiran Alisia.


"Memang nya saya kenapa?" tanya Alisia bingung.


"Nggak papa kok Al, kamu minum saja milkshake nya nggak usah peduliin dia." ujar Rey.


"Gadis kecil kamu sangat imut dan manis, pantas saja Rey rela membatalkan meeting nya dengan saya demi menjenguk kamu di Rumah Sakit." ucap Hidomoto.


Alisia yang mendengarnya pun terdiam.


"Jadi waktu pak Rey menjenguk gue hari ke tiga itu dia membatalkan meeting nya, kok gue bisa tega sih sama dia. Padahal kan dia cuman tanya tentang ciuman itu, dan diapun udah bilang kalau dia gak sadar dan lagi mabuk waktu ngelakuin nya." gumam Alisia dalam hati.


Lalu Alisia pun menatap Rey dengan penuh penyesalan.


"Mending gue jujur aja nanti kalau emang gue yang dia cium waktu itu, daripada pak Rey ngerasa bersalah terus jadinya karena gak tau siapa orang yang dia cium." ucap Alisia dalam hati.

__ADS_1


"Kamu tau dari mana?" tanya Rey.


"Tidak ada yang tidak bisa saya tau." jawab Hidomoto dengan bangga.


"Om kok sombong banget sih jadi manusia." sindir Alisia.


"Ayolah gadis kecil umur kamu berapa sih, saya tidak setua yang kamu kira." Ucap Hidomoto.


"Umur saya 16 tahun, emang nya umur om berapa?" tanya Alisia.


"Umur saya baru 25 tahun, saya dan Rey seumuran. Jadi panggil saya kakak okay, jangan panggil om." ucap Hidomoto yang gemas dengan Alisia.


"Oh berarti om seumuran sama kakak saya donk, tapi ya om saya aja panggil bapak ke pak Rey dan dia tidak pernah protes bilang kalau dia masih muda." jelas Alisia.


"Terserah kamu saja gadis kecil, kamu sangat imut dan manis jadi saya mengalah sama kamu." ucap Hidomoto.


"Maaf tuan, tentanf kerja sama dan penandatanganan kontraknya gimana ya." Sania mengingat kan mereka yang dari tadi hanya mengobrol dan melupakan tentang kerjasama nya.


"Karena gadis kecil ini saya setuju bekerja sama dengan perusahaan anda tuan Rey, jadi lansung saja kita tanda tangan kontraknya." ucap Hidomoto.


"Anda tidak ingin membaca berkas kerja samanya dulu tuan." tanya Sania yang tak percaya dengan Hidomoto yang lansung setuju tanpa melihat dan membaca berkas nya terlebih dahulu.


"Tidak perlu, saya kan sudah bilang karena gadis kecil ini saya setuju bekerja sama dengan perusahaan kalian." ujar Hidomoto sambil menatap Alisia.


"Jangan sampai kamu suka ke dia." ujar Rey.


"Siapa?" tanya Alisia dan Hidomoto kompak.


"Anda tuan Hidomoto, jangan sampai suka ke gadis kecil ini." jelas Sania.


"Oh tenang saja, saya cuman sekedar mengagumi nya saja. Karena dia mirip dengan adik saya yang ada di Jepang." jelas Hidomoto.


"Syukurlah, kalau begitu." gumam Rey.


"Memang nya kenapa kalau saya suka ke gadis kecil ini." tanya Hidomoto mencoba menggoda Rey.


''Bukan apa-apa." jawab Rey.


"Urusan nya udah selesai kan, sekarang ayo kita pergi dari sini." ajak Alisia.


"Mau kemana kamu buru-buru gadis kecil." tanya Hidomoto.


"Kepo." ledek Alisia dengan menjulurkan lidahnya.


"Kamu benar-benar lucu gadis kecil, pantas Rey begitu sayang sama kamu dan bisa ngelupain Mutia." ucap Hidomoto.


Tiba-tiba ingatan Alisia kembali pada saat Rey mencium paksa dirinya, waktu itu Rey juga menyebut nama gadis itu.


"Mutia, dia siapa?" tanya Alisia.


"Rey, kamu gak pernah cerita sama gadis kecil soal Mutia." tanya Hidomoto.


"Al, ayok kita pulang." Rey pun menarik tangan Alisia agar bisa cepat pergi.


"Gak mau, saya mau tau soal gadis yang bernama Mutia." tolak Alisia.


Karena Alisia begitu penasaran dengan perempuan itu, Rey waktu mabuk mengira dirinya adalah Mutia. Dan sekarang rekan kerja Rey juga menyebut nama perempuan itu.


"Lain kali saya cerita sama kamu kalau kita ketemu lagi ya gadis kecil." ucap Hidomoto ke Alisia yang sudah agak jauh karena di tarik oleh Rey.


"Gue punya nama, nama gue Alisia om." teriak Alisia dengan kesal.


Karena kesal nada bicara Alisia yang tadinya sopan, sekarang menjadi bahasa gaul yang biasa dia gunakan ke teman sebayanya yaitu lo gue.


"Kamu naik mobil saya." suruh Rey.


"Terus mobil saya gimana donk pak?" tanya Alisia.


"Biar Sania yang nanti bawanya, titipkan saja kuncil mobil ke satpam." suruh Rey.


"Kalau terjadi apa-apa sama mobil saya gimana, lagian kenapa saya harus satu mobil sama bapak sih." ucap Alisia.


"Gak akan terjadi sesuatu sama mobil kamu, kalaupun terjadi nanti saya yang tanggung jawab." jawab Rey.


"Terus kenapa saya harus satu mobil dengan bapak, kenapa saya gak pakek mobil saya. aja." tanya Alisia heran.


"Gak papa, kamu kan lagi marah-marah. Takutnya nanti kamu nyetir nya gak konsen." ucap Rey.


"Ayolah pak, bahkan saya ini sering balapan loh." ujar Alisia.


"Kalau begitu kamu berhenti balapan." jawab Rey singkat lalu masuk ke dalam mobil.


Alisia pun masuk ke dalam mobil mengikuti Rey, dan dia duduk di kursi depan samping kemudi.


"Kenapa bapak nyuruh saya berhenti balapan?" tanya Alisia.


"Nanti kamu kecelakaan dan masuk Rumah Sakit, terus berhenti sekolah lagi karena dirawat. Kan sayang jadinya kamu tertanggal banyak pelajaran." jelas Rey.


"Nasib manusia gak ada yang tau." ujar Rey sambil melajukan mobilnya.


Di perjalanan mereka hanya diam saja, ketika sampai di rumahnya Rey berjalan duluan meninggalkan Alisia dalam mobil.


"Tuh balok es malah ninggalin gue, udah tau ini rumah gede banget." gumam Alisia.


"Pak tungguin donk." teriak Alisia.


"Pantesan ini rumah mewah banget, ternyata pak Rey seorang CEO perusahaan besar. Trus kenapa dia jugak jadi guru di sekolah gue, manusia aneh ni orang." gumam Alisia dalam hati.


Rey menekan bel rumahnya, lalu pintu pun dibukak oleh seorang wanita paruh baya.


"Dia ibu nya pak Rey ya." batin Alisia.


"Selamat datang den, bibik udah masak makanan kesukaan aden." jelas perempuan itu.


"Ohh, dia pembantu." ucap Alisia dalam hati.


Rey pun melangkah masuk dan meninggalkan Alisia yang masih bengong di depan pintu.


"Non pasti muridnya aden ya?" tanya perempuan itu.


"Iya bik." jawab Alisia dengan tersenyum.


"Ayo masuk non, panggil aja bik Meli. Dan anggap aja kayak rumah sendiri ya." ajak bik Meli.


Alisia pun melangkah masuk, lalu dia duduk di ruang tamu menunggu Rey. Dia mengeluarkan buku dan peralatan tulisnya.


Tapi tiba-tiba Rey datang dan menarik tangan nya.


"Mau kemana pak?" tanya Alisia.


"Kamu belum makan kan, jadi kamu makan dulu baru setelah itu kita ulangan nya." ucap Rey.


"Tapi saya gak lapar." tolak Alisia.


Namun Rey tetap membawa Alisia ke meja makan.


"Duduk." perintah Rey ke Alisia menyuruh untuk duduk di kursi yang berada di depannya.


"Orang gak lapar malah di suruh makan." omel Alisia.


"Semua ini makanan kesukaan bapak, astaga saya baru tau ternyata bapak orangnya. tamak." ledek Alisia.


"Makanan kesukaan aden cuman satu non, selebihnya ini bibik sengaja masak banyak." ucap bik Meli yang datang dari dapur.


"Untuk apa masak banyak bik, kan di rumah ini cuman berempat." bingung Alisia.


"Maaf non dirumah ini cuman ada dua orang, yaitu aden dan saya." jelas bik Meli.


Alisia mengangguk mengerti.


"Tapi kenapa masak segini banyak?" tanya Alisia lagi.


"Semalam aden bilang kalau ada gadis kecil cantik yang akan datang kesini, makanya aden nyuruh masak banyak soalnya aden gak tau makanan kesukaan gadis itu apa." jelas bik Meli.


"Trus gadis kecil nya mana?" tanya Alisia penasaran.


Bik Meli tertawa mendengar pertanyaan Alisia.


"Aduh non manis dan lucu banget sih, pantesan aden suka sama non." ucap bik Meli.


Alisia mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Maksud bibik gadis kecilnya itu non." jelas bik Meli.


"Saya?" tanya Alisia.


"Iya non, memang nya siapa lagi gadis yang aden ajak pulang selain non." ujar bik Meli.


"Kamu kapan makannya?" tanya Rey.


"Iya ini saya makan." ucap Alisia.


Alisia mengambil makanan begitu banyak, sampai piringnya sesak karena penuh oleh banyak makanan.


"Kamu yakin bisa ngabisin makanan sebanyak itu." tanya Rey saat melihat piring Alisia yang penuh.


"Bapak liat aja nanti." jawab Alisia.


Selesai makan Alisia lansung membantu bik Meli membersihkan piring.


"Aduh non gak usah, biar bibik aja yang selesein." ucap bik Meli.

__ADS_1


"Emangnya kamu bisa nyuci piring." tanya Rey.


"Nggak." jawab Alisia.


"Sekarang kita ulangan nya." ucap Rey lalu pergi dari dapur.


"Tapi ini gimana?" tanya Alisia.


"Udah non belajar aja sana, nanti biar bibik yang beresin." suruh bik Meli.


"Gapapa nih bik?" tanya Alisia memastikan.


"Iya gapapa, oh ya non sering-sering ya main ke sini." ucap bik Meli.


"Iya bik, kalau gitu saya permisi." ucap Alisia.


"Bawa barang-barang kamu?" suruh Rey.


"Emang nya kita mau kemana lagi sih pak?" tanya Alisia.


"Nanti kamu juga tau sendiri." jawab Rey berjalan mendahului Alisia.


"Dasar balok es, untung gue bisa sabar ngadepin manusia dingin kayak dia." ucap Alisia.


Alisia membawa buku dan perlengkapan tulisnya dengan susah, karena dia tadi menyerakkan semua barangnya diatas meja.


"Bantuin kek, berat tau." omel Alisia yang sudah berada dibelakang Rey.


"Aduh." ringis Alisia, karena Rey tiba-tiba berhenti dan membuat Alisia menabrak punggung Rey dengan kening nya.


''Kenapa berhenti sih, kan kening aku yang jadi korban." omel Alisia.


"Udah sampai." jawab Rey.


Alisia melihat sekeliling nya dengan kagum, Rey membawanya ke taman yang ada dibelakang rumahnya, taman ini begitu indah. Dan yang membuat Alisia begitu senang adalah disini terdapat begitu banyak bunga kesukaan nya, mawar putih.


"Wow, mawar putihnya banyak banget." ucap Alisia dengan mata berbinar.


"Kamu suka?" tanya Rey.


"Suka." jawab Alisia dengan tersenyum senang.


"Kita duduk di bangku yang ada disana ya." tunjuk Alisia.


Rey pun mengangguk setuju.


Lalu Alisia mulai mengerjakan soal yang Rey bacakan, betul dugaan Rey. Hanya dengan hitungan menit saja Alisia dapat menyelesaikan sol-soal yang cukup banyak itu.


"Apa pelajaran kesukaan kamu?" tanya Rey.


"Matematika, dan sejarah." jawab Alisia.


"Kamu begitu pintar, kenapa kamu tidak memilih masuk kelas IPA saja." tanya Rey.


"Saya tidak menyukai pelajaran IPA, dan saya lebih suka Sejarah." jawab Alisia.


"Apa yang membuat kamu menyukai pelajaran Sejarah." tanya Rey.


Ketika Alisia ingin menjawab tiba-tiba telfon Rey berbunyi.


"Kamu tunggu saya disini sebentar, nanti baru kamu jawab pertanyaan saya tadi." ucap Rey dengan berjalan pergi.


Dari jauh Alisia melihat bik Meli datang dengan membawa nampan berisi makanan di tangan nya.


"Untuk menemani non belajar, bibik bawain biskuit nih." ucap bik Meli.


"Makasih ya bik, jadi ngerepotin deh sayanya." ucap Alisia tak enak.


"Gapapa kok non, oh ya aden mana?" tanya bik Meli.


"Dia lagi ngangkat nelfon." ucap Alisia.


"Nona udah berapa lama kenal sama aden." tanya bik Meli.


"Baru beberapa bulan kok bik, emang nya kenapa." bingung Alisia.


"Nona adalah gadis pertama yang aden bawa ke rumah, bahkan Sania sekretaris nya saja belum pernah kesini." jelas bik Meli.


"Ibunya juga belum pernah kesini." tanya Alisia.


"Semenjak aden pindah kesini 1 tahun yang lalu, aden gak pernah lagi pulang ke rumah tuan dan nyonya. Tuan sama nyonya pun gak pernah jenguk aden." jawab bik Meli sedih.


"Maaf ya bik, saya gak bermaksud." ucap Alisia.


"Gapapa kok non, justru bibik seneng non udah bisa bikin aden perlahan lupa sama mantan nya. Non sering-sering main kesini biar nantik bibik ceritain semua tentang aden." ucap bik Meli.


"Memangnya Mutia itu siapa nya pak Rey sih bik." tanya Alisia penasaran.


"Mutia itu mantan nya aden, dia itu perempuan yang gak baik dia cuman mau manfaatin aden doank." jelas bik Meli.


"Manfaatin gimana bik?" tanya Alisia lagi, entah kenapa dia ingin tau segala hal tentang Rey.


"Kalian lagi ngpain?" tanya Rey yang tiba-tiba datang.


"Nggak kok den, kalau gitu bibik permisi dulu ya. Jangan lupa ya non sering-sering main kesini." pesan bik Meli.


"Iya bik." jawab Alisia.


"Bibik cerita apa aja ke kamu?" tanya Rey.


"Ih, bapak gak usah kepo deh." jawab Alisia.


"Udah selesai belum kamu menjawab semua soal yang saya berikan." tanya Rey.


"Udah, mobil saya jadikan kak Sania yang anterin." tanya Alisia.


"Nggak, mobil kamu anak buah saya yang anterin bukan Sania." jawab Rey.


"Berarti kak Sania kapan ya bisanya datang ke rumah bapak, secara saya inikan perempuan pertama yang bapak bawa kesini." ucap Alisia.


"Kamu tau darimana Sania belum pernah kesini." tanya Rey.


"Kepo, oh ya saya mau pulang." jawab Alisia.


"Kamu belum jawab pertanyaan saya tadi." ucap Rey.


"Yang mana, astaga udah deh pak saya malas jawabnya. Saya mau pulang." tolak Alisia.


"Jawab dulu." suruh Rey.


"Emangnya penting banget ya saya harus jawab, saya suka pelajaran sejarah karena sejarah itu membuat orang ingat akan masalalu dan jadi pelajaran di masa depan. Orang yang terlalu tenggelam akan masa lalunya biasanya akan cenderung berubah sikapnya, dan gak bisa melihat bahwa di masa depan ada hal yang lebih baik dari masa lalunya." jelas Alisia dengan bijak.


Rey yang mendengar penuturan Alisia seketika terdiam dan merasa tertohok, semua yang Alisia katakan benar adanya. Rey adalah salah satu orang yang Alisia bilang terlalu tenggelam dengan masa lalunya, karena terlalu tenggelam dengan masa lalunya Rey berubah sifatnya.


Rey dulu adalah seorang yang hangat dan murah tersenyum, tapi sekarang dia menjadi sosok yang begitu dingin dan sangat jarang tersenyum.


"Bapak kenapa diam?" tanya Alisia.


"Gapapa, ayo saya antar kamu kedepan." ajak Rey.


"Nanti saya boleh main lagi gak pak ke sini." tanya Alisia.


Rey tersenyum mendengar pertanyaan Alisia.


"Kamu boleh datang kapanpun yang kamu mau, bunga kesukaan kamu mawar putih ya." tanya Rey.


"Iya, bapak juga suka mawar putih?" tanya Alisia.


Rey mengangguk membenarkan nya.


"Kalau gitu kita sama donk." gumam Alisia.


Sampai didepan Alisia pamit ks Rey.


"Kamu hati-hati, bawa mobilnya jangan ngebut kaya tadi. Lansung pulang ke rumah dan jangan keluyuran, ingat untuk istirahat dan jangan lupa minum obat kamu." pesan Rey.


"Siap pak." jawab Alisia.


Lalu Alisia meninggalkan pekarangan rumah Rey, mobilnya melaju dengan kecepatan sedang. Sampai di rumah dia disambut oleh kedua orangtua nya.


"Kamu dari mana sayang." tanya Alex.


"Habis dari rumah guru pa, ulangan susulan." jawab Alisia.


"Kamu udah makan sayang." tanya Anggi.


"Udah ma." jawab Alisia.


"Kamu ulangan susulan pasti karena sakit kemarin." ujar Alex.


Alisia cuman diam, tidak mungkin dia memberi tau papanya yang sebenarnya. Kalau dia ulangan susulan karena sering cabut dan bolos, yang ada hukuman nya nanti lebih parah dari yang Irfan berikan.


"Yaudah kamu istirahat gih." suruh Anggi.


Alisia pun berjalan menuju kamarnya.


**********


**Hai sorry banget kemarin aku gak up, ternyata Rey orang nya perhatian dan baik ya. sedikit Rahasia tentang Rey mulai terbuka nih, gimana menurut kalian?


follow @alfaazzahra\_2373**

__ADS_1


__ADS_2